Rantau, Keberanian Yang Merindu

Penulis: Firman Syah

Memilih hidup di rantau, meninggalkan seribu kesenangan bersama sanak famili, berarti memilih jalan untuk terus merindu dan dirindukan. Saat berpisah, Si Ibu memeluk anaknya bersama air mata, Sang Bapak meneguh-neguhkan hati menahan tangis sambil menepuk pundak sang anak. Kakak atau adik kehilangan teman di rumah. Sahabat kehilangan teman bercanda. Ya, mungkin hanya untuk sementara, tapi tetap dalam jangka waktu lama.

Ikatan rindu itu seperti belitan kain sarung yang terus mendekap setiap saat. Dalam momen apapun. Saat kapanpun. Terlebih jika ada masa sulit yang dijumpai di rantau, maka rindu itu akan mencapai puncaknya. Dada sesak, mata terbanjiri.

Merantau dalam rangka mengarungi samudra ilmu itu bukan hanya untuk bersenang-senang seperti pesiar di pulau wisata. Bukan juga untuk unjuk status, bukan pelarian, apalagi sekedar menghamburkan uang orang tua. Para musafir ilmu  pergi untuk meraih pengetahuan sebanyak-banyaknya, memperluas wawasan seluas-luasnya, mengambil kearifan pengalaman hidup sedalam-dalamnya.

Merantau butuh ilmu keberanian, butuh ilmu mengelola rindu.

Berani bukan untuk kelahi, bukan karena tak boleh takut. Keberanian bagi para musafir ilmu adalah tetap berlayar walau ombak menggulung, kemudi patah, layar terkoyak, walau takut melanda. Separuh dari keberanian telah ada dalam fitrah manusia. Separuhnya lagi ada dalam pengetahuan dan latihan diri.

Umar bin Khattab bilang: “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.” Zaman dulu sebelum berperang, para kapiten selalu melantunkan syair-syair untuk melecut keberanian para prajurit. Chairil Anwar menggelorakan perjuangan pada sajaknya. Begitu juga WS. Rendra, Taufiq Ismail.

Rasulullah menekankan untuk  melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Beliau bersabda: Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika ia tak mampu berenang.  Panembahan Senopati melatih dirinya dengan membuang cincin berharganya di sungai di siang hari lalu mencarinya di malam hari hingga ketemu.

Seorang tua mengajariku: ”Jika kau takut melakukan sesuatu, tutup saja matamu dan lakukan.” Tentu saja segala hal tentang keberanian ini selalu perpijak pada kebenaran dan kearifan. Tanpa itu, yang ada hanyalah kenekatan yang menghasilkan keburukan.

Sedang rindu adalah buah dari cinta. Obatnya hanyalah perjumpaan. Para musafir ilmu tidak hanya merindu, tetapi dirindukan. Karena obatnya tidak bisa sekejap didapatkan di apotik terdekat, maka temukan terapinya secara natural. Teknologi komunikasi sekarang sudah sedemikan canggih mendekatkan personal yang jauh. Kecuali tak ada sinyal atau pulsa. Tidak seperti jaman dahulu yang hanya bisa berkirim surat dan telegram.

Saat rindu membuncah, jika ingin menangis maka menangislah. Mungkin tangismu itu dapat membuat dada sesak menjadi lapang. Tak perlu malu dan gengsi.  Gengsi hanya membuat seseorang makin tertekan oleh diri sendiri. Raihlah kebebasan berekspresi melalui tangisan. Sebab tangisan rindu adalah nyanyian paling merdu di antara sejuta gubahan lagu. Tak sebait lagu pun yang mengalahkan harmoninya, tak ada seorang biduanpun yang mampu menyaingi penghayatannya.

Jika ingin sedikit kreatif, ubahlah rindumu menjadi lirik lagu, atau puisi, atau novel. Ubahlah menjadi karya seni atau mungkin saja karya ilmiah. Paling tidak sebait kata di kolom twit atau fesbukmu. Rindu bukan lagi menjadi beban tetapi bermetamorfosis ke wilayah kreatifitas.

Maka keberanian sekali lagi dibutuhkan untuk mengubah rindu menjadi hal yang bermanfaat.

Kalianda 1997
Firman Immank Syah, Deddy Fasmadhy, Wurry A. Parluten

Jakarta, 26 Juni 2014

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: