Balada Suara Persaudaraan Dalam Nasyid Indonesia

Di antara banyaknya tim nasyid yang melantunkan lagu-lagu religi Islami, Suara Persaudaraan adalah grup yang memiliki ciri khas yang sangat unik. Hampir tak ada grup nasyid yang mengikuti jejaknya. Jikapun ada yang mau, akan sulit tersebab karakternya yang sangat kuat.

Karakter SP (Saudara Persaudaraan) yang unik ini tidak hanya terletak pada lirik, tapi juga pada notasi lagu, birama, hingga teknik pembuka dan penutup lagu. Perbedaannya sangat mencolok di tengah semaraknya lagu-lagu nasyid dari Timur Tengah, Malaysia, hingga di Indonesia sendiri. Jika kita sering mendengar lagu-lagu nasyid yang lain, maka ketika mendengan Suara Persaudaraan, tetiba nuansanya jadi berubah. Meski spiritnya tetap sama.

Di Indonesia sendiri ada berapa genre yang muncul, nge-Pop seperti Snada, Haroki seperti Izzatul Islam dan Ruhul Jadid, nge-Jazz seperti Agus Idwar, ada juga yang model Edcoustic yang memilih instrument gitar. Kalau SP bisa dikategorikan lagu Balada. Nyanyiannya seperti sedang berkisah tentang sesuatu.

Saudara Persaudaraan nampaknya mengerti betul gaya yang sedang mereka bawakan sehingga di albumnya saja bertajuk “Balada Sebuah Dangau.” Lirik-lirik lagu SP sangat filmis. Saat mendengarnya kita langsung terbayang visualnya. Jika ingin membuat video clip, sutradara tak perlu repot lagi mencari padanan gambar. Toh sudah tertulis dalam lirik.

Begini syair dalam lagu “Balada Sebuah Dangau”, Ada sebuah dangau indah / Di tengah padang hijau rerumputan / Tak lapuk karena hujan, tak goyah karena topan / Atau terik mentari gurun membakar siang / Dalam gelap malam yang kelam / Gemintang bintang pun tertindas awan / Seberkas cahaya tiada pernah padam / Karena Allah selalu dalam ingatan.

Beberapa lagu SP menguatkan kisahnya dengan menggunakan setting tempat di mana cerita itu berlangsung. Kota Batam beberapa kali menjadi latar kisah.

Di lagu “Bergegaslah”: Ketika kudaratkan kaki di Hang Nadim / Kulihat ribuan wajah penuh cinta dan harapan / Kerinduan akan sebuah tempat persinggahan / Ditengah hiruk pikuk gemuruh panas pulau Batam / Pelabuhan hati-hati yang gersang / Dengan merindu kedamaian dan uluran kasih sayang / Peraduan jiwa-jiwa yang lelah / Sekedar melepas beban di dada yang terus bertambah /

Bahkan Batam menjadi judul lagu di “Batam Dalam Kenangan”: Kulihat mentari bundar di langit Batam / Membara redup lembut tiada menyilaukan / Sebentuk siluat pepohonan dari hutan nan perawan / Getarkan hati akan keagungan Tuhan / Yang merindu pertemuan dengan Ar-Rohman /

Kereta pun memiliki makna mendalam pada personil Suara persaudaraan hingga beberapa kali muncul dalam lagu. Lagi-lagi teknik bercerita pada lagu “Kenangan Bersama Ayah”: Dalam sebuah perjalanan menyusuri pantai utara / Berkereta di tengah malam Surabaya – Jakarta / Kuteringat masa indah di masa-masa kecilku / Kenangan bersama ayah di kampung halaman / Sungguh indah / Terlalu manis untuk dilupakan / Sungguh mesra / Meski beriring ketegangan / Suasana pengajian petang seperempat malam pertama / Riuh rendah suara hafalan atau cemeti hukuman / Hening hanya decahan kala epik dipaparkan / Liku-liku perjuangan para pahlawan Islam /

Ruang Kereta tidak hanya berupa properti gerbong dan lokomotif saja. Kereta adalah personifikasi menuju jalan perinsafan di lagu “Kereta Taubat”: Kusentuh tombol laju keretaku / Menuju ke pemukiman orang-orang taubat / Kuberanjak untuk tanggalkan / Dosa-dosa yang t’lah lekat berkarat /

Lagu “Ukhuwah” : Di altar bandara Husain Sastra Negara /Kutemukan kurasakan sebuah fenomena cinta / Kusadari sepenuhnya cinta adalah rahmat-Nya / Yang harus di jaga dan dipelihara / Ternyatabukan hanya kereta dan stasiun yang jadi setting, bandara, terminal, dan pelabuhan pun tak ketinggalan. Sangat personal tapi di situlah keunikan dan sekaligus kekuaannya. Syair lagu bukan hanya kata-kata manis dengan sedikit makna.

Berhentilah di terminal ruhiyah / Agar kalah nafsu amarah / … /  Berhentilah di terminal ruhiyah / Agar sadar bahwa dunia fana /. Ada juga di lagu “Fajar Kemenangan” : Dunia ibarat sebuah terminal / Hanya tempat persinggahan (bagi manusia) / Bersabarlah hadapi ujian / takkan lama kan tinggal /

Karakter Balada semakin kuat terpasak di bait pertama lagu “Langgam Kenangan Muda” : Duhai kawan aku punya cerita / Kisah tentang dua anak manusia / Yang terhunjam sebatang panah asmara / Kemudian mendapat hidayah Robb-nya / Keduanya kini harus memilih /Antara sahabat dan Robb-nya terkasih / Sahabat lama pun kini ditinggalkan / Cinta suci hanyalah milik Tuhan /

Balada Puspita dan Para Wadat

Selain pilihan gaya bercerita, SP mempunyai kekhasan dalam mengambil semiotika dari alam. Mentari, awan, fajar, dan yang paling sering adalah tetumbuhan.

Simak lagu “Latar Dunia Islam” : Fajar merekah, kemilau kuning indah /  Bersemu merah, menahan gundah / Segumpal awan, perlahan menghitam / Menguak lembaran, di bumi Islam / … / Senja di ufuk barat, membius kelam / Gelap dan pekat, tersongsong malam / Larutkan bayangan, tiada lagi pijar / Pertanda kemenangan, diambang Fajar /

Di opening lagu Bimbang, SP memulainya dengan sebuah cerita tentang beberapa pemuda yang saling menyapa seusai sholat Isya. Gaya bercerita seperti sandiwara radio meski minim efek suara. Seorang pemuda berkeluh kesah tentang kondisinya yang terlalu banyak pertimbangan untuk menikah.

Lirik lagu penuh perumpamaan para gadis dengan beragam corak bunga. Personifikasi puspita ini menyiratkan keluhuran adab para munsyid saat melukis keindahan lawan jenisnya. Kulihat bunga ditaman / Indah berseri menawan /Cantik anggun dan jelita / Melambai – lambai mempesona / Semerbak bunga setaman / Semarak warna- warnian / Memancarkan keanggunan / Sejuk dalam cahaya Islam / Ada bertangkai mawar / Kaya akan wewangian / Hasanah yang memerah / Kuning ungu dan merah jambu / Ada si lembut melati / Pantulkan putih nan suci / Tebarkan harumnya yang khas / Tegar baja dimedan ganas / Si kokoh anggrek / berbaris serumpun / menanti siraman kasih / sejuk air jernih / rimbun senyum dahlia / palingkan gundah lara.

Gulana para wadat menjadi perhatian khusus oleh SP dan diekspresikan di lagu “Hasrat Hatiku”, “Galau”, “Labuhan Hati”, “Penantian”, dan “Langgam Kenangan Muda”.

Di lagu “Labuhan Hati” kembali puspita dipersonifikasi yang lebih indah dari permata dunia, intan mutu manikam, emas, dan berlian, jika dia salihah. SP selalu membandingkan kenyamanan dan keindahan dunia dengan keindahan ber-Islam. Dan berkali-kali dalam lagunya ada semboyan: Allah tujuan, Rasulullah teladan, Al-Quran pedoman hidup, jihad adalah jalan perjuangan, dan syahid adalah cita tertinggi.

Melodi Yang Terasing

Setiap grup musik/band yang baru terbit, pasti punya genre dan referensi dari grup terdahulu. Ini berlaku juga di kalangan pelantun nasyid. Kalau Snada memiih referensi grup All-4-One dan Boyz II Men, Izzatul Islam referensinya adalah nasyid haroki dari timur tengah, Raihan dengan langgam Melayu, maka Saudara Persaudaraan ini kemungkinan besar mengikuti genre Bimbo.

Memang ada banyak grup musik atau musisi Indonesia bergaya Balada semisal Leo Kristi, Franky Sahilatua, Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Gombloh, God Bless, dan lainnya. Namun nampaknya SP memilih rujukan dari beberapa lagu, God Bless: Balada Sejuta Wajah dan Syair Kehidupan, Franky Sahilatua – Kereta Malam, dan bberapa lagu Bimbo.

Dalam dunia pernasyidan tanah air, genre musik SP mengalami keterasingan di tengah kepungan genre lain. Meskipun begitu, lagu-lagu SP tetap diminati karena syairnya yang mengena di hati pendengar, dan tentu saja alunan melodinya yang telah akrab di telinga masyarakat lewat lagu-lagu God Bless, Bimbo, dan Franky.

Aransemen Baru

Sebagai personil inti SP, Ikmal SP telah me-recording dan mengaransemen ulang beberapa lagunya seperti “Bergegaslah” dan “Kenangan Bersama Ayah”. Lagu-lagu yang tadinya kedengaran sangat jadul karena audionya tidak stereo, begitu diaransir ulang, jadi semakin enak didengar. Walaupun di lagu “Kenangan Bersama Ayah” menurut saya aransemennya salah karena esensi, nuansa, dan spirit lagu aslinya jadi hilang. Kurang terasa keharuan dalam aransemen baru.

Sebenarnya secara musikalitas, SP mengalami perkembangan yang sangat bagus di album “Di Dalam Beatnya Tetap Ada Cinta”, terutama di single “Pengaduan”. Tetapi entah kenapa album ini menjadi album terakhir mereka. Tak ada lagi karya baru yang mereka lahirkan. Mungkin saja grup nasyidnya juga sudah bubar jalan.

Padahal masih banyak penggemar SP yang masih menunggu karya-karya yang makin cihuy. Terlebih teknologi digital yang membuat kita semakin mudah untuk rekaman dan membuat lagu. Kita tunggu saja kemunculannya lagi. Minimal lagu lawanya di-remake, atau di-cover, atau dipaduansuakan juga cakep. Sayang jika bakat besar personil SP disiasiakan begitu saja.

Bonus Track

PENGADUAN

Allah, segala puji bagi-Mu

Shalawat salam bagi Rasul-Mu

Izinkan kami memuja

Izinkan kami meminta

Tuangkan untaian asa

Seorang hamba yang tiada daya

Allah, berkahilah

Muslimin di jagat raya

Jauhkan dari bencana

Dari jin dan manusia

Ridho-Mu kami damba

Selimuti isi dunia

Kerap langkah kami menuruti nafsu jiwa

Dalam gelap kami terbius setan durjana

Bimbinglah kami teguh di jalan-Mu

Tuntunlah kami menggapai ridho-Mu

Allah, ampunilah

Dosa-dosa kami semua

Di masa yang kami lupa

Dan masa yang tampak nyata

Serta masa yang masih ada

Hingga maut kan menjumpa

Semoga langkah kami dalam taburan indahnya iman

Semoga langkah kami selalu dalam damainya Islam

Di bawah naungan cahaya-Mu Ilahi

Di dalam limpahan ampunan-Mu Ilahi

Di tengah lautan kasih-Mu Ilahi

Di tengah arungan samudera keagungan nama-Mu Ya Rabbal Izzati

2 tanggapan untuk “Balada Suara Persaudaraan Dalam Nasyid Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: