Cara Tepat Menangani Konflik Antar Siswa

Sekolah-sekolah kita adalah dunia kecil masyarakat. Di sekolah, anak-anak bangsa mendapatkan  pendidikan dan pengajaran tentang berbagai ilmu pengetahuan dan membina ketrampilan. Di sekolah, anak-anak bangsa belajar untuk berinteraksi dan berkembang bersama, serta saling mendorong kreativitas.

Sekolah membawa misi pendidikan dan pembudayaan masyarakat.  Pada sekolah-lah, orang tua dan bangsa menggantungkan harapannya akan generasi masa depan yang lebih baik, cerdas, dan bertanggung jawab.

Namun pada kenyataannya, sekolah sering menjadi tempat yang tidak nyaman dikarenakan sikap sebagian pelajar bahkan mahasiswa yang saling menghina, mengeluarkan kata-kata tidak sopan, memberikan panggilan negatif terkait suku-agama-kepercayaan-maupun nama keluarga atau marga, hingga terlibat perkelahian antarmereka sendiri.

Berdasarkan penelitian dan pendapat beberapa ahli pendidikan, disebutkan bahwa sekolah dapat ditimpa permasalahan yang melibatkan pelajar dan pengajarnya. Permasalahan tersebut, seringkali menyangkut kurikulum sekolah; teknik dan pendekatan mengajar; serta sikap dan tindakan pengajaran yang menggunakan kekerasan dalam menghukum siswa.

Bagaimana perangkat lembaga sekolah dapat terjerumus kedalam permasalahan tersebut? Mengapa terjadi konflik antar pelajar dan siapa yang bertanggungjawab? Siapakah yang dapat menjelaskan konflik ini? Adakah cara atau pendekatan yang dapat kita gunakan untuk mengatasinya? Dari mana kita akan mulai untuk menguraikan perseteruan ini?

Ketegangan di sekolah yang melibatkan pelajar, selama ini ditangani oleh badan konseling sekolah atau yang lebih sering disebut BP – Bimbingan Pembinaan.

Lembaga BP sekolah dalam prakteknya memberikan pengarahan dan pembinaan kepada dua pihak yang terlibat konflik.  Lembaga BP juga melakukan pembinaan dari aspek psikologis pelajar. Jalan keluar yang dihasilkan, seringkali masih didominasi pihak BP. Jalan keluar itu menyebabkan pelajar merasa sebagai pihak yang tersubordinasikan dengan harus mematuhi kesepakatan yang dibuat sepihak.

Itu sebabnya, banyak solusi yang dikeluarkan sekolah tidak dapat menyelesaikan kasus-kasus di sekolah secara tuntas. Akar masalahnya cenderung terpendam, baik secara psikologis maupun sosial.  Mungkin, itu sebabnya kita masih menyaksikan ketegangan pada pelajar.

Apakah Indonesia memiliki sejarah mengenai konsep penyelesaian masalah? Bagaimana penyelesaian masalah itu ditawarkan?

Pada awal tahun-tahun kebangkitan bangsa, sejarah Indonesia telah memperlihatkan ruang konflik yang tajam antara banyak tokoh di republik ini dikarenakan perbedaan pandangan dan sikap dalam membangun bangsa. Tetapi kita juga belajar bagaimana tokoh-tokoh bangsa kita menunjukkan sikap toleransi tinggi terhadap perbedaan, baik itu dalam hal agama, suku atau bahasa.

Negarawan kita Mohammad Hatta, memperlihatkan sikap toleransi dan dialog yang cerdas.  Mohamamad Natsir menunjukkan sikap menghargai pendapat orang lain. Dan Sultan Takdir Alisyahbana membuktikan bahwa perbedaan pendapat dapat menghasilkan sebuah maha karya dan budaya.

 

Lalu sekarang, bagaimana kita menghadapi perbedaan dan pertentangan dalam dunia kecil kita yang bernama sekolah?

Memasuki tahun 2000an, beberapa negara telah mulai mengembangkan pendekatan dalam menangani konflik antar pelajar di sekolah.  Salah satu diantara program itu adalah ”Peer Mediation”.  Peer Mediation dikembangkan di Amerika Serikat, dan hingga kini berkembang pesat.  Peer Mediation diterapkan di sekolah-sekolah tingkat pertama hingga sekolah menengah atas. Peer Mediation didasarkan atas sebuah landasan pemikiran dan praktek bahwa pelajar dapat menyelesaikan sendiri permasalahan diantara mereka dengan melibatkan sesama pelajar itu sendiri. Pendekatan ini menitik beratkan pada proses dialog melalui mediasi dengan penyelesaian yang disetujui oleh kedua pihak yang bertikai.

Beberapa sekolah di Amerika Serikat telah memasukkan Peer Mediation ke dalam kurikulum sekolah. Tingkat konflik maupun perkelahian antar pelajar berkurang secara signifikan setelah peer mediation diterapkan.  Peer Mediation juga mendorong tumbuhnya kemandirian pelajar untuk kreatif, peka, dan peduli terhadap sesama. Pihak kepala sekolah dan dewan guru berperan sebagai pengawas dan memberikan dukungan konstruktif terhadap penerapan program ini di sekolah.

 Sebuah sekolah menengah di Broklyn New York yang mayoritas pelajarnya kulit hitam, menjadikan Peer Mediation sebagai salah satu bentuk dari penyelesaian konflik yang melibatkan pelajar. Guru pembimbing berpendapat bahwa Peer Mediation bermanfaat meredakan ketegangan diantara pelajar.

 

Kak Seto ”Ada banyak cara untuk mengajarkan anak-anak kita untuk dapat saling menghargai sesama, bermain dalam kelompok adalah diantara yang baik untuk menanamkan rasa tanggungjawab”.

 

Mas Arief ”Lingkungan yang sehat akan membuat perilaku anak-anak yang sehat pula, mulailah pendidikan dengan lingkungan yang bersih dan teratur baik dio sekolah-sekolah kita”.

 

Untuk itu, sudah seharusnya sekolah-sekolah di tanah air ini juga menerapkan mediasi sebaya atau mediasi antarteman sekolah ini di tempatnya masing-masing. Tidak hanya mengandalkan guru, wali kelas, atau badan pembina sekolah. Penyelesaikan konflik antarsiswa bisa diselesaikan oleh mereka sendiri. Jika ini berhasil, maka kedewasaan siswa menangani konflik akan meningkat. Dan tentunya akan meminimalisir kuantitas konflik yang terjadi.

 

Penjelasan lebih lanjut tentang mediasi sebaya bisa dilihat di artikel ini.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: