Sejarah Teori Editing Film

Kenyataan bahwa satu scene tidak harus direkam (dishoot) dalam satu shot secara utuh, mencuatkan ide bagi D. W. Griffith untuk memecah-mecah scene menjadi beberapa bagian. Setiap bagian direkam (di-shoot) sendiri-sendiri untuk kemudian disambung-sambung menjadi satu scene yang utuh.

Dengan memecah-mecah scene itu, Griffith bisa memilih bagian mana yang perlu ditonjolkan atau yang tidak. Misalnya scene seseorang sedang membaca surat. Penonton tentunya ingin mengetahui apa yang sedang dibacanya itu. untuk itu Griffith memindah kamera sehingga surat yang sedang dibaca itu tampak dalam Close Shot (atau Close Up) dan penonton bisa ikut membaca. Griffith lah yang pertama kali memindah-mindah kamera sehingga diperoleh angle: LS (Long Shot), MS (Medium Shot), dan CS (Close Shot). Penyuntingan shot-shot yang merupakan bagian-bagian dari suatu scene itu disebut STRUCTURAL EDITING.

Sistem ini atau konsep ini (memecah scene menjadi beberapa bagian) ditiru oleh sineas-sineas lainnya. Griffith sang pelopor, mencapai puncak kejayaannya lewat karyanya berjudul The Birth Of A Nation (1915) dan Intolerance (1916). Kedua film ini menjadi bahan studi bagi sineas Rusia (Uni Sovyet). Berbeda dengan Griffith yang memecah-mecah scene, Lev Kuleshov (Lev Vladimirovich Kuleshov) dan Pudovkin (Vsevolod Illarionovich Pudovkin) melakukan eksperimen-eksperimen yang kemudian menghasilkan Kuleshov Effect. Sedangkan Pudovkin menamakan sistemnya CONSTRUCTIONAL EDITING.

Selain Pudovkin, murid Kuleshov yang lain (meski hanya sebentar) adalah Sergei Eisenstein yang melahirkan teori INTELLECTUAL MONTAGE.

 

Sambungan Editing Film

Hasil editing memerlukan penyambungan antarshot. Sambungan-sambungan itu ada yang berupa CUT TO CUT dan ada pula yang berupa OPTICAL.

Apa itu CUT TO CUT?

Cut To Cut adalah sambungan langsung antarshot satu dengan shot berikutnya. Sambungan scene-nya ada yang MACTH CUT ada pula yang CUT AWAY.

MACTH CUT adalah sambungan yang obyek scene-nya sama tetapi berlainan angle. Pada sambungan ini posisi akhir dari gerak obyek pada shot pertama merupakan titik posisi awal gerak dari shot berikutnya.

CUT AWAY adalah shot-shot yang disambungkan antara obyek scene satu dengan lainnya berbeda. Pada sambungan ini, posisi awal atau akhir dari obyek shot tidak menjadi masalah.

Hal yang harus diperhatikan pada editing adalah SCREEN DIRECTION.  Ada 3 hal yang berkaitan erat dengan screen direction:

  1. Matching The Position
  2. Matching The Look
  3. Matching The Movement

Berikut pengertian dari tiga istilah di atas.

Matching The Position adalah kesesuaian posisi aktor atau obyek lainnya di dalam frame. Misalnya si aktor Mas Gagah sedang duduk di kursi dan Gita sedang berdiri, maka shot berikutnya dengan angle yang berbeda ya Mas Gagah harus tetap duduk di kursi dan Gita sedang berdiri. Kalau tetiba Gita yang duduk dan Gagah yang berdiri, maka ada jumping dan penonton akan merasa aneh. Penonton mungkin akan berpikir, ini mereka mempunyai ilmu sulap bisa memindahkan diri, atau apa?

Matching The Look adalah kesesuaian pandangan. Ini biasa terjadi di adegan dialog dua orang atau lebih. Atau juga adegan telpon-telponan. Atau bisa juga adegan ngobrol 2 orang pakai telepati dari kejauhan. Yaitu arah pandang orang-orang tersebut harus sesuai. Kalau Mas Gagah melihat Gita ke arah kiri frame, maka balasan shotnya adalah Gita memandang Gagah ke arah kanan frame atau kanan kamera. Jika Gagah dan Gita memandang ke arah yang sama, misal ke kiri frame, maka penonton akan menyangka mereka sedang melihat ke arah yang sama. Bukan saling lihat-lihatan.

Matching The Movement adalah kesesuaian pergerakan. Aktor atau kendaraan yang sedang bergerak ke arah kiri frame atau kamera, pada shot berikutnya aktor atau kendaraan harus bergerak ke arah kiri frame juga. Karena penonton akan dibimbing bahwa si aktor atau kendaraan ini sedang bergerak menuju suatu arah. Jika shot berikutnya si aktor atau kendaraan itu bergerak ke arah kanan frame, maka penonton akan mengira bahwa aktor/kendaraan ini sedang balik arah. Atau pulang ke asalnya. Jika memang si aktor ingin berbalik arah, maka sebaiknya ada shot yang menampilkan perubahan arah tersebut.

 

Optical Cut

Dulu, semasa alat editing masih analog atau film masih digunting dan direkat pakai plakban, maka pengerjaan penyambungan (Cutting) seperti FADE IN FADE OUT, DISSOLVE, WIPE, dan sebagainya itu dikerjakan di laboratorium. Maka sambungan ini disebut OPTICAL.

FADE OUT: gambar semula terang (seperti biasa) lambat laun menjadi gelap. Gambar sama sekali hilang.

FADE IN: Gambar yang tadinya gelap, lambat laun muncul dan menjadi terang.

DISSOLVE: Gambar pertama perlahan-lahan menghilang diganti secara bertumpuk dengan gambar berikutnya yang perlahan muncul dan menjadi terang.

WIPE: Gambar pertama dihapus oleh gambar berikutnya dengan banyak cara. Bisa bergeser dari kiri ke kanan. Bisa seperti membalik sebuah buku. Bisa juga muncul gambar berikutnya dari tengah lalu menggeser gambar pertama. Dan banyak lagi gaya WIPE.

Pada mulanya sembungan OPTICAL ini digunakan untuk pergantian Sequence. Tetapi editor sekarang biasa mengganti sequence secara CUT TO CUT, misalnya dengan dialog pemain:
“Sampai ketemu di Makassar…” CUT TO shot berikutnya mereka lagi nongkrong di Pantai Losari, Makassar.

Atau shot cerobong sebuah pabrik, Camera Tilt Up tampak puncak cerobong asap mengepul. Kamera lalu Tilt Down ternyata asap yang semula berasal dari cerobong pabrik tersebut berganti dengan shot asap dari sebuah kapal apa yang sedang berlayar.

Pergantian Sequence dengan cara demikian disebut BRIGE PASSAGE.

 

Parallel Cutting

Yang menarik di masa-masa awal film adalah ditemukannya konsep Paralel Editing. Parallel Editing atau biasa disebut juga Cross Cutting ini pertama kali diperkenalkan oleh Edwin S. Porter di filmnya The Great Train Robbery (1903). Di film ini, Porter hanya menunjukkan sesuatu yang berbeda di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Gambar satu dengan yang lainnya direkatkan secara beriringan dan bergantian. Berselang-berseling. Ya meskipun belumlah optimal, tetapi upaya Porter ini menjadi inspirasi bagi sineas-sineas berikutnya.

Pada film pertama Porter, The Life Of An American Fireman, ada 2 shot (kejadian) yang berbeda tapi pada waktu bersamaan digambarkan dalam satu shot. Yaitu seorang petugas pemadam kebakarang yang sedang duduk, di atas kepalanya ada lingkaran yang berisi gambaran eorang ibu dengan bayinya yang sedang panik.

David Llewelyn Wark Griffith atau biasa dikenal D. W. Griffith sineas asal Amerika juga lalu mengembangkan teknik dari Porter itu (pararel editing) menjadi sebuah adegan yang memancing ketegangan (suspense). Di film The Lonedale Operator (1911), Griffith menuturkan kisah seorang gadis muda yang menggantikan peran ayahnya (karena sakit) sebagai operator telegram sebuah stasiun kereta api, tepat di hari pengiriman uang. Pararel editing ada pada bagian saat perampok mencoba merampok uang yang dititipkan pada gadis itu. Ada 3 obyek penting dalam adegan ini yang secara bergantian selang seling ditampilkan: 1. Gadis muda yang ketakutan, 2. Perampok yang berusaha masuk menerobos, 3. Bala bantuan datang dari stasiun sebelah.

 

Begitulah sekilas dari sejarah perkembangan konsep editing film yang masih sering digunakan oleh sineas saat ini. Modifikasi dan pengembangan pun tetap dilakukan oleh para sineas bahkan tak jarang ada juga yang menemukan konsep-konsep baru.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: