Cara Mengoperasikan Clapperboard dan Fungsinya

Salah satu tugas seorang Pencatat Adegan atau Script Supervisor adalah mengoperasikan Clapperboard. Pencatat Adegan bisa dibantu dengan seorang Clapper Boy/Girl, bisa juga mengoperasikannya sendirian. Zaman dulu, Pencatat Adegan bisa melakukannya tunggal tanpa bantuan orang lain. Karena tugasnya belum lah sebanyak saat sekarang.

Fungsi Clapperboard

Clapboard atau Clapperboard atau Slateboard atau Papan Klep ini adalah alat berisi informasi tentang sebuah shot yang akan menjadi panduan bagi editor film dan penata suara untuk mensinkronisasi gambar dan suara.

Disebut CLAPboard karena ada suara yang berbunyi clap atau seperti sekali tepukan tangan. Disebut CLAPPERboard karena petugas yang mengoperasikan board itu adalah seorang CLAPPER. Disebut SLATEboard karena informasi nomor SLATE inilah yang menjadi panduan utama gambar dan suara yang akan disinkronkan dengan Script Continuity Report. Dan disebut Papan Klep karena alihbahasa ke Bahasa Indonesia.

Mengapa Slateboard ini penting?

Sebelum lebih jauh membahasnya, kita perlu tahu terlebih dahulu cara kerja di lokasi syuting.

Untuk film layar lebar atau bioskop, alat rekam gambar dan alat rekam suara itu terpisah. Berbeda devices. Kamera hanya merekam gambar, dan Sound Device hanya merekam suara. Berbeda dengan kamera video dan DSLR yang bisa merekam gambar dan suara sekaligus.

Kamera film kekinian pun sebenarnya bisa merekam suara, tetapi kualitas dan beberapa fungsinya tidak bisa seoptimal Sound Devices atau DAT.

Nah, karena gambar dan suara ini terpisah, maka dibutuhkan perangkat sinkronisasi. Alat yang dapat membantu agar gambar pemain yang sedang bicara bisa disinkronkan dengan suaranya. Jika tidak ada alat ini, maka editor akan sangat kesulitan mensinkronkan keduanya. Bisa sih bisa, tetapi akan membutuhkan waktu yang lama dan kerja yang lebih letih.

Lalu bagaimana proses sinkronisasinya?

Saat papan Clapperboard bagian atas diketuk ke papan utama, maka ada bunyi yang dihasilnya. Satu frame di mana papan bagian atas tersebut bertemu dengan papan utama, di situlah akan dicari audio cetek atau clap untuk ditempatkan. Satu frame yang terhubung dengan audio inilah yang akan mensinkronisasi keseluruhan frame dalam satu shot atau satu kali tembakan perekaman (take). Gambar dan suara secara otomatis akan sinkron. Makanya aktivitas nyetek atau ngeklep ini tidak boleh menimbulkan 2 suara clap. Harus hanya ada satu suara clap. Kalau ada suara ganda maka editor tetap akan bingung, mana nih yang sinkron? Apakah clap pertama atau yang kedua?

 

Keterangan Dalam Papan Clapboard

Keterangan yang ada dalam papan klep ini bisa berbeda-beda di negara lain. Tetapi di Indonesia ada yang umum digunakan. Informasi dalam papan klep ini dalam beberapa hal sama dengan yang tercatat dalam Script Continuity Report. Lihat di sini.

Seperti yang tertera dalam contoh di gambar di atas. Berikut tambahan keterangannya.

PROD. Ini mengacu pada Production House (PH) yang memproduksi film tersebut.

DIR. Keterangan tentang nama Sutradara.

CAM. Keterangan tentang nama Kameramen.

FPS. Adalah singkatan dari Frame Per Second. Jika tertera angka 24, berarti proses perekamannya normal. Kalau angkanya lebih besar, misal 48 berarti perekamannya slow motion. Jika angkanya semakin kecil maka proses perekamannya speed motion atau gerakan pemain saat diproyeksikan menjadi lebih cepat.

CLIP. Ini adalah nomor klip yang tertera pada TIMECODE di kamera. Nomor ini harus dikonsultasikan dengan operator kamera.

REEL. Untuk Slateboard analog istilahnya ROLL atau CARD atau REEL. Ini mengacu kepada nomor Memory Card yang telah digunakan. Setiap pergantian CARD, maka nomor ini harus berubah.

LENS. Mengacu kepada lensa yang digunakan oleh kameramen. Apakah lensa 50mm, 35mm, 85mm, dan sebagainya.

DATE. Adalah tanggal saat pengambilan gambar tersebut.

Dan Angka yang berwarna merah di atas adalah mengacu kepada jam. Angka ini harus sama (sinkron) dengan angka yang tertera di perangkat Sound Devices.

 

Ukuran Papan Clapperboard

Waktu zaman kamera film seluloid, ukuran Slateboard ini ada 3 jenis ukuran.

Mini, normal, dan besar.

Ukuran Clapperboard Norma dan Besar. Keterangan foto: Saat syuting film Ketika Cinta Bertasbih di Alexandria, Mesir.

Ukuran normal digunakan saat syuting yang menggunakan lensa normal dan wide lens.

Ukuran mini digunakan saat syut dengan lensa super tele yang merekam objek kecil. Misal saat close up tangan, atau close up mata. Clapperboard ukuran normal tidak akan muat dalam frame sehingga harus menggunakan yang ukuran mini.

Sedangkan ukurang besar digunakan di adegan tertentu yang menggunakan lensa wide dan juga dengan jangkauan tangan klepper yang sulit mendekati lensa kamera.

 

Proses Mengoperasikan Clapperboard Analog dan Digital

Proses antara clapperboard analog dan digital sebenarnya hampir sama. Perbedaannya adalah slateboard digital sebelum take harus terlebih dahulu mensinkronkan (adjust) timecodenya dengan timecode di kamera dan di alat perekam suara (sound devices). Yaitu dengan mencolokkan kabel yang menghubungkan antara clapperboard digital dengan kamera, begitu juga dengan sound devices. Jika proses ini telah terlewati, maka akan memudahkan buat editor dalam proses sinkronisasi gambar dan suara.

Setelah seluruh departemen dan pemain telah ready for shoot, maka sutradara atau asisten sutradara akan memberi komando “TAKE!” atau “SHOOT!”. Semua bersiap. Setelah itu astrada memanggil Clapper: “Slate in…!” atau “Slate…” atau “Clap in”.

Clapperboard pun masuk ke dalam frame kamera. Kameramen akan mengalihkan fokus lensa ke slateboard. Astrada kembali berteriak memberi komando kepada Perekam Suara: “Sound..”

Bila perekam suara telah memencet tombol rekam maka dia akan membalas: “Roll…”

Nah di saat inilah seorang Clapper akan menyebut angka Slate number, scene, shot, dan take. Jika telah selesai maka astrada kembali memberi komando kepada kameramen: “Kamera…”

Jika kameramen telah memencet tombol record maka dia akan menjawab: “Speed…” atau “Kamera speed…”

Clapper pun mencetek slateboardnya lalu menarik keluar. Setelah fokus lensa kembali ke titik sebenarnya. Baru sutradara atau astrada akan berteriak: “Action..” sebagai komando kepada pemain untuk melakukan kerjanya.

Jika ada take 2, maka prosesnya pun sama. Bedanya seorang Clapper hanya menyebut nomor slate dan nomor take saja. Begitu seterusnya.

Demikian selintas tentang Clapperboard, fungsi, dan cara pengoperasiannya.

Jika ada pertanyaan sila disampaikan di kolom komentar.

Boleh mengutip artikel ini sebahagian maupun seluruhnya dengan tetap menyertakan sumbernya yaitu dari https://firmanimmanksyah.xzy.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: