Tudingan Film Dakwah Sebagai Komodifikasi Agama

“Loe bikin film religi kan jualan agama?”

==============

Membuat film religi atau film islami atau film dakwah bukan perkara gampang di negeri ini. Tidak hanya mengenai konten, teknis, modal, dan tata edar saja yang menjadi persoalan. Tetapi motif dan niat pun bisa dipermasalahkan.

Boleh jadi tudingan seperti di atas muncul akibat maraknya film bertema Islami dan laku di pasaran. Profit berganda dari raihan penonton inilah yang membuat berapa pihak yang selama ini tidak memperhitungkan masa depan film Islami, jadi berpikir ulang dan mengubah perspektifnya. Perburuan novel-novel Islami untuk segera dilayarlebarkan menjadi fenomena baru dalam sejarah perfilman nasional.

Tangan tangan Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Tere Liye, Ahmad Fuadi, Hanum Rais, dan novelis Islami lainnya, laris manis. Bahkan karya novelis yang telah mangkat puluhan tahun pun diburu: K.H. Buya Hamka. Novel Islami diyakini oleh para produser film mempunya nilai jual yang prospektif. Dan memang terbukti bahwa banyak novel Islami yang difilmkan mampu meraup keuntungan yang maksimal meski telah mempertaruhkan modal yang sangat besar.

Pasar muslim sudah terbentuk di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Agak aneh  kedengarannya. Tetapi realitasnya memang seperti itu. Jumlah yang besar belum tentu jaminan sebagai target pasar yang juga besar. Tersebab itulah jumlah film Islami sejak pertama kali film nasional diproduksi oleh orang Indonesia asli, tidaklah banyak. Bahkan menjadi minoritas.

Larisnya novel Islami, maraknya pengajian di kampus, kantor, juga masjid, menjamurnya ragam busana muslimah, kesadaran keagamaan mulai meningkat. Beberapa faktor inilah yang dilirik oleh pemilik rumah produksi sebagai komoditas baru yang segar.

Bagi pemodal, apapun atau siapapun yang potensial untuk menjadi komoditas yang menguntungkan, pasti akan digandeng dan diakrabi. Dijadikan teman setia dalam senang tapi tidak dalam susah. Komodifikasi agama lewat film Islami adalah sesuatu yang biasa saja. Bukan tabu atau aib. Sama biasanya seperti menjadikan cinta sebagai komoditas di perayaan Hari Kasih Sayang, umpamanya. Begitu mungkin alur pikir para pemodal. Allahu a’lam.

 Sarasehan FIlm Islami MUI

Lantas Bagaimana Sineas Muslim Menyikapinya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diurai terlebih dahulu ragam motif dan kriteria film Islami. Ada 2 hal utama saat ini yang menjadi sumber dari film Islami.

  1. Film Islami berasal dari novel atau buku Islami.
  2. Film Islami yang mengangkat tokoh Islam.

Kira-kira seperti itu penonton umum mengklasifikasi film Islami. Pokoknya semua yang bersumber dari novel/buku dan tokoh Islam, berarti film tersebut film Islami.

Tetapi ternyata tidak bisa sesederhana itu jika kita ingin membongkar motif komodifikasi agama. Ada beberapa pemilahan yang lebih spesifik lagi. Seperti contoh di bawah ini.

  1. Film Islami yang dibuat oleh sineas muslim dengan produser muslim
  2. Film Islami yang dibuat oleh sineas muslim dengan produser non muslim
  3. Film Islami yang dibuat oleh sineas non muslim dengan produser muslim.
  4. Film Islami yang dibuat oleh sineas non muslim dengan produser non muslim.
  5. Film Islami dari novel Islami yang dibuat dengan visi tidak Islami.
  6. Film Islami yang hanya menampilkan simbol-simbol agama saja.
  7. Film Islami yang hanya menggunakan latar belakang agama.
  8. Film Islami yang isinya malah mengolok-olok agama.

Dengan pemilahan kriteria seperti ini, akan terlihat pihak mana yang melakukan komodifikasi agama dan mana yang tidak. Non muslim baik produser maupun sineas yang membuat film Islami (adaptasi novel Islami atau tokoh Islam), hampir bisa dipastikan melihat agama hanya sebagai komoditas. Agak mustahil jika non muslim mempunyai visi untuk berdakwah atau mengajak orang/penonton film untuk masuk ke dalam pandangan hidup yang Islami.

Bila ada produser muslim dan sineas muslim membuat film Islami dengan visi yang tidak Islami, sekedar menampilkan simbol dan setting agama, bahkan malah mengolok-ngolok (secara halus atau kasar) agama Islam, maka film tersebut pun masuk kategori komodifikasi agama. Bahkan yang terakhir bisa masuk kategori penistaan agama.

Jika ada produser dan sineas muslim yang membuat film Islami dengan visi Islam. Bisa saja niatnya komodifikasi agama dan bisa juga murni ingin memperjuangkan nilai Islam. Lantas, bagaimana membedakannya?

Perbedaannya ada pada VISI dan KONSISTENSI

Sebuah film dapat dikatakan Islami jika di dalam karya film  tersebut mempunyai visi yang Islami. Yaitu :

  1. Pandangan hidup yang Islami,
  2. Solusi yang Islami,
  3. Cara yang Islami.

Pandangan hidup yang Islami adalah paradigma tentang bagaimana alur kisah dalam film bertujuan untuk mengajak orang melihat dalam sudut pandang Islam. Jika ada permasalahan atau konflik yang terjadi, maka solusi-solusi yang digunakan adalah solusi Islami dengan cara-cara yang Islami.

Islam memiliki spektrum yang sangat luas dalam kehidupan. Bukan hanya persoalan ibadah saja tetapi juga menyangkut urusan hal yang remeh temeh seperti buang air dan menguap. Ketiga hal di atas harus berpadu padan dan tidak bisa diabaikan satu pun.

Contohnya, ada film yang mengangkat kisah tentang taubatnya seorang pelacur. Mungkin kelihatan ini adalah solusi Islami. Tetapi sepanjang film digambarkan detil sepak terjang sang pelacur sebelum bertaubat. Solusinya memang Islami tetapi caranya yang tidak Islami.

Film katanya Islami, tetapi cara tokoh-tokoh dalam film sama sekali tidak mencerminkan pola hidup Islami. Adegan kissing, peluk-pelukan bukan muhrim, minum menggunakan tangan kiri, dan sebagainya.

Adegan-adegan tidak Islami ini terjadi karena keminimtahuannya tentang agama. Atau bisa pula karena ketidakpeduliannya pada gaya hidup Islami.

Selanjutnya adalah tentang konsistensi. Konsisteni adalah kunci dalam melihat motif bahwa film ini merupakan komodifikasi agama atau memperjuangkan idealisme nilai agama. Jika ada sineas dengan rekam jejak yang random: kadang bikin film Islami kadang tidak. Maka sulit untuk mengatakan bahwa dia sedang memperjuangkan nilai Islam.

Akan sangat berbeda pandangan kita terhadap sineas yang konsisten membuat film Islami. Baik di saat semarak maupun di saat lesu penonton. Untuk kasus ini, tudingan melakukan komodifikasi agama tidak tepat sasaran. Rekam jejak yang konsisten tanpa memandang untung rugi, laku atau tidak. Sepi atau ramai. Menjadi penanda serius bahwa sineas itu tidak memiliki pandangan untuk menjual agama.

Sineas muslim sejati hanya memikirkan tentang mendakwahkan Islam sebagai jalan hidup. Bukan menjual agama karena penontonnya lagi ramai.

Mungkin pertanyaan di awal tulisan bisa dibalas dengan pertanyaan:

“Emang bikin film Islami itu gampang?”

“Lebih enak mana, bikin film Islami atau film biasa?”

Membuat film tanpa embel-embel Islami saja sulit, apalagi ada label Islaminya. Tuntutannya banyak. Harus tetap menghibur, tapi tidak menggurui. Aturannya banyak. Tidak boleh beginilah. Tidak boleh begitulah. Jadi apa untungnya? Apa enaknya bikin film Islami jika bukan karena idealisme?

Contoh sederhana pihak yang melakukan komodifikasi agama bisa dilihat pada grup band music atau penyanyi solo. Biasanya mereka membuat lagu cinta-cintaan, tetapi pada bulan Ramadhan mereka berlomba membuat album religi. Setelah lebaran, mereka kembali lagi membuat lagu asmara-asmaraan yang jauh dari nilai religi. Tidak konsisten.

Tudingan komodifikasi agama tidak bisa di alamatkan pada setiap pembuat film Islami. Klasifikasi terhadap motif yang berdasarkan visi dan konsistensi lah yang mampu menjawab tudingan tersebut.

 

Lalu Apa Tantangan Sineas Muslim Berikutnya?

Sineas muslim yang memiliki visi dan konsisten pada karya Islami, memiliki peluang sekaligus tantangan yang banyak. Antara lain:

  1. Peningkatan keterampilan di segala bidang perfilman.
  2. Memiliki visi visual terkini.
  3. Mengoptimalkan ragam genre film.
  4. Permodalan
  5. Pemain/artis dengan visi Islami.
  6. Perkembangan teknologi yang begitu pesat.
  7. Konten dakwah yang menghibur tanpa menggurui.
  8. Jejaring apresiator.

 

Kedelapan tantangan ini bukan tanpa alasan dipaparkan. Diperlukan pembahasan dan diskusi yang lebih intensif dan konprehensif untuk menemukan solusi terbaik. Optimisme dan spirit perjuangan harus tetap dikobarkan. Sesulit apapun situasinya. Serumit apapun tantangannya.

 

Jakarta, 24 Maret 2017

 

Firman Syah

Sutradara Film Ketika Mas Gagah Pergi the Movie

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: