Cintaku Bersama Muslim Kokoda

Di sudut kota Sorong, Papua Barat, ada sebuah kompleks kecil, berpenduduk 20 keluarga, 18 di antaranya muslim. Keseharian mereka berkebun lengkuas dan sereh. Mereka Muslim, tapi sangat dikenal suka mencuri, mabuk mabukan, perokok, pemalas, tidak berpendidikan, suka berkelahi, dan menikah tanpa di KUA, sehingga anak-anak yang lahir di kompleks tersebut semua tak memiliki akte kelahiran. Miris…

Di usia yang masih sangat muda, mereka dinikahkan orangtuanya, sehingga tanpa memiliki ilmu apapun. Hampir tiap tahun mereka melahirkan, beberapa diantaranya, di usia 20 tahun, mereka harus merawat 5 anak. 

Karena tanpa ilmu, akhirnya mereka jadi sangat primitif, padahal mereka hidup di perkotaan yang sudah sangat maju dari sisi ekonomi dan pendidikan. Karena kondisi seperti itulah, tak banyak LSM yang melirik kompleks mereka, sehingga mereka kian hari kian terbelakang.

Jumat, 12 Oktober 2018

Awal mula saya memberanikan diri ke kompleks Muslim Kokoda dengan membawa 100 buah kue dengan alasan di hari Jumat penuh barokah. Ada yang ingin berbagi rejeki. Saya diterima baik oleh Mama Sahada. Beliaulah mama Kokoda yang pertama kali saya jumpai, dan melobi beliau sekiranya pekan depan bisa diadakan pengajian di kompleks tersebut. Alhamdulillah, Mama Sahada setuju, karena seumur hidup beliau dan mama-mama lainnya, mereka tidak mengenal huruf, baik huruf hijaiyyah maupun huruf latin.

Jumat, 19 Oktober 2018

Awal saya berkenalan dengan mama-mama muslim Kokoda lainnya di kompleks itu, saya harus menunggu 1 jam untuk mengumpulkan mereka. Satu persatu rumah mereka saya datangi bersama mama Sahada untuk mengajak mama lainnya ikut pengajian. Dan untuk pertama kalinya, alhamdulillah hadir 8 orang mama Kokoda dan 2 orang anak gadis yang siap belajar iqro. Karena mama-mama ini kesehariannya merokok, makan pinang, sirih dan kapur, mereka juga tak pernah sekalipun mengikuti pengajian keIslaman sehingga untuk mengucapkan huruf-huruf hijaiyah, lidah mereka sangatlah kaku.

Setiap hari Jumat, dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 saya mengajari mereka belajar Iqro, belajar mengucapkan kalimat syahadat, praktek wudhu satu persatu, praktek sholat, cara mandi wajib, dan memotivasi mereka untuk hadir setiap pekan.

Untuk melanjutkan misi dakwah ini, saya mulai mencari donatur via facebook. Aktivitas mereka pekan ini saya posting di halaman facebook saya. Alhamdulillah gayung barsambut, komentar-komentar positif, japrian WA, inbox massager semua masuk bersahut-sahutan. Jadwal berbagi nasi di hari Jumat akhirnya full sampai bulan Desember. Permintaan buku Iqro, mukena dan baju muslim mulai berdatangan dari penjuru negeri, bukan hanya itu, sembako, uang zakat, tikar untuk ngaji dan sholat, sedekah, dan semua kebutuhan mereka masuk bertubi-tubi, sehingga saya dan team di Salimah akhirnya menambah aktivitas kegiatan lain untuk mereka. Di antarannya Penyuluhan Gigi, Praktek langsung cara menggosok gigi, Penyuluhan Bahaya Merokok, Rihlah, Indonesia Mendongeng dan aktivitas Keislaman lainnya. Selain itu, kami juga mencarikan peluang kerja untuk mama-mama yang selama ini pengangguran dengan cara mempekerjakan mereka menjadi Asisten Rumah Tangga, meminta mereka membuat ayaman tikar, dompet, tas, dan lain-lain.

Untuk menyemangati mereka belajar Iqro, setiap mereka naik di jilid berikutnya, kami memberikan reward berupa uang saku. Alhamdulillah, dengan penuh perjuangan, karena ingatan mereka sangat minim dan harus diulang-ulang, akhirnya beberapa mama Kokoda kini telah berada di Iqro Jilid 3.

Ada kisah heroik ketika saya dan team Salimah mengajar di bulan pertama. Ketika telah selesai mengajar, tiba-tiba dua orang mama Kokoda bertengkar. Mereka saling mencaci-maki dengan bahasa Papua sambil berteriak teriak. Hampir saja mereka saling beradu. Kami pun sempat ketakutan, tapi alhamdulillah segera kami pisahkan dengan berkata, “Jangan bertengkar, nanti kami takut ke sini lagi kalo mama mama bertengkar sambil teriak.”

Satu setengah bulan kami rutin membina kompleks tersebut, akhirnya beberapa testimoni masuk ke saya. Ada tetangga saya bertanya, “Apakah mama Kokoda itu muridmu, Chie?” dengan perasaan takut saya bilang “Iya”.  Jujur saja, saya takut jika ada komplain, karena selama ini citra mereka memang buruk. Alhamdulillah ternyata tidak. Tetangga saya malah kaget, melihat perubahan yang terjadi, mama Kokoda yang dulu tak berhijab dan suka mencuri daun pisang, sekarang sudah berhijab dan tak pernah lagi mencuri. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Pak RT pun memberi testimoni. Sejak Mbak Achie dan Team Salimah masuk ke kompleks dengan bantuan pendidikan dan ekonomi, Akhirnya warga mulai memiliki semangat bekerja dan beribadah. Sudah tak ada lagi warga yang emosi sambil mengangkat sebilah parang. Beberapa mama Kokoda tak lagi merokok, dan kompleks mereka mulai aman dan nyaman.

Testimoni bukan hanya datang dari dalam, pihak luar pun memberikan testimoni. Para Donatur Jumat berbagi sangat terkesan dengan keramahan warga di kompleks. Antusias warga Kokoda menerima bantuan, berbeda dengan warga Kokoda di tempat lain. Dari anak-anak sampai dewasa semua turun membantu mengangkut barang-barang bantuan, semua warga berkumpul dan menyambut hangat serta menggelar karpet untuk para donatur.

Di bulan ke 7, tepatnya 17 Mei 2019, mendadak saya menikah dan langsung pindah ke Yogjakarta. Air mata perpisahan bersama mama-mama Kokoda tumpah saat pertemuan terakhir Ijab Qobul bulan Ramadhan. Di setiap pertemuan, saya selalu berpesan, “Walaupun mama-mama suku Kokoda, saya suku Bugis, teman teman Salimah lainnya ada yang suku Jawa, tapi kita semua bersaudara. Sesama Muslim itu bersaudara. Yang namanya bersaudara itu berarti kita saling menjaga, saling mengingatkan, saling membantu, saling cinta, dan saling berkasih sayang. Kita ingin sama sama masuk Surga-Nya Allah, maka agar kita bisa bersama sama masuk surga, mama-mama harus rajin datang setiap pengajian. Adanya saya atau tidak adanya saya, mama-mama harus tetap semangat belajar”.

Alhamdulillah Program Salimah ini tetap dilanjutkan oleh tim Salimah lainnya, sehingga setiap hari Jumat, mama-mama Kokoda tetap belajar mengaji.

Penulis

Nama Lengkap : Astriany Syam

Alamat : Rufei

Email : astrianysyam@yahoo.com

No Telp/ WA : 081392625523

Alamat Sosmed : FB : Achie Astriany IG : achieastriany

Profil Singkat :

Nama Lengkap Astriany Syam, panggilan Achie, lahir di Sorong, 26 Desember 1982. Menempuh Pendidikan Dasar di SD Inpres 16 Kota Sorong, Papua Barat, SMP di Ponpes Darul Arqom Gombara, Makassar, SMA Negeri 1 Kota Sorong, dan sejak Tahun 2001 menempuh pendidikan S1 di Universitas Ahmad Dahlan, Yogjakarta.

Bergabung di Salimah PD Kota Sorong sejak bulan Agustus 2018, dan diamanahi menjadi Ketua Bidang Pendidikan Salimah PD Kota Sorong sejak 30 Desember 2018 saat Rapat Kerja I Salimah PD Kota Sorong.

Motto Hidup : Bermanfaat sebanyak banyaknya untuk Umat di bumi Allah manapun saya berada.

Aktivitas : Mompreneur

Kisah Cintaku bersama Muslim Kokoda bisa dilihat di Youtube berikut

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: