Tak Kudengar Lagi Azan Subuh Itu

Langit masih gelap.

Seperti yang kulihat dari celah-celah ventilasi jendela kamarku. Ada lirikan separuh mataku ke arah celah itu. Udara menyentil dingin. Sudah subuh belum yah? Batinku. Kulirik jam dinding yang samar-samar menunjukkan pukul 05.35. Kok samar-samar? Iya karena ruangan ini juga gelap. Jadi jam itu pasti salah. Bukan karena gelap. Tetapi sejak kemarin jam itu memang sudah rusak.

Aku menggeliat ke kiri. Jantungku kutindih. Sadarku muncul lalu hilang. Aku berada dalam kondisi terjaga dan tertidur. Aku ada di dua alam. Yang datang tumpang tindih silih berganti. Seperti gambar dissolve atau malah superimpose. Aku juga tidak begitu tahu apakah aku sudah bangun atau masih bermimpi.

Ini sudah subuh belum sih? Tanya batinku sekali lagi. Tidak biasanya aku didera keraguan seperti ini. Kemarin aku masih mendengar azan subuh, maka itu aku bangun. Aku bangun karena mendengar azan subuh. Aku tidak bangun bila tidak mendengar azan subuh. Sekarang aku kok bisa bangun tanpa azan subuh?

Aku lalu betul-betul sadar. Kududukkan badanku di atas ranjang. Ranjang berderik kecil. Suasana kamar masih gelap. Aku malas menyalakan lampu. Sebab lampu neon itu tidak mau bersinar bila tidak kusentuh terlebih dahulu. Harus diputar-putir sedikit baru bisa menyala. Dasar neon manja. Mustinya dia bisa menyala sendiri tanpa musti kunyalakan untuk mengeluarkanku dari kubangan hitam suasana gelap ini. Neon itu tidak mandiri. Tidak kreatif. Pikirku aneh.

Di atas ranjang aku menajamkan pendengaranku. Kukerahkan segenap tenaga yang ada, kusalurkan pada otot-otot telingaku untuk menangkap gelombang suara sekecil dan sejauh apapun sumber suara itu. Siapa tahu azan subuh sedang dikumandangkan namun telingaku saja yang tidak bisa menangkap. Atau barangkali suara azan itu kecil karena sound system-nya lagi macet. Aku harus pasang telinga kuat-kuat.

Tidak seperti kemarin. Aku masih mendengar indahnya azan subuh. Yang keluar dari corong-corong masjid dan mushalla. Yang suaranya tumpang tindih satu sama lain. Yang berkompetisi mengajak manusia bangun dari lelapnya malam untuk berduyun-duyun melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Azan subuh itu bagai simfoni subuh yang disharmoni. Memang, karena tak ada konduktor di sana. Suara azan itu murni. Terdengar olehku dengan frekuensi berbeda. Intensitas yang berbeda. Juga ketebalan suara yang berbeda pula. Sebuah orkestra yang tidak diatur. Dirancang. Tetapi selalu saja begitu setiap hari. Seolah-olah ada komando. Mungkin komando iman. Walau ada di antara suara azan itu yang terdengar sumbang, barangkali karena muazzinnya baru bangun dan belum pulih benar kesadarannya. Tak mengapa.

Kupingku telah kupatok. Kubuka lebar-lebar daunnya.  Namun jangankan suara azan, suara-suara alam pun enggan menempel di telingaku. Tak ada suara kokok ayam, suara jangkrik, suara burung-burung malam, suara lolong anjing, atau suara desiran angin yang menarikan daun-daun pohon. Semuanya lenyap. Seakan sekongkol untuk tidak memperdengarkan suaranya.

Aku curiga, jangan-jangan telingaku saja yang rusak. Kugoyangkan sedikit tubuhku di atas ranjang. Ranjang berderik kecil. Oh, telingaku masih sehat. Sebab ku dengar derik kecil ranjang ini.

Kini aku betul-betul bingung. Sudah subuh atau belum?

Tetapi kebingunganku tidak memotivasiku untuk mencari solusi agar aku tidak lagi bingung. Aku membiarkan saja diriku bingung. Terlena dalam bingung. Berenang-renang dalam bingung. Bingung juga aku memikirkan tentang bingung ini. Bingung dalam kebingungan.

Bingung, apakah sekarang sudah subuh atau belum?

Perlahan perlahan aku mulai mendengar suara-suara orang berbicara, derik roda dan kayu-kayu yang berpelukan. Suara itu kudengar pelan. Pelan sekali. Perlahan-lahan dengan tempo yang sangat lambat seperti slow motion suara-suara itu bertambah ramai dan bertambah keras. Tibatiba aku dikejutkan oleh suara deringan keras sekali. Sepertinya suara mesin pemarut kelapa. Iya memang benar. Suara-suara itu berasal dari pasar kaget depan rumahku.

Bah, ternyata sudah pagi. Kontan aku bergegas ke kamar mandi untuk segera tunaikan sholat subuh, eh ada yang ngeduluin. Siapa juga pagi-pagi gini mandi, sedangkan biasanya aku yang monopoli aktivitas pagi. Ke sumur belakang rumah sajalah.

Setelah kejadian ini, aku harus meningkatkan konsentrasiku lagi agar aku bisa terbangun mendengar azan subuh, dan lalu sholat subuh berjamaah di mushalla Nur ‘Ala Nur yang lebih dikenal dengan gelar mushalla al-Bambu karena bangunannya yang sebagian besar terbuat dari bambu.

***

Malam ini sudah kupersiapkan perangkat-perangkat yang akan membangunkanku pada subuh. Jam weker  sudah kuganti batereinya dengan baterei yang paling mahal harganya agar volumenya bisa lebih keras, begitu perkiraanku. Alarm clock di ponsel tinggal kuaktifkan, karena lebih sering kugunakan untuk sms dan missed call saja. Time on di tv – tombol otomatis  yang akan menyalakan tv sesuai setelan angkanya, tak luput kusertakan untuk membangunkanku. Kusiapkan tempat tidur yang nyaman agar kualitas tidurku terjaga. Minum susu, makan malam yang agak banyakan biar segera ngantuk. Sebab semakin cepat tidur, semakin cepat pula bangunnya, pikirku.

Aku harus bangun subuh, apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya. Sebab tiada yang membahagiakanku saat pagi selain berjalan menuju mushalla sembari menghirup kencang-kencang udara yang sangat segar itu. Kemudian bersenandung doa ma’tsurat diiring cuitan burung-burung. Mengagungkan pagi yang berada dalam kerajaan milik Allah. Dalam fitrah Islam berkalimat ikhlas, pada agama yang dibawa Muhammad SAW. Pada ajaran bapak kita, Ibrahim yang hanif. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kepada-Nya kita akan kembali.

Sungguh luar biasa bila ku berada dalam suasana seperti itu. Menjadi kenikmatan yang amat berarti bagi hariku. Menjadi motivasi berihsan pada aktivitasku hari itu. Bermula dengan yang baik, insya Allah berakhir pula dengan yang baik.

Adalah kesegaran yang pagi. Di pasar kaget- yang tak lagi kaget karena sudah jadi pasar tetap itu, para pedagang sayur mayur baru menyusun dagangannya yang tampak lebih segar karena dipercik-percikkan dengan air. Penjaja makanan kecil baru menerima kue-kue dari para tetangga yang dititip untuk dijual sekedar buat nambah ongkos jajan anaknya. Pedagang pakaian, pedagang perabotan dapur, tukang parut kelapa, bahkan penjual kaset dan vcd bajakan, seluruhnya bersatu menyambut pagi dengan suka cita. Bahwa rezeki harus dicari, karena ia tidak datang begitu saja.

Juga anak-anak sekolah berseragam rapi menenteng tas dan bekal makan siang. Berlari-lari kecil satu dua ketawa-ketiwi bahagia. Ada pula yang cemberut saja, mungkin habis dimarahi mamanya atau karena belum ngerjain PR dari gurunya yang doyan bentak-bentak.

Tak ketinggalan para pengedar ganja mulai beraksi menanti “pasien”-nya di sudut gang. Mereka gunakan kesempatan pagi itu sebab tak mungkin ada razia, karena polisi-polisi masih lelap dalam tidurnya setelah semalam menangkap artis yang kedapatan membawa putaw. Kadang para Bede (sebutan untuk bandar ganja dan putaw), baik yang sudah uzur maupun yang masih bocah, bermain-main matanya di selokan, mudah-mudahan ada duit tercecer atau ikan cupang untuk makan malam dengan nasi goreng yang harganya kian melangit.

Aku beranjak tidur. Berdoa lalu memejamkan mata berusaha untuk segera tertidur.

Dalam tidurku aku bermimpi bertemu dengan seorang tua yang selalu bersepeda tua diparkir di belakang masjid kampusku dulu. Ia adalah orang yang sangat aktif mengurus masjid walau tak setetes pun tinta menorehkan namanya di jajaran kepengurusan masjid itu. Ia azan bila tiba waktunya, iqomat, sekaligus jadi imam. Banyak jamaah yang terdiri dari karyawan dan mahasiswa yang percaya bahwa bacaan Qur’annya tidak sesuai dengan aturan bacaan yang benar. Orang-orang tidak setuju akan keimamannya. Bahwa orang tua itu tidak pantas menjadi imam. Tetapi tak seorang pun yang protes, maupun bersekongkol untuk protes, apalagi mengkudetanya sebagai imam.

Semuanya hanya bisa menggerutu saja, tak ada yang mau bertindak. Jadi lah Pak Tua itu semakin mantap dengan ‘tugas-tugasnya.’ Lagi pula memang hanya Orang Tua itulah yang punya kepedulian sangat tinggi dengan masjid ini. Kadang-kadang membersihkannya walau kondisinya sudah sangat parah sebab banyak perangkat bangunan yang sudah rusak musti diganti, bahkan Pak Tua tak segan menjaga keamanannya dari tingkah para tukang parkir ilegal yang sering mengotori tempat wudhu dan lingkungan masjid. Juga harta benda inventaris masjid yang sering dicuri para remaja berandalan yang lagi sakauw. Lalu kemanakah para pengurus masjid yang terdaftar dalam kepengurusan dan ber-SK itu? Mereka hanya mengurus kala shalat Jum’at tiba. Saat dimana para atasannya hadir untuk shalat di masjid itu.

Kini Pak Tua bersepeda tua itu tak ketahuan di mana rimbanya. Tak seorangpun tahu dari mana ia berasal. Ia muncul tiba-tiba di masjid, kemudian usai shalat isya menghilang begitu saja. Ia begitu lama menghilang, orang-orang mengira ia sudah mati, sampai kemudian ia muncul dalam mimpiku ini. Pak Tua itu menatapku seperti ingin melahapku dalam-dalam. Ia begitu dekat denganku, tidak seperti waktu ia masih aktif mengurusi masjid, tak pernah mengeluarkan sepatah katapun padaku. Dan aku juga tak menghendaki ia mengeluarkan suara, sebab suaranya tak enak didengar. Kadang aku mau muntah bila mendengar azannya, apalagi imamnya di maghrib dan isya. Jangan deh. Jangan sampai ia mengeluarkan suaranya saat ini. Dan ia memang tak akan mengeluarkan suaranya. Ia hanya memandangku saja dengan tatapan kebencian dan hina. Aku tidak takut dengan tatapan Orang Tua seperti dia. Kalau pun ia ingin membunuhku, pasti aku dulu yang akan membunuhnya, sebab ia sudah tua dan loyo, sedang aku muda dan kuat. Aku hanya heran mengapa ia menatapku seperti itu. Coba kuingat-ingat apa ada sebab ia mendendamku? Perasaan tidak ada. Aku hanya kesal dengan suara azannya. Mungkin begitu juga yang dirasakan oleh orang-orang yang mendengarnya. Sehingga mereka malas ke masjid karena suara azan yang tidak menarik. Mungkin karena itu pula shaf di masjid itu tidak pernah penuh walau hanya satu shaf di waktu shalat manapun, hanya disebabkan suara azan jelek itu.

Tiba-tiba Pak Tua itu mengambil ancang-ancang untuk ber-azan. Pak Tua itu menjadi dua. Kemudian tiga, empat, entah menjadi berapa hingga para Pak Tua mengelilingiku. Dua telapak tangan mereka sudah menempel di daun telinga masing-masing. Mulut mereka terbuka seperti meneriakkan kalimat “Allahu Akbar”. Mereka seperti sedang azan tapi aku tidak mendengarnya. Kupasang kuping baik-baik, mungkin aku tidak konsentrasi. Tapi ah tidak mungkin juga, mereka sangat dekat denganku, lagi pula mereka banyak begitu, masak aku tidak bisa mendengar? Pertemuan yang tak terjanjikan dengan Pak Tua ini telah membuatku bagai kapal oleng diterpa badai laut yang menganas. Ku coba berpijak erat pada lantai dek kapal, tapi itu justru membuatku terhentak karena sebongkah karang menyenggol. Aku tak tahan lagi. Perutku terlilit anaconda. Para Pak Tua itu mulai berputar mengelilingiku. Badai angin pasti datang. Samar-samar aku mulai mendengar azan dari tenggorakan para Pak Tua itu. Suara azan bertumpuk sehingga tak jelas apa ini suara azan atau nyanyian para pemuja setan. Aduh telingaku sakit. Sakit sekali. Makin bertambah sakit. A……a…a…………a…

Mimpiku berakhir. Seketika aku terjaga. Kamar begitu gelap, bahkan tak sedikit pun cahaya masuk ke kamarku. Aku meraba-raba mencari tombol lampu. Kupencet, lampu tak nyala. Mungkin harus disentuh dulu neonnya. Kucari meja, manaikinya, lalu kupelintir neonnya, tak juga mau nyala. Ini sudah jam berapa yah?

Ku cari jam weker yang tadi ku taruh tepat di sampingku. Tak ada. Jatuh kali. Di lantai ku sentuh benda sebesar jam weker dan dua buah benda seukuran batu baterei. Pasti jaw weker ini terjatuh sewaktu aku bermimpi tadi, lalu batereinya terpisah.

Kucari ponselku. Nah ini dia. Lho, kok tak nyala. Ku pencet tombol power, eh dia mati lagi. Pasti low batt. Memang beberapa hari ini aku lupa ngecasnya.

Kini matahari tepat di atas kepala. Sayup-sayup ada suara azan terdengar dikupingku. Tidak salah ini pasti azan zuhur. Alhamdulillah aku sudah bisa mendengar azan.

Hayya alal falah…… asshalatu kharum minan nauum….

Loh azan zuhur kok pake nyuruh-nyuruh bangun segala.

Kupingku-kupingku.

“Barangkali ini sebuah ijtihad baru.”

Aku lalu sadar bahwa selama ini aku selalu menyepelekan suara azan. Aku anggap seperti suara angin puyuh. Seperti suara deru kendaraan yang melintas begitu saja. Panggilan azan itu tak pernah kujawab. Itu mungkin yang membuatku seperti tidak pernah mendengar azan lagi. Kupingku tidak sensitif.

Aku berjanji untuk setiap mendengar azan, aku harus menjawabnya. Aku harus menyimak dengan khusuk lalu mengikuti panggilan itu.

Harus.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: