Contoh Sinopsis Film Dokumenter – 3 Tips Jitu

Apa yang membedakan film dokumenter dari jenis film lainnya? Atau apa yang membedakan antara dokumenter dengan tayangan berita (news) yang secara prinsipil menampilkan fakta dan akualitas?

Banyak juga yang bertanya seputar cara membuat sinopsis film dokumenter. Bagaimana contoh skenario, naskah, storyline, treatment film dokumenter? Semuanya akan kita kupas satu persatu berikut dengan contoh filmnya.

Menurut John Gierson, seorang sineas dokumenter dari Inggris, dokumenter adalah “A Cretive Treatment of Actuality.” Artinya adanya perlakuan kreatif terhadap sebuah aktualitas.

Di sini tersirat makna yang cukup jelas bahwa aktualitas yang ada dan kita terima di sekeliling kita tidak akan berarti tanpa pengolahan kreatif dari sang pembuat film. Terutama dari sisi sinematografis.

Film Berita dan Dokumenter

Sebelum mengupas lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui perbedaan dasar antara film berita dan film dokumenter.

Berita: Supaya orang jadi tahu. Mengutamakan aktualita.

Dokumenter: Mempersuasi penonton pada suatu pengertian/sikap sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat film.

Film Berita sangat erat dengan prinsip jurnalisme koran dan televisi. Dalam peliputan dan penulisan berita, sang wartawan merangkai peristiwa menggunakan poin-poin utama 5W+1H. Yaitu What (apa), Where (di mana), When (kapan), Who (siapa), Why (mengapa) + How (bagaimana).

Berdasarkan penggalian informasi-informasi tersebut, sebuah berita dapat disajikan utuh tanpa meninggalkan jejak pertanyaan lain seputar peristiwa yang dikabarkan. Pemenuhan keenam unsur di atas adalah syarat mutlak dalam menyingkap fakta yang sedang terjadi dan perlu untuk diberitakan.

Sedangkan untuk film dokumenter, tugas penyampaikan fakta tidak berhenti sampai di situ. Pembuat film harus melakukan persuasi dan berfokus pada satu bidang permasalahan.

Fokus film dokumenter saat mengupas masalah atau tema harus benar-benar dilakukan secara mendalam dan detail sehingga penonton dapat larut dan terlibat secara emosional. Yang nantinya pembuat film dapat mengajak dan membimbing penonton pada suatu opini tertentu yang menjadi tujuan pembuatan film.

Film dokumenter adalah sebuah kerja interpretasi kreatif atas suatu kenyataan atau dokumen, yang merupakan ekspresi pribadi atau kelompok. Sentuhan personal dapat lebih diutamakan ketimbang hanya sekedar menampilkan kejadian-kejadian.

Sedangkan mengenai ide dan tema dokumenter dapat diraih dengan berbagai cara. Yang paling penting adalah sensifitas dan ketanggapak kita terhadap berbagai fakta kehidupan yang tengah atau telah berlangsung.

Ide-ide unik dan menarik dapat kita paparkan meski diambil dari hal yang sangat sederhana. Selanjutnya tergantung kreatifitas kita dalam mengolah tema sederhana tersebut menjadi suguhan yang menarik.

Tentang ide film dokumenter, lebih jauh dapat kamu baca di sini: Cara Membuat Dokumenter Bagi Pelajar/Mahasiswa.

Karakteristik

Ada tiga karakteristik film dokumenter yang perlu kamu ketahui:

  1. Penyajian fakta-fakta untuk melihat apa yang berada di balik realita itu dengan maksud membujuk (mempersuasi) penonton.
  2. Lebih utama untuk mengeksploitasi subyek daripada hanya mempertontonkan.
  3. Pendekatan penyajian: menyentuh perasaan.

Treatment Film Dokumenter: 5 Pertanyaan Pokok

Sebelum membuat film dokumenter, banyak yang bertanya soal bagaimana penulisan skenario atau sinopsis? Harus kamu ketahui bahwa dokumenter pembuatannya tidak memerlukan skenario seperti membuat film cerita. Baik film pendek maupun film panjang.

Di mana dalam skenario itu ada tokoh, dialog, adegan, dan lain sebagainya. Film dokumenter tidak memerlukan itu semua. Karena pada dasarnya, sebelum kita melakukan syuting, kita tidak benar-benar tahu akan seperti apa cerita dokumenter tersebut.

Sebagai contoh penulisan skenario film cerita, kamu bisa lihat di sini: Skenario Film Pendek Lengkap Dengan Breakdown.

Kita hanya punya asumsi terhadap tema yang akan kita angkat. Masih sebatas dugaan. Kita tidak dapat memprediksi apa yang terjadi di lapangan meski sebelumnya kita telah melakukan riset mendalam tentang hal tersebut.

Setelah melakukan wawancara, baru ada titik terang dari apa yang selama ini kita asumsikan. Bisa saja asumsi kita itu benar. Bisa juga jauh melenceng dari dugaan kita. Begitu juga saat melakukan pengambilan gambar. Kita baru tahu oh ternyata begini toh fakta sebenarnya.

Treatment dokumenter juga bukan kumpulan shot list. Di mana ada keterangan tentang angle camera, type shot, camera movement, juga tidak diperlukan keterangan transisi editing. Ada fade in fade out, dissolve, cut to, dan sebagainya.

Membuat treatment dokumenter sangat sederhana. Tetapi pelaksanaan syuting dan editing akan memerlukan durasi yang tidak sederhana. Apalagi jika berkaitan dengan cuaca, menanti momentum, jadwal wawancara, revisi, dan hal tak terduga lainnya.

Lalu bagaimana cara membuat treatment tersebut? Ada lima pertanyaan pokok yang perlu kamu tulis jawabannya.

  1. Apa topik film kamu?
  2. Dari sudut mana kamu ingin melihat topik tersebut?
  3. Untuk kegunaan apa film ini dibuat?
  4. Kepada siapa film ini ingin kamu tujukan? Berapa banyak pengetahuan penonton utama itu mengenai topik yang kamu sajikan?
  5. Kamu ingin penonton akan berbuat/bersikap apa setelah menyaksikan film itu?

Penjelesan tentang contoh detilnya akan kita bahas kemudian.

Konsep penyajian

Hampir sama dengan penulisan skenario film cerita, film dokumenter juga menggunakan struktur 3 babak. Ada pembukaan, pembahasan, dan penutup.

Tetapi untuk film dokumenter, kita namakan saja babak: Hey You, See, So.

Struktur ini baru akan kelihatan setelah kita telah melakukan syuting. Ada beragam wawancara dan stock shot yang telah kita rekam. Materi shot inilah yang menjadi panduan kita dalam menulis narasi jika diperlukan. Atau kalau kita merasa wawancara subyek cukup untuk menggambarkan cerita yang kita inginkan, maka narasi tidak perlu kita buat. Kita bisa langsung masuk ke ruang editing.

HEY YOU: Panggil perhatian penonton. Libatkan penonton dengan topik yang akan kamu sajikan.

SEE! : Lihatlah apa yang kamu paparkan.

  • Problematika.
  • Informatif.
  • Komunikatif.
  • Menarik (interesting).
  • Estetik.

SO! : Demikianlah kesimpulannya.

Contoh Film Dokumenter tentang Tambang Timah

Sekarang kita akan membahas bagaimana treatment dan konsep penyajian diaplikasikan dalam film dokumenter yang saya buat. Tapi sebelumnya kamu perlu nonton terlebih dahulu film ini:

https://www.youtube.com/watch?v=TrmYWABwrFI

Apa topik film kamu?

Film ini tentang akibat yang ditimbulkan oleh penambangan timah dan bagaimana solusinya.

Dari sudut mana kamu ingin melihat topik tersebut?

Dari sudut pandang aktivis lingkungan hidup.

Untuk kegunaan apa film ini dibuat?

Sebagai bahan renungan dan materi promosi.

Kepada siapa film ini ingin kamu tujukan? Berapa banyak pengetahuan penonton utama itu mengenai topik yang kamu sajikan?

Film ini ditujukan kepada para pemangku kepentingan baik pemerintah dan pelaku usaha tambang timah. Secara umum ditujukan kepada masyarakat luas.

Kamu ingin penonton akan berbuat/bersikap apa setelah menyaksikan film itu?

Penonton diharapkan lebih peduli kepada lingkungan hidup terutama pada lahan bekas penambangan timah. Juga agar penonton peduli pada pemanasan global dan kelestarian lingkungan hidup.

Konsep Hey You, See, So.

Hey You: di awal film, saya menampilkan musisi tradisional yang memainkan instumen lokal dan nyanyian tentang Negeri Serumpun Sebalai Bangka Belitung.

Sejak awal saya langsung mengenalkan penonton bahwa film ini tentang kondisi di Bangka Belitung. Ada musik khas, pemusik dengan baju adat, dan beberapa shot yang menjadi ciri dari propinsi tersebut.

See: penonton kemudian diberi informasi tentang apa itu provinsi Bangka Belitung. Ada grafis yang mendukung informasi tersebut. Selanjutnya masuk ke problematika di wilayah tersebut dengan manampilkan informasi tentang sejarah penambangan timah sejak zaman Hindia Belanda.

Problematika pun terpampang jelas akibat dari penambangan timah dari zaman ke zaman dengan berbagai cara: konvensional dan inkonvensional.

Hal menarik dari film ini karena saya mengambil gambar otentik langsung ke lokasi yang cukup rumit. Harus keluar masuk area tambang: di hutan dan pantai. Saya berkeliling berbagai lokasi yang cukup jauh selama beberapa hari.

Gambar-gambar estetik juga saya usahakan dapat. Apapun caranya. Namun sayangnya waktu itu saya tidak berhasil mendapatkan aerial shot yang bisa menunjukkan kondisi tambang timah lebih luar. Waktu itu belum ada drone shot. Kami juga sempat ingin meminjam helikopter kepolisian, tapi tidak jadi karena biaya avturnya yang sangat mahal.

Narasumber yang saya wawancarai pun dipilih yang paling kompeten yaitu gubernur dan aktivis lingkungan hidup. Sebagai pemanis gambar, saya mewawancari juga artis dari daerah tersebut yaitu Artika Sari Devi.

So: kesimpulan dari film ini dapat kamu lihat sendiri di bagian akhir film. Tidak perlu saya jelaskan karena kamu pasti tahu lah. Hehe.

Salah seorang kru tercebur dalam kolam bekas penambangan timah. Beruntung karena kamera berhasil diselamatkan.

Lantas apa yang saya tulis sebelum berangkat syuting?

Selain 5 pertanyaan pokok di atas, saya menulis daftar shot yang akan saya rekam. Ada tambang, bangunan khas Bangka, hutan, pantai, kegiatan penambangan, kegiatan aktivis lingkungan hidup, dan pertanyaan kepada narasumber.

Selanjutnya adalah improvisasi di lapangan. Sasampainya di sana, saya tertarik untuk merekam kegiatan kesenian tradisi, kegiatan anak-anak di lokasi tambang, dan improvisasi lainnya.

Saya harus menajamkan mata untuk melihat hal-hal yang unik. Meluaskan pendengar untuk mendapatkan fakta-fakta yang tidak saya dapatkan dalam riset awal.

Durasi Film Dokumenter

Tidak ada patokan durasi bagi film dokumenter. Tetapi untuk menjawab kelima pertanyaan pokok di atas, setidaknya kita membutuhkan paling sedikit 5 menit. Ada juga film dokumenter durasinya 1 jam lebih bahkan sampai 2 jam. Tergantung seberapa dalam problematika cerita yang kita suguhkan.

Namun berdasarkan pengalaman saya membuat film dokumenter, rerata saya membutuhkan durasi 8 menitan untuk menggambarkan semua itu. hal ini terjadi begitu saja, bukan karena saya yang mematok standar durasi. Setelah saya menonton lagi film dokumenter yang saya buat, ternyata kurang lebih segitu durasinya.

Kamu bisa juga JOIN ke grup telegram untuk mendapatkan info dan artikel terbaru dari saya.

JOIN TELEGRAM DI SINI

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: