Mengenal Profesi Pencatat Adegan atau Script Continuity

Dalam industri film dan sinetron, ada sebuah profesi yang cukup diminati oleh banyak orang. Yaitu Pencatat Adegan atau Script Continuity. Profesi satu ini mempunyai banyak istilah. Di industri film Hollywood dikenal dengan istilah Script Supervisor. Ada juga yang mengistilahkan dengan Script Clerk, Script Boy/Girl, Clapper Boy/Girl, Pencatat Skrip, Pencatat Kontiniti, dan entah apa lagi. Kalau di Indonesia biasa dipanggil Skrip saja. Aktivitas mencatat adegan biasa disebut ‘nyekrip’. Kalau sedang bekerja sebagai Pencatat Adegan, istilahnya lagi nyekrip.

Di artikel ini Pencatat Adegan akan diistilahkan Skrip saja. Biar nggak boros kata-kata. Haha.

Memang Kenapa Bisa Diminati?

Karena banyak yang menganggap bahwa menjadi Skrip adalah jenjang untuk menjadi sutradara. Dan memang di Indonesia, banyak sekali contoh sutradara film/sinetron yang mengawali karirnya dari Pencatat Adegan. Sebelum menjadi sutradara, seorang skrip bisa terlebih dahulu menjadi astrada, co-sutradara, lalu menjadi sutradara penuh.

Pekerja Skrip ini berada di bawah depertemen Penyutradaraan selain Asisten Sutradara (astrada) dan tentu saja sutradara. Di lokasi syuting, seorang skrip akan sering berinteraksi dengan sutradara dan astrada. Karena itu mereka akan banyak belajar langsung dari sutradara. Itulah mengapa profesi ini dianggap sebagai langkah awal untuk menjadi sutradara. Meski tidak semua skrip di Indonesia bisa menjangkau level sebagai sutradara. Banyak juga yang mentok menjadi asisten sutradara, atau selamanya menjadi skrip.

Mungkin karena skrip tersebut tidak mampu mengembangkan diri, atau bisa juga terlalu cinta dengan profesi skrip itu sendiri.

Di industri film Hollywood sendiri, menjadi skrip bukan lah jenjang untuk menjadi sutradara.

Pencatat Adegan Tugasnya Apa Saja?

  1. Mencatat Adegan
  2. Menjaga Kontinuiti
  3. Membuat Laporan Harian dan Scene Control
  4. Mengoperasikan Clapboard
  5. Mengoperasikan Video Assist
  6. Ikut Membantu Kerja Asisten Sutradara Bila Dibutuhkan

 

Banyak juga ya?

Yoi. Kita akan bahas satu persatu.

Mencatat Adegan

Tugas pertama seorang skrip adalah mencatat adegan yang sedang atau telah direkam. Aktivitas merekam gambar ini biasa disebut “take (tek)”. Adegan yang di-take dicatat dalam sebuah bagan.

Dalam bagan itu berisi nomor urut, nomor slate, scene, shot, take, keterangan NG/OK, deskripsi adegan, dialog, dan keterangan lainnya.

Ini contoh lembar Pencatatan Adegan.

Nomor Urut udah pasti taulah. Pergantian nomor urut dari 1 ke 2 adalah bila berganti shot. Contoh nomor urut 1 kita sedang take scene 10 shot 2. Biasanya take ada beberapa take. Setelah berganti shot, maka nomor urut pun berpindah ke nomor urut 2. Begitu seterusnya.

 

Nomor SLATE adalah urutan aktivitas pengambilan gambar. Nomor Slate harus terus berlanjut meski take-nya berkali-kali. Contoh, Slate 1 kita mengambil adegan/scene 10 shot 2 take 1. Karena adegan itu belum OK, maka adegan diambil lagi. Maka nomor Slate harus berganti menjadi Slate 2 Scene 10 Shot 2 Take 2. Shot yang di-take ternyata belum OK, maka dilanjutkan dengan Take 3, nomor Slatenya pun berganti menjadi Slate 3. Sutradara menganggap take sudah oke, maka dilanjutkan dengan pengambilan shot lain.

Nomor urut berubah menjadi nomor urut 2, tetapi nomor Slate tetap lanjut menjadi Slate 4. Begitulah seterusnya. Nomor Slate ini harus selalu berganti  setiap take. Tidak boleh ada nomor Slate yang sama. Karena nomor Slate inilah yang menjadi panduan bagi editor gambar dan editor suara untuk mensingkronisasi gambar dan suaranya.

Nomor Slate bisa saja loncat karena lupa atau apa, tetapi tidak boleh sama. Editor gambar atau editor suara bisa salah menginput jika ini sampai terjadi. Nomor Slate ini bisa berjumlah hingga ribuan untuk sebuah film layar lebar.

 

Nomor SCENE adalah nomor adegan yang tertera dalam skenario. Nomor Scene ini harus sama dengan yang ada di skenario.

 

Nomor SHOT adalah pecahan dari sebuah scene. Pencatat Adegan harus bertanya kepada sutradara tentang hal ini. Bisa saja dalam pengambilan sebuah shot, seorang sutradara tidak urut dari Shot 1 tetapi memulai dari Shot 5, umpamanya.

 

Nomor TAKE adalah urutan pengambilan gambar dari sebuah SHOT. Jumlah take dari satu shot tidak bisa ditentukan. Tergantung dari bagus atau tidaknya pengambilan take. Bisa saja sebuah Shot hanya membutuhkan 1 take. Bisa juga 10 take.

 

Keterangan NG/OK. NG singkatan dari Not Good, dan OK adalah oke atau bagus. Keterangan ini harus berdasarkan pilihan sutradara. Pencatat Adegan hanya membubuhkan tanda NG atau OK sesuai arahan sutradara. Tidak bisa atas inisiatif pribadi seorang skrip. Lazimnya di lokasi syuting, Take terakhir itu yang OK. Tapi bisa juga tidak. Pokoknya OK tidaknya sebuah shot, harus berdasarkan keinginan sutradara.

 

DESKRIPSI. Kolom Deskripsi ini dimulai dengan Tipe Shot lalu dilanjutkan dengan adegan yang dibuat. Contoh CU Mas Gagah ngobrol dengan Gita lalu dia berjalan ke depan hingga OUT FRAME.

(Tentang TIPE-TIPE SHOT ini ada di artikel lain.)

Jika ada Dialog, harus juga dicatat. Dialog tokoh yang diucapkan oleh pemain ini harus ditulis juga selain gerakan pemain. Dialog ini bisa sama persis dengan yang ditulis di skenario. Bisa juga ada improvisasi dari pemain. Seorang skrip hanya menuliskan beberapa kata di awal dan beberapa kata di akhir. Tidak semua dialog harus ditulis. Jika ada perubahan dialog yang dilakukan pemain. Maka Skrip membuat catatan perubahan itu di skenario yang menjadi pegangannya.

Jika ada gerakan kamera, maka harus ditulis juga. Begitu juga keterangan In dan Out Frame pemain. Apakah di kanan frame, atau kiri, atau atas, atau bawah? Ini sangat berhubungan dengan kontinuitas shot sebelum dan setelahnya.

 

TIME. Ini catatan tentang durasi Take yang diambil. Ukuran waktunya adalah detik. Makanya seorang Pencatat Adegan film layar lebar jaman dulu harus dibekali dengan stopwatch. Hitungan ini juga akan menjadi panduan kameramen untuk mengganti Roll film seluloidnya.

Kalau sekarang bagian ini diganti dengan TIMECODE. Keterangan ini bisa didapatkan di video assist atau di kamera.

 

KETERANGAN. Keterangan ini bisa apa saja. Bisa tentang kondisi shot, kondisi audio, atau apa saja yang perlu dibuatkan keterangan. Catatan di sini pun harus berdasarkan dari perintah sutradara. Bisa juga inisiatif dari Pencatat Adegan itu sendiri.

 

ROLL. Ini adalah keterangan tentang Roll film seluoid yang digunakan. Kalau sekarang itu sudah berganti menjadi CARD. Setiap pergantian Roll atau Card, lembaran catatan pun wajib diganti. Tidak boleh di lembar yang sama meski catatannya masih sedikit.

 

LOKASI. ini adalah keterangan tentang letak lokasi syuting. Setiap pergantian lokasi biasanya lembarannya pun diganti. Tapi bisa juga hanya memberikan keterangan tambahan di kolom keterangan.

 

HATI/TANGGAL. Berisi tentang hari dan tanggal.

 

Laporan Pencatatan Adegan ini akan menjadi panduan bagi Editor gambar, Loader, dan Editor suara untuk melakukan tugas-tugasnya.

Begini kondisi skenario yang dipegang oleh Pencatat Adegan. Penuh dengan catatan oretan sana sini.

 

Catatan ini juga berfungsi untuk menjaga Continuity shot yang satu dengan shot yang lain. Karena terkadang sebuah scene yang terdiri dari beberapa shot, pengambilan gambarnya tidak di hari yang sama. Maka catatan ini sangat lah penting untuk menjaga kontinuitas. Oleh karena itu seorang Pencatat Adengan bisa disebut juga Script Continuity atau Pencatat Kontiniti.

Kesalahan dalam membuat catatan adegan akan merusak kerja orang lain. Makanya dibutuhkan ketelitian yang mendalam untuk menjadi seorang pencatat skrip.

Catatan skrip ini pun untuk menjadi panduan di lokasi syuting tentang apa saja shot yang telah diambil dan yang belum diambil.

Catatan ini awal ditulis menggunakan tulisan tangan. Kalau rajin, setelah syuting langsung diketik ulang di computer atau laptop lalu diserahkan kepada unit manager atau produser pelaksana. Jaman dulu, seorang pencatat adegan dibekali dengan mesin ketik. Jaman sekarang bahkan ada Script Supervisor yang langsung mengetik di laptop.

Perbandingan 2 orang Pencatat Adegan. Yang kiri menggunakan laptop. Yang kanan masih masih menulis manual.

Untuk tugas-tugas Pencatat Adegan lainnya bisa dilihat di artikel lanjutan.

  1. Mencatat Adegan
  2. Menjaga Kontinuiti
  3. Membuat Laporan Harian dan Scene Control
  4. Mengoperasikan Clapboard
  5. Mengoperasikan Video Assist
  6. Ikut Membantu Kerja Asisten Sutradara Bila Dibutuhkan

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: