Kisah Detektif Remaja Yang Berhasil Membongkar Pencurian Air

Cerita ini tentang sebuah keluarga kaya yang suatu hari mendapat laporan bahwa tagihan air mereka bulan kemarin meningkat sebanyak 3 juta koma sekian rupiah. BU RENA (40 tahun) sang pengatur rumah tangga mencak-mencak. Dia lalu membuat peraturan-peraturan baru tentang penggunaan air. Kedua anaknya LUCY (16 tahun) dan IBAL (14 tahun) dilarang berlama-lama mandi di kamar mandi, menggunakan bathup, dan lain sebagainya. Sang Bapak, RAMA (45 tahun) pun tidak tinggal diam. Dia lalu melaporkan kejadian ini ke PAM untuk teliti, mungkin ada kesalahan dalam pencetakan laporan tagihan.

Belum juga terungkap penyebab terjadinya lonjakan tagihan PAM, pada bulan berikutnya tagihan air menjadi 5 juta rupiah. ini membuat RENA makin geram. Anaknya dimarah-marahi, para pembantu dibrifieng. Bahkan RENA berniat menyewa detektif untuk melacak semua kejanggalan ini. Petugas PAM dipanggil untuk mengecek barangkali ada saluran yang salah atau alat pengukur air itu yang harus diganti. Semuanya bagus. Tapi PAK RAMA tetap menyuruh mengganti peralatan itu.

IBAL anak cerdas dan punya naluri detektif yang tinggi, mulai memutar otak untuk mencari tahu penyebab naiknya tagihan air. Dia mulai memeriksa semua lembar tagihan. Dia bahkan membuat sebuah alat yang menghubungkan spedometer air ke kamarnya. Mulanya tidak ada sama sekali kejanggalan ditemuinya. Tapi begitu IBAL tertidur, angka-angka di spedometer itu bergerak sangat cepat.

Keesokan paginya, IBAL menyimpulkan dan melaporkan pada Rena bahwa ada yang menggunakan air secara sembunyi-sembunyi. Dan orang itu tahu kapan saat kita lengah sehingga dia dapat menggunakan air sepuas-puasnya. Tak lama setelah melaporkan hal itu, spedometer bergerak cepat. Mereka gelagapan. RENA memerintahkan kepada IBAL dan LUCY untuk mencari tahu siapa yang sedang menggunakan air secara sporadis begitu. LUCY enggan karena dia tak mau dipusingkan dengan urusan begituan. Dia lebih suka mempercantik diri sendiri karena dia adalah model majalah remaja.

Dan ternyata PAK MUS (50 thn) tukang kebunlah yang sedang mencuci mobil PAK RAMA dengan menggunakan semprotan model baru yang memboroskan air. BU RENA protes kepada suaminya. PAK RAMA menyanggah bahwa itu tidak seberapa. IBAL dengan hasil pemeriksaannya juga mengatakan bahwa penggunaan air itu memang tidak seberapa. Tapi tetap saja BU RENA ngomel. Mulai sekarang katanya, tidak boleh lagi ada air yang terbuang percuma. Meskipun setitik air.

Di sekolah IBAL, PAK RAHMAT guru biologi menerangkan tentang air sebagai sumber kehidupan. Ketika Pak Guru sampai kepada anjuran untuk memelihara tanah dan air kita, IBAL secara kritis bertanya kan Indonesia ini tanah air kita, kok mamaku bayar airnya mahal sekali? Berarti bukan punya kita dong? PAK RAHMAT tidak mampu menjawab.

Di sekolah LUCY, teman-temannya membicarakan tentang air. LUCY tidak senang karena di rumah sudah ribut tentang air, eh di sekolah juga begitu. Apalagi katanya lomba pemotretan model di majalah remaja pekan depan mengambil air sebagai tema. LUCY sebel banget.

Di arisan teman-teman BU RENA, mereka mengeluhkan tentang air, dari yang keruh sampai yang tagihannya melonjak. Ada juga yang mengabarkan bahwa di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah dilanda kekeringan. Mereka kesulitan air bersih.

IBAL melaporkan hasil investigasinya. Menurut IBAL, pemakaian air yang paling banyak adalah di malam hari. BU RENA tidak percaya, siapa yang menggunakan air itu? IBAL juga menyimpulkan bahwa ada di antara pembantu yang menggunakan air secara berlebihan. Tapi untuk apa? BU RENA lalu memanggil seluruh pembantunya. Dia menyuruh para pembantu mengakui perbuatan itu. Tapi tak satupun dari pembantunya yang mengaku. BU RENA mengancam untuk memecat bila ketahuan. Sidang para pembantu pun bubar. IBAL menyarankan untuk diadakan jaga malam. BU RENA setuju tapi tidak dengan LUCY. BU RENA memaksa LUCY untuk turut serta membantu karena papa mereka lagi keluar kota selama beberapa hari.

Begitu malam tiba, mereka sudah bersiap dengan peralatan mereka masing-masing. Senter, tongkat pemukul, helm, dan sebagainya. Pos jaga mereka berada di kamar IBAL yang lengkap dengan peralatannya: pemantau spedometer, laptop, 3 buah HT, dan camcorder. Mereka akan bergerak bila tanda-tanda dari spedometer mulai bergerak kencang. Tetapi apa yang terjadi? Mereka semua terlelap pulas.

LUCY pun bermimpi. Dia sedang berjalan sendiri sambil minum minuman dalam kemasan plastik. Setelah minumannya habis, LUCY membuang sampah itu ke dalam got. Air di got kelihatan beriak. Ketika dia melangkah, dia merasakan basah di kakinya. Ternyata dia sudah berada di tengah genangan sampah yang berair. Air pun perlahan-lahan menyeruak ke atas bersama sampah-sampah. LUCY ketakutan, dia berlari tak tentu arah. Tapi muncratan-muncratan air dan sampah itu seperti mengejarnya, membuntutinya kemana dia pergi. LUCY berenang-renang hampir tenggelam karena air sudah meluap. Saat itu tangan LUCY mengenai wajah IBAL dan BU RENA. Mereka pun terbangun dan mendapati LUCY berenang-renang di atas kasur. Ternyata hari sudah pagi dan aktivitas pun dimulai kembali.

Begitu malam tiba, mereka sudah bersiap kembali dengan peralatan yang lebih lengkap, termasuk kopi dan cemilan untuk menemani begadang. IBAL yakin bahwa pelakunya bergerak tidak terlalu larut. Ketika mereka dalam keadaan mengantuk berat, tiba-tiba alat itu bergerak cepat sekali. Mereka pun bergerak sesuai dengan tugas masing-masing. BU RENA ke halaman depan, LUCY ke arah kolam renang, dan IBAL ke kebun samping. Ketika LUCY ke kolam renang dia mendapati PAK MUS si tukang kebun sedang berdiri di pinggir kolam renang. LUCY berteriak dan menyuruh PAK MUS menangkap orang yang sedang mengambil air dengan cara menyedot pakai selang dari kolam renang itu. Mendengar teriakan LUCY, BU RENA dan IBAL langsung ke kolam renang.

Melihat tuannya memergokinya, PAK MUS langsung melarikan diri bersama sebuah mobil pickup yang mengangkut air dari kolam renang itu. IBAL mau menelpon polisi tapi keburu dicegah oleh BU RENA. BU RENA tahu kemana PAK MUS itu pergi.

Keesokan harinya, BU RENA memutuskan pergi ke kampung PAK MUS. IBAL dan LUCY harus ikut. IBAL senang, LUCY semberut. LUCY menolak karena pekan depan dia ada pemotretan dan dia tidak mau kulitnya nanti hitam atau kenapa-napa. BU RENA mengatakan bahwa persoalan air ini lebih penting daripada model-modelan. Mereka pun berangkat bertiga.

Dalam perjalanan IBAL sibuk dengan terus dengan laptopnya. Dia lagi mengumpulkan informasi tentang air. Mereka melewati pantai dan bukit. Di pantai mereka beristirahat sebentar dan bermain-main. Waktu mereka hendak berangkat lagi, IBAL dikejutkan dengan sebuah informasi dari Jepang bahwa di Indonesia akan terjadi tsunami hari ini tapi tidak diketahui tepatnya pukul berapa. BU RENA juga terkejut karena mereka berada di pantai yang berhadapan langsung dengan samudra Hindia. BU RENA langsung tancap gas menuju arah pebukitan. Sementara itu mereka juga melihat orang-orang ada yang berlarian sambil berteriak air, air, air. Tsunamiā€¦!

Ada gempa kecil tak jauh dari situ, tapi tidak sempat menimbulkan bencana besar. Hanya ada beberapa pohon yang tumbang. BU RENA dan anak-anaknya melanjutkan kembali perjalanan. Sepanjang jalan mereka banyak melihat kayu-kayu besar diangkut oleh truk-truk besar. Disamping itu mereka juga melihat beberapa orang sedang mengangkut air. Di kanan-kiri jalan wilayahnya tampak gersang. Mereka hampir sampai di desa PAK MUS. Mereka melihat banyak orang yang berkumpul di sekitar mobil pick-up yang membawa bertong-tong air.

PAK MUS yang melihat majikannya datang, langsung berlutut di depan BU RENA. PAK MUS minta maaf karena telah mencuri air kolam renang BU RENA karena tidak tega melihat warga di kampungnya tidak punya air. LUCY terheran-heran bahwa warga ini minum air dari air yang sudah bercampur dengan daki badannya. BU RENA memaafkan PAK MUS. Istri dan keluarga PAK MUS yang lain memohon maaf dan berterimakasih atas air yang sudah disumbangkan. Mereka pun disuguhi air putih, tapi tidak seorangpun yang mau minum. Untung di mobil mereka membawa 1 kardus air mineral. Mereka minum dari situ.

IBAL memberi keterangan bahwa tentang sirkulasi air yang dari laut jadi awan lalu jadi hujan dan seterusnya. IBAL juga menerangkan bahwa kalau pohon-pohon ditebangi secara liar, maka daerah resapan air pun semakin berkurang. Jadinya bila terjadi musim kemarau, maka kita akan kesulitan air. Seorang dari warga kampung itu juga minta agar jangan hanya warga kampung saja yang selalu disuruh memelihara hutan, sedangkan orang kota memboroskan air yang ditampung di desa. Seperti untuk hiasan patung lah, kolam renang lah, dan sebagainya.

Sebelum malam, BU RENA dan kedua anaknya pun pamit. BU RENA berjanji bersama teman-temannya di Yayasan akan menyumbang bibit pohon untuk ditanam kembali di daerah ini.

Saat pemotretan model dengan tema air, LUCY dan fotografernya mendapat apresiasi dari banyak kalangan karena mengambil tema tentang konsep menjaga sumber air. Saat diwawancara, LUCY mengatakan bahwa ternyata molekul air akan berbentuk indah bila kita mengucapkan kalimat-kalimat yang baik seperti ayat-ayat suci Al-Quran. LUCY mengedip ke arah IBAL. IBAL hanya senyum-senyum saja.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: