Sinetron Astaghfirullah SCTV “Dikerubutin Jin Karena Menyiram Air Panas”

Iblis dilaknat Allah, maka mereka dendam pada manusia. mereka bersumpah untuk terus berusaha menjerumuskan manusia sampai akhir zaman.

Di tahun 2005, televisi swasta kita diramaikan dengan tayangan sinetron religi seperti Rahasia Ilahi, Hidayah, dan semacamnya. Sinetron-sinetron tersebut terinspirasi dari larisnya majalah Hidayah yang selalu mengangkat cerita tentang azab. Manusia yang jahat akan mendapatkan azab di dunia. Baik semasa hidup, menjelang wafat, maupun saat telah berada di kuburan.

Di tengah gempuran kisah-kisah yang hampir tidak masuk akal tersebut, hadir pula sinetron “Astaghfirullah” di SCTV yang menampilkan kisah sejenis tetapi dengan pendekatan pengobatan ruqyah. Di mana orang-orang yang kerasukan jin, disembuhkan dengan metode ruqyah syar’iyyah.

Manusia yang kerasukan jin karena santet atau karena kelalaian sendiri, bisa melakukan pengobatan lewat diri sendiri. Yaitu mendekatkan diri pada Ilahi. Memperbanyak sholat, zikir, dan membaca Quran, dan ibadah lainnya. Metode pengobatan lainnya adalah dengan dibacakan surah di dalam Al-Quran sehingga jin yang bersemayam di dalam tubuh itu bisa keluar.

Ruqyah sendiri sudah ada sejak zaman Nabi, bahkan sebelum Nabi. Rasulullah pun mencontohkan bagaimana metode ruqyah syariyyah ini dijalankan.

Berikut adalah salah satu episode dari Sinetron Astaghfirullah yang bertajuk “Dikerubutin Jin”

Ustadz Jefri Al-Bukhari memberi prolog dalam film:

Wahai engkau yang dimuliakan Allah. Ingat, sesungguhnya hidup di dunia ini tidak sendiri. Ada makhluk-makhluk lain yang menyertai manusia. Apalagi kalau kita mau kembali kepada suatu sejarah. Ketika Allah ingin menciptakan Adam. Bagaimana geramnya iblis kepada Adam Alaihissalam. Karena dia merasa lebih ulia. Sedangkan adam apa? Padahal kalau mau dipikir. Kemuliaan tanah dengan api, ketika bibit dimasukkan ke dalam tanah ia akan tumbuh. Tetapi ketika bibit dimasukkan ke dalam api ia akan terbakar hangus. Itu merupakan salah satu bukti bahwa manusia itu kemuliaannya luar biasa.

Tapi ingat. Kemuliaan kita sebagai manusia jangan membuat kita hidup sembarangan di dunia ini. Sehingga akhirnya malah membuat urusan. Malah membuat celaka kepada makhluk yang lain. seperti yang akan terjadi pada cerita ini. Seorang perempuan yang lupa. Bahkan dengan sembarangan membuang air panas ke dalam kamar mandi. Atau pada lubang-lubang di mana itu adalah tempat jin yang jadi tempat tinggalnya. Sehingga akhirnya dia berurusan dengan jin-jin itu sendiri.

Kemuliaan kita sebagai manusia jangan membuat kita hidup sembarangan di dunia ini sehingga membuat urusan bahkan celaka bagi mahkluk yang lain.

Sinopsis

RINA (Raslina Rasidin) sering sekali setelah memasang langsung membuang air panas ke kamar mandi atau tempat cuci piring. Sedangkan ternyata, di tempat ia membuang air panas tersebut, tinggal sekeluarga jin. Karena terus-terusan tersiram air panas, jin-jin tersebut marah lalu masuk ke tubuh Rina.

Rina jadi sering pusing-pusing, suka menghayal, dan emosional. Oleh suami (Pak Karta diperankan oleh Wawan Wanisar) dan keluarganya, Rina disuruh berobat ke rumah sakit dan dukun. Bukannya membaik, malah sakitnya semakin menjadi-jadi. Akhirnya oleh rekan kerja suaminya (Fadillah) disarankan untuk berkonsultasi kepada Ustadz Jalil (Firman Syah). Ustadz Jalil menyarankan untuk diruqyah setelah melihat gejala yang ditunjukkan oleh Rina.

Tetapi niat untuk meruqyah ini justru mendapat hambatan dari orang tua Rina (Ugik Mandagi). Dia tidak yakin kepada Ustadz Jalil yang mampu mengusir jin. Karena melihat Ustadz Jalil yang masih muda dan tidak ada tampang dukun. Menurutnya, orang yang sanggup mengusir jin itu yang telah menjalani ritual khusus seperti puasa 40 hari 40 malam tanpa berbuka puasa. Bertapa di kuburan, dan sebagainya. Ustadz Jalil berusaha menyakinkan orang tua Rina dengan memperdengarkan ayat-ayat Quran. Tak berapa lama, Rina bereaksi. Orang tua Rina pun akhirnya mau agar anaknya diruqyah.

Dan alhamdulillah. Setelah menjalani ruqyah yang diterapi langsung oleh Ustadz Hasan Bisri, keluarga jin yang bersarang di tubuh Rina pun pada keluar. Para jin itu mengakui kesalahannya.

—-

Inti dari cerita ini adalah: Jangan membuang air panas di sembarangan tempat. Dinginkanlah air terlebih dahulu sebelum dibuang. Karena mungkin saja ada makhluk lain yang “bermukim” di tempat itu. Bacalah ‘Bismillah’ sebelum menuangkan air panas.

Tim Produksi

Sinetron ini diproduksi oleh Sinemart Pictures, disutradarai oleh Chaerul Umam.

Para pemainnya:  Raslina Rasidin, Wawan Wanisar, Lenny Charlotte, Ugik Mandagi, Mustafa, Fadillah, Syafnawati Chan, M. Risfi Syah Putra, Ustadz Aris Fathoni, Ustadz Hasan Bisri, Ustadz Muazam, Ustadz Jeffry Al Bukhari, Titi Suwarno, Abio Abie, A. Dirgantara Wiwing, Marno Pakde, Amri Cebol, Baral Monex, Dani Acil, dan Firman Syah yang berpesan sebagai Ustadz Jalil.

Kru: Perekam Suara Eddi Jambi, Penata Artistik Mugiyarto, Penata Gambar Dian Satriawan, Penata Musik Embie C. Noer, Editor Budidha, Pimpinan Produksi Siradjudin (Udin PA), Kordinator Produksi Wahyo Rasidin dan Han Revo Joang, Supervisi Pasca Produksi Rizal Basri, Line Produser Dani Sapawie, Produser Leo Sutanto, Sutradara Chaerul Umam.

Hingga sekarang, sinetron Astagfirullah ini masih banyak yang merindukan untuk diproduksi kembali mengingat masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui cara pengobatan yang efektif dan sesuai syariat Islam. Masih banyak orang yang memilih cara lain yaitu lewat perdukunan. Padahal cara tersebut sangat tidak efektif dan hanya akan menambah masalah baru.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: