Seni Tradisi Mendatangi Pemiliknya

Untuk kesekian kalinya, Forum Apresiasi Seni Pertunjukan (ASP) menggelar kesenian tradisi di pusat keramaian. Dan sebagian besar dari mereka, tidak berniatmelihat pertunjukan seni melainkan untuk berbelanja atau sekadar cuci mata.

Kali ini berbagai seni pertunjukan dari berbagai etnik di Indonesia hadir di Plaza Senayan pada April dan Mei 2005.

Peristiwa Budaya

Pertunjukkan itu ada dari pemain asli yang berasal dari komunitas seni itu sendiri. Dan ada dari siswa yang mendapatkan pelatihan khusus sebagai bagian dari program pelatihan ASP.

Penampilan para pemain asli antara lain musik Jegog (Bali) oleh Yayasan Suar Agung. Musik Tanjidor (Betawi) oleh kelompok tanjidor pimpinan Abd Rachem. Aneka kesenian Flores oleh Sanggar Budaya Mawarane, dan tari Fatele (Nias).

Sementara karya seni tradisi hasil pelatihan dan pengembangan para pakar. Antara lain tari Piring Sa’ayun (Minangkabau) oleh IKJ Dance Company. Tari Yosim Pancar (Papua) oleh SMA PSKD I dan SMA Negeri 25 Jakarta.

Kesenian Topeng Betawi oleh kelompok dari SMA Negeri 20 Jakarta. Rampak Kendang (Jawa Barat) oleh MSK Karya Guna Jakarta dan SMA Negeri 1 Depok. Gondang dan Tortor (Sumatera Utara) oleh SMA Muhammadiyah 3 dan SMA Al Izhar Jakarta.

Gambang Kromong (Jakarta) oleh SMK Negeri 43, SMK Negeri 51, dan SMA Negeri 13 Jakarta.

Berbagai kesenian Minangkabau (Sumatera Barat) persembahan SMA Negeri 4 Jakarta. Kesenian Melayu (Sumatera Utara) oleh SMA Negeri 74 dan MAN 9 Jakarta.

Serta rampai Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam) oleh tiga sekolah yaitu SMA Negeri 97, SMA Negeri 35, dan SMK Negeri 14 Jakarta.

Banyak Tapi Tak Kenal

Selama ini kita lebih sering mendengar pernyataan tentang kayanya seni budaya bangsa. Namun hampir tidak mengenal dan tidak dapat menyebutkan perbendaharaan dari seni budaya tersebut, kecuali beberapa saja.

Hal tersebut terjadi karena minimnya pementasan seni tradisi yang jumlahnya banyak itu. Pementasan seni tradisi itu hanya terjadi pada peringatan Hari Kemerdekaan atau pada acara-acara khusus di sekolah.

Namun itu tidak menggambarkan kekayaan budaya yang sesungguhnya, karena mendapat porsi kecil dari besarnya kegiatan.

Sementara, sanggar seni, sebagai basis perkembangan kehidupan seni tradisi, sudah cukup lama tidak ditoleh generasi muda.

Daripada mempelajari seni tradisi, generasi muda lebih banyak yang tertarik dengan kesenian populer. Selain terkesan tua dan kolot, seni tradisi pun memiliki predikat sebagai kesenian yang tidak bonafid.

Bertolak belakang dengan kesenian topeng oleh Mimi Rasinah yang justru mendapat undangan dari luar negeri.

Itu menandakan bahwa seni tradisional yang kita miliki pun cukup bonafid. Masih banyak seni tradisi lain yang ternyata lebih dihargai di luar negeri daripada di tanah air.

Minimnya pementasan, tidak lancarnya regenerasi, kurangnya informasi mengenai seni tradisi itu tampaknya menjadi persoalan klasik yang harus segera dipecahkan.

Masih Ada Usaha

ASP melalui pertunjukan yang digelar di Plaza Senayan, tampak berusaha keras memecahkan masalah itu. Walaupun mereka sadar tidak mudah untuk kembali menempatkan seni tradisi sebagai seni utama bagi masyarakat Indonesia.

Apalagi masyarakat perkotaan yang mendapat gemburan budaya dari berbagai arah, bahkan hingga ke kamar tidur!

Paling tidak, ada upaya untuk melestarikan, merawat, merevitalisasi seni tradisi yang kurang diperhatikan selama ini.

Setelah seni tradisi itu dapat dikuasai atau dikenal kembali, tidak berarti akan menjawab semua permasalahan. Masalah baru akan timbul seperti apa yang bisa ditawarkan sebuah kesenian tradisi bagi masa kini dan masa mendatang?

Jika pada masa lalu seni tradisi berperan sebagai hiburan. Berguna juga untuk sarana informasi dan media pembelajaran, apakah masih akan berfungsi di masa kini dan masa mendatang?

Ataukah seni tradisi itu hanya akan berfungsi sebagai media hiburan semata sebagaimana seni popular? Lalu seni tradisi hanya akan menjadi komoditas industri pariwisata?

Lantas, bagaimana penghargaan terhadap seniman tradisi? Apakah hanya dalam bentuk ekonomi atau ada penghargaan moral dan politik?

Sulit Berkembang

Pertanyaan tersebut mungkin tidak perlu dijawab sekarang. Namun, jika harus menyerah, kita harus menyiapkan diri kehilangan sebagian identitas budaya yang dulu pernah melekat. Yang jelas, untuk menjaga kelangsungan seni tradisi memerlukan biaya yang cukup tinggi. Baik untuk pelatihan, pementasan, pemeliharaan alat, maupun menghidupi pelaku seni.

Mereka yang selama ini bergelut dengan seni tradisi merasakan betapa sulitnya mencari lembaga donor yang mau membantu perkembangan seni tradisi.

Berbagai perusahaan lebih senang berpromosi dan menggelontorkan dananya dalam jumlah yang cukup besar untuk kesenian yang lebih populer ketimbang tradisional.

Beruntung, ASP dapat memperoleh bantuan dari Ford Foundation yang masyhur sebagai lembaga asing yang peduli terhadap perkembangan seni tradisi. Tidak hanya di Indonesia, melainkan di berbagai negara di dunia.

Di lain pihak, lembaga pendidikan pun seperti tidak berdaya untuk turut serta mengembangkan kesenian. Tidak terbatas pada seni tradisi semata.

Karena Kurang Perhatian

Pendidikan kesenian kurang mendapat perhatian ketimbang mata pelajaran yang tampak lebih “serius” terutama di bidang sains.

Tanpa kebijakan dari pengelola sekolah. Pelaku seni tradisi tidak memiliki kewenangan untuk masuk ke lingkungan sekolah dan menyebarkan pengetahuannya tentang seni tradisi.

Barangkali hal-hal tersebut ikut mempersulit perkembangan seni tradisional di negeri ini.

Apakah ASP ini akan sanggup mengatasi kemunduran seni tradisi yang terus berlangsung dari hari ke hari, waktu ke waktu?

Mungkin, dengan memberi apresiasi kepada kesenian, melakukan pelatihan dan kemudian mempergelarkan di depan publik. Mencari penyandang dana yang mau membantu membiayai pelatihan sekaligus pertunjukan.

Ada harapan seni tradisi warisan nenek moyang yang sangat berharga dan memiliki nilai yang luhur itu akan bisa lestari.

Syukur-syukur berkembang dan kembali digemari layaknya musik Peter Pan.

Mulai Dari Sekolah

Mudah-mudahan pula. Pihak sekolah mau mengembangkan mata pelajaran kesenian sebagai mata pelajaran yang potensial mengangkat nama harum sekolah. Dan tidak terpaku hanya mengejar prestasi akademik pada bidang studi sains semata.

Prestasi di bidang kesenian pun cukup prestisius dan membanggakan. Hal yang penting adalah kebersamaan antarpelajar dapat dilakukan melalui kegiatan kesenian. Dari itu mereka dapat bergaul secara positif dan mengurangi rasa permusuhan yang sering berakibat pada terjadinya tawuran pelajar.

Dan, agar seni tradisi dapat dikenali kembali oleh masyarakat yang mengaku sebagai pemiliknya, mau tidak mau harus mendekatkan diri kepada masyarakat itu.

Di tengah gencarnya arus informasi serta beragamnya kesenian yang saling berebut popularitas dengan memanfaatkan teknologi tinggi. Maka seni tradisi harus mampu hadir di tengah-tengah masyarakat.

Mereka harus mendatanginya. Mungkin suatu saat mengiklankan diri.

Lucu juga, sesuatu milik masyarakat justru minta perhatian dari pemiliknya sendiri. Tapi, jika tidak demikian, seni tradisi itu akan semakin tidak dikenal.

Oleh Yayat Suryatna  

Wednesday, 11 May 2005

Penulis adalah Program Officer Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia .

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: