Mengapa Cahaya Sangat Menentukan Baik Atau Tidaknya Kualitas Teknik Dari Sebuah Film?

Ada pertanyaan yang sangat mendasar dari sebuah kerja pemotretan, baik fotografi maupun sinematografi, yaitu Mengapa cahaya sangat menentukan baik atau tidaknya kualitas teknik dari sebuah film atau foto? Apakah cahaya yang paling menentukan kualitas gambar? Dan banyak lagi pertanyaan seputar cahaya dan gambar.

Baiklah kita akan menguraikannya sedikit demi sedikit.

Melukis Dengan Cahaya

Jika para pelukis membuat lukisan menggunakan media kanvas dan cat, maka seorang filmmaker dan fotografer menggunakan cahaya untuk melukis. Maka istilah Melukis Dengan Cahaya sangat akrab dengan pekerjaan seorang filmmaker. Kamera diibaratkan dengan kanvas, dan cahaya diibarakan dengan cat.

Kok gitu?

Ya, sebab gambar yang direkam dan ditayangkan semua berhubungan dengan cahaya. Kamera merekam gambar melalui proses cahaya yang masuk melewati lensa dan diteruskan dengan sangat cepat ke pita seluloid (film) atau pita magnetic (video).

Atau begini saja. Mending kita flashback dulu mulai dari awal mula penemuan teknologi kamera agar kita bisa secara utuh kita jadi tahu mengapa cahaya sangat menentukan kualitas gambar.

Sejarah Penemuan Kamera

Zaman old. Yaitu di abad ke-11. Seorang ilmuwan muslim membuat penelitian-penelitian tentang banyak hal. Termasuk tentang alam semesta. Beliau bernama Ibn Al-Haitham atau nama lengkapnya Abu Ali Al-Hasan Ibnu Al-Haitham. Orang barat biasa memanggilnya Alhazen. Beliau hidup antara tahun  965-1040 Masehi.

Awalnya beliau meneliti tentang gerhana. Maka dibuatlah sebuah kamar gelap lalu beliau melubangi salah satu dindingnya dengan sebuah lubang kecil. Ruangan ini dinamakan Al-Kamrah. Kemudian dialihbahasakan dengan istilah “Camera Obscura” atau fenomena di ruang gelap.

Cahaya yang masuk melalui lubang itu terperoyeksikan di dinding ruang gelap, dan didapatlah citra gambar dari wilayah di depan kamar itu dengan posisi terbalik.

Dari sinilah Al-Haitham menemukan teori cahaya dan lensa mata. Bahwa aktivitas melihat itu adalah proses cahaya yang masuk melewati kornea mata dan dipancarkan terbalik. Kemudian otak manusia lah yang membalikkan kembali citra yang ditangkap oleh mata kita. Teori Al-Haitham ini sekaligus juga mematahkan teori ilmuwan Yunani Plotomeus yang mengatakan bahwa mata manusia lah yang memancarkan cahaya dan mengenai obyek di hadapannya.

Al-Haitham juga merintis penemuan lensa pembesar. Beliau merintis pembakaran kuarsa untuk dijadikan kaca. Dari sinilah ditemukan padu padan lensa serta prinsip-prinsip dasar kerja kamera.

Sudah mulai jelaskan?

Istilah kamera sendiri berasal dari “Camera Obscura” tadi. Yaitu Ruang Gelap.

Jadi prinsip kerja kamera adalah adanya cahaya yang masuk ke ruang gelap. Dari sinilah citra gambar bisa direkam.

Dahulu media rekamnya adalah pita seluloid atau pita film. Pita film ini pun beragam ukurannya. Ada yang 8mm, 16mm, 35mm, dan 70mm. Cahaya masuk melewati lensa, lalu jatuh ke pita film tersebut.

Kemudian teknologi berkembang. Ditemukan pita magnetik. Cahaya yang masuk ke dalam kamera, diubah terlebih dahulu menjadi gelombang elektrik, lalu direkam ke pita magnetik.  Dulu kita kenal dengan bermacam jenis pita magnetik. Ada Betamax, VHS, S-VHS, mini DV, dan banyak lagi. Tergantung pabrik yang memproduksinya.

Zaman now, media jatuhnya cahaya ke sebuah lempengan CCD atau CMOS, lalu diteruskan ke media penyimpanan yaitu Memory Card.

Semua perkembangan teknologi ini tidak akan lepas dari prinsip teori cahaya yang ditemukan oleh Al-Haitham. Yaitu kita butuh cahaya untuk dapat merekam gambar.

Terus, mengapa cahaya bisa menentukan baik tidaknya kualitas gambar?

Kita balik lagi ke masa lalu, saat media rekam masih menggunakan pita seluloid.

Cahaya yang jatuh ke pita film itu, akan membentuk gambar laten. Pita film tersebut dapat menyimpan gambar laten apabila terkena cahaya. Cahaya ini akan diubah menjadi titik-titik dalam pita. Nah, gambar tersebut dapat dilihat atau diproyeksikan apabila bagian-bagian pita yang tidak terkena cahaya, atau sedikit mendapat cahaya dirontokkan melalui proses yang kita kenal dengan “cuci film”.

Jika cahaya yang masuk itu normal, maka gambar yang dihasillkan pun normal seperti mata kita melihat. Tetapi kalau cahaya yang masuk terlampau banyak, maka titik-titik yang dihasilkan pun terlampau banyak sehingga setelah proses cuci film, kita akan mendapatkan gambar putih saja. Dulu itu kalau pita roll film kita terbuka dan mengenai cahaya langsung, biasanya kita istilahkan film terbakar. Ya karena pita film kita terkena cahaya yang sangat banyak. Pita film pun tidak dapat menangkap gambar dengan sempurna.

Begitu pula sebaliknya. Jika cahaya yang masuk itu sangat minim. Maka pita akan menghasilkan gambar yang gelap. Karena setelah cuci film, proses kimiawi akan merontokkan silver halide yang sangat sedikit.

Di masa digital sekarang ini, prinsip-prinsip tadi hampir sama saja. Cahaya yang masuk ke dalam kamera yang diubah menjadi gelombang elektik, lalu menjadi data digital, akan mengalami hal yang sama. Kelebihan cahaya itu akan merusak proses elektromagnetik pada peralatan tersebut. Detil obyek tidak mampu dihasilkan. Begitu pula sebaliknya. Cahaya yang minim akan membuat “noise” sehingga gambar menjadi gelap dan terdapat titik-titik kayak pasir kecil yang menjadikan gambar ekspose dengan sempurna.

Nah, sampai di sini mulai terang benderang khan? Mengapa cahaya sangat menentukan baik atau tidaknya kualitas Teknik dari sebuah film?

Cahaya adalah alat utama seorang filmmaker dan fotografer untuk menghasilkan gambar yang bagus. Tetapi cahaya juga harus digunakan dengan porsi yang seimbang agar gambar yang kita hasilkan berkualitas baik. Tidak terlampau banyak, dan tidak terlalu sedikit.

Lalu bagimana bila obyek yang kita rekam itu sebagian mendapatkan cahaya yang sangat banyak dan ada sebagian yang mendapat cahaya yang sangat minim?

Di sinilah kreatifitas kita digunakan. Bagaimana agar situasi ini dapat diatasi dengan baik. Entah dengan mengurangi cahaya di bidang yang terlampau banyak mendapatkan cahaya, atau dengan menambahkan bidang yang gelap dengan cahaya buatan atau pantulan dari cahaya alam.

Sumber Cahaya

Oh iya, sumber cahaya itu ada dua jenis. Pertama adalah cahaya alam, yaitu cahaya yang kita dapatkan dari cahaya matahari dan cahaya rembulan. Dan yang kedua adalah cahaya buatan, yaitu dari cahaya lampu, obor, lilin, dan sejenisnya.

Dalam hal penggunaan. Kita bisa menggunakan salah satu sumber cahaya, atau menggunakan kombinasi kedua sumber cahaya tersebut.

Di siang hari di luar ruangan maupun di dalam ruangan, kita dapat menggunakan cahaya matahari yang dikombinasikan dengan cahaya buatan. Begitu pula di malam hari, baik di luar ruangan (exterior) maupun di dalam ruangan (interior).

Untuk lebih jelas tentang bagaimana proses kamera bekerja, kamu bisa lihat di video di bawah ini.

Semoga artikel ini dapat menjelaskan tentang mengapa cahaya sangat menentukan baik atau tidaknya kualitas gambar dari sebuah film.

Silahkan tinggalkan komentar di bawah untuk pertanyaan lebih lanjut.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: