Contoh Kabajikan Sehari-hari Yang Dicontohkan Rasulullah SAW

Bila kita bertanya seperti apa contoh kebajikan yang bisa kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari, maka jawaban paling konkret adalah dengan mencontohi perilaku Baginda Nabi Muhammad SAW. Lantas apa yang dicontohkan nabi itu? Rasulullah SAW bersabda: “Dua yang paling utama: iman kepada Allah dan berguna bagi kaum muslimin…”

Iman kepada Allah SWT, mentauhidkan atau mengesakan Allah adalah prinsip tertinggi dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dari cahaya iman inilah kemudian lahir kebajikan-kebajikan yang berkembang biak menjadi amal-amal sholeh baik yang berkaitan dengan peribadatan kepada Allah, maupun kebajikan sosial kepada sesama manusia.

Hal utama kedua dari risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah berguna bagi kaum muslimin. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah an-Nahl (16) ayat 97: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Amal shaleh yang bernilai pahala di sisi Allah harus memenuhi ketentuan syarat dan kondisi: keimanan. Seseorang harus dalam keadaan beriman kepada Allah SWT barulah amal kebajikannya masuk dalam catatan pahala. Jika seseorang hanya mengerjakan kebajikan sosial tanpa keimanan, maka hal tersebut hanya bernilai kebaikan yang biasa saja kepada manusia. Tidak bernilai pahala yang akan menjadi kendaraan untuk masuk ke dalam syurga-Nya.

Berbuat baik kepada sesama manusia setelah beriman, diberi apresiasi yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:  Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Dan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia biasa yang diberikan wahyu oleh Allah, bukan hanya sekedar menyampaikan teori saja. Tetapi Beliau juga telah banyak sekali memberi contoh teladan bagaimana menjadi pribadi utama: beriman dan berbuat baik sesama manusia. Berlanjut contoh teladan ini diikuti juga oleh para sahabat Nabi dan para pengikutnya hingga hari ini.

Lalu apa saja contoh kebaikan yang diajarkan dan dicontohkan Baginda Nabi?

 

Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

Meskipun Rasulullah SAW sejak kecil telah menjadi yatim piatu, Beliau tetap mencontohkan berbuat baik kepada orang tua seperti paman, kakek, dan ibu susuannya. Beliau juga sangat menganjurkan ummatnya untuk selalu berbuat baik kepada orang tua. Membantu pekerjaan orang tua, mengasihi orang tua, menghormati orang yang lebih tua, dan juga menyayangi orang yang lebih muda.

Terlebih Allah SWT yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua yang tertulis dalam Al-Quran: “…Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’, 17:23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’, 17:24)

Dan sekali lagi Allah menegaskan bahwa kebaikan-kebaikan sesama manusia ini selalu pararel dengan perintah untuk beriman kepada-Nya.  Ketaatan kepada orang tua tidak mutlak begitu saja tetapi harus memenuhi syarat tidak mensekutukan Allah SWT dengan hal lainnya.

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Al ‘Ankabuut, 29:8)

 

Membantu Orang Lain Yang Sedang Kesusahan

Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk membantu saudara, teman, dan siapa saja yang sedang dilanda kesulitan, kesusahan, atau ketidakberdayaan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memudahkan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

Jika kita ikhlas dan berniat membantu karena Allah SWT, maka kebajikan kita itu akan bernilai ibadah dan juga akan kembali kepada diri kita sendiri. Allah SWT menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya: “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra: 7).

Tidak ada ruginya kita membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan. Yang pasti orang itu akan tertolong dan semoga di kemudian hari kita pun akan mendapat pertolongan serupa. Entah dari orang yang telah kita bantu, maupun dari siapa saja.

 

Bersedakah atau berbagi sebagian harta kita kepada orang lain

Ada contoh yang sangat mulia dipraktekkan oleh para sahabat Nabi saat Nabi dan para sahabatnya hijrah (berpindah) dari Mekkah ke Madinah. Saat itu karena kaum muslimin sedang mengalami tekanan hebat dari kaum kafir Quraisy di Mekkah, akhirnya mereka berpindah ke Madinah agar terhindar dari marabahaya yang lebih dahsyat lagi. Perpindahan ini tentu saja tidak dengan membawa bekal yang cukup untuk tinggal bertahun-tahun lamanya di kota Madinah. Mereka hanya membawa bekal untuk diperjalanan saja. Beruntungnya, kaum Anshar yang telah beriman ini menerima sahabat yang hijrah dengan lapang dada dan memberikan sebahagian hartanya.

Kisah indah ini dilukiskan oleh Allah dalam Al-Quran: ”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS, al-Hasyr [59]: 9).

Para sahabat Anshar ini ada yang memberikan rumahnya, ladangnya, barang-barang dagangannya kepada sahabat yang baru hijrah. Luar biasa ketulusan dan contoh teladan yang dipraktekkan para sahabat Nabi ini.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan. Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92).

Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk bersedakah kepada orang tua kita. Kepada kerabat, sahabat, yatim piatu, fakir miskin, orang yang tertimpa musibah, orang yang musafir yang kehabisan ongkos, dan siapa saja yang membutuhkan.

Jangan mengira dengan bersedekah akan mengurangi harta kita. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” Sabda Nabi ini diperkuat oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang telah dicontohkan Baginda Nabi Muhammad SAW: menghormati dan berbuat baik kepada tetangga, menghargai pendapat sahabatnya, memuliakan tamu, menepati janji, tidak berbohong, melaksanakan amanat, lemah lembut kepada sesama, sayang kepada orang yang lebih muda, tidak berbicara kasar, selalu tersenyum karena senyum adalah sedekah, tidak gampang marah, dan banyak lagi.

Jika kebajikan-kebajikan ini diterapkan oleh semua umat Nabi Muhammad, insya Allah banyak persoalan-persoalan sosial lebih mudah ditangani. Akan juga menciptakan tatanan hidup bermasyarakat yang lebih damai dan indah.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: