Ajarkan Iman Sebelum Alquran – Sebuah Kisah

Film ini digunakan untuk menginformasikan betapa pentingnya IMAN sebelum AL-QUR’AN. Dengan durasi waktu tidak panjang, namun masyarakat memahaminya dan menyentuh hati.

Kurikulum yang digunakan di Kuttab berdasarkan kalimat Jundub bin Abdillah :

“Kami bersama nabi saat kami masih remaja ; kami belajar IMAN sebelum AL-QUR’AN. Kemudian ketika kami belajar Al Qur’an bertambahlah iman kami ( Sunan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani)”

Sinopsis

Amar sering berbohong, menipu, mencuri, mendapatkan uang dari qiraah Alquran. Hingga suatu ketika Amar mendapatkan musibah karena telah menipu orang lain. Dia babak belur hingga teringat nasihat ayahnya…. Berimanlah sebelum pelajari Quran.

Sejak kecil Amar sangat senang diajari baca dan menghafal quran oleh ayahnya. Amar menjadi kebanggaan keluarga. Tetapi sang Kakek agak kurang senang dengan kelakuan Amar. Beberapa kali kakek menjauhkan Quran tapi Amar diam-diam mengambilnya. MTQ yang diikuti oleh Amar pun berkalikali menjadi juara. Hingga suatu ketika Amar ditawari oleh daerah lain untuk mewakili daerah tersebut agar Amar menjadi juara dan mendapatkan uang lebih. Amar bersedia karena harus membiayai pengobatan sang Kakek. Waktu Amar juara, uang yang dijanjikan tidak diberikan. Ia pun protes tapi Amar malah dipukuli hingga babak belur dan masuk rumah sakit. Di saat itulah sang Kakek menasihati agar beriman terlebih dahulu sebelum belajar Quran.

SKENARIO

Narasi: kakekku adalah manusia yang paling ku sayangi. Bagaimana tidak, beliau lah yang merawat aku sejak masih bayi karena ibuku harus pergi selama-lamanya meninggalkanku saat aku dilahirkan. Sedang ayahku sibuk melakukan tugasnya mencari nafkah. Kakekkulah yang paling sering menemaniku bermain apa saja meski terkadang letih tapi beliau tak menampakkannya di hadapanku.

Ayah: Nak, udahlah jangan ajak kakek bermain terus, kan tenaga kakek tidak kuat sepertimu.

Aku: Kakek kan udah dewasa. Udah besar, masak tidak kuat?

Ayah: Almarhumah ibumu sering berpesan, jika ibumu itu ingin sekali mempunyai anak yang penghafal al-Quran. Ibumu ingin sekali masuk ke syurga karena mempunyai anak penghafal Quran. ibumu juga senang mendengarkan lantunan ayat Quran yang merdu.

NARASI: Pesan ibu yang disampaikan ayah ini selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku ingin sekali membahagiakan ibuku yang telah mempertaruhkan nyawanya demi kehidupanku. Ayahpun gembira lantas mendaftarkan aku di les tahfidz dan qiraah Quran.

Dalam waktu singkat, berbekal tekad kuat, akupun mampu menghafal beberapa juz. Dan karena aku dianugrahi suara emas, aku pun sering menjuarai lomba qiraah al-Quran.

AYAH: Ayah bangga sekali padamu, Nak. Semoga ibumu bahagia dengan apa yang telah kamu raih ini.

NARASI: Aku bangga sekali dengan berbagai piala dan penghargaan yang kuraih. Ayahku juga bangga, begitu pula dengan teman dan guruku di sekolah. Mereka menyanjungku setinggi langit. Namun, ada manusia yang sangat sayang kepadaku tapi tidak menyukai semua keberhasilanku ini. Dialah kakekku. Apakah karena waktu bermain dengannya menjadi kurang? Mungkin kakek hanya cemburu.

KAKEK: kamu sering berbohong ya sekarang? Katanya kamu mau main perang-perangan sama Kakek, eh kamu malah pergi les.

AKU: Iya nanti deh.

KAKEK: tuh, kamu berjanji lagi kan? Janji harus ditepati, kalau tidak kamu jadi orang munafik.

AKU: Ih, Kakek!

NARASI: Sepertinya memang kakek tidak suka dengan les tahfiz dan qiraah aku.

KAKEK: (mengambil quran dariku) nanti saja kamu belajar ini, nanti kalau kamu …..

AKU: Ih, kakek pelit. (aku lalu meninggalkan kakek begitu saja).

NARASI: Suatu hari Ayah ada tugas ke luar kota, sedangkan kakek terlihat kurang sehat. Ada beberapa orang yang menawari aku ikut lomba MTQ tingkat nasional tetapi tidak mewakili daerahku melainkan menjadi wakil daerah lain.

ORANG 1: ini kesempatan besar. Kamu pasti juara dan hadiahnya akan kami tambah. Bonus dari pejabat dan sponsor juga berlipat ganda. Ini demi nama baik daerah kami.

ORANG 2: Uangnya dapat kamu tabung atau gunakan untuk pengobatan kakek kamu.

Kakek Nampak tidak setuju tetapi dia sulit berbicara. Aku menyetujui permintaan 2 orang itu. Dan lomba tingkat nasional itu pun aku menangi. Piala telah aku raih. Tetapi janji bonus dan sebagainya urung ditepati.

ORANG 1 : Tidak ada bonus-bonusan. Makan saja piala itu!

(aku marah dan memukuli orang itu. Mereka malah balik mendorongku. Kakek membantu tapi malah jatuh tersungkur. Aku meraih kakek. Di saat itu kakek berbisik. Belajalah iman sebelum al quurannn… la ilaha illallah….)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: