Babak 3 : Penyelesaian, Membuat Ending

Di babak akhir ini penulis skenario harus membuat kesimpulan dari tujuan asli dan tujuan semu film. Mengenai tujuan ini sudah kita bahasi di babak pertama. Intinya adalah apa yang menjadi pokok cerita dan apa bahan perenungan yang ingin disampaikan.

Di film “3 Idiots” ini penonton secara jernih diperlihatkan bahwa Farhan dan Raju berhasil menemukan kembali Rancho yang selama ini mereka cari. Dan tentang paradigma kesuksesan yang telah disalahartikan.

Rancho dikisahkan berhasil menjadi wisudawan terbaik. Mr. Virus menyadari kesalahannya selama ini yang telah memaksa anak didiknya menjadi seperti apa maunya. Saat Mr. Virus menggendong bayi Mona yang adalah cucunya, dia bilang pada bayi: “Kau suka menendang, jadilah pesepakbola. Atau jadilah apa saja seperti keinginan hatimu.”

Rancho juga telah sukses menjadi ilmuwan yang telah membuat lebih dari 400 penemuan baru yang dipatenkan. Dia juga berhasil membuat sekolah seperti yang jadi idealismenya. Chatur pun mengakui kesuksesan dan keunggulan Rancho lebih dari dirinya. Dia pun memberi salam penghormatan khas kampus.

Yang luar biasa dan menarik dari film “3 Idiots” ini adalah penulis skenario betul-betul menuntaskan segala hal yang menjadi masalah di awal dan tengah film. Semua informasi yang tertahan dibayar lunas. Ada banyak ternyata-ternyata yang digumamkan penonton. Oh ternyata Rancho punya sekolah. Ternyata Milimeter telah remaja dan menjadi Centimeter. Ternyata Rancho tetap mengikuti perkembangan Farhan dari bukunya dan Raju dari blognya. Ternyata helm Pia masih disimpan. Ternyata Rancho belum menikah. Ternyata mimpi Rancho selama ini yang melihat Pia mengenakan kostum pengantin menjadi kenyataan. Eh, ternyata Pia yang mendatanginya malah menamparnya.

Ternyata hidung itu tidak menghalangi orang saat kissing. Ternyata nama sebenarnya Rancho itu Phunshuk Wangdhu yang ternyat (lagi) adalah bos besar yang memberi proyek miliyaran kepada Chatur. Akhirnya Chatur mengakui kekalahannya dan menerima kesuksesan Rancho. “Wahai Paduka Raja. Anda sunggu hebat. Terimalah persembahan dari hamba.”

Happy Ending dan Unhappy Ending

Pola umum yang digunakan oleh pencerita adalah dengan mengakhirkan kisahnya sebagai happy end atau unhappy end.

Sebenarnya pola unhappy end ini hanya dirasakan oleh protagonis. Umpanya protagonis ternyata harus mati setelah penuh perjuangan melawan musuhnya. Protagonis harus mati karena telah berjuang habis-habisan untuk menyelamatkan kekasihnya. Tetapi penonton tetap merasa happy.

Contoh di film Titanic (1997) sutradara James Cameron. Di film ini tokoh utama si Jack Dawson akhirnya mati tenggelam. Tetapi penonton tetap merasa happy karena pembuat film menyuguhkan adegan impian si Jack dan Rose akhirnya berpelukan di tangga dalam kapal. Penonton sedih tetapi tetap dibuat happy dengan adegan itu.

Happy end (kebahagiaan) dan unhappy end (kesedihan/keharuan) bisa dikombinasikan di saat yang bersamaan. Tidak selalu happy end itu membuat penonton senang, bisa juga justru menimbulkan kesedihan.

Film Bajrangi Bhaijaan (2015), si anak Shahida (Harshaali Malhotra) berhasil dipulangkan oleh Pawan Kumar Chaturvedi (Salman Khan) ke Pakistan setelah lama berpisah dengan kedua orang tuanya. Keberhasilan itu menghasilkan kebahagiaan sekaligus keharuan karena Shahida dan Pawan yang telah akrab satu sama lain itu harus dipisahkan oleh negara.

BACA JUGA :

Open Ending

Pada umumnya, ending film itu dapat ditebak oleh penonton. Pasti jagoannya menang. Pasti mereka berdua akan menikah dan hidup bahagia. Pasti masalah-masalah itu akan terselesaikan dengan baik. Pasti detektif akan berhasil mengungkap siapa dalang di balik aksi pembuhuhan itu.

Apalagi artis yang digunakan itu artis papan atas. Penonton sebelum pergi ke bioskop pun telah mampu menebak hasil akhir dari film. Tetapi di sinilah tugas penting dari penulis skenario untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Penonton dibuat penasaran tentang apa yang akan terjadi nanti.

Mereka yang tadinya telah punya dugaan akan hasil akhir, mampu dikecoh dengan rentetan masalah yang dihadapi protagonis. Wah, bisa gak nih? Jadi menikah gak nih? Berhasil nggak dia?

Agar penonton tetap berharap-harap cemas, maka persoalan yang dihadapi oleh protagonis harus lebih besar dari kapasitasnya. Jika protagonis adalah pendekar, maka penjahat yang dihadapinya memiliki jurus lebih hebat, lebih tangguh, mungkin badanya lebih besar, prajuritnya lebih banyak, kekuatannya lebih dahsyat. Namun pada akhirnya, sang jagoan mampu mengalahkan penjahat tersebut dengan jurus atau memanfaatkan titik kelemawan lawan.

Karena penonton telah terbiasa dengan ending film seperti ini, ada usaha dari pembuat film untuk membiarkan penonton menyimpulkan sendiri kisah yang telah dipaparkan. Penulis skenario tidak secara jernih menyimpulkan akhir cerita. Penonton dibuat kabur, ini orang udah sembuh atau belum? (Shutter Island – 2010).  Apakah Teddy menjalani operasi Lobotomy dan mati atau bagimana?

Di film Memento (2000) penonton masih dibuat bertanya-tanya, siapa sih sebenarnya yang membunuh istri Leonard? Siapa sebenarnya John G? Film Gone Girl penonton masih disisakan pertanyaan: apakah setelah Amy Dunne kembali ke rumah ia dapat menjalani pernikahannya bersama Nick Dunne dengan baik? Film Inception (2010) penonton terus saja berdiskusi apakah Cobb masih di dunia mimpi atau dunia nyata?

Twist Ending

Malcom Crowe (Bruce Willis) seorang psikiater anak, mulanya hendak menolong Cole bocah 8 tahun untuk bisa menghadapi kehidupannya yang ditinggal pergi ayahnya. Crowe juga membantu Cole menghadapi hantu-hantu yang sering mengganggunya. Tapi di akhir film, kenyataan sebenarnya 180 derajat. Crowe lah yang hantunya dan Cole yang menyadarkan Crowe bahwa dia telah mati dan menjadi hantu.

Twist Ending adalah perubahan drastis di akhir film. Yang semula penonton menduga akhirnya akan begini, ternyata jadi begitu. Ada kejutan besar yang dirasakan penonton. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Waduh, ternyata istrinya sendiri pelaku pembunuhan itu?

Wah, orang yang selama ini melindungi anak-anaknya dari hantu ternyata dia yang hantu (The Others – 2001). Nggak nyangka ternyata Borden memiliki kembaran yang selama ini bekerja sama di panggung sulap. Ternyata juga setelah Borden berhasil membunuh Angier, masih ada kloningan Angier lainnya yang masih hidup.

Agar penonton merasa tidak ditipu, penulis skenario harus menyiapkan planting dan clue di awal film. Hanya saja di babak 2: Penembangan akan terjadi pembelokan masalah sehingga penonton melupakan informasi awal itu.

Contoh di film The Sixth Sense, sebenarnya penonton sudah tahu kalau Malcom Crowe telah ditembak tapi masih dirahasiaka apakah mati atau masih hidup. Selanjutnya cerita bergulir seolah-olah si Crowe ini masih hidup. Penonton pun menikmati suguhan kisah itu sampai nantinya terhenyak di akhir bawah ternyata Crowe sudah jadi hantu.

Cliffhanger

Cliffhanger atau ngegantung ini biasanya dilakukan oleh film-film bersekuil 2 atau lebih. Memang goal dari protagonis telah tercapai, tapi ada adegan baru yang menunjukkan ada masalah baru. John Wick terlah berhasil membunuh penjahat yang selama ini dicarinya, tetapi dia mendapat masalah baru karena dia harus berhadapan lagi dengan bajigan-bajingan bayaran yang bernafsu dengan hadiah besar.

Bisa juga si protagonis telah sukses melaksanakan sebuah misi, tetapi misi utamanya belum tuntas. Bisa juga tiba-tiba ada misi baru yang diamanatkan kepadanya.

Ending Cliffhanger ini harus bisa membuat penonton penasaran untuk menyaksikan sekuel berikutnya. Contoh dari teknik ini bisa kita saksikan setiap hari pada sinetron di televisi.

BACA JUGA :

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: