Puisi Angkatan Corona 2020, Berpisah Tanpa Pelukan Tanpa Jabat Tangan

Siswa, santri, hingga mahasiswa di tahun 2020 ini adalah angkatan yang istimewa. Istimewanya bukan karena indeks prestasi yang meninggat tinggi, bukan karena raihan angka kelulusan yang sempurna, tapi karena sebuah pandemi oleh virus Covid-19. Pandemi yang mulanya ketahuan menjangkiti provinsi Wuhan, Tiongkok. Lalu menyebar ke seantero negeri di hampir semua belahan dunia.

Gegap gempita pesta kelulusan yang biasanya dirasakan oleh angkatan-angkatan sebelumnya tidak dirasakan oleh angkatan corona, kita sebut saja begitu. Tidak mengikuti ujian nasional. Tidak ada corat-coret baju (kalau yang ini bagus dipertahankan). Tidak ada pertemuan-pertemuan di kelas. Semua senyap. Hening seperti orang yang sedang bertafakkur di dalam goa.

Siswa hanya bisa berdiam di rumah saja. Belajar, beraktivitas, beribadah, bahkan sholat idul fitri yang biasanya ramai di lapangan pun kini hanya dilakukan di rumah bersama keluarga terdekat. Mau keluar rumah harus menggunakan masker. Saat tiba di rumah harus cuci tangan menggunakan sabun.

Semua aktivitas yang tak biasa itu akhirnya menjadi rutinitas. Kebiasaan baru ini adalah pemandangan sehari-hari. Ketakutan akan virus corona merebak. Menghindari kerumunan bahkan menolak berbicara dengan orang yang kelihatan rentan dan sakit.

Impian-impian indah tentang acara perpisahan sekolah pun sirna. Padahal semua telah disiapkan dengan baik. Gedung perpisahan telah dicari. Dekorasi pun telah disiapkan, baju seragam telah dipesan, rundown acara telah disusun, fotografer untuk membuat buku tahunan telah dibayar uang mukanya, konsumsi telah dirancang menu-menunya, hingga kado-kado buat cinderamata guru pun telah tersedia.

Tapi semua batal. Perpisahan pun hanya dilangsungkan lewat daring dengan menggunakan aplikasi zoom. Hanya dapat bertatap wajah dari kejauhan. Yang tersisa adalah sebait puisi ucapan selamat berpisah.

Sahabat,

enam tahun sudah kita bersama.

Belajar, bermain, beribadah, bukanlah waktu yang singkat buat kita, buat guru-guru kita, buat orang tua kita.

Tapi kini, semua akan kita akhiri sampai di sini.

Dulu saat berjumpa, kita awali dengan jabat tangan, kita hangatkan dengan pelukan.

Namun perpisahan ini, tanpa pelukan, tanpa jabat tangan.

Hanyalah tatapan kesedihan di balik layar gawai kita.

Sahabat,

Angkatan kita adalah angkatan istimewa.

Kita lulus mendapat ijazah tanpa ujian nasional.

Tetapi ujian kita adalah ujian kehidupan.

Covid 19 datang mengambyarkan mimpi-mimpi kita.

Memisahkan kita sejauh-jauhnya.

Belajar dari jarak jauh,

Bermain, bersilaturahim, tak boleh saling mendekat.

Jaga jarak.

Cuci tangan,

Pakai masker.

Inilah yang mengisi pikiran-pikiran kita.

Inilah ujian terberatnya. Siapa yang mampu melewati pandemi ini, dialah yang lulus.

Bukan hanya sebagai anak sekolah dasar, tapi juga sebagai manusia.

Sahabat,

Kini kita saling mengucapkan kata perpisahan.

Segala kenangan indah mari kita pahat.

Kenangan buruk, mari kita hapus.

Biarlah yang indah-indah saja yang terpahat dalam ingatan.

Sahabat,

Jika sekarang kita berpisah mungkin di waktu dan tempat yang berbeda kita bisa bersua lagi.

Tetapi dalam perjalanan enam tahun kita, ada yang pergi tanpa pernah kembali.

Mari kita doakan mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Semua pun menangis. Tak dapat mencegah air mata yang menetes. Tak siapa pun. Tak seorang pun. Bahkan bila mendengar puisi ini berkali-kali. Selamat tinggal kawan lama. Selamat datang dunia baru. Semoga kita dapat berjumpa kembali di suasana yang berbeda.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: