Panduan Sholat Idul Fitri di Rumah dan Contoh Khutbah Singkat

Setelah banyak dari bapak-bapak kepala rumah tangga yang menjadi imam sholat tarawih dadakan di rumah, kini ada peer baru lagi yaitu menjadi imam sholat id sekaligus khatib hari raya idul fitri.

Wah, sebuah pengalaman baru yang jarang terjadi bagi kebanyakan bapak-bapak di generasi sekarang ini. Jika dulunya kita tidak pernah bermimpi menjadi khotib dan imam sholat id, maka sekarang waktunya untuk menjalani tantangan itu.

Apa sebab? Iya tak lain dan tak bukan karena di tahun ini, tahun 2020, kita mendapatkan situasi pandemi covid-19 yang tidak memungkinkan kita melaksanakan resepsi lebaran seperti lebaran-lebaran sebelumnya.

Sholat id berjamaah di lapangan atau masjid, takbiran bersama, salam-salaman, dan saling berkunjung mencicipi aneka masakan di hari raya.

Sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tak ada mudik. Tak ada keramaian. Sungguh lebaran yang sunyi.

Tetapi apapun yang terjadi di muka bumi ini, pastilah ada hikmahnya. Kita yang bukan dai, bukan ustadz kondang, yang tadinya tak pernah bermimpi menjadi imam dan khatib, kini mau tak mau harus melakoni itu semua.

Tapi gimana, emang boleh sholat id di rumah saja?

Sebelumnya mari kita lihat dulu urgensi sholat id dari beberapa dalil.

Dari Ummi ‘Athiyyah ra berkata: Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya ‘Id sehingga kami mengajak keluar para gadis dari pingitannya dan mengajak pula wanita yang haid (untuk mendatangi tempat shalat Ied), dan mereka mengambil posisi di belakang shaf jamaah. Mereka bertakbir dengan mengikuti takbir para jamaah, dan berdoa (mengaminkan) dengan mengikuti doa para jamaah, dengan berharap keberkahan dan kesucian hari tersebut. (HR. Imam al-Bukhari)

Wanita haid aja dianjurkan untuk mendatangi tempat sholat id meski mereka tidak ikut melaksanakan sholat.

Keutamaan sholat id juga dijelaskan oleh Imam Mawardi al-Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir (2/282): Shalat tathawwu’ (yang dianjurkan) itu ada dua jenis: yang pertama adalah yang shalat tathawwu’ yang disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah. Jenis shalat sunnah ini ada lima yaitu shalat Idul Fitri dan idul adha, shalat dua gerhana, dan shalat istisqa’. Jenis yang kedua adalah shalat yang disunnahkan untuk dilaksanakan secara munfarid (sendiri) yaitu shalat witir, dua rakaat sebelum shalat shubuh, shalat dhuha, dan shalat-shalat sunnah rawatib.

Pandangan Madzhab Syafi’i dan yang dinashkan dalam kitab-kitab qaul jadidnya bahwa shalat ‘Id disyari’atkan bagi munfarid (tidak jamaah) di rumahnya atau tempat lain, juga bagi musafir, hamba sahaya dan perempuan ….. Apabila kita mengambil madzhab ini maka shalat dilaksanakan oleh munfarid (sendiri, tidak berjamaah) dan tanpa khutbah menurut pendapat yang shahih. Jika orang musafir melaksanakan shalat Id, maka imamnya melakukan khutbah”

Jadi kita boleh melakukan sholat id sendiri karena keadaan yang tidak memungkinkan. Umpamanya lagi sakit di kosan dan tidak bisa mudik, atau orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), atau ada halangan lain yang tidak menghalangi kita sholat id berjamaah.

Nah, untuk kita-kita yang kena lockdown di rumah, ada pendapat Imam al Kasani dalam kitab Bada’iu al Shana’i (1/268): Shalat Id itu sah dengan jumlah 4 jamaah, satu orang jadi imam dan 3 orang jadi makmum, karena jumlah 4 adalah angka kecil dari jama’.

Maka jangan ragu, inilah kesempatan kita untuk menjadi imam dan khatib idul fitri. Kapan lagi? Belum tentu di tahun-tahun mendatang kita bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Jangan sedih karena tidak  ada suasana lebaran seperti biasanya. Mari kita ambil hikmah yang banyak dari peristiwa ini.

Lalu bagaimana panduannya?

Dalam kondisi yang seperti ini, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa Nomor 28 Tahun 2020, tentang pelaksanaan idul fitri sebagai berikut.

  1. Sebelum melakukan shalat idul fitri, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid dan tasbih.
  2. Tidak ada azan dan iqamah dalam shalat idul fitri. Namun digantikan dengan menyeru “ash-shalata jami’ah.”
  3. Memulai dengan bacaan niat shalat idul fitri bagi imam atau makmum, yang bunyinya sebagai berikut: “Ushalli sunnata li’idil fithri rak’ataini ma’muman/imaman lillahi ta’ala” Artinya: “Aku berniat shalat sunah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.” (Niat ini boleh dilafazkan, boleh juga tidak dilafazkan – Red.)
  4. Membaca takbiratul ihram (Allahuakbar) sambil mengangkat kedua tangan.
  5. Membaca takbir sebanyak 7 kali (di luar takbiratul ihram) dan di antara setiap takbir dianjurkan untuk membaca: “Subhanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wa Allahu Akbar”

Tata Cara Shalat Idul Fitri

Setelah membaca takbir, tata cara shalat idul fitri sendiri di rumah dilanjutkan dengan:

  1. Membaca surah Al-Fatihah, kemudian diteruskan dengan membaca surah pendek Al-Quran.
  2. Setelah itu lalu ruku, sujud, duduk di antara dua sujud dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
  3. Pada rakaat kedua sebelum membaca surah al-Fatihah disunahkan untuk membaca takbir sebanyak 5 kali sambil mengangkat tangan dan di antara setiap takbir disunahkan membaca: “Subhanallah wal hamdulilah wa laailaahaillallah wa Allahu Akbar”
  4. Membaca al-Fatihah dan diteruskan membaca surah pendek dari Al-Quran.
  5. Setelah itu ruku, sujud dan seterusnya hingga salam.
  6. Setelah salam, kemudian dianjurkan atau disunahkan untuk mendengarkan khutbah Idul Fitri.

Tata Cara Khutbah Idul Fitri

Setelah melaksanakan shalat idul fitri, umat muslim disunahkan untuk mendengarkan khutbah. Pasalnya khutbah idul fitri merupakan kesempurnaan shalat idul fitri.

Khutbah setelah shalat idul fitri dilaksanakan dengan dua khutbah, yaitu dilaksanakan dengan berdiri dan di antara keduanya dipisahkan dengan duduk sejenak. Selain itu, khutbah pertama dimulai dengan takbir sebanyak 9 kali, sedangkan pada khutbah kedua dimulai dengan takbir 7 kali.

1. Khutbah Pertama

Adapun tata cara khutbah pertama dilakukan sebagai berikut:

  1. Membaca takbir sebanyak 9 kali.
  2. Memuji Allah dengan membaca “alhamdulillah.”
  3. Membaca shalawat Nabi SAW, sebagai berikut:
  4. “allahumma shalli ala sayyidina muhammad”
  5. Berwasiat tentang takwa.
  6. Membaca ayat Al-Quran.

2. Khutbah Kedua

Setelah melakukan khutbah pertama, kemudian dilanjutkan dengan khutbah kedua. Adapun tata cara shalat idul fitri sendiri dengan khutbah sebagai berikut:

  1. Membaca takbir sebanyak 7 kali.
  2. Memuji Allah sekurang-kurangnya membaca “alhamdulillah”.
  3. Membaca shalawat Nabi Muhammad SAW ““allahumma shalli ala sayyidina muhammad”.
  4. Berwasiat tentang takwa.
  5. Menutup dengan mendoakan kaum muslimin.

Berikut adalah contoh khutbah idul fitri singkat yang bisa kita bacakan.

Contoh Khutbah Singkat Idul Fitri Di Rumah

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ramadan tahun ini, bulan puasa yang kita jalani kemarin, bukanlah puasa seperti biasa yang telah kita jalanani di tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada tarawih di masjid, tidak ada buka puasa bersama dengan teman-teman, tidak ada sahur on the road, tidak ada keramaian, tidak ada takbiran di jalan, tidak ada hal-hal yang biasa kita alami pada Ramadan sebelumnya.

Suasana puasa dan lebaran kali ini kita jalani dengan kesunyian. Beridul fitri di rumah saja. Namun begitu, teramat banyak hikmah yang dapat kita petik jika kita ingin mengambil pelajaran dari peristiwa wabah covid-19 ini.

Jika tahun sebelumnya kita tak pernah menjadi imam tarawih, kali ini kita harus berjibaku menghapal surat-surat pendek dalam al-Quran. Jika dulu kita jarang beribadah bersama keluarga, tahun ini hampir setiap hari kita melakukannya bersama keluarga, mulai dari sahur hingga sahur lagi. Tak ada kesempatan sedikit pun bagi kita untuk berbuka puasa bersama rekan kerja, teman kuliah, teman sekolah, pejabat, bahkan dengan tetangga.

Lalu apa maksud Allah memberi kita situasi seperti ini? Apakah ini sebuah hukuman?

Benarkah Dia telah bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa? 

Benarkah alam mulai enggan bersahabat dengan kita? Dan haruskah kita bertanya pada rumput yang bergoyang?

Keluargaku yang dirahmati Allah SWT.

Jika dahulu umat sebelum umat nabi Muhammad SAW sering mendapatkan bencana dan wabah penyakit memang identik sebagai hukuman dan murka Allah. Maka di era Nabi Muhammad, kejadian seperti ini bukanlah sebagai bentuk hukuman, tersebab Nabi Muhammad SAW telah meminta secara khusus agar umatnya, yaitu kita umat Islam sedunia, agar tidak dimusnakan dengan bencana-bencana sebagaimana umat terdahulu. 

Dalam teks hadits Shahih riwayat Imam Muslim telah disebutkan : “Aku  telah  memohon  kepada  Allah  sebanyak  tiga hal.  Allah  mengabulkan  yang  dua  dan  menolak yang satu. Aku memohon kepada Alah agar tidak membinasakan  umatku  dengan  kekeringan  dan kelaparan  dan  Allah  pun  mengabulkan.  Dan  aku memohon  agar  Allah  SWT  tidak  membinasakan umatku  dengan  menenggelamkannya  dan  Allah pun  mengabulkannya.  Dan  terakhir,  aku memohon kepada Allah agar tidak ada fitnah dan perbedaan  di  antara  umatku,  tetapi  Dia  (Allah) tidak mengabulkannya.” (HR Muslim).

Selain hadist ini, sebab lainnya adalah doa yang selalu dipanjatkan oleh umat Nabi Muhammad SAW yang termaktub dalam ayat terakhir QS. Al-Baqarah berbunyi: “Ya  Tuhan  kami,  janganlah  Engkau  bebankan kepada  kami  beban  yang  berat  sebagaimana Engkau  bebankan  kepada  orang-orang  sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri  maaflah  kami;  ampunilah  kami;  dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al-Baqarah : 286) 

Keluargaku yang dirahmati Allah SWT.

Lalu kalau bukan hukuman, mengapa Allah menurunkan wabah?

Para ulama ahli hikmah telah memberikan jawaban yang menyejukkan hati kita, di antaranya adalah :

  1. Kita disuruh bersabar. Allah berfirman: “Sesungguhnya  hanya  orang-orang  yang bersabarlah  Yang  dicukupkan  pahala  mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
  2. Untuk menghapus dosa-dosa kita. Rasulullah bersabda: “Ujian  senantiasa  menimpa  orang  beriman  pada diri,  anak,  dan  hartanya  hingga  ia  bertemu  Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya.” (HR. Tirmizi). Maksudnya agar nanti di hari pembalasan, kita yang bersabar dengan ujian ini, Allah ampunkan seluruh dosa-dosa kita sehingga tak ada yang tersisa.
  3. Dihitung mati syahid. Jika ada yang muslim yang wafat karena wabah penyakit, maka dinyatakan mati syahid berdasarkan hadits sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Rasulullah bersabda: “(mati)  karena  menderita  thoun  adalah  syahid bagi setiap Muslim.” (HR. Bukhari Muslim)

Jadi bagaimana kita menyikapi wabah corona ini?

Yang pertama, kita harus terus berbaik sangka kepada Allah. Jika kita bersangka buruk kepada Allah, maka kita akan mendapatkan keburukan seperti apa yang kita sangkakan. Begitu pula sebaliknya.

Yang kedua, kita harus tetap optimis dan berkata baik. Dengan optimisme, insya Allah kita bisa melewati ujian ini dengan baik.

Yang ketiga, kita wajib berikhtiar menghindari wabah semaksimal mungkin. Mengikuti protokoler kesehatan, dan mengikuti hadis nabi bahwa jangan keluar dari wilayah yang terjangkiti wabah, dan jangan masuk ke dalam wilayah yang terjangkiti wabah jika kita tidak sedang berada di wilayah tersebut.

Yang keempat, kita wajib berikhtiar untuk melakukan pengobatan jika telah dinyatakan positif terkena virus itu. Nauzubillah min zalik. Kita perlu meningkatkan imunitas tubuh, dan Baginda Nabi Muhammad pernah bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya.”

 Wallahu ‘alam bisshawab.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

(SELANJUTNYA KHOTIB DUDUK SEJENAK LALU KEMUDIAN BERDIRI KEMBALI UNTUK MELANJUTKAN KHUTBAH KEDUA)

Khutbah kedua

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ . اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ . اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون . وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

CATATAN: silakan mencetak (ngeprint), atau menyebarkan kepada para bapak-bapak yang ingin melaksanakan (menjadi imam dan khatib) rangkaian ibadah idul fitri di rumah masing-masing. Semoga bermanfaat.

Sumber Referensi:

  1. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Sholat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19.
  2. Ahmad Sarwat, Lc., MA., Khutbah Idul Fitri “Memetik Hikmah di Tengah Wabah”
  3. https://konsultasisyariah.com/36375-begini-cara-shalat-idul-fitri-di-rumah.html
  4. https://www.pengetahuanislam.com/khutbah-hari-raya-idul-fitri-lengkap-dengan-doa/

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: