Surat Cinta Paling Gombal Sedunia

Surat buat adidaku tercinta.

Sesuatu yang aneh di dalam arena percintaan yang kita jalin ini sayang. Adalah format percintaan yang sungguh fiktif dan imajinatif. Tak satu pun realitas yang melegalisirnya. Tak ada perjumpaan. Tak ada sentuhan fisikal. Tak ada tatapan mata. Tak ada kecupan bibir.

Hanyalah rasa yang bermain di antara rimbunan imajinasi bersama desiran angina rindu disertai ketakutan akan hilangnya tumbuhan cinta yang kita bangun setangkai demi setangkai walau tanpa hadirmu di sisiku.

Sayangku…

Ikrar asmara yang kita tanam melalui pesawat telekomunikasi adalah sesuatu yang memberatkan jiwaku dan menjadi pertandaan tanya besar yang menyelimuti sukmaku. Untaian kata yang terjalin hanyalah seperti buih di lautan yang akan segera lenyap begitu saja. Kemudian buih itu muncul lalu hilang kembali. Begitulah seterusnya.

Canda ria yang kau bangun hanya menjadi keceriaan virtual. Jawab yang kuberikan setelah tanyamu tiada makna. Hampa belaka. Omong kosong. Tak sedikitpun romantisme bergaung di arena percintaan kita seperti kisah cinta pada drama-drama klasik. Atau seperti kisah kasih pada film-film India yang penuh lagu, tari, dan bunga-bunga. Tidak kekasihku. Tidak.

Cintaku….

Sengaja ku tulis surat ini padamu untuk menciptakan sisi romantisme yang tidak ada dalam arena cinta kita. Yah, seperti kisah cinta Kahlil Gibran dengan May Ziadah lewat format surat-menyurat. Ku inginkan hal ini, entah dengan dirimu. Ingin ku sampaikan bahwa surat-suratan kita ini hanya lah pengisi kekosongan sebelum ternyadinya pertemuan kita.

Aku akan menjumpaimu. Tunggulah kekasihku, tunggulah. Nantikan aku datang ke kotamu. Ku ingin mengajakmu berjalan menyusuri jalan kotamu yang dihiasi semerbak harum bunga di bawah payungan pohon-pohon besar nan rindang. Menikmati hawa kotamu, kekasihku.

Ajaklah aku berkenalan dengan sahabat-sahabatmu yang biasa kau ceritakan padauk. Atau barangkali mungkin sahabatmu yang ingin berkenalan denganku sebab diriku yang kau kisahkan pada mereka.

Biarlah kita membuat mata rantai yang panjang dalam persahabatan. Pun kenalkan aku pada ayah ibumu, saudara-saudaramu, agar mereka kenal baik denganku sehingga tidak ada lagi hambatan kea rah pernikahan kita nanti.

Cintaku…

Cukup sekian dulu tulisan dariku. Semoga kau membalasnya.

Tuhan senantiasa menyertai kita.

Dariku

Immarto Parsisi

Untuk

Siandiani Maglebuan

 

Catatan: Tulisan ini adalah tugas mata kuliah Penulisan Kreatif oleh Seno Gumira Ajidarma di saat pertemuan Perdana di kelas. Beliau langsung menyuruh mahasiswa menulis apa saja. Diselingi musik cadas hiruk pikuk yang memekakkan telinga. Entah mengapa mood musik berbanding terbalik dengan hasil tulisan.

Cikini, 20.10.1998

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: