Sketsa Yafisa Worohesti binti Matori Abdul Djalil

Yafisa Worohesti binti H. Matori Abdul Djalil telah meninggalkan kita semua pada tanggal 16 Desember 2019 di RSPI Jakarta. Sekitar 2 tahun sebelum wafat, beliau aktif menulis di status facebook dengan tema apa saja sesuai keinginan hatinya. Mengapa beliau aktif menulis karena tak lagi banyak beraktivitas di luar bahkan di dalam rumah karena sakit lumpuh yang dideritanya akibat terjatuh.

Di sini saya mengumpulkan beberapa tulisan beliau sebagai kenangan karena mengagumi tulisan-tulisannya yang sering sekali menggunakan ending twist. Kritis, nyelekit, sekaligus menghibur. Tema yang menarik dari tulisannya adalah tentang politik, cerita-cerita untold story dari ayahnya Matori Abdul Djalil, dan kehidupan sosial.

Beliau juga pernah membantu mempromosikan film Duka Sedalam Cinta di wall facebooknya.

Sebagian tulisan saya beri judul agar mudah dipahami tema utamanya dan diberi sentuhan editing redaksional tanpa mendistorsi substansinya. Semua agar lebih mampu diserap oleh pembaca yang tidak berteman dengannya di dunia nyata maupun di dunia maya.

Asisten Rumah Tangga

8 Desember 2019

Saya ingat cerita ibu saya ttg si embak gubernur yang pernah punya ART (Asisten Rumah Tangga) super judes. Saking galak dan judesnya sampai jadi omongan banyak orang. Rata-rata pada gemes, kok si embak sabar banget dan kekeuh nggak mau mecat ART-nya.

Alasannya, biarpun galak dan judes, tapi si mbak ART ini kerjanya beres. Di tinggal pergi seharian, anak-anak dan rumah terurus dengan baik. Dan satu lagi, jarang pulang kampung. Kayanya betah banget di kota.

Apalagi si embak yang sekarang gubernur ini sangat sibuk. Wanita karir, aktivis dan politisi toup. Jadi mau tidak mau butuh back up yang mumpuni dalam hal domestik.

Dulu, dengar cerita kaya gitu tuh aneh. Eh lha kok sekarang saya ngalami sendiri.

Saya mengalah sama supir yang nyebelin. Karena dia bisa diandalkan mengantar jemput anak-anak dan memastikan di dalam mobil mereka ‘behave’ dengan aman sampai rumah.

Biarpun nyebelin, tapi sabar nungguin anak saya selesai main bola dan puas main kejar-kejaran sama temannya selepas sekolah.

Sabar menghadapi tantrum anak-anak saya. Sabar dengerin omelan ibu saya yang kelelahan setelah pergi seharian.

Bukan cuma sama pak Supir saya ngalah. Sama embak ART yang gualakkkk bin judes di rumah juga saya ngalah.

Embak ini kalau uang gajiannya sudah mulai habis biasanya kerjanya cemberut. Kalau beresin rumah di lempar-lempar sampai bunyi glondangan. Kalau disuruh apa gitu, suka cuek nggak mau πŸ˜‚πŸ˜‚.

Tapi tetap saja di pertahankan. Wong semua urusan rumah dan anak-anak beres, tahu betul anak-anak suka makan apa. Masakannya lumayan enak. Dan terutama…hidup sendiri tanpa anak dan suami. Jadi sudah beberapa kali-lebaran tidak pulang kampung.

Kedengaran menyedihkan ya cerita ibu-ibu di kota yang ketergantungan embak-embak.

Tetangga saya punya anak kecil belum dua tahun, tapi hamil lagi juga keadaannya sama. Lebih parah dia kayanya, nggak berani negur baby sitternya karena saking takutnya kehilangan si baby sitter. Jadi walau anaknya dia di kasih hape sama embak baby sitter juga diam saja.

Di Jakarta susah cari orang yang benar-benar mau kerja. Apalagi kalau rumah ada anak kecilnya….pada kabur mereka.

Sekarang ini saya rada pasrah menghadapi ART dan supir di rumah. Yang ada dalam pikiran saya, yang penting semua beres dan tidak ada kendala. Semua urusan bisa berjalan dengan smooth.

Kata ibu saya, kalau anak masih kecil-kecil cobaannya biasanya pada asisten rumah tangga.

Pengentasan Kemiskinan

24 November 2019

Ada topik menarik tentang kerja pengentasan kemiskinan di timeline pagi ini.

Bagi sebagian besar orang, mengentaskan kemiskinan itu semudah memberi modal kerja lalu menyuruh mereka usaha berdagang kecil-kecilan agar keluar dari lubang masalah.

Tapi kerja pengentasan kemiskinan itu tidak semudah itu. Biasanya, mereka yang ditolong itu tidak serta merta langsung bisa keluar dari masalah. Modal habis dan kembali ke titik yang sama lagi.

Itu yang membuat orang yang sebenarnya berniat menolong jadi lelah dan berputus asa.

Pengentasan kemiskinan kerja yang serius membutuhkan plan dan pendekatan yang tepat. Di Amerika banyak pojok konseling di tiap beberapa blok. Pojok konseling gratis ini menyediakan sesi tersendiri melibatkan psikolog.

Padahal kalau dipikir-dipikir, apa susahnya cari pekerjaan di Amerika. Siapapun kalau mau bisa bekerja, termasuk pensiunan dan para penyandang disabilitas. Menata buku di rak perpustakaan, pegawai supermarket, atau mencuci piring di restoran.

Tapi ada kelompok masyarakat yang terjebak di lubang lingkaran setan KDRT, remaja hamil, narkoba, miras yang turun temurun. Ada istilah ‘white trash’ untuk yang keturunan kaukasia. Jadi bukan monopoli keturunan African Amerikan saja.

Jadi begini lho. Kalau di Amerika saja yang pendidikannya dijamin, pekerjaan luber-luber, tetap saja ada lembaga khusus yang menangani kemiskinan ini. Lha apalagi kok di negeri +62 ini.

Jadi jangan heran kalau ada yang tiap-tiap saat dibantu keuangan agar dia bangkit tapi tetap saja situasi tidak berubah dan konsisten meminta-minta bantuan.

Karena mentalnya tidak dibangun. Dan membangun mental itu pekerjaan profesional yang serius.

Kebiasaan Bapak

18 November 2019

Istri itu kadang (sering) menggerutu ya sama hobi suami. Dulu waktu kecil sebagai daddy’s squad saya sering belain bapak dan berjanji kalau sudah jadi istri nggak akan kaya gitu. Will be the coolest wife ever (gitu kalau minjem bahasa anak wedhok saya buat apa aja yang bersifat ‘ultimate’).

Lihat suami menuhin rumah pakai kandang ayam pelung dan bekisar: menggerutu. Lihat suami sibuk sama ikan, menggerutu.

Dan yang paling saya ingat, ibu saya paling sebel sama kebiasaan bapak saya beli dagangan tukang asongan di jalan.

Apa aja di beli. Dari mulai lem tikus, sapu lidi, kamus bahasa inggris, kaligrafi. Semua deh yang di tawarin orang pasti di beli.

Pernah ada yang lewat bawa kursi malas dari bambu. Tanpa di tawar langsung dibeli. Katanya kasihan cuma bawa kursi sebuah dibawa keliling komplek, masa di tawar.

Begitu orangnya pergi kursi itu dengan pedenya dibuat rebahan bapak yang beratnya kira-kira antara 90 – 100 kg.

Langsung rubuh saudara-saudara…..πŸ˜‚πŸ˜‚.

Tapi sekarang saya paham kenapa bapak saya punya kebiasaan aneh kaya gitu. Gara-gara banyak yang posting, di FB:  β€œtolong dibeli dagangan bapak ini….beliau sudah jalan belasan kilometer…bla…bla…bla.” Banyak himbauan dan ajakan untuk membeli dagangan pedagang asongan. Mereka modalnya nggak seberapa, untungnya paling cukup buat makan sehari.

Rupanya itu yang dilakukan bapak untuk bersedekah. Walaupun di rumah jadi banyak benda-benda tak berguna tapi mungkin cara kecil beliau untuk selalu ingat supaya rutin bersedekah.

Waktu kecil sih saya seneng, apa aja yang lewat yang kami mau biasanya dibeliin bapak. Kuda lumping lah, topeng lah, apa aja. Mainan apa aja dibeliin. Murah-murah, karena waktu itu khan belum ada Kids Station dan Lego. Cuma mainan yang dibeli dari orang lewat.

Dan ibu saya konsisten menggerutu πŸ˜‚πŸ˜‚.

Pelayan Rumah Sakit

13 November 2019

Soal RS (Rumah Sakit) saya punya banyak referensi. Mulai dari RSUD, RSUP sampai swasta. Swasta juga macam-macam, yang jelek banyak yang bagus juga ada.

Saya bicara soal service lho ya. Karena jangan salah, RS swasta yang mahal pun alatnya sering kalah bagus dari yang pemerintah. Dokter-dokternya juga rerata pagi dan siang di RS pemerintah, malamnya baru praktek di RS swasta yang mahal.

Jadi RS swasta mahal dan negeri itu yang beda dan bikin orang milih bayar mahal apa: SERVICE.

Di RS swasta, kadang pasien yang mau HD harus sewa dulu di RSCM. Adanya cuma RSCM dan Fatmawati. Sehari sewanya 70 juta. Belum lagi prosesnya harus di ICU yang semalam ongkosnya bisa 50 juta.

Kalau di RS pemerintah bisa lebih murah. Tapi prosesnya berbelit dan melelahkan.

Alat fisioteraphy juga jauh lebih lengkap di RS negeri. Birokrat RS tiap tahun rajin belanja pengadaan. Tapi ya itu, alat-alat itu kadang jadi pajangan aja karena orang lebih seneng terapi di RS swasta.

Apa yang salah? Kenapa kok pelayanan RS negeri begitu buruk? Karena biasanya kepala RS itu dokter, orang yang paham sekali soal kesehatan tapi minim pengetahuan soal manajemen RS.

Direktur RS mungkin seharusnya ada beberapa. Yang paham kesehatan dengan yang mengerti tentang manajemen perusahaan. Dan itu bukan hal yang sederhana.

Rumah sakit yang tidak ada bau obat mungkin cuma RSPI. RS yang tidak terlihat ada mayat lewat mungkin cuma RS swasta.

Di RS negeri, orang betisnya diperban penuh darah kadang ndlosor di lantai.

Sayang sekali ya, begitu banyak orang pintar dan lengkap alatnya tapi tidak dibenahi manajemennya. Akhirnya pasien yang punya uang memilih ke swasta atau Luar Negeri. RS negeri ketiban sial diserbu pasien BPJS. Modal bikin kartu, habis operasi jantung 250 juta trus kabur nunggak bayar. Dimaki-maki orang banyak pula.

Mengatur Anak Saat Ke Rumah Makan

9 November 2019

Saya lagi belajar menjadi Mama budiman, yaitu mereka yang mengurangi ngomel dan menjerit tetapi mengubahnya menjadi komunikasi yang asyik.

Kadang suka lupa, kalau anak-anak tuh sudah mulai bisa komunikasi dua arah. Mereka bukan lagi bayi.

Hari ini weekend jadwalnya ngangon anak bersama Eyang, mbak dan supir. Jadi minus pak Suami. Dari awal harus sudah sadar saya yang pegang kontrol. Kalau ada suami sih gampang aja. Anak-anak nggak bakal berani macam-macam.

Sebelum berangkat saya kasih rules. Misalnya: waktu di restoran nggak boleh lari-lari, nanti nabrak pelayan yang bawa sup panas. Nggak boleh cemberut sama Eyang, dan galak sama Mbak (ART). Terutama kalau di kasih tahu tentang sesuatu.

Rules tempat duduk juga diatur dari rumah. Sampai sana nggak boleh rebutan posisi duduk. Adek duduk dekat Mama karena kadang masih dibantu buat motongin makanan. Kakak yang sudah besar, harus mau duduk sama Eyang (dia suka protes karena Eyang kadang suka ribet).

Dan yang terakhir soal mengambil makanan di restoran All You Can Eat.

Banyak orang, bahkan sampai orang dewasa pun kalau makan di restoran All You Can Eat suka mengambil makanan berlebihan karena lapar mata. Akhirnya menyisakan makanan dan ditinggalkan begitu saja di meja. Saya miris dan merasa kelakuan seperti itu tuh nDesoo dan tentu saja mubazir.

Saya selalu mencoba dan biasanya berhasil, mengambil secukupnya, piring saya bersih tak bersisa. Kadang saya paksakan juga makan makanan anak-anak saya karena merasa bersalah belum bisa ngajari anak-anak untuk mengontrol diri.

—-
Selesai makan saya panggil Ghaffi. Saya tunjukkan piring saya dan membandingkan dengan piringnya.

Saya terangkan pelan-pelan bahwa yang dia lakukan kurang tepat. Seharusnya dia ambil dulu sedikit-sedikit, kalau kurang baru ambil lagi.

Dia mengangguk dan bilang akan coba lagi next time.

Pulangnya saya review. Saya kasih nilai B+ for having good behavior selama weekend hang out dengan Eyang.

Eyang juga seneng, hari ini ditemenin ke makam bapak, belanja di Total dan makan hot pot dekat makam.

Mama senang semua lancer, minus ngomel dan marah. Anak-anak seneng dapat πŸ¦πŸ¦ dan coklat waktu pulang.

Hari yang menyenangkan. Gimana weekend mu?

Poligami

4 November 2019

Kakak saya cerita pernah ngobrol sama Kyai Said Agil Siradj soal poligami. Katanya, tidak ada kewajiban bagi laki-laki untuk meminta izin istri ketika hendak poligami.

Trus saya nanya, β€œKok lo nanya soal poligami ke Kyai?”

Dia cengengesan.

Yang jelas, laki-laki (dalam penerawangan pribadi) tidak akan melangkah segampang itu ‘hanya’ demi semangka. Biasanya ada hal besar berlarut yang sulit diurai.

Buat laki-laki, sepuluh semangka itu bukannya sulit. Apalagi di Jakarta, tinggal jaring.

Laki-laki juga manusia. Bukan cuma seks saja kebutuhannya. Apalagi buat laki-laki berduit. Mereka nggak suka barang murah.

Larangan Cadar

1 November 2019

ASN itu padahal macam-macam ya, bukan cuma yang di instansi pemerintah, tapi ada juga yang jadi pendidik di yayasan, dokter, atau dosen. Apa lantas mereka semua nggak boleh pakai niqab ya?

Guru-guru anakku pakai cadar dan jenggotan semua. Baik-baik, tutur katanya halus, suaranya rendah. Terus terang beda dengan sekolah negeri. Karena emak bapaknya made in sekolah negeri jadi tahu perbedaannya.

Anak saya itu agresive dan tantrum. Tapi mereka tahu caranya menangani anak seperti itu.

Surprise, waktu terima raport Ghaffi ketemu wali kelasnya waktu kelas 1. Ghaffi dan teman-temannya berebut memeluk dan menciumnya, sambil bilang mereka kangen. 16 anak lelaki yang kira-kira kelakuannya kaya anak saya semua. Merubungi perempuan kecil bercadar, bersuara rendah. Ibu guru itu disayang murid-muridnya.

Saya berharap, ibu-ibu guru yang baik dan bapak-bapak yang baik ini tidak dipersulit pekerjaannya karena pilihan berpakaian mereka.

Sebaiknya MenPAN fair dong ya. Kalau memang ada larangan memakai niqab atau cadar, sebaiknya ada juga larangan memakai toupe atau rambut palsu. Itu khan juga termasuk kamuflase, menyamarkan identitas. Aslinya botak, tapi kelihatannya lebat dan mempesona.

Meminta Maaf Pada Anak

29 Oktober 2019

Seminggu kemarin, si Adek tiba-tiba berubah. Dia ambil semua bonekanya dan bobok sama eyangnya. Berhari-hari begitu, nggak mau masuk kamar. Saya bujuk pakai apapun nggak mau. Permen, coklat, mainan. Pokoknya nggak mau.

Rupanya si Eyang yang provokasi. Bentuk provokasinya biar saya aja yang tahu. Awalnya saya marah, dan sedih, emosi. Tapi saya sabarkan saja, saya tunggu beberapa hari sambil diskusi dengan suami via telpon.

Lama-lama saya putuskan untuk intropeksi dan melihat akar masalah. Rupanya ibu saya kesepian, dia mau tidur ditemani cucunya tapi tidak tahu caranya. Anak-anak itu khan maunya nempel emaknya. Lalu mungkin akhirnya nggak sengaja provokasi. Untuk itu saya mengerti dan maafkan. Namanya manula, kembali lagi ke kanak-kanak. Bagian kita ya sabar.

Mengenai si Adek, saya pikir nggak mungkin si anak begitu saja terprovokasi kalau tidak ada hal lain yang dia pendam. Mulai deh saya utus si Kakak untuk mencari tahu kenapa si Adek marah.

“Adek bilang dia nggak suka kalau Mama suka funy-funy in dia (mentertawakan). Jadi si Adek marah.”

Kadang-kadang Adek ini masih suka belum bisa menyebut sesuatu dengan benar. Kalau bicara masih suka terbalik, kalau cerita suka khayal. Khas anak umur 5 tahun. Dan saya suka spontan tertawa gemas. Soalnya cute sekali. Tapi rupanya itu bikin dia down. Anak ini memang senaitif, saya harus ekstra hati-hati kalau bicara atau mengeluarkan ekspresi. Dia juga merasa, kalah hebat dalam banyak hal dari si Kakak. Memang mereka berdua ini perkembangannya agak beda. Si Kakak jauh lebih cepat menyerap banyak hal. Jadi si Kakak kadang jadi highlight, dan Adek agak tersembunyi di belakang bayangan Kakaknya.

Itulah mungkin membuat dia sensitif. Dia merasa banyak yang tidak bisa dibanding Kakaknya. Dan paling nggak suka kalau ditertawakan.

Jadi kalau ada yang nggak sengaja kelepasan ketawa, dia bisa langsung nangis.

—–
Hari ke empat Adek ‘kabur’ dari kamar akhirnya saya bicara sama Adek.

“Adek marah ya sama Mama?”

“Iya. Mama harusnya nice sama Adek. Nggak boleh funy-funy in Adek.”

“Adek listen. Maafin Mama ya. I won’t do it again. I promise.”

“Ok”. Udah cuma begitu, Adek kembali ke kamar membawa semua bonekanya untuk tidur lagi sama saya.

Di sogok mainan, crayon, buku mewarnai, coklat, nggak mempan. Begitu minta maaf, langsung hilang marahnya.

Anak perempuan kalau ngambek susah amat ya. Coba kakaknya, ngambek disogok selembar warna merah juga langsung baik. Kabur beli mainan dan jajan ke Indomaret.

Anyway, meminta maaf pada anak itu tidak ada salahnya. Malah positif, jadi anak merasa nyaman berbagi cerita sama kita. Bisa membuka keran komunikasi juga. Sesuatu yang tidak saya dapat di waktu kecil.

Budaya Bully

28 Oktober 2019

Bapak Ibu saya itu orang Timur Tengah, ibu Jawa Timur bapak Jawa Tengah. Nggak sinkron sama penampilan fisik. Bapak saya tinggi besar kumis baplang tapi alus dan ramah sama orang. Sementara ibu saya imut menik-menik tapi sering keluar ujaran Jawa Timuran yang enteng membully orang.

Misalnya nih, ada saudara datang ke rumah. Enteng aja dia bilang, β€œIstrimu kok jelek amat, jih ayu mantanmu sing mbiyen kae lho. Bagus-bagus kok bojone elek.”

Nganu banget khan?

Tapi yang digituin ya cengengesan aja. Nggak lantas marah trus nggak dating-datang lagi.

Kali lain, pernah ada yang datang lagi. Teman karib kakak.

Ibu saya menyapa dengan: β€œEh kamu dah ganti istri lagi tho? Mana? Wong sudah ganti istri juga tetap nggak punya anak gitu kok. Oh tiwas sdh ganti, tibak’e kowe sing mandul.”

Mak Nyoosss nggak sih πŸ˜‚πŸ˜‚.

Tapi ternyata budhe-budhe saya juga kalau ngomong kaya gitu. Kalau nglumpuk, mengerikan. Siapa aja bisa kena bully, khususnya mantu dan anak sendiri.

Contoh:
β€œIni lho Bambang bojone Elok. Rodho ireng karo elek sithik pancen tapi yo ra popo. Pas karo Elok anakku. Lha masak golek bojo kok milih2 padakke Desy Ratnasari opo piye?”

Lebih afdol lagi ngomongnya pas di depan muka mereka disaksikan seluruh keluarga besar.

Tapi ya apa trus kami jadi nggak suka ketemu keluarga besar? Ya enggaklah, tetap aja kita nabung supaya bisa pulang kampong. Buat dibully budhe-budhe dan simbah–simbah kita.

Gen kita tuh gen tahan bully, nggak sama dengan orang bule yang baperan sampai menghindar-hindar telpon dari ibunya. Nggak mau ketemu sepupunya, bahkan bapak anak sampai nggak ngomong lagi.

Jangan baperan ah, cuma ditanya kok nggak kawin-kawin aja ngambek males ngumpul. Diceletukin kok anaknya kurus: sedih, marah.

Apa kabar guweh? Kalau ketemu mertua yang…. Alhamdulilah Jawa Timur juga diceletukin…

β€œSak iki lumayan yo Ghaffi wis metu irunge. Gak pati pesek koyo mbiyen?” πŸ‘€πŸ‘ƒπŸ˜΄πŸ˜΄.

Bulliyeng itu kearifan lokal. Tanda perhatian dan perasaan dekat.

Jangan kebanyakan baca share ini itu yang bikin hati jadi rapuh ah. Warga +62 harus setrong…

Setrong kaya SAS, Yusril Ihya, dan AHY…

Salak Nia Ramadhani

27 Oktober 2019

Setelah tak lihat, video Nia Ramadhany itu ternyata yang nyuting suaminya sendiri. Dia lagi ngebully bininya sendiri. Jadi sebenarnya bukan karena saking kayanya dia nggak bisa ngupas salak, karena yang kaya khan lakinye. Tapi ya mungkin karena nggak pernah makan salak aja.

Anak sekarang tuh beda sama anak jaman dulu. Ponakan saya aja yang sekarang kuliah nggak bisa ngupas duku. Dikasih duku sama ibu saya malah diketuk-ketuk ke meja. Dikira telor puyuh kali πŸ˜‚.

Anak saya lho tak suruh buka kulkas buat ngelihat ada buah apa, bingung nyebutin namanya.

“Buah itu lho ma yang kalau di potong shape like a star.”

Oalah bilang belimbing aja nggak tahu. Apalagi jamblang atau buni.

Kemarenan saya beli juwet/jamblang sama temen. Iseng anak saya tak suruh nyobain.

“Ini berry-nya, rasanya strange Mah. Euw…nggak mau.”

Bingung saya, kecilnya saya apa aja mau. Jambu biji, kedondong, langsep, pundung, apa aja yang lagi musim di kampung. Waktu itu buah impor belum masuk. Cuma ada buah lokal yang organik. Kesemek dan gohok masih banyak.

Sekarang, buah apa aja ada. Shiny, dan menor seperti dandanan artis. Manis dan seedless. Buah impor juga banyak. Produk GMO yang bibitnya penuh rekayasa. Serangga aja kalau gigit bisa mati.

Buah seperti itu yang disukai anak-anak jaman sekarang. Apel, Pir, Jeruk Mandarin, Anggur.

Anak sekarang nggak bakalan mau makan buah yang harus dijepit dulu di pintu, semacam kecapi atau kedondong.

Jadi ya wajar sih ya, buah-buah dan pohon jaman dulu sudah langka. Kalau ke tukang tanaman mau beli buah/pohon jaman dulu, mereka bilangnya: β€œHh cari tanaman memory. Harganya mayan mahal. Semacam murbei hutan atau jamblang bisa lebih mahal dari pohon mangga.”

Saya sih buah apa aja Insya Allah bisa buka, kecuali kelapa atau duren. Biasanya tak brakoti ae…khan saya kampret.

Pendidikan Malu-maluin

26 Oktober 2019

Saya sempat kuliah di kampus Seni IKJ sebelum di ‘usir’ bapak saya supaya kuliah di luar negeri karena takut kebanyakan nongkrong.

Kuliah di situ tuh jadi punya kesempatan sering melihat band atau pagelaran. Tiap saat ada saja yang bikin event, terutama fakultas seni pertunjukan bikin mini konser, yang perform dari berbagai fakultas.

Ironisnya nih ya, band-band yang dari fakultas lain semacam senirupa malah melejit, semacam Naif atau club Eighties. Sementara yang dari fakultas musik, mungkin karena terlalu idealis. Malah jarang yang bikin album.

Suatu ketika anak musik yang nyanyi dan main dengan bagus, perform duluan. Surprisingly, habis itu ada Bondan Prakoso, yang waktu itu masih SMP sambil pegang bass, perform dengan kerennya. Semua orang terpukau. Bondan adek temen saya, kakaknya kuliah di situ juga.

MC waktu itu Jimmy Multazam, ketika mereka selesai perform masuk dan bertanya kepada anak musik.

“Nggak malu lo, kuliah susah-susah kalah ma anak SMP?”. Anak IKJ memang goks dan nggak ada basa-basinya.

Sebenarnya alasan saya nulis gini tuh gara-gara banyak praktisi pendidikan yang protes “kami keberatan punya bos gojek”. Mereka merasa lebih kompeten daripada CEO Gojek dalam soal pendidikan.

Baca keberatan mereka tuh rasanya pengen nanya kaya Jimmy….”Lo nggak malu sudah kuliah lama-lama, tapi anak didik lo kalau lulus paling ngelamar jadi ojek online?”

Sumber Daya Manusia

25 Oktober 2019

Dulu sempet diskusi dengan almarhum bapak soal SDM di Indonesia. Bahwa salah satu kelebihan kita yang kerap dianggap sepele adalah jumlah sumber daya manusianya. Kalau SDA khan lama-lama bisa habis, sementara potensi SDM ini masih bisa digali.

Negara-negara yang jadi rujukan sebagai yang sadar betul potensi ini salah duanya adalah Filiphina dan India.

Amerika dan negara maju banyak sekali menerima tenaga kerja dari Filiphina dan India. Mereka tidak melulu bekerja di sektor domestik rumah tangga seperti di Arab Saudi atau Malaysia seperti TKI pada umumnya.

Di Amerika para imigran Filiphina dan India banyak bekerja di sektor kesehatan dan IT.

Akhir-akhir ini middle class worker di Amerika malah mulai marah karena terancam pekerjaan mereka di ambil oleh orang India. Banyak pengusaha IT Amerika mendirikan kantor di India dan menyerahkan pekerjaannya pada para ahli IT di India. Lebih murah, dan sama pintarnya.

Kelebihan dua negara itu sama-sama berhasil meng-upgrade kualitas SDM-nya sehingga cukup kompeten. Rata-rata negara tersebut, penduduknya lancar bahasa Inggris. Jadi yang utama komunikasi dan skill kompetensi.

Pendidikan di Indonesia tidak perlu muluk-muluk seperti di Jepang atau Finlandia. Yang penting skill vocational-nya memadai itu sudah cukup.

Sandiaga sepertinya paham, makanya salah satu yang sering dikampanyekan adalah untuk membuka lebih banyak sekolah SMK.

Semoga Mendiknas yang baru, juga punya visi yang mirip-mirip.

Mendiknas Baru

25 Oktober 2019

Gimanapun prestasi bos gojek ini nggak bisa dianggap sepele. Masih 35 tahun tapi prestasinya sudah moncer, lulusan Harvard pula.

Tadinya ya linimasa penuh joke-joke lucu perihal kurikulum ke depan dikaitkan dengan aplikasi gojeknya ini. Artinya, sebenarnya masyarakat cukup antusias menyambut bos pendidikan baru yang kemungkinan punya program out of the box. Mungkin ada angin segar, ada harapan iklim pendidikan seperti di luar negeri semacam Finlandia.

Semua berubah gara-gara ada tulisan provokator rasis yang menjlentrehkan kehidupan personalnya. Menyimpulkan bahwa Nadiem anti orang Islam dan akan membongkar masjid di tiap sekolah.

Sik to…..emang situ siapa? Punya kapasitas apa nulis begitu? Jadi jubirnya Nadiem? Atau mau ngelamar jadi staff menteri?

Setahuku kalau orang lama tinggal di Amerika, apalagi doi lulusan Harvard. Biasanya terbiasa disiplin untuk tidak sembarangan memberikan ujaran rasis.

Di Amerika, cuma tanya agamamu apa ketika melayani pelanggan, pasien, tenant baru apartemen, interview pekerjaan: bisa kena pidana.

Emang di Indonesia, tanya agama menteri yang baru menjabat bisa dilakukan secara kasual?

Saya kok nggak yakin Nadiem Makariem punya energi buat ngurusin hal-hal negative macam bacotmu. Kalau dia se selow itu mana mungkin masih muda harta aset dan karirnya secemerlang itu.

Saya termasuk yang senang JKW masukin Bu Susi di Kabinet, sekarang saya juga antusias dengan Mendiknas yang baru.

Menolong Tanpa Pamrih

19 Oktober 2019

Berbuat baik itu bukannya mudah. Kalau mudah, pasti banyak orang baik di dunia ini dan setanpun jobless.

Niatnya baik, kesandung nyinyiran orang soal riya. Niatnya baik, yang di tolong malah suudzon dikira ada maksud tertentu. Niatnya baik, malah diperas dan dimanfaatkan.

Tidak terhitung orangtua saya menolong orang tapi gagal mencapai tujuan.

Ngasih uang, tapi orangnya malah ketergantungan: minta terus.

Ngasih modal, malah di gunakan secara salah, modalnya habis dan tetap miskin.

Pernah ngasih fasilitas. Misal gerobak bakso dan peralatannya, malah di bohongi. Setiap saat bilang mangkoknya ditabrak orang pecah semua, kesrempet motor baksonya tumpah semua. Datang terus ke rumah minta tambahan modal.

Ngasih delman dan kuda, malah dijual. Ngasih modal buat pelihara bebek malah dibeliin perabotan rumah.

Kali lain, ngajak saudara yang tidak mampu ke rumah ikut kami. Disekolahkan segala macam. Tapi malas belajar, tidak biasa hidup disiplin kabur kembali ke desanya dan keluarga kami digosipkan.

Apakah kemudian ayah saya lelah berbuat baik? Sampai akhir hayatnya nggak pernah ada kalimat penyesalan, juga tidak pernah berhenti berbuat baik.

Saya tahunya ya dari orang lain. Dari supir, dari orang di jalan yang tiba-tiba setengah menangis menyalami saya ingat waktu di tolong bapak, dimana-mana saya dengar. Tapi tidak pernah keluar dari mulut bapak.

Pernah dengar dari supir bapak, bahwa beliau menolong perempuan yang menangis di jalan mau bunuh diri karena hamil ditinggal pacar. Sama bapak saya di kasih uang, dinasehati supaya tidak menyerah. Mungkin sambil berdoa juga supaya hal itu tidak terjadi ke anak-anak perempuannya.

Pernah ketemu supir taksi yang bilang desanya di beri bantuan karena dilanda kekeringan panjang.

Pernah dengar juga dari seorang dokter yang bilang beasiswanya dibiayai program yang dibuat ayah saya. Dokter itu sekarang sudah seperti dokter pribadi saya. Menemani beberapa kali saya masuk ICU.

Jangan menyerah berbuat baik, walau seringkali terasa sangat sulit. Ujian dari Allah itu tidak mudah. Setan itu lebih pintar dari Einstein, umur dan karirnya lebih panjang dari Pak Wiranto.

Politik Balas Dendam

17 Oktober 2019

Ternyata di Indonesia adanya cuma politik balas dendam.

Jaman Soeharto, stempel PKI ditembakkan kemana saja untuk menjatuhkan yang anti penguasa. Korbannya kebanyakan loyalis Soekarno. Selama Orde baru mereka dimarjinalkan dianggap warga negara kelas dua. Setelah reformasi, terutama karena suara mereka dominan pelan-pelan nama Soekarno dikembalikan nama baiknya. Gus Dur yang juga sahabat Megawati mendukung upaya itu.

Tapi sekarang setelah PDIP berkuasa kembali, stempel-stempel mulai ditembakkan. Walau berganti logo. Logonya radikalisme, lambangnya bendera Tauhid. Bukan lagi palu arit.

Metodenya, sistimnya bahkan orang-orang yang berkuasa juga masih banyak yang dari orde baru.

Teringat percakapan dengan ayah saya dulu. Sistem atau orang yang utama? Ayam atau telur?

Sebaik apapun manusia, kalau sistemnya nggak bakoh negara akan buyar.

Negara tidak kekurangan orang-orang baik. Tapi kekuasaan itu candu. Dan manusia itu rentan kecanduan pada hal-hal duniawi. Ada tentara yang kecanduan hormat, ada Kyai yang kecanduan gula, ada yang tadinya rakyat jelata naik kelas sosialnya kecanduan panggung perhatian.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: