Pidato Kematian Singkat Sang Ahli Pidato

Di sebuah tempat pemakaman umum sebuah kampung, dua orang tukang gali kubur sedang sibuk menggali kuburan baru. Nampaknya sebentar lagi akan ada yang terbaring dalam kubur itu. Para tukang gali kubur ini telah mengetahui siapa yang akan dikuburkan dan tentu saja mereka paling mengenal siapa yang akan memberikan pidato kematian nanti.

Siapapun yang dikuburkan, hanya satu yang berpidato. Keahlian pidatonya telah tersebar kemana-mana. Tak ada lagi pilihan lagi. Yang bagus mungkin banyak, tapi yang terbaik hanya ada satu.

Tukang gali kuburpun menambah kecepatan cangkul mereka karena sebentar lagi iring-iringan pengantar jenazah akan tiba. Matahari naik semakin tinggi. Langit bersih tidak ada setitik awan pun.

Tukang Gali 1 : (menyanyi) “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, cangkul yang dalam sekarang juga. Turun, turun, turunkan mayat, turunkan ma…”

Tukang Gali 2 : “Hus! Seperti mahasiswa yang lagi demo saja kau. Ini kuburan Jek. Harus tenang. Hormati dong mereka yang tengah bergelut dalam rimba yang mencemaskan, disiksa apa tidak?”

Tukang Gali 1: “Iya, saya juga tahu. Tidak perlu kamu ajari lagi. Seperti kamu, saya juga telah bertahun-tahun hidup di alam kuburan. Maksud saya berprofesi sebagai tukang gali kuburan sudah ratusan atau mungkin ribuan jenis bau mayat yang saya cium. Bau mereka beda-beda. mungkin dibedakan dari amal mereka waktu hidup. Suer. Saya bisa membedakannya. Bau mayat Pak Lurah Juli yang doyan nilep uang kuburan itu beda dengan Kyai Muksin. Sangat beda. Aneh.”

Tukang Gali 2 : “Kamu tahu siapa yang bakal dikubur di sini? Katanya sih seorang guru ngaji. Suka ceramah di mana mana. Ngisi pengajian gitu. Seluruh kampung di negeri ini pernah dikunjunginya. Tapi kok di tak pernah datang di kampung kita yah? Apa kitanya yang tidak pernah ikut pengajian?”

Tukang Gali 1 : “Memang jarang. Selama kita kerja di sini. Hanya sekali seminggu kita dengar ceramah. Yaitu hari jumat. Itu pun sambil terkantuk-kantuk. Yang tiap hari kita dengar hanyalah pidato kematian yang isinya begitu-begitu melulu. Tak ada variasinya. Dan kamu tahu? Pidato kematian itu hanya disampaikan oleh orang yang sama. Si Ahli Pidato yang sudah kesohor itu. Ia sering diundang di berbagai kesempatan yang membutuhkan keahliannya. Seminar-seminar, khutbah jumat, ceramah di hari-hari besar Islam, acara-acara seremonial, ceramah pernikahan, akikahan, sunatan, bahkan orasi pada aksi demonstrasi mashasiswa. Pokoknya semua lah. Karena memang itu pula profesinya. Di kartu namanya saja tertulis “Ahli Pidato/Ceramah/Orasi, menerima panggilan untuk acara apa saja.”

Tukang Gali 2 : “Betul. Kemarin waktu bapaknya Turkinah meninggal, Si Ahli Pidato itu juga yang pidato. Dia memang sangat ahli. Ia tahu musti ngomong apa kalau yang meninggal itu orang miskin, lain lagi isi pidatonya bila yang meninggal orang kaya. Dia juga jago menangis. Aktingnya sangat bagus. Realis. Aktor kita kalah lah. Deddy Mizwar, Christine Hakim, lewat semua. Dan sepertinya ia sudah tampak. Lihat tuh gayanya. Sangat khas.”

Kedua penggali kubur beringsut seiring dengan munculnya iring-iringan jenazah yang berjalan sambil berzikir. Tasbih, tahmid, takbir, dan kalimat tauhid keluar dari bibir pengiring jenazah. Ada yang lembut dan ada yang histeris.

Sesampai di tepi kuburan yang baru digali, mereka berhenti dan mulai melakukan prosesi penguburan mayat.

Seseorang berpidato. Ia terkenal sebagai ahli pidato yang sangat hebat dan sangat terkenal di beberapa kampung terdekat.

Ahli Pidato : “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara-saudara sekalian. Pada hari ini, tatkala kita menghantarkan jenazah almarhum al-Ustadz Almubarak bin Muhammad Hasby yang teramat kita kagumi jasa-jasanya di bidang dakwah, dengan perasaan duka yang teramat sangat, saat itu pula alam semesta merasakan hal yang sama.

Mendung yang menggumpal menahan rasa harunya yang membiru, menahan curahan hujan tangisnya. Juga di sana, ombak meraung-raung tinggi seolah meratapi kepergian almarhum. Tetapi apalah daya, segala ekspresi duka yang kita keluarkan takkan sanggup menahan laju takdir yang telah ditentukan Allah. Ajal telah mengambil almarhum dari pandangan kasat kita. Yang tinggal adalah amal jariyahnya yang menemaninya dalam perjalanannya ke dunia baru.

Kita tidak perlu risau dengan perjalanan barunya. Kita sangat mengetahui aktivitas almarhum selama ini. Beliau telah menghabiskan paruh hidupnya dengan kegiatan dakwah. Tiap hari almarhum berjalan dari kampung ke kampung untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahi, hingga kini beliau berjalan ke kampung akhirat menemui Penciptanya. Ilmu pengetahuan yang diajarkan pada kita semua, yang telah banyak manfaatnya bagi kemaslahatan umat adalah amal yang senantiasa mengalir dan tidak pernah kering yang memberinya investasi luar biasa bagi almarhum untuk membuka lebar-lebar pintu surga.

Kita lihat juga anak-anaknya yang sembilan, yang saya wakili pada kesempatan ini untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dalam rangka melepas kepergian almarhum, adalah anak-anak yang soleh juga solihat, yang insya Allah doa-doa mereka melempengkan ruang kubur almarhum.

Saudara-saudara sekalian, pada kesempatan ini, saya mewakili keluarga almarhum menyampaikan terima kasih atas kebaikan saudara-saudara selama ini kepada almarhum. Juga meminta maaf apabila ada kekhilafan-kehilafan almarhum pada saudara. Terutama masa ketika almarhum jahiliyah dulu. Ketika almarhum masih berkubang dalam dunia hitam, pergaulan bebas, narkotika, dan aktivitas maksiat lainnya. Kami dengan setulus hati meminta dibukakan pintu maaf kepada almarhum. Sebab dosa kepada sesama manusia tidak akan diampuni sebelum dimaafkan oleh saudara-saudara yang pernah dikhilafi oleh almarhum. Apabila masih ada hutang-piutang yang belum tertuntaskan semasa hidup almarhum, kami bersedia untuk menuntaskannya.

Saudara-saudara, sebelum benar-benar kita beranjak dari tempat ini meninggalkan segala-galanya yang menghanyutkan kita akan romantika kenangan bersama almarhum dahulu. Adalah sudah sepatutnya bagi kita yang ditinggalkannya untuk terus melanjutkan tongkat estafet perjuangan dakwah beliau. Bahwa beliau telah memberi toladan bagi kita untuk berkarya lebih giat lagi.

Bahwa kematian tidak akan jauh dari bulu kuduk kita. Kematian nyata, dan siap memeluk kita bila saatnya telah tiba. Tetapi apakah kita sudah siap, dan senantiasa siap menghadapinya? Jangan lari dari kematian. Sebab semakin kencang dan jauh kamu berlari, maka kematian semakin dekat menghampiri. Siapkanlah bekal! Bekal untuk pulang ke kampung akhirat. Berbekallah dengan bekal takwa, sebelum jatah usia kita habis. Sebelum kematian memutus penggalan nafas kita. Sebelum kematian… kematian… kematian.. “

Ahli Pidato terisak-isak. Ia tak dapat melanjutkan pidatonya. Sesorang memeluknya memberi ketenangan. Para pelayat seperti terhipnotis mengikuti tangisan sang ahli pidato. Ada yang histeris. Kedua penggali kubur hanya bisa saling pandang dari kejauhan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: