Riset Film: Pentingkah Bagi Kesuksesan Sebuah Film?

Riset film? Bagaimana kita menemukan tema film?

Dilemanya tentu saja: idealisme vs selera pasar.

Maka di sini riset bisa menjadi jembatan. Menjadi penyeimbang antara idealisme dan selera pasar.

Riset pasar untuk film sendiri, saat ini dilakukan dengan berbagai pendekatan dan metode.

Saya pernah membantu sebuah film yang produsernya meminta saya membuat FGD terlebih dahulu dengan calon penonton.

Sementara di film lain, beda produser, lebih fokus meminta saya mencari data film nasional sejak tahun 2000 hingga 2015. Merangkum tema dan cerita apa yang probabilitas suksesnya besar.

Saya pribadi selalu menyarankan kepada produser untuk menggabungkan beberapa metode tersebut: kualitatif dan kuantitatif.

Tapi yang lebih penting lagi, seringkali produser sudah membawa tema dan bahkan naskah, baru kemudian membuat survey atau FGD. Tujuannya hanya untuk memvalidasi apakah tema dan jalan cerita seperti ini akan laku.

Ini yang mesti pelan-pelan kita ubah.

Menurut saya, yang terbaik adalah kita mencari atau melakukan identifikasi terlebih dulu kebutuhan tontonannya seperti apa.

Misal, ada mitos bahwa publik ingin film anak-anak Indonesia karena sudah lama tidak ada film anak-anak yang bagus.

Sebelum melangkah mengambil kesimpulan bahwa kita harus memproduksi film anak-anak, perlu kita validasi dulu mitos tersebut dengan riset.

Selain validasi juga mencari subtema yang lebih spesifik lagi untuk menemukan kebutuhan tontonannya seperti apa. Setelah kita lakukan riset kualitatif dan kuantitatif, misalnya, akhirnya kita menemukan subtema yang diinginkan market adalah film anak-anak Islami.

Artinya, saya ingin mengajak kita mau mengubah proses. Bahwa membuat film tidak harus selalu berangkat dari idealisme atau insting. Akan lebih baik kalau kita temukan dulu kebutuhan tontonannya masyarakat itu apa.

Nah yang kedua sekarang adalah tentang pendekatan risetnya.

Kualitatif dan Kuantitatif

Tadi saya menyinggung ada pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Untuk kualitatif, yang pernah saya lakukan adalah melakukan FGD terhadap calon penonton yang menjadi target kita.

Misalnya kita akan membuat film dengan tema anak-anak. Nah untuk menajamkan subtema dan jalan cerita seperti apa yang diinginkan penonton, kita bisa mengundang tidak hanya anak-anak saja, tapi juga orang tua dan guru.

Orang tua juga penting karena mereka tetap yang akan menjadi filter dalam pengambilan keputusan menonton atau tidak menonton.

Guru penting untuk mendapat perspektif bagaimana anak-anak berpikir dalam kelompok. Apa yang mereka bicarakan dan lakukan

Satu lagi pendekatan kualitatif adalah melakukan ‘content analysis’ terhadap tema-tema film di Indonesia maupun di luar negeri.

Belajarlah dari film-film yang laku.

Untuk kuantitatif, yang saya lakukan survey dan social media analytics.

Survey cukup sederhana, kita tinggal validasi via kuesioner apa saja tema film yang menjadi minat penonton atau yang menarik bagi masyarakat.

Sedangkan social media analytics dilakukan untuk mencari ‘nuansa’ apa yang sedang melingkupi film-film yang akan atau sedang diputar di bioskop saat ini.

Ini untuk memetakan persaingan dengan film lain.

Saya hanya pernah bantu 3 film. Kebetulan ketiga produser sudah membawa naskah jadi. Dan kebetulan juga tiga produser itu penontonya di bawah 100 ribu.

Sementara produser yang memulai dengan riset, ada juga sebenarnya. Cuma sampai sekarang tidak diproduksi filmnya. Bahkan naskahnya juga belum selesai

Tapi pasti di luar sana, ada produser yang sudah mulai faham pentingnya riset terlebih dahulu sebelum produksi. Bahkan sebelum menentukan tema, jalan cerita, pemain, judul dan tanggal pemutaran.

Ada satu kawan, produser yang cukup antusias belajar riset. Namanya Rosa Djalal. Sepertinya beliau mulai banyak mengandalkan riset untuk film-filmnya. Mungkin bisa juga diundang kapan-kapan untuk sharing.

Riset Film itu Penting

Intinya jangan memulai memproduksi film hanya bermodal pure ide dan insting. Ini juga berlaku untuk pemilihan pemain.

Tanpa riset kita tidak tahu seberapa kuat pemain yang kita pilih bisa mengangkat jumlah penonton. Begitu juga dengan pilihan target penonton dan timing pemutaran. Meski yang terakhir ini kendalinya ada di bioskop.

Tambahan: riset bisa dilakukan in-house, oleh tim kecil yg dibentuk produser. Tidak harus menyewa konsultan.

Oleh: Harryadin Mahardika

(Catatan: tulisan ini saya dapat entah di mana, saya lupa. Dokumennya tersimpan di flashdisk dan tanggal pembuatannya 2 April 2017. Kemungkinan besar rekapan dari hasil diskusi di WA Grup yang saya ikuti.)

BACA JUGA: Urgensi Literasi Film.

Catatan Tambahan Tentang Riset

Cari tahu mengapa masyarakat harus menonton film Anda.

Selain masuk ke dalam kepala audiens, tugas Anda selanjutnya adalah mencari tahu mengapa orang-orang ini menyukai genre tersebut.

Mengapa mereka ingin menonton film Anda? Apa yang membuat film Anda unik dari film pesaing lainnya? Bagaimana film Anda akan menarik minat penonton?

Target Penonton

1. Siapa target penonton utama Anda?
Contoh: anak kuliahan pria yang menyukai film laga.

2. Apa yang membuat film Anda berbeda dari film pesaing?
Contoh: Film kami adalah tentang pendekar silat yang menyerang geng koruptor.

3. Mengapa penonton Anda harus menghabiskan dua jam menonton film Anda?
Contoh: Si Fulan bilang: Saya suka melihat orang yang membasmi kejahatan besar di negeri ini.

Meluangkan waktu untuk memahami penonton Anda akan memungkinkan Anda membuat film yang ideal buat mereka.

Informasi ini kemudian akan berguna saat Anda membuat dan menyempurnakan pesan-pesan di media pemasaran.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: