Pakailah Kado Dariku Sekali Saja

NAYA (17) sedang bersuka dengan ulang tahunnya yang ke-17. Dia  mendapatkan banyak hadiah dari orang-orang.  Tetapi Naya tidak suka dengan kado dari adiknya, BARAK (16) yang menghadiahnya sebuah jilbab. Naya ingin membuang kado itu tapi tidak enak dengan adiknya. Mau dikenakan, dia juga merasa belum siap. Akhirnya disimpan saja dalam lemari. Mungkin suatu saat kain itu bisa bermanfaat.

Setiap hari, Naya mengagumi kado-kado pemberian keluarga dan teman-temannya. Naya sangat senang menggunakan dan memainkan kado-kado itu. Ada yang ngasih tas, baju, boneka, gantungan kunci, dan banyak lagi. NAYA senang betul dengan semua hadiah-hadiah itu.

Barak heran karena Naya tidak pernah menggunakan hadiah darinya. Naya balik nanya “Emang kenapa? Nggak suka? Tersinggung?”. Barak diam saja karena tidak berani membantah kakaknya. Meski tidak menghargai pemberiannya, Barak tidak tersinggung dan selalu membantu kakaknya kapanpun Naya membutuhkan bantuannya.

Suatu hari Naya bertengkar dengan pacarnya TINO (19) di sebuah taman. Barak yang kebetulan lewat, melerai mereka. Naya tidak suka karena Barak mencampuri urusannya. Barak menasehati Naya bahwa pacaran itu tidak baik. Menghabiskan waktu. Mending waktu digunakan untuk hal-hal yang positif seperti belajar atau kegiatan positif lainnya. Naya semakin tidak suka dengan cara Barak menasihatinya. Naya berjanji tidak akan menggunakan kado ultah dari Barak. Bahkan Naya hendak membuangnya.

Suatu malam, Naya diam-diam membuang jilbab itu ke tempat sampah. Keesokan harinya, Barak melihat jilbab itu lalu memungut dan mencucinya. Di sekolah, Naya dihukum gurunya karena asyik memainkan gadget kado dari Tino. Hukumannya adalah membersihkan kamar mandi sekolah. Kebetulan Barak lewat situ lantas membantunya. Naya diam saja. Ternyata guru melihat Barak membantu Naya lalu menghukum Naya lebih berat lagi dengan membersihkan selokan. Naya semakin kesal pada Barak.

Selepas sekolah, Barak minta maaf dan ingin menebus kesalahannya itu dengan mentraktir Naya makan. Naya tidak mau. Naya menyuruh Barak mencuci dan menyetrika pakaiannya selama seminggu. Barak mengiyakan.

Suatu hari giliran Barak yang akan ulang tahun. Orang tuanya sudah menyiapkan kado untuknya meski Barak sendiri tidak ingin merayakan seperti Naya merayakan. Barak bilang bahwa itu tidak penting. Tapi orang tua Barak tetap ingin memberinya kado. Naya pun dipaksa oleh orangtuanya untuk memberikan kado pada Barak. Naya tidak mau karena toh tidak dirayakan. Barak justru menginkan kado dari Naya. Yaitu menggunakan kado pemberiannya di hari ulang tahunnya. Naya bilang bahwa kado itu sudah tidak ada. Barak bilang masih ada. Coba saja cek dalam lemari. Naya kaget. Barak tetap meminta untuk memakainya meski hanya sekali saja.

Sehari sebelum hari ultah Barak, Barak mendapat tugas dari sekolah untuk menyalurkan bantuan bagi korban kebakaran di samping sekolah hingga malam hari. Waktu pulang, Barak ditabrak oleh gerombolan geng motor pimpinan TINO. Barak sekarat dan masuk rumah sakit. Orang tua Barak kaget luar biasa, begitu juga dengan Naya. Tino digelandang ke kantor polisi.

Barak pun wafat. Naya teringat dengan jilbabnya. Dia ke lemari mencari jilbab dan dia temukan sebuah surat. Barak menulis bahwa dia ingin sekali Naya menggunakan jilbab itu karena dia sangat menyayangi Naya. Barak ingat waktu kecil Naya pernah membelikannya sebuah peci saat ada lomba Azan di sekolah. Waktu itu pecinya hilang karena sibuk bermain. Barak takut dia akan dimarahi orang tua tapi untuk ada Naya yang segera membelikannya peci baru. Sejak saat itu Barak berjanji suatu waktu dia akan membalas kebaikan kakaknya dengan membelikannya sebuah jilbab.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: