Tugas dan Peran Penata Artistik Film

Asal mula art directing dari mise en scene pertunjukan teater yang artinya mengatur semua yang ditampilkan di atas panggung. Mulai dari Set, Properti, Kostum, Riasan, Efek, Gerak Pemain, hingga Tata Cahaya.

Di film urusan tata cahaya diserahkan kepada penata kamera atau sinematografer. Urusan gerak pemain diatur oleh sutradara.

Sejarah tata artistik ini dimulai ketika George Melies (1861-1937), sineas Perancis, ditahun 1896 mulai membuat film atau mendokumentasikan sebuah drama/pertunjukkan panggung.

Awalnya dia mendengar diciptakannya alat yang bernama sinematografi. Alat itu bisa merekam gambar bergerak lalu diproyeksikan kembali ke layar. Kemudian dia berpikir bahwa bujet yang digunakan untuk membawa keliling rombongan teaternya bisa dirampingkan dengan hanya merekam adegan panggung lalu hanya membawa hasil rekaman tersebut keliling Eropa.  

Antara tahun 1896-1914 ia membuat 531 film. Yang paling terkenal ialah La voyage dans la Lune / A Trip to the Moon.

Kemudian mulai dikembangkannya pembuatan film yang menggunakan teknik dekupase/editing oleh Edwin Porter (1870-1941) dan DW Griffith (1875-1948), di Amerika Serikat.  

Filmnya yang terkenal adalah The Great Train Robbery (Edwin Porter-1903) dan The Birth of Nation (DW Griffith-1915).  Mereka dikenal sebagai pionir penyutradaraan dan teknik Film.

Di mana muncul pendekatan bahwa dalam sebuah adegan merupakan kumpulan atau bangunan dari elemen dasar; shot-shot; berupa Long shot, Full shot, Medium shot serta Close up

Bertolak dari itulah, unsur-unsur artistik sebuah film yang terdiri dari set, property, dan kostum mulai berubah menjadi realis.  Mulai ada tuntutan bahwa segala unsur artistik harus se natural mungkin. Karena di situ terdapat shot Close Up. Penonton dituntun untuk mengikuti setiap scene melalui proses dari gambar besar atau master ke gambar-gambar detail untuk lebih menerangkan setiap gerak tokoh karakter.

PENGERTIAN TATA ARTISTIK FILM

Tata Artistik adalah kegiatan mempersiapkan sebuah lingkungan setting untuk sebuah film, fotografi atau produksi video. Lingkungan setting mencakup segala bentuk dan warna yang akan masuk kedalam sebuah frame yang diharapkan mampu menciptakan look dan mood tertentu.

PERSIAPAN ARTISTIK

  1. ANALISA SKRIP.

Blueprint sebuah film adalah skenario.   Membaca skenario sambil membangun gambaran imajinasi.  Perencana harus mencatat dengan cepat gambaran-gambaran tersebut, dalam bentuk sketsa-sketsa kecil.   Tujuan dari sketsa-sketsa tersebut adalah memperoleh catatan dari gagasan-gagasan awal.  Sketsa-sketsa awal ini tidak perlu dilihat orang lain, tapi pada tahap berikutnya menjadi dasar dari sketsa yang lebih lengkap.  Pendekatan diatas adalah pendekatan yang paling konvensional.

Memperkirakan adegan

Membaca skenario juga perlu meng-imajinasikan pergerakan pemain (koreografi).  Pergerakan pemain untuk memperkirakan seberapa luas set yang diperlukan.  Selain membaca karakteristik set yang tertulis dalam cerita.

Memperkirakan perwatakan dan karakter

Setiap pemain haruslah direka-reka karakternya masing-masing.  Hal ini sangat membantu dalam perencanaan dan dressing set lokasi.

Menentukan periode

Faktor penting lainnya dalam sebuah perencanaan artistik adalah menentukan periode.  Periode atau era pada saat cerita berlangsung. Menjadi background setting dan property yang akan ditampilkan.  Saat merencanakan set berdasarkan periode yang telah lewat, maka riset menjadi bagian yang penting sekali.

Membuat rencana set

Perencana artistik berdiskusi dengan sutradara dan membuat gambar-gambar setting, lokasi dan property yang dirasa penting. Keseluruhan persiapan artistik,  meliputi;

  • Penelaahan skenario bersama sutradara.
  • Riset-riset.
  • Pencarian lokasi.
  • Perencanaan set, kostum, efek : Pembuatan gambar-gambar.
  • Pembentukan/penyusunan kru art department.
  • Membuat jadwal kerja
  • Menyusun anggaran artistik.

Membuat gambar Sketsa

Main set atau set-set penting yang ada dalam sebuah skenario,  mulai digambar dengan pendekatan-pendekatan berdasar, antara lain;  kebudayaan, era atau masa, karakter tokoh, warna cerita dan subyektifitas dari sutradara.  Tentu tidak ketinggalan pertimbangan dari bujet artistik.

Mula-mula yang digambar bisa berupa sketsa-sketsa, namun ada pula yang berawal dari membuat floorplan.

Membuat maket

Jika perlu Para Perencana bahkan sampai membuat maket.  Karena maket menampilkan segala sesuatunya lebih jelas.  Kadang kadang sebuah sktesa yang bagus belum tentu dipahami benar oleh sutradara,  oleh karenanya untuk menghindari kesalah-pahaman antara perencana dengan sutradara pada saat sudah dilokasi, perlu dibuat maket-maket.

MEMBUAT GRUP ART

Pada awalnya seorang Perencana Artistik atau Penata Artistik (Art Director) bekerja sendiri. Ia bekerja untuk sutradara   Namun meski demikian ia sudah harus mengetahui sumber-sumber apa yang ia perlukan untuk membantunya.  Misalnya ketika ia membaca skrip dan berdiskusi dengan sutradara, ternyata diperlukan suatu efek khusus pada suatu adegan.

Bagaimanapun situasinya, dalam tugas seorang Perencana Artistik selalu dibantu oleh sejumlah tenaga ahli,  yang meliputi;

  • Asisten Art Director
  • Pengatur keuangan art-dept.
  • Juru gambar
  • Kepala konstruksi
  • Set dresser (penghias set)
  • Property master (kepala property).
  • Property makers (pembuat property)
  • Perencana kostum
  • Make up dan Hair Stylist.
  • Spesial efek.
  • Stagehands
  • Tukang-tukang kayu
  • Tukang-tukang cat
  • Tukang kebun.

Penata Artistik bertanggungjawab juga terhadap lokasi syuting mulai dari mencari lokasi, memilih, recce,  membuat floor plan, set lokasi indoor atau outdoor, membuat bujet, dan sebagainya.

Untuk lengkapnya kita bisa dengarkan langsung keterangan rinci oleh Bapak Han Revo Joang di video ini:

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: