8 Jenis Kontinuiti Yang Wajib Diperhatikan Dalam Pembuatan Film

Menjaga Kontinuiti Adalah Tugas dan Tanggung Jawab Seorang Pencatat Adegan

Sebelum kita membahas tugas Pencatat Adegan yang satu ini, kita perlu mengetahui cara kerja di lokasi syuting.

Adegan yang akan di shoot itu tidak berurutan sesuai skenario. Misal, hari pertama syuting atau shooting days #1, tidak harus mengerjakan scene 1. Mungkin saja dimulai dari scene 19 atau bahkan dimulai dari scene ending.

Kalaupun misal memang harus dimulai dari scene 1, pengambilan (take) shot pun tidak harus dari shot 1. Bisa saja dari shot 2 atau shot 10. Loncat-loncat lah begitu. Nah, di sinilah peran penting seorang Pencatat Adegan. Semua adegan harus dicatat, difoto, dan direkam agar adegan tersebut terjaga kontinuitasnya.

Sebenarnya tugas menjaga kontinuiti ini adalah tanggung jawab masing-masing departemen. Departemen kostum bertanggung jawab terhadap kontinuitas kostum, departemen kamera menjaga kontinuitas kamera dan penataan lampu, departemen artistik menjaga kontinuitas set dan properti, begitu juga dengan departemen lain. Namun, peranan Skrip (Pencatat Adegan) mensupervisi semuanya. Terutama menjaga kontinuitas adegan-adegan telah di-take.

Ada 8 jenis kontinuiti yang wajid diperhatikan sebelum dan setelah melakukan take.

  1. Kontinuiti Kostum
  2. Kontinuiti Make-Up
  3. Kontinuiti Gerak
  4. Kontinuiti Dialog
  5. Kontinuiti Set dan Properti
  6. Kontinuiti Pemain Figuran
  7. Kontinuiti Arah Pandang Pemain
  8. Kontinuiti Waktu

 

1. Kontinuiti Kostum

Adegan di film Duka Sedalam Cinta.

Penata kostum adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kontinuiti terhadap kostum yang digunakan oleh pemain. Misal scene 10, Mas Gagah turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah menggunakan kaos merah dan jaket coklat. Lanjutannya adalah scene 11 Mas Gagah telah ada di dalam rumah sedang ngobrol bersama Gita yang adegannya diambil selang 2 hari kemudia. Maka penata kostum beserta asistennya harus mempunyai catatan kontinuiti sekaligus juga bertanggung jawab terhadap hal ini.

Penata kostum harus tahu betul corak kostum yang dikenakan oleh pemain. Kalau merah itu apakah merah marun atau merah muda? Sedangkan seorang Skrip bertanggung jawab terhadap bagaimana kostum tersebut diperlakukan oleh pemain di scene 10 tadi. Apakah Mas Gagah membuka jaketnya sewaktu hendak masuk rumah? Membuka sepatu? Kalau membuka jaket, apakah jaketnya dipegang di tangan kiri atau tangan kanan?

Bisa juga pemain membuka kancing atasnya, atau melempar jaketnya, atau apa saja.

Seorang skrip harus tahu hal ini. Mengingat, membuat catatan, memotret, dan menggunakan alat rekam video.

Alat rekam video ini berkembang sesuai perkembangan teknologi. Jaman dulu biasanya pencatat adegan dibekali dengan foto polaroid yang langsung jadi. Ada juga yang menggunakan video assist dan merekamnya di player VHS, DVD, mini-DV, atau Video Device.

Inilah tanggungjawab seorang skrip dan perbedaan tanggungjawabnya dengan penata kostum.

Baca Juga: Mengoperasikan Video Assist dan Tugas Lain Pencatat Adegan

 

2. Kontinuiti Make-Up

Kontinuiti riasan wajah juga menjadi tanggung jawab skrip. Apakah si artis menggunakan gincu merah atau ungu? Rambutnya digerai atau dikepang? Dan sebagainya.

Tapi yang biasanya menjadi perhatian lebih dari seorang skrip adalah arah jatuh rambut. Terutama rambut pemain perempuan. Apakah rambutnya di belakang telinga? Ataukah setelah pertengkaran dengan suaminya rambut sang istri jadi acak-acakan? Apakah ada helai rambut yang menutup sebagian mata?

Semua detil ini harus diperhatikan oleh Pencatat Adegan. Jika hal ini diabaikan, maka penonton akan merasa aneh. Perasaan tadi kok rambutnya gak gitu deh. Kok rambutnya lain? Nah, jika ada pertanyaan-pertanyaan ini selama menonton film, maka alur cerita tidak akan mulus dinikmati oleh penonton. Mereka akan sibuk dengan pertanyaan dan pikiran-pikiran mereka sendiri.

 

3. Kontinuiti Gerak

Gerakan pemain harus menjadi perhatian oleh pencatat adegan. Biasanya pemain dalam melakukan aksi kadang melupakan gerakan yang mereka sendiri lakukan. Di luar kontrol mereka. Apakah waktu ngobrol sambil menggerakan tangan? Atau memalingkan wajah? Atau apa saja. Maka di sinilah peran seorang skrip mengingatkan pemain terhadap gerakan-gerakan mereka.

Ada sutradara yang biasa menggunakan Teknik Master Scene yaitu mengambil adegan penuh secara keseluruhan dengan menggunakan sudut gambar lebar atau Wide Shot. Setelah itu mereka mengambil pecahan adegan dengan Teknik Close Shot. Nah, ulang gaya oleh pemain saat pengambilan close-shot ini yang menjadi perhatian pencatat adegan. Apakah si pemain minum dulu sebelum ngomong, atau ngomong dulu baru minum? Apakah berjalan ke arah meja dulu baru ngomong? Atau berjalan sambil ngomong? Dan lain sebagainya.

 

4. Kontinuiti Dialog

Semua dialog pemain sudah ditulis dalam skenario. Biasanya dialog-dialog ini mengalami pengembangan saat proses reading, latihan, dan saat syuting. Peran pencatat adegan adalah membuat catatan perubahan-perubahan dialog tersebut agar saat terjadi ulang gaya di shot yang berbeda, dialog-dialog pemain yang telah mengalami pengembangan ini tetap terjaga kontinuitasnya.

 

5. Kontinuiti Set dan Properti

Adegan di film “Ketika Mas Gagah Pergi the Movie”

Penata artistik beserta stafnya mempunyai tanggung jawab terhadap kontinuitas set dan properti yang digunakan saat syuting. Pencatat adegan bertanggung jawab terhadap bagaimana set dan properti tersebut digunakan. Apakah gelas yang digunakan pemain di taruh lagi di tempat semula, atau dibuang ke tempat sampah. Apakah mobil yang digunakan pemain itu diparkir menghadap rumah atau menghadap gerbang? Dan sebagainya.

 

6. Kontinuiti Pemain Figuran

Penempatan figuran dan aksi figuran pun wajib menjadi perhatian seorang pencatat adegan. Apakah di dalam kelas ada 10 siswa dan 10 siswi? Bagaimana cara mereka berpakaian? Apa saja yang digunakan oleh figuran tersebut? Apakah menenteng tas? Atau membawa gawai? Apakah jalannya cepat atau lambat?

Tingkat kesulitan mengatur kontinuitas figuran ini jika figurannya banyak atau kolosal. Butuh perhatian yang lebih detil lagi.

 

7. Kontinuiti Arah Pandang Pemain

Arah pandang pemain jangan dianggap sepele. Pemain melihat ke arah kanan frame atau kiri frame harus dicatat dan diperhatikan. Hal ini berkaitan akan berkaitan dengan posisi pemain. Contoh Mas Gagah dan Gita sedang ngobrol berhadapan. Saat close shot Mas Gagah dia melihat ke arah kiri frame, maka wajarnya orang berdialog pastinya saat take shot Gita seharusnya melihat ke kanan frame. Jika arah pandang mereka sama. Sama-sama ke kiri, maka penonton akan menyangka bahwa mereka berdua tidak saling melihat atau melihat ke suatu obyek yang sama.

Baca Juga: Mengenal Profesi Pencatat Adegan

 

8. Kontinuiti Waktu

Waktu di sini ada 3 hal yang perlu diperhatikan. Pertama soal kapan shot itu dilakukan. Jika dilakukan pagi hari maka shot di scene yang sama yang diambil di hari yang berbeda harus juga dilakukan di pagi hari. Sebab ini berkaitan dengan jatuhnya cahaya di obyek atau subyek yang kita shot, maupun jatuhnya bayangannya. Cahaya dan bayangan pagi akan tidak kontinuiti dengan cahaya dan bayangan di siang, sore, apalagi malam hari.

Waktu yang kedua adalah tentang timelapse. Logika waktu pada sebuah sequence dan peristiwa. Mas Gagah yang melakukan perjalanan dari rumah ke rumah sakit berapa lama? Apakah dalam waktu singkat atau lama. Jika lama, mungkin saja Mas Gagah sampai ke rumah sakit malam. Atau kalau dekat, nggak mungkin berangkat pagi tapi sampainya malam. Kecuali dalam perjalanan Mas Gagah mendapat hambatan.

Waktu yang ketiga adalah soal jam dinding atau jam tangan. Bila ini luput diperhatikan bisa menimbulkan keanehan dan pertanyaan. Umpamanya scene tersebut di take jam 12.00 dan di belakang pemain terlihat jelas jam di dinding menunjukkan jam 12.00. Waktu pengambilan shot berikutnya dengan type shot yang berbeda, jam dinding tersebut masih terlihat. Tapi karena lupa mengubah posisi jarum jam, ternyata jarum jam telah menunjukkan pukul 14.30. Di meja editing semua baru terlihat jelas. Kondisi ini bisa membuat retake atau take ulang. Ongkos produksi akan bertambah karena harus sewa alat lagi, dan pengeluaran lainnya.

Beginilah sekelumit tentang kontinuiti yang menjadi tugas dan tanggungjawab seorang Pencatat Adegan. Masih banyak contoh dan situasi yang belum dipaparkan. Semoga artikel singkat ini bermanfaat.

TUGAS LAIN PENCATAT ADEGAN:

  1. Mencatat Adegan
  2. Menjaga Kontinuiti
  3. Membuat Laporan Harian dan Scene Control
  4. Mengoperasikan Clapboard
  5. Mengoperasikan Video Assist
  6. Ikut Membantu Kerja Asisten Sutradara Bila Dibutuhkan

Jika ada pertanyaan sila disampaikan di kolom komentar.

Boleh mengutip artikel ini sebahagian maupun seluruhnya dengan tetap menyertakan sumbernya yaitu dari https://firmanimmanksyah.xzy.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: