Ijo Lumut Dalam Perspektif Relasi Muda Mudi

Ijo lumut adalah sebuah warna yang terasa amat popular di iklim kita yang tropis ini, yang punya daya eksotika tinggi karena warna itu tidak banyak dijumpai di belahan bumi lain. Namun di sebuah komunitas mahasiswa mesjid warna ini punya arti lain, berubah fungsi -kalau tidak ingin dikatakan dipaksa untuk menjadi singkatan dari Ikatan Jomblo Lucu dan Imut.

Fenomena jomblo di awal millennium III ini seakan mencuat kembali dan tumbuh subur mengikuti ritme pergaulan  muda mudi yang kian semarak menerbitkan ungkapan-ungkapan terbaru sesuai selera mereka yang menimbulkan paradoks bagi kultur ketimuran yang malu-malu. Jomblo kemudian direspon oleh media diangkat menjadi wacana hangat sebagai ekspresi dari ketidakmampuan memiliki seorang pacar yang diimpi-impikan. Dan para muda pun menyambut Jomblo  dengan gegap-gempita bak seorang pahlawan yang menang perang, yang dikonsumsi secara berlebihan akibat dari hegemoni budaya konsumeristis dan hedonistis.

Para pemilik modal pun melihat potensi daya jual jomblo yang begitu mempesona sehingga jomblo dijadikan komoditi bisnis, dieksploitasi sedemikian rupa dan dikemas dengan berbagai rupa warna. Salah satu bentuk eksplorasinya ialah lagu bertema jomblo, film, sinetron, komik, novel, kaos, dan apa saja yang bisa dimonetisasi.

Sementara itu di mesjid kampus, Ijo Lumut lahir sebagai organisasi sempalan. Mengusung semangat  kejombloan yang berkobar-kobar sebagai oposisi terhadap mereka yang telah berhasil merangkai tali ukhuwah yang lebih spesifik (baca : pacaran). Ijo Lumut tampil sebagai budaya tanding, atau bentuk perlawanan, atau wadah penghilang rasa sepi di sabtu malam, atau apa pun tendensinya, untuk membuktikan walau tidak punya pacar ia tetap bisa eksis.

Saking semangatnya, tidak hanya Ijo Lumut saja namanya. Ada KEJORA (Kelompok Jomblo Ceria) dan JOJOBA (Jomblo-Jomblo Bahagia).

Semangat kejombloan berdampak positif apabila bertujuan menghindari secara intensif ikhtilat antara muda dan mudi. Tentu berbeda sekali dengan yang bermaksud sekedar pelampiasan dari ketidakberdayaannya mencari lawan jenis untuk tidak lagi dijadikan lawan.

Sudah seyogyanya memang bagi aktivis mesjid kampus untuk mengindahkan peringatan mengenai aturan relasi muda-mudi dari Allah agar terhindar dari fitnah pada pergaulan keduanya.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan matanya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha Menetahui apa yang mereka perbuat.”

(Q. S. An-Nur:30).

Hikmah dari tidak bercampur baurnya ini adalah menjauhkan sejauh-jauhnya pribadi dari perzinahan yang melingkupi aspek: zina mata, zina hati, zina tangan, zina kaki, zina hidung, zina kuping, serta zina-zina yang lain.

Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu mendekati zina, karena hal itu adalah perbuatan yang kotor dan keji.” (Q. S. al-Isro’: 32)

Islam berpandangan bahwa koridor zina tidak terbatas hanya pada persetubuhan dengan yang bukan muhrim saja, melainkan mata pun bisa berzina.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua mata itu bisa berzina dan zinanya adalah melihat (yang bukan muhrimnya)” –HR. Bukhari

Ijo Lumut ternyata secara tidak terduga membawa hawa segar bagi pertumbuhan makna keIslaman dalam konteks relasi muda mudi untuk melakukan tindakan preventif sehingga terjadinya hijabisasi yang sesuai dengan tuntutan ajaran agama Islam dan juga tuntutan sebagai aktivis mesjid seharusnya.

Ijo Lumut sedikit banyaknya menjadi momok bagi aktivis pacaran yang terusik dengan yel-yel destruktif: “HANCURKAN MALAM MINGGU!”, walau Ijo terkadang sering juga dikatakan Lumut-an.

Jomblo bukan lagi ungkapan dekaden, naïf, sesuatu yang patut dijahui karena tidak mampu berinteraksi dengan lawan jenis secara intens, melainkan telah menjadi sebuah ketentuan takdir yang patut disyukuri karena mampu sedapat mungkin menyingkirkan dosa kecil maupun besar. Menjaga pandangan. Menjaga kehormatan diri. Dan konsekuensi logisnya adalah semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Akhirnya, semoga eksponen Ijo Lumut tetap istiqomah dalam kejombloannya, sebab misi ini tidak gampang. Membutuhkan pengorbanan untuk menahan nafsu muda yang menggebu-gebu. Dan bukan berarti Ijo Lumut jauh dari perihal jodoh, malah kemungkinan besar yang lebih dahulu menikah adalah eksponen Ijo Lumut atawa KEJORA atawa JOJOBA.

So, VIVA JOMBLO

JAYALAH IJO LUMUT

Cikini, 18062001

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: