Arus Balik: Kesukaan, Keinginan, dan Kekuasaan Pramoedya Ananta Toer

Seorang dosen mengajarkan padaku beserta sejumlah mahasiswa FFTV di kelas dengan spesifikasi studi penulisan kreatif I tentang bagaimana sebaiknya dan pula sebagusnya menulis. Dikatakannya, “tulislah apa yang kau kuasai, apa yang kau sukai, dan apa yang kau inginkan. Apabila salah satu atau ketiganya tidak terdapat dalam dirimu maka sebaiknya kau tak perlu lagi hidup.”

Saat itu anjuran seperti ini tidak aku indahkan. Ia berlalu begitu saja bagai sepoian angin hampa yang melintas di pelupuk mata. Tak sebersitpun keinginan untuk mendengan terlebih lagi untuk menuliskannya. Sebab kupikir trik-trik penulisan seperti itu tak penting lagi bagiku yang telah cukup malang melintang di dunia penulisan. (Sok banget dah)

Tetapi tidak juga.

Kala dosen yang sama memberi penugasan akhir untuk nilai semester: mengulas atau memberi pendapat/pandangan terhadap buku (memilih salah satu): Menjadi Indonesia oleh Parakitri atau Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Aku memilih yang terakhir oleh sebab aku lebih menyenangi fiksi dan belum pernah secara intens membaca karya Pramoedya. Ternyata -ini menurut pengamatanku – hal hal mengenai kesukaan, keinginan, dan kekuasaan Pram terkandung dalam karya Arus Balik ini. Pramoedya -begiru juga dengan penulis lain barangkali secara sadar atau tidak sadar sudah barang tentu akan menulis hal-hal yang disukainya, diinginkannya, dan dikuasainya.

Sekarang aku akan mencoba membuka, membahas, mengargumentasikan setelah menelaah apa yang tersebut di atas.

 

KESUKAAN

Seperti kesukaan kepada tariannya, seorang bidadari berkulit putih bersih dari desa Awis Krambil yang telah memenangkan kejuaraan tari dua kali berturut-turut dan akan segera menggondol juara untuk ketiga kalinya di Tuban kota. Kecintaannya (baca kesukaannya) pada tarian begitu pula pada desanya, mengharuskan ia untuk berlomba ketiga kalinya sekaligus untuk terakhir kali demi mempertahankan dan mengembalikan kehormatan Awis Krambil yang dicoreng oleh Rama Cluring seorang guru pembicara, walau ia tahu kalau dirinya akan dijadikan selir oleh Adipati Tuban. Dan konsekuensi lainnya ia akan berpisah dengan kekasih pujaan hatinya seorang juara gulat dari desa yang sama, Kang Galeng.

Desas desus meniup sejadi-jadinya: dia dating untuk takkan balik ke desanya lagi. Sebagai bunga perbatasan pasti dia akan diselir oleh Sang Adipati. (…) beberapa pemuda telah bermimpi akan melarikannya. Sebagai selir dia takkan dapat dipuja atau dikagumi lagi. (hal 38)

Pertama sekali ingin aku katakana bahwa Pramoedya sangat menyukai memulis sastra. Terbukti dengan sekian banyaknya karya sastra yang dihasilkannya. Sastra dalam pengertian penggunaan estetika Bahasa dengan konvensi tata Bahasa yang baik, indah, puitis, pemajasan, Teknik plot, kedalaman rasa, penuh tafsir, konotatif, dan sebagainya.

Dari judulnya saja: Arus Balik sudah tampak keindahan Bahasa yang bisa ditafsirkan macam-macam. Dari tafsir Pramoedya sendiri sampai tafsiran yan mengatakan bahwa Arus Balik ialah arus balik para pemudik setelah lebaran.

Pada awal bab buku yang berjudul Di Bawah Bulan Malam Ini.

Tidak setitik pun awan di langit. Dan Bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan cepat ia naik dari kaki langit, menguningi segalan dan semua yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia.

Sebuah permulaan tulisan sebagai pengantar atau planting information kepada keseluruhan isi bab yang sangat baik, indah, dan ironis. Selanjutnya ia menulis:

Langit jernih, bersih, dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaanya: gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketentraman lagi.

Menulis sastra menjadi titik sentral dari segenap perhatian Pramoedya dalam hidupnya. Berkali-kali ia menulis karya sastra. Mengapa ia bukan menulis esai saja, atau menulis buku sejarah ilmiah saja, atau menulis warta di koran atau dan majalah majalah saja? Ia tidak menulis itu. aku piker karena Pramoedya sangat menyukai dan menyintai sastra apa adanya. Ia berkali-kali di penjara oleh tiga penguasa di tiga zaman: Kolonial, Orde Lama, Orde Baru. Namun ia tetap saja menulis sastra walau berada di dalam penjara. Bahkan ia bisa sangat produktif dan menghasilkan karya-karya besar bisa berada dalam tekanan, kekangan, tertindas, represifitas, dan ketidakmerdekaan. Arus Balik pun ditulisnya saat berada di penjara pulau Buru.

Pramoedya menyukai sastra karena ia membutuhkannya. Ia merasa bebas merdeka bila bertemani sastra. Ia bisa pergi ke mana saja dengan imajinasinya yang liar dan luas Bersama sastra. Ia tak mungkin mengungkapkan pikirannya, perasaannya, keadaan lingkungannya, kebenaran, keadilan, sekaligus keindahan dengan tulisan non sastra (fiksi) atau dengan hal lain sebab ia pasti akan dicekal. Sebab itu pula ia menyukai sastra. Dengan sastra, Pram dapat mengungkapkan semuanya. Sama seperti yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma, “Ketika jurnalistik bungkam, sastra yang berbicara,” lewat salah satu karyanya Saksi Mata. Pram sangat fanatik menulis sastra.

Kesukaan lain yang lebih eksplisit yang tampak dalam karya Arus Balik dan juga karya Pramoedya lainnya ialah bagimana ia mengawinkan antara fakta dan fiksi. Fakta dalam hal ini adalah sejarah kepulauan Nusantara di abad keenam belas Masehi di pulau Jawa. Juga mengenai tokoh-tokoh, setting, waktu, konflik, dan peristiwa yang lebih spesifik lagi.

Pramoedya mengatakan bahwa karya sastra memerlukan setting yang solid dalam kenyataan; fiksi harus berdasarkan fakta, khususnya roman sejarah harus berdasarkan data-data sebagai kenyataan hulu yang kemudian oleh daya cipta pengarang dicitrakan menjadi kenyataan hilir. (A. Teeuw. Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. 1997. Bab XII. Menahan Arus Balik hal. 277.)

Menurutku, mengapa Pramoedya menyukai memadukan antara fakta dan fiksi?

Lebih karena ia dapat mengungkapkan kebenaran data-data historis menurut perspektif dia dalam lingkaran fiksi-sastra dengan keindahan Bahasa yang juga disukainya pula. Hanya saja bagi pembaca yang berminat tinggi pada sejarah, cukup sulit untuk memisahkan antara fakta dan fiksi. Fiksi dan fakta, imajinasi dan kenyataan: teks, riwayat, dan sejarah. Pengarang, pencerita, tokoh. Ilmu sastra mengajarkan bahwa untuk pemahaman yang baik, segala faktor dan konsep itu harus dibedakan dengan tegas. (A. Teeuw. Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. 1997. Bab XII. Menahan Arus Balik hal. 331.)

Namun di tangan seorang Pramoedya, segala faktor itu terintegrasi dalam asimilasi yang begitu keruh, kabur, dan tak mempunyai Batasan yang tegas. Sehingga hal tersebut bisa dikatakan menjadi sintesa dari berbagai konsep sastra itu. namun juga perlu sangat hati-hati sebab untuk sebagian pembaca akan menjadi rancu dan bisa mengakibatkan tafsir yang keliru sehingga menimbulkan distorsi historis. Terutama bagi pembaca yang kurang berminat pada sejarah. Fakta bisa disangka fiksi dan fiksi disangka fakta. Kan lucu.

Kalau Pramoedya bisa menyukai apa yang disuakainya, aku pun bisa pula menyukai apa yang ditulis Pramoedya pada karyanya. Yang paling aku sukai dalam novel Arus Balik ini adalah dialog-dialog tokoh. Dialog-dialog ini aku nilai sangat puitis, indah, menawan, mempesona, realistis, interaktif, lugas, dan lancer.

Penggunaan idiom-idiom lama ataupun hasil imajinasi karangan Pramoedya sangat mempesonaku. Kakang, Gusti, Tuanku, Senapatiku, Patih, Patik, sahaya, aku, kau, rajadiraja, bedaba, bedebah, Peranggi, Ispanya, Malaka, Mamuluk, Atas Angin, Cetbang, alias, husy, sesembahan, dan sebagainya.

Mengingatkan pada sandiwara radio yang juga kusukai yaitu sandiwara radio Arya Kamandhanu. Dialog-dialognya kurang lebih sama dengan dialog dalam Arus Balik. Terlebih lagi kalimat-kalimat yang dilontarkan Arya Dwipangga (tokoh antagonis). Mengingatkanku juga dengan puisi-puisi karya Pujangga Lama, angkatan Balai Pustaka, dan angkatan Pujangga Baru (terutama Amir Hamzah). Juga pada naskah drama Rendra: Panembahan Reso. Juga naskah lama dari daerah Bugis: I La Galigo. Sampai-sampai hal ini mempengaruhiku dalam keseharian. Bersama kawan-kawanku aku sering menggunakan istilah-istilah itu dalam percakapan.

“Subyektif sekali cara pandangmu,” sindir temanku.

“Ia lah.”

Aku juga menyukai episode Pada alias Mohammad Firman yang bertemu lalu menikah dengan Sabarini gadis Sunda yang cantik jelita. Mungkin karena ada identifikasi antara aku dan Pada: antara Firman Syah dan Mohammad Firman menyangkut nama. Tokoh Pada merupakan anter ego Wiranggaleng. Keduanya mewakili rakyat yang menjadi korban karena keangkaraan pemimpin. (A. Teeuw. Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. 1997. Bab XII. Menahan Arus Balik hal. 393.)

Pada merupakan tokoh yang dimainkan Pramoedya sebagai penghubung tokoh-tokoh penting Arus Balik dalam struktur naratif fiksi-sejarah. Penghubung antara Galeng dengan Idayu yang sering dipanggil Pada, Mbok Dayu sekatu diadakan lomba seni dan olahraga. Dengan Liem Mo Han, Sunan Rajeg, Ratu Aisah, dan aku sendiri.

Pada episode Pada-Sabarini adalah sebuah kisah tentang romantisme cinta. Pertemuan yang begitu singkat, dengan ketegangan yang tinggi di kedua belah pihak, sanggup mempertemukan keduanya ke kancah pernikahan. Sungguh merupakan sebuah keberuntungan bagi keduanya karena masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain. Sabarini dilukiskan sebagai wanita ayu, cerdas, tangkas, berani, dan memiliki suara yang bening, merdu, dan bernyanyi.

Seperti juga kisah cinta Cinderella versi Peranci dalam film Ever After. Cinderella atau Danielle de Berbarac yang diperankan oleh Drew Barrymore secara kebetulan bertemu lalu jatuh cinta dan lalu dengan bersusah payah melanggengkan kisah cintanya sampai ke jenjang pernikahan dengan Pangeran Henry putra mahkota Raja Perancis.

Pada-Sabarini, sebuah kisah cinta yang teramat diromantis-romantiskan secara berlebihan. Bahkan aku katakana lebih romantic daripada kisah cinta Galeng-Idayu.

“Makin subyektif dan sentimentil. Payah kau!”

 

KEINGINAN

Seperti keinginan Adipati Unus untuk mengalahkan Peranggi saat penyerbuan ke Malaka dengan memobilisasi segenap kekuatan angkatan laut Demak dan juga armada laut dari kerajaan Bugis, Aceh, dan Tuban. Meski masih bisa dipatahkan oleh serangan balik meriam kapal Peranggi dan Ispanya.

Atau seperti keinginan Sultan Trenggono adik Adipati Unus untuk menguasai seluruh tanah Jawa walau mendapat hambatan dari ibunda Ratu Aisah. Atau seperti keinginan Gelar untuk diakui sebagai anak oleh Senaatiku Hyang Wira alias Galeng alias Salasa (nama Islamnya) dengan membunuh bapak kandungnya sendiri Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayud Habibullah Almasawa. Atau seperti keinginan Rodrigues dan Esteban alias Rois dan Manan yang sekedar ingin berjalan-jalan menikmati keeksotisan alam Nusantara. Atau seperti keinginan Galeng menyepi di desa terpencil bersama Idayu dan anak kandungnya Kumbang yne menurutku sama saja dengan bunuh diri anomik dari teori Emille Durkheim. Di mana seodrang itu tidak tahu di mana tempat yang tepat buatnya dalam sebuah masyarakat yang kompleks. (Richard Osborne. 1998 hal. 41)

Pramoedya, sama halnya dengan tokoh-tokoh dalam Arus Balik. Ia punya keinginan juga. Keinginan kuat untuk menulis. Ia hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup. (A. Teeuw. Citra Manusia Indonesia Dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. 1997. Bab XII. Menahan Arus Balik hal. 302.)

Seluruh waktunya dipergunakan untuk menulis walaupun ia berada dalam kondisi tertekan sekalipun. Hal inilah yang membuatnya menghasilkan karya tulis yang cukup banyak, monumental, klasik, dan diakui dunia internasional. Walau tak jarang karyanya dan dirinya menjadi kontroversial di kalangan masyarakat. Menjadi polemik, jadi bahan perdebatan sengit yang hamper menimbulkan baku hantam. (Saat berlangsung diskusi kebudayaan di IKJ yang menyoalkan polemik seputar penghargaan Magsaysay dari Roman Foundation.)

Karya tulisnya Hoakiau di Indonesia dicekal lalu ia diamankan oleh penguasa Orde Lama. Kiprahnya dalam organisasi LEKRA yang notabene berada di bawah Partai Komunis Indonesia membawanya terseret ke dalam tahanan penguasa Orde Baru.

Namun semuanya itu tidak membuatnya jera untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Keingannya yang kuatlah sehingga ia tetap konsisten dan teguh dengan idealismenya: menulis.

Keinginan Pramoedya lainnya tersirat dalam menampilkan sosok kepahlawanan putra-putri Indonesia yang gigih dan bertekad bulat mengusir penjajah dari bumi Nusantara walau terkadang usaha itu kandas di tengah jalan. Yang terpenting di sini adalah ikhtiar ke arah yang dicita-citakan.

Menurutku, Pramoedya mengidetifikasikan dirinya dalam diri Rama Cluring yang berkeinginan menahan Arus Balik dan mengembalikan kebesaran, keagungan kerajaan Majapahit yang didirikan oleh seorang rakyat biasa, Ken Arok Rajasanagara dengan kapal-kapal besar yang dibuat oleh Empu Nala. Keinginan mengembalikan kejayaan maritim nusantara dan kesatuan nusantara yang pernah diprakarsai oleh Gajah Mada. Dan inilah yang menjadi paradigma Pramoedya dalam membuat Arus Balik. Atau semacam ide pokoklah begitu kalau dalam teori skenario film.

Selanjutnya baca artikel ini: Penguasaan Pramoedya Ananta Toer Terhadap Ajaran Islam: Ulasan Novel Arus Balik

 

Klender, 16 Februari 1999.

Firman Syah

96fi4544

Ditulis sebagai tugas mata kuliah Penulisan Kreatif I dengan dosen Seno Gumira Ajidarma.

Fakultas Film dan Televisi

Institut Kesenian Jakarta

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: