Contoh Pidato Wisudawan Terbaik

Assalamu aikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang salam sejahtera bagi kita semua

Shalom,

Om swastiastu

 

Apa arti Kelulusan ini?

Bagi saya, Ini tentang kebanggaan.

Kebanggaan bagi seorang anak pesisir pantai pulau Sulawesi yang bermimpi untuk memperoleh Pendidikan yang lebih tinggi.

Ya. Inilah sedikit kebanggaan itu. Saya bukanlah anak kota yang mentereng. Bukan juga anak kota yang doyan petantang petenteng. Saya berasal dari daerah terpecil yang jauh dari pusat kota. Sebuah daerah yang terkenal dengan keindahan pantai tersebab pasir putihnya yang halus. Daerah yang menjadi tempat berkunjung para pelancong untuk menenangkan diri sembari mendengarkan riak ombak.

Kebanggaan itu bertambah saat saya, setamat SMA menerima beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Ibukota negara Indonesia. Tempat banyak orang menjumpai mimpinya. Seorang anak dari daerah terpencil, akan berkemas menuju kota termegah. Kota yang bermandikan cahaya lampu di malam hari. Sangat berbeda dengan di kampung yang kadang hanya ditemani sebuah pelita.

Kebanggaan itu semakin berlipat, karena beasiswa yang saya dapatkan itu adalah program Fellowship dari sebuah kampus baru yang modern, yang sangat fenomenal kemunculannya.

 

Bagi saya, Ini juga tentang perjuangan.

Selama bertahun menjalani peran sebagai mahasiswa. Saya merasakan ini adalah perjuangan yang hampir tak pernah usai. Puluhan purnama terlewati, namun gelaran itu tak kunjung didapati.

Setelah berhasil mendapatkan beasiswa, berhasil merebut posisi di antara ratusan peserta lainnya. Babak perjuangan baru justru akan dimulai. Semester demi semester dilalui. Lembaran demi lembaran diktat telah dibuka. Tugas demi tugas telah ditunaikan. Tetapi tantangan terberat itu bukan lah dari lembaran ujian. Bukan lah dari kerasnya didikan dosen. Melainkan justru dari diri sendiri.

Gairah masa muda adalah anugerah, spirit, sekaligus juga ujian. Berjuang menghadapi gejolak muda ternyata tidaklah mudah. Sulit. Sehingga sulit juga untuk diuraikan.

Tetapi di sinilah saya memaknai arti perjuangan. Di sini saya menyelami tentang makna obsesi. Keinginan yang kuat. Tekad yang membara untuk melewati rintangan-rintangan itu. berjuang menghadapi diri sendiri. Berjuang untuk merontokkan kemalasan. Berjuang untuk menenggelamkan keengganan belajar. Berjuang untuk menyelesaikan apa yang sudah direncanakan.

Maka pohon perjuangan ini tak akan berbuah kesia-siaan. Tak akan pernah menghianati hasil.

 

Ini juga tentang proses kreatif yang tak berkesudahan.

Sebagai mahasiswa seni, saya belajar tentang proses kreatif. Kami dilatih dan ditantang untuk terus-menerus menjadi manusia kreatif. Menghasilkan karya-karya yang monumental yang berdaya guna untuk kehidupan bangsa yang lebih berkualitas. Di kampus ini, kami selalu didorong, dimotivasi untuk senantiasa berperilaku kreatif. Menjadikan kreatifitas sebagai karakter inti mahasiswa baik secara personal maupun komunal. Suasana dalam kampus pun sering membuahkan inspirasi estetik yang membantu para mahasiswa semakin “menggila” saat mengolah rasa seni.

Padahal, saya dulunya bukan orang yang mengerti estetika. Saya tidak tahu sedikit pun tentang design. Saya tak paham betul apa itu garis, warna, bentuk, ruang, bingkai, apalagi photoshop. Namun, proses kreatif yang saya jalani di sini sangat membantu saya untuk terus berkembang. Sehingga sedikit demi sedikit, status keawaman itu berubah. Dari tak tahu menjadi tahu. Dari tak paham menjadi paham. Selanjutnya, menjadi pribadi yang berbudaya.

Proses sintetis antara aspek akademis dan rasa keindahan, membuat potensi kreatif ini menemukan harmoninya. Bahkan, kinerja kreatif ini terus berlari tanpa lelah meski kami telah berada di luar kampus. Inilah keunggulan dari kampus tercinta kita ini. Paduan tradisi intelektual dan budaya ini begitu terpatri dalam diri yang menjadi karakter kita.

 

Di Kampus ini saya Merasakan Arti Persaudaraan

Menjadi mahasiswa penerima beasiswa, kami ditempatkan dalam sebuah asrama.

Inilah kali pertama saya tinggal jauh dari orang tua dan hidup bersama orang-orang yang tidak saya kenal dari beragam latar belakang. Di asrama, terjadi interaksi multi kultural yang sangat intens. Antar beragam etnis dari seluruh nusantara. Jika di kampus kami menimba pengetahuan akademik. Di asrama, kami mendapatkan pelajaran kehidupan yang sesungguhnya.

Di situ kami belajar tentang toleransi. Saling memahami satu sama lain. Saling belajar tentang bahasa daerah masing-masing. Saling mengerti adat istiadat. Saling mendalami watak dan karakter.

Di sini saya betul-betul merasakan arti persaudaraan Indonesia yang sejati. Inilah kebhinekaan yang menemukan terapannya. Bukan sekedar jargon. Bukan sekedar wacana.

 

Dan Ini Juga Tentang Kesabaran

Sewindu bukan waktu yang sebentar. Bukan masa yang singkat. Maka di sini saya belajar dan merasakan makna kesabaran. Kesabaran yang bukan hanya yang dialami diri sendiri, tetapi kesabaran yang justru dirasakan oleh orang-orang di sekeliling saya.

Kesabaran teman-teman yang berusaha memahami saya. Yang mungkin bosan mendengarkan curahan hati saya. Jenuh karena sering dimintai tolong. Merasa kesal karena ada kata dan laku saya yang tidak mereka sukai. Tetapi sahabat-sahabat ini tetap sabar untuk berteman denganku. Tetap bersabar dengan segala tingkah dan lakuku yang tak diinginnya.

Kesabaran tingkat tinggi saya rasakan juga dari para dosen yang telah membimbing saya hingga seperti sekarang ini. Bagaimana letihnya mereka dalam mengajar. Susahnya mereka dalam memahamkan mata kuliahnya kepada kami. Sabarnya mereka saat melihat reaksi buruk dari kami. Sabarnya mereka saat mendengar gosip-gosip miring dari kami. Sabarnya mereka saat menanti tugas-tugas kuliah yang kurang dihiraukan dari kami. Sabarnya mereka saat membimbing bab demi bab dalam skripsi kami.

Dosen di kampus ini tidak hanya sekedar pengajar. Relasi yang terjadi bukan hanya antara dosen dan mahasiswa. Tetapi dosen-dosen kami pun menjadi sahabat-sahabat kami. Sahabat yang teramat sabar menghadapi sahabat mudanya. Inilah prinsip egaliter dari sebuah komunitas kampus yang humanis.

Kesabaran tingkat tertinggi yang saya rasakan tentunya adalah dari orang tua kami. Orang tua yang rela melepaskan kami pergi jauh untuk menimba ilmu pengetahuan. Berharap-harap cemas terhadap kuliah kami. Gundah dan gulana dengan keadaan hidup kami. Memendam rindu untuk jumpa dengan kami.

Namun apa yang kami lakukan? Keikhlasan orang tua kami kadang berbalas hal lain. Mata Kuliah tak kami hiraukan. Tugas kuliah jarang dikerjakan. Uang kiriman untuk foya-foya dan makan-makan. Kiriman pulsa bukan untuk menelpon mereka malah menelpon gebetan.

Saya yakin, bahwa orang tua kita bukannya tidak tahu. Mereka tahu lewat jangkauan firasat mereka yang sangat tajam. Tapi mereka membiarkan. Mereka bersabar dengan perilaku kita itu. Dan kesabaran seperti itu takkan ada pada diri orang lain, selain dari orang tua kita.

Kini mereka hadir di sini. Menyaksikan momentum bersejarah ini. Dengan penuh cinta dengan busana terbaik dan wewangian paling harum datang ke sini. Melihat raut kebahagiaan kita. Menjadi saksi sejarah akan kelulusan kita. Membuncahkan bangga melihat pakaian toga kita.

Inilah buah dari kesabaran mereka selama ini. Patutlah kita bersujud sembah kepada mereka. Meminta maaf akan segala kekhilafan kita.

 

Dan terkhusus para dosen, pembimbing, dekan, rekrot, hingga staf kampus lainnya, saya sembahkan sebuah pantun:

Jika ada yang tak kasar, itulah suara cenderawasih.

Suaranya lirih seperti bisikan ikan-ikan.

Jika ada yang lebih dari ucapan terima kasih.

Tentulah itu yang akan saya berikan.

 

Dan terakhir.

Ini juga Tentang Rindu

Kita semua akan berpisah. Kita para mahasiswa akan meninggalkan kampus tercinta ini. Terlalu banyak memori indah yang tercipta di sini. Kenangan-kenangan itu berbekas dan sangat sulit untuk dilupakan.

Kita akan merindukan kampus ini dan semua isinya. Mereka pun akan rindu dengan kita.

Tapi rindu itu berat. Biar aku saja.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: