Bermimpi Tentang Ikami Sulsel Yang Berkarya dan Berprestasi

Membayangkan IKAMI SUL-SEL ke depan bukanlah hal mudah semudah pelukis menggoreskan catnya di atas kanvas.  Bukan juga hal yang sulit seperti sulitnya bangsa Indonesia keluar dari lilitan hutang luar negeri. Membayangkan IKAMI (disingkat saja penyebutannya), seperti tidur di tengah malam lalu bermimpi indah tentangnya. Tetapi menjadi tidak mudah karena mimpi sejenis ini bukan mimpi yang biasa disebut “bunga-bunga tidur”, atau mimpi buruk, apalagi mimpi basah. Mimpi ini juga bukan mimpi di siang bolong, tetapi mimpi ini seperti sebuah visualisasi tentang sebuah rumah yang asri.

Bermimpi Boleh Khan?

Rumah yang asri ini berhalaman luas. Dipenuhi tanaman dan bunga-bunga. Ada gardu atau sanggar di situ tempat  anak-anak IKAMI berekspresi berkesenian. Ada yang melukis, memotret, menari, berteater, bermusik, dan ekspresi lainnya. Di halaman belakang. Ada lapangan luas tempat berolahraga. Bermain bola, raga, takraw, bulutangkis, juga berenang. Ada juga kebun kecil tempat mereka melakukan penelitian, kolam ikan, dan budidaya alam lainnya. Di sebelahnya ada ruang untuk berusaha. Toko kecil-kecilan lah begitu. Tapi bukan warung kelontong seperti kebanyakan.

Di dalam rumah tersedia ruang rapat yang kapan saja bisa digunakan untuk diskusi dan bermusyawarah. Ada laboratorium kecil untuk riset dan penelitian. Ada perpustakaan buku dan media digital. Ada juga tempat untuk beribadah, melakukan kajian-kajian agama. Tempat berselancar di dunia maya. Tentu saja ada tempat tidur untuk melepaskan penat setelah beraktivitas, kamar mandi untuk membersihkan diri. Dapur untuk bereksperimen dengan masakan daerah. Terus ada bilik curhat tempat mencurahkan isi hati apapun problematikanya hidup di tanah rantau. Dan tentu saja bagian paling depan untuk menerima tamu dalam rangka menjalin kerjasama yang lebih luas.

Semua berawal dari mimpi. Jauh sebelum manusia pertama mengunjungi bulan, orang-orang di Makassar sudah bermimpi tentang itu dengan tembangnya “battu rate ma’ ri bulang / ma’rencong-rencong /”. Jauh sebelum orang memegang ponsel, pada novel dan film fiksi ilmiah, orang sudah bermimpi lebih jauh dari itu. Dalam novel Laskar Pelangi – Sang Pemimpi, bagaimana dikisahkan Andrea Hirata kecil di pulau Belitung bermimpi sekolah di Perancis, dan kemudian mimpi itu jadi kenyataan. Dan masih banyak lagi kisah-kisah sukses yang berawal dari mimpi.

Dan mungkin inilah mimpi bersama, dengan usaha kuat, setitik demi setitik kesuksesan itu akan meletakkan takdirnya di hadapan kita.

Kenapa coba?

Setelah bertahun-tahun lamanya IKAMI hadir, kita dapatkan hanya sedikit Prestasi dan Karya yang dihasilkan. Mungkin keawaman saya lah yang menghijabi pengamatan itu. Tetapi coba dengan pengamatan masing-masing, apa prestasi dan karya fenomenal yang pernah dihasilkan oleh IKAMI SS? Secara refleks sangat sulit kita temukannya. Butuh memori yang dalam untuk mengingat-ngingatnya. Karena kenapa? Karya dan prestasi itu tidak fenomenal.

 

Tradisi yang dibangun oleh IKAMI selama ini hanya bersifat permukaan saja. Semangat yang terbangun hanya di wilayah politik praktis. Bermain di arena Rapimnas dan Munas. Apakah memang seperti ini saja impian pegiat Ikami?

 

Bila kita merenung kembali tentang tujuan melanjutkan studi di tanah rantau. Niscaya yang kita dapati adalah sebuah tantangan untuk berkarya dan berprestasi. Karya sesuai dengan bidang studinya. Berprestasi sesuai dengan minat akademiknya. Bisa pula karya dan prestasi yang merupakan hobi pribadinya.

 

Nah, tujuan asasi inilah yang akan kita bangun bersama paguyuban ini ke depan. Kerangka berfikir yang salah itu masih bisa diluruskan. Kita boleh saja mendorong seseorang dari kita untuk menjadi ketua BEM dan sebagainya. Tetapi semua bermuara kepada prinsip dasar tadi.

 

Tapi banyak kok mahasiswa asal Sul-Sel yang berkarya dan berprestasi?

Memang benar. Tapi sudah kah kita bertanya kepada mereka, apakah karya dan prestasi itu didapatkan dari atau oleh IKAMI? Banyak sekali contoh mahasiswa/pelajar yang berkarya dan berprestasi, tetapi karena kapabilitas mereka sendiri. Bukan dibangun dari kebersamaan di IKAMI. Bahkan banyak yang mendapat beasiswa yang bukan dari IKAMI. Sampai-sampai individu seperti ini ogah terlibat dalam kegiatan IKAMI. Mereka sudah pasti tidak mendapatkan ruangnya. Mereka merasa kurang nyaman berada di rumah IKAMI ini.

 

Ketiadaan ruang untuk berkarya dan berprestasi inilah yang membuat mereka enggan terlibat aktif dan produktif di IKAMI. Sungguh teramat disayangkan, kalau aset dan potensi besar itu tidak kita arahkan untuk bersama berkarya dan berprestasi di IKAMI. Entah sebagai personal maupun secara berjamaah.

Ikami Sulsel Sanggar Lontara Talang 39

Apakah karya dan prestasi di bidang seni saja?

Oh, tentu saja tidak. Karya-karya ilmiah dan prestasi akademik yang akan dikedepankan. Proses berkesenian menjadi stimulus untuk menghasilkan karya dan prestasi di bidang lain. Pengalaman berproses di kesenian menjadi pelajaran berharga untuk kemajuan IKAMI mendatang di berbagai bidang.

 

“Pengkaderan yang tepat, akan menghasilkan anak-anak IKAMI yang berkarakter untuk berkarya dan berprestasi.”

 

Faktor pengkaderan menjadi esensial yang harus segera dilakukan. Meskipun kapasitas sebagai organisasi paguyuban tidak menyentuh hal tersebut. Tetapi harus diingat juga, bahwa tanpa pengkaderan yang tepat, akan sangat sulit membina organisasi ini menjadi organisasi yang tangguh dan diperhitungkan. Tentu juga akan sulit menghasilkan karya-karya dan prestasi monumental dari anggotanya.

 

Namun, karena hal ini adalah hal baru di IKAMI, maka bukan perkara yang mudah juga untuk merumuskannya. Tapi itulah tantangan yang harus kita cari jalan keluarnya. Aktivis Ikami harus mengambil peran lebih banyak lagi.

 

Ada berapa nilai dasar yang bisa digunakan sebagai fondasi awal dari konsep pengkaderan yang akan digulirkan;

  1. Kearifan Lokal; Literatur klasik tentang kearifan raja, pemuka agama, hingga rakyat jelata, akan menjadi acuan utama dalam menyusun konsep kader IKAMI.
  2. Universalitas Nilai Agama; Nilai-nilai agama yang universal menjadi spirit dasar dalam mengekspresikan karya dan prestasi setiap kader IKAMI.
  3. Serapan dari keluhuran budaya nasional dan dunia; Kader Ikami tidak mungkin menjadi radikal dan fanatik dalam memaknai nilai-nilai budaya Bugis-Makassar dalam pergaulan global. Kemampuan menyerap keluhuran budaya luar lah yang akan membesarkan Ikami dan meningkatkan kualitas diri dan organisasi.

Setelah itu, rumusan ketiga nilai dasar itu akan terangkum dalam sebuah kerangka dasar pengkaderan yang terdiri dari;

  1. Konsep diri kader.
  2. Kekuatan daya pikir dan kebesaran jiwa.
  3. Keinginan yang kuat.
  4. Bobot moral (moral value).
  5. Manajemen diri dan organisasi.
  6. Integrasi dengan lingkungan: manusia, hewan, dan alam.
  7. Peran dan kontribusi.
  8. Kesinambungan (consistency).

 

Lantas apa Indikator Keberhasilannya?

Sebuah kepengurusan bisa dikatakan sukses bila ada indikator yang dapat diukur dan diuji keakurasiannya. Ini bisa dievaluasi secara cepat dan akurat.

Dan inilah indikatornya;

  1. Terlaksananya konsep pengkaderan minimal di 5 cabang IKAMI.
  2. Terhasilkannya minimal 5 karya ilmiah dan atau seni.
  3. Beasiswa bagi anggota yang berprestasi di bidang akademik atau bidang lainnya.

Itu saja?

Yah, itu saja. Memulai sebuah tradisi yang baru bukan hal yang mudah. Tak perlu terlalu bermuluk-muluk, Sebab mimpi pun ada batasan realistisnya.

 

STRATEGI PENCAPAIAN

Mengedepankan kerjasama

Fakta yang terjadi di IKAMI adalah, keinginan one man show dalam berorganisasi. Sedangkan berorganisasi adalah kemampuan untuk bekerjasama. Sering kita jumpai, pengurus-pengurus IKAMI tertentu saja yang bekerja, tanpa mau mendelegasikan ke yang lain. Atau, kadar keaktifan pengurus dan anggota sangat minim. Pengurus dan anggota kebanyakan tidak termotivasi untuk berkehendak bekerja bersama. Nafsi-nafsi.

Total Football adalah strategi utama dalam pencapaian tujuan organisasi. Lebih baik bekerja sama meski hasilnya kurang bagus, daripada bekerja sendiri meski hasilnya lebih bagus. Karena ini organisasi, Bung. Organisasi orang-orang terpelajar pula.

Berbagi dalam rasa, bahu membahu bekerja sama, tidak hanya menjadi strategi tetapi juga menjadi spirit dalam berorganisasi. Apalah gunanya kebersamaan bila hanya seseorang atau sedikit orang yang itu-itu melulu yang menjalankan aktivitas.

 

Analisa SWOT

Analisa SWOT sangat diperlukan bagi IKAMI sekarang ini. Hingga kini, kita tidak tahu persis apa keunggulan-keunggulan dari setiap cabang. Apa kelemahan, potensi dan peluang, dan tantangan yang dihadapinya? Jadi dari dasar apa kita memulai sebuah gerakan?

Ikami tidak pernah tahu apa urgensi program yang harus diutamakan. Apa yang perlu didahulukan. Dan apa yang perlu diakhirkan. Semua berjalan apa adanya tanpa ada narasi utama. Tanpa pernah tahu apa yang dibutuhkan oleh organisasi itu sendiri, apalagi kebutuhan anggota dan cabangnya.

 

Dana

Inilah stimulus yang paling penting dari semua gerakan yang akan dilaksanakan. Dan terutama mengenai pengkaderan, para alumni IKAMI dan tokoh-tokoh lainnya harus mengambil tanggung jawab ini. Mereka harus menyisingkan dana untuk membantu terlaksananya program pengkaderan untuk menghasilkan karya dan prestasi.

Bukan itu saja, ada istilah yang sering digunakan oleh banyak organisasi pergerakan yaitu: “kas kita dari kantong kita”. Kesediaan berkorban untuk organisasi adalah semangat yang harus terus menerus dipupuk. Dengan begitu kemandirian dan independensi organisasi Ikami tetap terjaga. Selain itu, usaha-usaha yang halal juga patut diperhitungkan sebagai sumber dana Ikami. Dana dari usaha ini yang akan membiayai setiap kegiatan, dan juga dapat memupuk jiwa enterprenership dalam diri anggota.

Tidak hanya sampai di situ. Perihal pendanaan ini dapat berkembang menjadi: “kas kita dari kantong mereka”. Yaitu donasi-donasi yang tidak mengikat selalu bisa diharapkan untuk mendayahidupkan organisasi ini.

 

Walakhir

Semua ini tentu saja adalah mimpi. Namun apakah ide yang sangat bersahaja ini akan menjadi agenda bersama atau dibuang di keranjang sampah? Perenungan yang dalam akan menjawab semua itu.

Sanggar Lontara Ikami Sulsel

Menteng, Mei 2009

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: