Mengelola Organisasi Dengan Cinta

Suatu hari dalam hidup saya, saya merenung tentang cinta. Cinta saya kepada beberapa perempuan: ibu, ibu mertua, adik, istri dan anak. Bila mengingat kenangan bersama mereka, sungguh merupakan peristiwa yang teramat sulit untuk dilupakan. Teramat indah untuk senantiasa dikenangkan. Saat susah dan senang, saat lara dan bahagia. Hidup serasa di taman surga yang dipenuhi dengan bunga-bunga warna-warni disertai semerbak harum wanginya. Tiada susah yang benar-benar susah, tiada lara yang benar-benar lara. Semuanya melebur dalam harmoni cinta bak pelangi yang menghantarkan para bidadari turun ke bumi.

Seperti juga dengan hidup di bumi Indonesia, ketika bersamanya, maka benih-benih cinta itu pun tumbuh tanpa tendensi apapun. Sulit sekali mendapatkan alasan logis beserta argumentasi-argumentasi dialektis untuk mengungkapkan asbabun nuzul-nya. Ia hadir begitu saja. Ia hanya bisa dirasakan. Seperti saat kita pertama kali jatuh cinta kepada kekasih kita. Tentu bukan karena matanya, bukan karena bibirnya, bukan karena fisiknya. Karena cinta seperti itu hanyalah cinta yang sesaat.

“Bila cinta telah bersemi, (maaf) tahi kambing rasa coklat.”

Bagi sebagian orang, bukan sesuatu yang mudah merelasikan organisasi dengan cinta. Organisasi selalu identik dengan praktek politik. Sedangkan cinta diejawantahkan dengan lirik lagu atau roman percintaan dalam film dan novel. Bila persepsi ini yang muncul, maka tidak akan pernah bisa mensenyawakan keduanya.

Cinta bisa tumbuh di mana saja dan pada siapa pun. Tak terbatasi ruang dan waktu. Sejarah telah mencatat bagaimana Nabi Muhammad SAW mencintai umatnya. Sehingga tiada letih beliau berdakwah dan memikirkan umatnya. Hingga menjelang ajalnya, Beliau menyebut umatku, umatku, umatku. Begitu pula dengan nabi-nabi pendahulunya. Cintanya Karaeng Pattingalloang pada ilmu pengetahuan, sampai-sampai beliau harus memburu kitab-kitab dan alat-alat hasil peradaban dunia di manca praja. Kita juga barangkali masih ingat kisah dalam naskah I La Galigo. Bagaimana kisah Sawerigading sewaktu hendak mempersunting I We Cudaiq di negeri Cina dengan membuat kapal besar yang terbuat dari kayu pohon Dunia Atas. Juga kisah I Mangkawani dengan La Padomai yang harus mati karena cinta. Begitu juga pada kisah film “Titanic”, “Ayat-ayat Cinta”, “Laskar Pelangi”, “Ketika Cinta Bertasbih”, dan banyak kisah lainnya, baik fiksi maupun kisah nyata. Semuanya rela berkorban hidup dan mati demi cintanya.

Pada kisah yang lain, kita sering mendapati orang yang bekerja keras siang dan malam karena cinta pada pekerjaannya. Prajurit yang rela mati demi cinta pada negerinya.

Cinta bermetamorfosa menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Tak apapun yang mampu menumbangnya. Meski orang itu telah mati, tetapi cinta itu tetap hidup. Hidup dalam dunianya sendiri. Dan kenangan akan kisah cinta itu terus berlanjut sampai kapan pun. Tak seorang pun yang mampu menyangkalnya. Siapa yang mampu menyangkal cinta Nabi kepada umatnya? Siapa yang mampu menyangkal cinta Romeo pada Juliet, Zulaikha pada Yusuf, Majnun pada Laila, Jack Dawson pada Rose?

Nah, bisa dibayangkan bila kisah itu terepetisi pada kita dan organisasi. Mudah bagi kita memproyeksikan bagaimana kisah cinta itu akan terjadi. Prestasi-prestasi unggul dan martabat organisai akan terangkat setinggi-tingginya.

 

Kehilangan Cinta

Namun kenyataannya belakangan kini, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cinta pada organisasi yang digeluti telah hilang. Berat memang untuk mengatakannya. Tetapi kita kudu jujur pada diri sendiri. Bercermin dengan cermin besar. Melihat dan mengukur apakah masih ada cinta yang bersemi? Meski ada, tapi hanya sebagian kecil saja. Bisa jadi porsi yang didapatkannya juga kecil. Sehingga kewenangannya juga sangat sedikit.

Hilangnya cinta ini dapat dianalisa dari beberapa indikasi: pertama, kurangnya luangan waktu untuk beraktifitas. Biasanya ditandai dengan hanya ketua dan atau sekretarisnya saja yang bekerja. Dalam kepanitiaan, hanya ketua panitia saja yang aktif; kedua, kegiatan yang dilaksanakan hanya bersifat seremonial musyawarah besar/cabang, raker, dan musyawarah besar/cabang lagi. Kalau tidak, ya menunggu ada yang mau melakukan musyawarah luar biasa. Selebihnya lelap dalam tidur; ketiga, lebih sering mengkritik dan mencela daripada bekerja; keempat, mudahnya tersulut angkara murka. Tidak jarang kita temui hal sepele saja harus beradu mulut, gebrakan meja, bahkan adu jotos; kelima, tak ada senyum dan jabat hangat saat berjumpa, meski telah berpisah dalam waktu lama.

Barangkali kelima indikator di atas tidak bermaksud untuk menggeneralisasi. Tetapi sebagai cermin besar untuk mengintrospeksi diri masing-masing. Apakah kita melakukan salah satunya, atau kelima-limanya?

Maka inilah tantangan berorganisasi sesungguhnya. Pembenahan internal mutlak harus dilakukan. Pudarnya cinta harus segera ditemukan solusinya.

 “Menyemai Cinta: Menjadi Unggul dan Bermartabat”

Bahwa adanya rasa malu yang sangat mendalam apabila seseorang atau sekelompok orang itu tidak mampu membangun potensi dirinya untuk mencapai hakikat kecemerlangan pribadi dan kelompok yang paripurna.

Di sinilah cinta mengambil perannya yang paling esensial. Kekuatan cinta setiap aktivis yang bersemi akan merubah semua gagasan menjadi kekuatan tekad dan tindakan. Selanjutnya tinggal mengkoordinasikan gerak langkah, lalu lintas kerja, dan mengontrol agenda-agenda kerja yang belum dan akan dilaksanakan.

Namun persoalan tentu tidak semudah itu. Kenyataan obyektif sebagian warga organisasi yang telah kehilangan cinta ini bukan perkara mudah untuk dapat dijabarkan dan diimplementasikan. Seperti ketika kita mencintai seseorang, tentu segala upaya, rayuan, hadiah, citra, apapun akan kita lakukan untuk merebut cintanya. Bukan mustahil apabila pada prosesnya ternyata kita hanya bertepuk sebelah tangan. Namun insya Allah, dengan kekuatan cinta dan keyakinan yang kuat untuk menjadi organisasi unggul dan bermartabat.

 “Karena Kita Adalah Keluarga”

Keluarga statusnya lebih tinggi dari sahabat, karir, uang, jabatan, dan tetek bengek duniawi lainnya. Kepala keluarga yang bertanggungjawab, akan jatuh bangun, banting tulang, peras keringat, hingga kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, semua itu dilakukan untuk kebahagiaan keluarga. Yang satu sakit, semua ikut sakit. Ada yang bahagia, semua larut dalam kebahagiaan. Begitu juga dengan Ketua Umum selaku kepala keluarga. Perihal itu pun menjadi tanggungannya. Hanya saja perlu ada skala prioritas dalam membangun keluarga. Dan dalam hal ini adalah urgensitas membangun kompetensi segenap anggota.

Kompetensi dan kapabilitas, juga profesionalitas adalah aspek fundamental yang berada di balik layar kesuksesan organisasi. Pesona kecemerlangan organisasi terletak dari bagaimana pengenalan dan pemanfaatan potensi yang tepat dari setiap anggota dan tentu saja pengurus. Pola kaderisasi menjadi penting dalam upaya menghasilkan output model manusia yang sejati. Konsep kader organisasi adalah dengan mempertemukan dua nilai yang kohesif. Pertama adalah dengan pengintegrasian nilai-nilai budaya Indonesia yang disarikan dari kearifan lokal. Yang kedua adalah nilai-nilai religi yang universal dalam pembentukan karakter yang ideal.

Peranan kaderisasi ini menjadi prioritas utama dalam membangun cita-cita organisasi. Semua program kegiatan akan bermuara di sini. Tentu tanpa mengabaikan keunikan-keunikan dalam setiap bidang kegiatan tersebut. Adanya koneksitas program dengan program kaderisasi, akan mampu menghasilkan akselerasi dalam pembentukan karakter kader yang telah disebutkan di atas.

Karena kita adalah keluarga, maka sudah semestinya prinsip saling membesarkan satu sama lain, wajib hukumnya untuk selalu diaplikasikan dalam kerja nyata. Insya Allah, dengan pola kaderisasi yang baik, benih-benih cinta itu akan tumbuh dan daya gerak organisasi akan melaju kencang tanpa banyak rintangan dan halangan.

 

Cerita Cinta Belum Berakhir

Cerita Cinta ini belumlah berakhir sampai di sini. Uraian di atas hanyalah gagasan sederhana yang pilihannya akan ditentukan kemudian. Ia tidak menjadi apa-apa tanpa kehendak Allah. Dibutuhkan kerjasama tim yang solid untuk mewujudkan organisasi yang unggul dan berjaya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: