Urgensi Pendidikan Berumah Tangga (Parenting)

 

Keluarga adalah ikatan individu-individu yang menjalin hubungan satu sama lain melalui pertalian darah atau perkawinan. Melalui lembaga keluarga hubungan manusia (laki-laki dan perempuan), sebagai makhluk mukallaf, menjadi tertata dalam satu ikatan yang legal dan kokoh guna memperoleh ketentraman hidup. Keluarga juga merupakan sarana untuk merealisasikan tujuan penciptaan dan misi otentik manusia di dunia–melalui proses yang penuh mawaddah dan rahmah—dalam rangka meraih cita-cita universalnya, yaitu kesejahteraan lahir dan bathin. Ia juga merupakan  unit paling asas dalam proses pembentukan dan corak sebuah masyarakat.

Dalam pandangan Islam keidealan sebuah keluarga tergantung pada kemampun para individu (aktor) dalam menyelaraskan antara perilaku lahiriah (realitas aktual) dengan tata nilai (idealitas)-nya, yaitu Islam. Ketika realitas aktual tidak selaras dengan  nilai-nilai Islam yang telah menjadi keyakinan masyarakat muslim maka sebuah keluarga akan kehilangan keidealannya yang menyebabkan masyarakat akan kehilangan kekokohan basis utamanya.

Ternyata posisi institusi yang sangat strategis ini dalam banyak kasus telah terguncang oleh serbuan peradaban global yang digodok, dikembangkan, bahkan didefinisikan di pusat-pusat peradaban global di Barat. Akibatnya, keluarga muslim mengalami kesulitan dalam mempertahankan dan dalam mengembangkan nilai-nilai tradisionalnya. Melalui instrumen imperialisme budaya penetrasi dan dominasi atas sistem komunikasi dan informasi, lembaga pendidikan, organisasi kebudayaan dan keagamaan, dan gaya hidup peradaban global berupaya merontokkan institusi-institusi alamiah tersebut.

Implikasinya, di tengah-tengah masyarakat muslim terjadi pergeseran persepsi tentang perkawinan dan keluarga yang diperparah oleh semakin gencarnya tekanan dari luar lingkungan keluarga seperti media massa. Salah satu akibatnya, perkawinan dipandang sebagai beban. Lebih ekstrem lagi pembentukan keluarga melalui perkawinan dipandang sebagai media melestarikan hubungan hetroseksual yang bisa menimbulkan peperangan antara laki-laki dan perempuan.

Selanjutnya, lembaga yang menjadi prasyarat efektif dan sempurna hubungan sesama manusia dalam merealisasikan tujuan eksistensial dan misi otentiknya (ibadah dan khilafah) dan menjadi salah satu tangga mencapai kesejahteran turut terguncang hebat. Lembaga keluarga menjadi rentan terhadap intervensi budaya dan dapat memperluas prilaku menyimpang (deviant behavior) yang bisa meledak menjadi prahara yang mengancam keutuhannya.

Gempuran paham rasionalisme, sekularisme, dan pragmatisme materialistik serta gaya hidup konsumeristik yang menjadi ciri utama peradaban global telah menggerus identitas  keluarga-keluarga muslim di hampir seluruh belahan bumi. Arus budaya tidak ramah, terutama budaya pop yang  sangat permisif –yang telah melahirkan gangguan pada kehidupan budaya dan tradisi, harga diri, komunikasi, sistem keluarga, dan hubungan yang bersifat kemasyarakatan– telah mengguncang sendi-sendi keluarga muslim dan dalam banyak kasus telah mengobarkan disintegrasi keluarga.

Tentu saja mengantisipasi realitas tersebut memerlukan upaya serius kaum muslimin dalam mengembalikan peran dan fungsi keluarga muslim secara utuh. Maka upaya-upaya menumbuhkan kembali kesadaran kaum muslimin tentang pentingnya roda keluarga berjalan sesuai dengan nilai-nilai Islam –yang terbukti sejalan dengan fithrah dan kebutuhan hidup manusia– merupakan kebutuhan kontemporer kaum muslimin yang harus diseriusi.

Akhir-akhir ini apa yang disebut imperialisme budaya, seperti disinggung dalam di atas, telah melahirkan perubahan-perubahan persepsi dan sistem nilai yang cukup mengguncang sistem keluarga muslim. Secara teoritis, perubahan persepsi dan sistem nilai yang terjadi pada sebuah keluarga dapat melahirkan kekacauan persepsi dan moralitas pada masing-masing anggota keluarga (aktor) dalam hubungan individual dan sosialnya.

Tentu saja kekacauan persepsi dan moralitas dapat menimbulkan kekacauan tata hubungan yang bisa melahirkan disharmoni dan bahkan disintegrasi yang nyaris menjadi fenomena umum keluarga modern. Sebab masing-masing anggotanya akan kehilangan pegangan nilai yang telah menjadi keyakinan mereka bersama. Salah satu akibat yang ditimbulkannya ialah menjauhkan perilaku ”conformity” dari hubungan individu dan sosial mereka. Ketika perilaku ”conformity” individu itu semakin menjauh dari sebuah keluarga maka suasana disharmoni tidak akan terelakan. Kenyataannya, fenomena ini nyaris melanda setiap keluarga modern. Untuk itu diperlukan adanya pendidikan berumah-tangga yang dapat membantu mengembalikan kenyamanan hubungan individu dalam keluarga.

Selain disharmoni dan disintegrasi keluarga dapat pula menimbulkan ketidaknyamanan pribadi dan sosial, serta menimbulkan psikologis yang labil dan terganggu. Sedangkan kondisi psikologis yang labil dan terganggu akan menjadikan individu merasa  kesukaran untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan dalam membangun komunikasi yang baik dengan  orang lain, bahkan dengan dirinya sendiri. Sementara buruknya komunikasi dapat memperparah penyimpangan perilaku (deviant behavior) yang oleh mereka dianggap sebagai solusi cepat mengatasi masalah. Kondisi keluarga seperti ini jelas memerlukan penerangan dan bimbingan yang memadai agar tidak mendapat guncangan yang lebih hebat.

Namun guncangan semakin hebat ketika kaum feminis dilanda kepanikan mental dan kekacauan paradigma berpikir yang telah mengkristal menjadi dendam; yang melahirkan jiwa-jiwa yang terteror, berang, dan marah namun kesepian. Salah satu refleksinya adalah munculnya gelombang prasangka dan hantaman membabi buta terhadap segala sesuatu yang menyangkut keluarga, seperti perkawinan, peran kaum laki-laki dan perempuan, dan lain-lainnya. Para aktivis feminis radikal menganggap struktur keluarga sebagai “dasar penindasan perempuan”, hanya “memperkukuh heteroseksualitas”, “menanamkan struktur karakter feminin dan maskulin yang umum pada generasi”, “perbudakan”, dan “perkosaan yang dilegalisasi”. Tragisnya  –dengan menaiki kendaraan peradaban materialismenya yang kuat dan melalui penyerbuan budaya yang efektif– prasangka  tersebut menjadi gelombang yang mengaduk-aduk cara pandang masyarakat dunia terhadap masalah sosial dan keluarga, termasuk masyarakat muslim Adanya pendidikan parenting dan berumahtangga bisa memberikan bimbingan dan sekaligus solusi terhadap efek dan implikasi yang ditimbulkannya jelas menjadi amat dibutuhkan oleh keluarga yang masih menginginkan kenyamanan dan keharmonisan.

Sebuah institusi keluarga di mana masing-masing anggotanya telah kehilangan pegangan nilai dan terjerat dalam lingkaran penyimpangan akan melahirkan kepanikan, ketakutan, dan penderitaan fisik dan jiwa bagi para anggotanya. Institusi keluarga seperti itu jelas tidak dapat menjalankan salah satu fungsinya, yaitu memberikan kenyamanan hidup dan solusi bagi problem yang dihadapi anggotanya. Oleh sebab itu penting dikembangkan pembelajaran tentang pernikahan dan pendidikan anak (parenting) agar masalah-masalah ini dapat diatasi sedini mungkin. Problematika dalam kehidupan rumah tangga (perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, anak tanpa suri tauladan, dishamoni keluarga) dapat dicegah dan diminimalisir.

Pendidikan berkeluarga semakin urgen ketika masyarakat muslim dilanda apa yang disebut “krisis budaya”. Krisis yang ditandai oleh membiaknya kesangsian diri, krisis keyakinan dan identitas, dan munculnya perubahan-perubahan dramatik pada pandangan terhadap keluarga dan terhadap perilaku individu-individu dalam sebuah keluarga. Perubahan-perubahan pandangan inilah yang telah terbukti menimbulkan sejumlah masalah yang menyebabkan kestabilan (sakinah) bahtera rumah tangga  dan strukturnya menjadi ambruk diterjang badai yang mereduksi makna  keluarga hingga tidak lagi menjadi wadah atau lembaga yang mulia (baik secara sosial, hukum, maupun agama).

Pembelajaran parenting harus terus diintensifkan melakukan penerangan dan bimbingan keluarga -–baik secara langsung maupun tidak langsung– sangat diperlukan dalam masyarakat modern. Sebab, persoalan-persoalan yang berkembang di tengah-tengah keluarga modern berimplikasi sangat luas, bukan hanya pada individu-individu tetapi juga kepada kehidupan sosial politik suatu bangsa.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: