Contoh Pidato Hari Kartini Era Milenial

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT.

Salam dan Salawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

 

Para hadirin sekalian.

Zaman old, Kartini berjuang berhadapan dengan para penjajah dan dengan masyarakat pribumi yang terbelakang di dalam Pendidikan. Kartini juga berhadapan secara langsung dengan keluarga terdekatnya. Kartini sebagai perempuan ningrat, tidak serta merta bisa secara leluasa bersekolah, belajar, bahkan meski hanya sekedar membaca buku.

Tetapi di zaman now, perempuan tidak lagi terpasung seperti dahulu. Perempuan memiliki kebebasan yang setara dengan lelaki. Karena semakin bebasnya aturan moral, bahkan banyak kaum lelaki ingin menjadi perempuan. Nauzubillah. Tetapi apakah kesetaraan dan kebebasan ini telah dimaknai dengan baik oleh kaum perempuan?

Baik, mari kita urai satu persatu.

Bagi generasi millennial, kebebasan memiliki makna yang jauh berbeda dengan impian Kartini. Di saat Kartini menginginkan kebebasan untuk bisa bersekolah, belajar, atau membaca buku. Di zaman now kaum millennial mengartikan mengekspresikan kebebasan adalah kebebasan naik motor gonceng tiga. Ini yang sering disebut cabe-cabean. Kebebasan diartikan sebagai kebebasan dalam hal pergaulan. Saking bebasnya, tidak ada lagi rasa risih, tabu, malu untuk bergaul bebas dengan kaum lelaki. Tak ada lagi batasan-batasan yang bisa melindungi kehormatan perempuan. Tak ada lagi gengsi yang ditinggikan untuk meningkatkan derajat perempuan. Tak ada lagi malu untuk menyembunyikan hal yang tak patut dilihat dan nikmati mata syahwati lelaki.

Kebebasan bukan lagi bermakna bebas bersekolah, bebas belajar, bebas membaca buku, bebas agar berprestasi, bebas meraih cita-cita, bebas berekspresi dalam kesenian, bebas menentukan sesuatu untuk kualitas diri yang lebih baik. Tetapi sayangnya, kebebasan dimaknai justru dengan hal-hal yang bernuansa negatif.

Bebas tidak bersekolah, bebas tidak belajar, bebas tidak membaca buku, bebas seenake dewe, bebas semau-maunya saja. Bebas tak ada aturan, bebas tanpa nilai moral.

Sangat jauh dengan perjuangan Raden Ajeng Kartini dahulu. Sangat kontras dengan perjuangan para wanita pejuang dulu.

Saya membayangkan jika mereka bisa berkomentar tentang zaman now. Niscaya Kartini dan kawan-kawan seperjuangannya akan menyesal, merasa malu, marah, dengan sebahagian kelakuan generasi millennial yang membelokkan arti perjuangan emansipasi dulu.

Tentang Kesetaraan

Zaman old, zamannya Kartini, kedudukan lelaki dan perempuan tidak setara. Lelaki selalu mendapatkan hak, mendapatkan fasilitas, mendapatkan ruang, yang lebih dibanding perempuan. Soal kedudukan, peran perempuan di wilayah publik pun sangat minim. Berbeda jauh dengan keadaan dan kondisi di zaman now. Dulu, untuk menjadi ketua kelas pun sangat tidak mungkin. Bersekolah saja mustahil, bagaimana mau jadi ketua kelas? Tetapi Sekarang, perempuan malah bisa menjadi pemimpin tertinggi sebuah organisasi, partai, perusahaan, bahkan negara.

Tetapi kesempatan yang diberikan tersebut dimanfaatkan oleh generasi millennial?

Ternyata banyak yang justru menyimpangkannya.

Kesetaraan dimaknai bukan untuk bisa berkompetisi sehat dalam segala hal dengan para lelaki, malah memanfaatkan untuk kesenangan dan kepentingan pribadi.

“Saya duluan, kan saya perempuan…?”

Kalau di luar negeri ada istilah “Ladies First”.

Apa-apa, semuanya perempuan yang duluan. Naik bus perempuan duluan. Ngantri, perempuan duluan. Masuk rumah, perempuan duluan. Karena istilah “ladies First” inilah perempuan millennial selalu minta didahulukan. Maka secara tidak langsung terjadilah penjajahan kepada kaum lelaki.

Akhirnya ada juga istilah yang muncul: “Perempuan selalu benar. Perempuan tidak pernah salah. Jadi, Mengalah sajalah.”

Kesetaraan dimaknai justru dengan meninggikan wanita. Akhirnya tak ada lagi kesetaraan. Tak ada lagi kompetisi yang sehat. Untuk apa ada kompetisi, kalau wanita selalu benar. Selalu menang.

Lagi-lagi saya rasa. Jika Kartini bisa menulis surat dan mengirim ke kita. Beliau mungkin akan mengkritik perilaku perempuan zaman now yang mengartikan salah terhadap hasil perjuangannya dulu.

 

Para hadirin sekalian.

Dari semua kondisi generasi millennial zaman now, apa yang harusnya, perempuan millenial lakukan?

Jika, telah terbukanya ruang kebebasan seperti ini. Maka perempuan millennial harusnya semakian giat untuk bersekolah, semakin rajin belajar, semakin lahap membaca buku. Bukan sibuk membaca status facebook.

Kebebasan bukan diartikan untuk bisa bonceng tiga, tetapi bagaimana agar bisa berkendara dengan tingkat disiplin yang tinggi. Memiliki SIM, kendaraan komplit dengan standar SNI, mematuhi rambu lalu lintas.

Kebebasan diartikan bahwa saya bebas menggunakan busana yang menjaga hak saya sebagai perempuan. Menjaga martabat saya sebagai perempuan. Menjaga kehormatan saya sebagai wanita terhormat. Bukan perempuan yang menjadi obyek syahwati. Bukan perempuan yang menjadi korban iklan baju ini baju itu. kebebasan perempuan berarti kebebasan mengoptimalkan segenap potensi-petensi kebaikan. Kebaikan yang bukan hanya untuk diri sendiri. Tetapi kebaikan yang juga bermanfaat buat orang dan lingkungan sekitar.

Kebebasan dalam bergaul bukan berarti bahwa perempuan bebas dipegang sana sini. Kalau bisa dengan mudah dipegang sana sini berarti yang bebas adalah lelakinya. Bukan perempuannya. Kebebasan bergaul harus dimaknai bahwa perempuan bebas menentukan dengan siapa dia bergaul, bebas membatasi lelaki yang ingin menerabas rambu-rambu yang telah ditetapkan. Bebas untuk menjaga dan meninggikan nilai-nilai moral yang dianutnya.

Perempuan millennial harusnya menempatkan makna kesetaraan dengan timbangan yang adil. Bukan dengan agresifitas sehingga menempatkan posisi perempuan yang lebih tinggi. Akhirnya menjadi tidak adil. Tidak setara lagi.

Perempuan millennial, harusnya mau dan bisa berkompetisi dengan sehat. Baik dengan sesama perempuan maupun dengan kaum lelaki.

Para hadirin.

Marilah kita semua gaungkan kepada siapa saja generasi millennial zaman now. Bahwa kebebasan dan kesetaraan yang kita nikmati kini, adalah hasil dari perjuangan generasi-generasi sebelumnya. Dan tentu juga adalah karena nikmat pemberian dari Allah.

Untuk itu, jangan malah disalahgunakan. Jangan disalahartikan. Jangan disalahmaknakan. Tetapi kebebasan dan kesetaraan ini harusnya dimaksimalkan untuk hal-hal yang positif. Berdaya guna, berdaya saing.

Semoga Allah meridhoi usaha dan niat baik kita ini. Amiiin.

 

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: