Cara Membuat Dokumenter Bagi Pelajar/Mahasiswa

Membuat film dokumenter agak berbeda dengan film cerita. Jika film cerita harus menulis skenario terlebih dahulu, film dokumenter tidak harus. Skenario berupa narasi atau treatment bisa ditulis saat mengedit atau bahkan tidak ditulis sama sekali.

Membuat dokumenter juga tidak memerlukan kru dan pemain sebanyak saat bikin film cerita. Krunya bisa sangat minimalis. Bisa juga kamu sendiri. Mulai dari merencanakan, syuting, hingga editing. Tentu saja kamu harus punya sekian banyak keterampilan.

Lantas mengapa banyak orang yang masih suka menonton film dokumenter? Bukannya dokumenter itu sangat membosankan? Mengapa juga kita harus bikin dokumenter?

Setiap manusia mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Kepo dengan hal-hal yang diminatinya. Selalu penasaran kok bisa begitu ya? Apa bener dia itu begitu? Masak sih bisa seperti itu?

Maka sebab itulah film dokumenter tetap disukai dan dibuat. Banyak orang penasaran tentang kehidupan hewan liar di alam bebas, maka Natioal Geographic membuat dokumenter tentang keluarga beruang di kutub utara. Ada juga yang penasaran dengan sejarah masa lalu, maka dibuatlah dokumenter tentang sejarah.

Ada beberapa jenis atau genre film dokumenter yang perlu kamu ketahui seperti:

  1. Perjalanan
  2. Sejarah
  3. Potret/Biografi
  4. Investigasi
  5. Ilmu Pengetahuan
  6. Dokudrama – Rekonstruksi
  7. Alam dan Kehidupan
  8. Perbandingan yang kontradiktif

Namun seiring perkembangan zaman dan kreatifitas dari pembuat dokumenter, genre tersebut kadang bercampur aduk satu sama lain seperti genre di film fiksi. Ada drama-komedi-aksi, horor-komedi-thriller. Yang suka-suka yang buat lah.

Persiapan

Sebelum syuting, tentu kamu harus melakukan berbagai persiapan agar saat syuting nanti bisa efektif dan efisian. Kamu tidak akan kekurangan gambar atau materi lain sehingga harus syuting ulang yang menyebabkan energi terkuras.

Tujuan dan Tema

Hal pertama di masa persiapan ini adalah tentukan tujuan kamu membuat dokumenter. Ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri. Untuk apa saya bikin dokumenter ini? Bercerita tentang apa atau siapa? Fakta apa yang yang ingin saya ungkap dan menarik untuk ditonton? Apakah dokumenter saya ini bisa menginspirasi orang lain?

Dari jawaban kamu sendiri, akan kelihatan tujuan dan tema dokumenter kamu. Misal kamu ingin membuat dokumenter tentang perjalanan kamu kebun binatang. Gali lagi apa yang menarik dari perjalanan itu? Apa yang unik dan pelajaran apa yang akan dipetik oleh penonton? Sebab kalau hanya sekedar merekam gambar, itu bukan dokumenter tapi dokumentasi.

Kamu juga bisa mengangkat kisah tentang seseorang. Entah itu teman sekolah, guru, marbot musholla, pengamen tua, penjaja makanan di depan sekolah, atau bisa siapa saja. Tapi gali kembali untuk apa kamu memilih orang itu dan apa yang unik?

Misalnya tentang guru, mungkin guru kamu itu setiap hari pulang pergi dari rumahnya di Bogor sedangkan tempat mengajarnya di Tanah Abang. Atau tentang marbot masjid dekat rumah kamu yang setiap malam begadang karena menjadi hansip RW. Mungkin tentang pengamen tua yang saban sore ngamen di komplek rumah kamu untuk menghidupi 10 anak asuhnya. Atau karena kamu penasaran dengan cara pembuatan jajanan depan sekolah, maka kamu membuat dokumenter tentang ‘Mas-Mas’ itu. Atau apa saja yang unik dan menarik.

Mungkin di sekolah atau kampus kamu ada kasus korupsi yang melibatkan pengurus yayasan. Kamu bisa membuat dokumenter investigasi mengenai hal itu. Tujuan kamu adalah agar kasus itu bisa terbongkar dan takkan ada lagi kasus yang sama terjadi di masa depan.

Kamu suka sekali sama bunga mawar. Kamu bisa membuat dokumenter ilmu pengetahuan tentang bunga mawar. Mulai dari cara pembibitan hingga perawatan. Kamu bisa merekam bunga itu sejak masih tunas hingga tumbuh menjadi mekar. Kamu bisa isi dengan narasi yang bisa membuat penonton terinspirasi. Biar tidak membosankan, cari hal unik atau masalah saat kamu merawat bunga itu.

Atau kamu suka sama hewan seperti kucing atau kelinci. Tapi sekali lagi cari hal unik. Jangan merekam kucing biasa yang tukang tidur. Penonton pun akan tidur. Umpamanya tentang kucing yang baru tiba dari Rusia dan butuh adaptasi terhadap lingkungan baru.

Suatu hari kamu pernah ke acara pernikahan saudara lalu melihat beberapa anak yang mengambil makanan sebanyak mungkin tapi tidak dihabiskan. Kebetulan kamu merekam gambar itu. Pada hari lain kamu melihat anak tetangga yang miskin dan hanya menyantap nasi plus kecap. Kamu segera merekam peristiwa itu lalu kamu buat dokumenter perbandingan yang kontradiktif.

Riset

Melakukan riset tidak seperti akademisi sedang membuat penelitian ilmiah. Riset yang kamu perlukan adalah riset pustaka. Baca-baca hal yang berhubungan dengan dokumenter kamu. Atau Tanya-tanya sedikit tentang orang yang akan kamu angkat. Amati langsung obyek kamu lalu pelajari dengan seksama.

Riset bukan hanya tentang tema, tapi juga tentang teknis syuting. Oh kalau saya ingin mengambil gambar guru dari Bogor, saya harus nginap di rumahnya karena harus berangkat dari subuh. Oh kalau begini keadaannya saya harus begitu.

Pembuat film dokumenter harus memiliki indera pengamatan sosial yang tinggi. Mempelajari kehidupan dari berbagai aspek dan perpektif. Hal ini akan menguatkan riset dan bahan dalam menghasilkan dokumenter yang apik.

Catatan

Catatlah apa-apa saja fakta yang kamu temukan atau yang belum kamu dapatkan. Catat juga kira-kira shot apa saja yang perlu kamu ambil.

Saya pernah membuat dokumenter tentang penambangan timah di Bangka Belitung. Videonya bisa ditonton di sini. Sebelum saya berangkat ke Bangka, saya membuat banyak catatan tentang shot apa yang harus saya ambil. Siapa saya yang harus saya wawancarai, dan catatan lain. Selama syuting pun saya tetap membuat catatan ini itu. Jangan sampai lupa lalu saat kembali ke Jakarta, baru saya ingat. Nggak mungkin kan balik lagi ke Bangka?

Daftar shot list saya itu seperti: tambang, orang sedang menambang, tambang di laut, penambang konvensional, gunung, pantai, dan shot yang lebih detil.

Siapkan Pertanyaan

Jika kamu memerlukan wawancara dengan narasumber, siapkan pertanyaan. Catat pertanyaan tersebut dan hapalkan. Jangan terlalu sering melirik ke catatan karena hal itu bisa memutuskan alur dari cerita sang narsum.

Contoh tentang guru kamu yang tinggal di Bogor. Buatlah pertanyaan seperti kapan tinggal di Bogor? Mengapa harus di sana dan bukan yang dekat sekolah? Apakah tidak letih dengan perjalanan?

Buatlah sebanyak mungkin pertanyaan meski ternyata saat wawancara nanti tidak jadi kamu tanyakan. Oh ternyata guru itu telah bercerita sendiri semua hal tentang dirinya. Ternyata semua itu dia lakukan karena cinta pada keluarga dan anak muridnya.

Persiapan Teknis

Siapkan semua peralatan syuting, mulai dari kamera, sound, mungkin juga lighting. Jika kamu tidak memiliki, bisa minjem atau sewa. Jika tak sanggup, kamera hape jadilah. Tapi untuk sesi wawancara, audio harus kamu perhatikan dengan seksama. Jangan sampai penonton tidak bisa mendengar jelas suara narsum.

Kalau terpaksa kamu harus menggunakan kamera hape, dekatkanlah kamera hape dengan narsum agar suaranya dapat terekam jelas. Pilihlah lokasi wawancara di tempat yang tidak bising.

Selain kamera, kamu juga harus terlebih dahulu mendapat izin dari orang yang akan kamu jadikan subyek dokumenter. Lakukan pendekatan yang baik agar izin dapat peroleh.

Syuting

Setelah persiapan telah kamu anggap matang, maka rencanakanlah syuting. Tentukan skejul dengan narasumber agar jelas kapan hari dan jamnya. Jangan sampai sesi wawancara kamu terhambat gegara skejul yang terburu-buru.

Wawancara

Untuk film dokumenter, sebaiknya lakukan sesi wawancara terlebih dahulu agar kamu bisa membuat shot list dari hasil wawancara tersebut. Gunakan tempat yang nyaman dan terang agar gambar kamu bisa lebih maksimal.

Mungkin kamu perlu beberapa lokasi wawancara. Seperti di stasiun kereta, ruang guru, atau di rumah. Sekali lagi perhatikan dengan seksama audio. Jangan sampai suara kereta lewat mengganggu kenyamanan dan hasil syuting.

Mengambil stock shot yang banyak

Ambil shot yang banyak dan bervariasi. Saat guru bersiap berangkat. Saat di stasiun, saat di sekolah. Gunakan variasi shot. Umpanya dalam kereta ada long shot dari jauh, ada close up guru sedang terkantuk. Shot penumpang lain. Pokoknya ambil sebanyak mungkin agar dokumenter kamu kaya dengan gambar dan tidak membosankan.

Editing

Setelah bersusah payah saat syuting, kamu masih berpayah di meja editing.

Membuat dan Merekam Narasi

Nontonlah hasil wawancara kamu dan catatlah bagian-bagian mana yang mungkin bisa kamu jadikan narasi. Lalu rekam narasi tersebut sebagai patokan dasar dalam mengedit.

Merangkai dan Membuat Kesimpulan

Rangkai gambar demi gambar agar cerita kamu bisa dicerna dengan baik oleh penonton. Buat kesimpulan yang indah agar penonton kamu bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang kamu sajikan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan bisa kamu sampaikan di kolom komentar.

Jangan lupa untuk JOIN TELEGRAM agar bisa terus update informasi dari kami.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: