Mengapa Bisnis Fotografi Tidak Pernah Mati?

Secangkir Kata Untuk Buku 8 Cara Cepat Bisnis Fotografi Di Segala Bidang Usaha

Semua orang hampir bisa dipastikan senang bila melihat dirinya di depan cermin. Bahkan sebagian senang berlama-lama menatap cermin. Tiap kali ada kesempatan, ia bercermin. Entah dengan kaca yang dibawanya sendiri, maupun kaca jendela rumah orang, kaca mobil, spion motor, genangan air, atau kacamata orang lain. Hasrat besar orang ingin secara tak putus-putus melihat dirinya sendiri, mengagumi diri, mencintai diri sendiri, menjadi semacam kebutuhan primer selain makan minum. Aktivitas narsistik begini semakin ditunjang dengan munculnya beragam perangkat elektronik dan media sosial. Para pebisnis pun berlomba-lomba memunculkan inovasi terbaru agar semakin memanjakan para manusia narsis.

Fotografi adalah media yang paling tepat mengungkapkan ekspresi narsistik. Tak perlu muna (istilah gaul untuk munafik), setiap orang ingin difoto. Atau apabila belum punya kemauan difoto, pasti orang lain yang mau fotoin. Orang tua pada bayi dan anak-anaknya. Sejak kita brojol, aqiqah, baru belajar jalan, khitanan, masuk TK, masuk SD, tamat SMA, wisuda, menikah, punya anak, punya cucu, sampai dihantar ke liang kubur; pasti selalu berhubungan dengan Fotografi. Sebab itu bisnis fotografi adalah bisnis yang sangat menggiurkan untuk menggapai harta sebanyak-banyaknya. Yah, minimal untuk mencari sesuap nasi dan sekarung berlian.

Contoh di atas baru tentang jenjang kehidupan manusia. Belum lagi aktivitas pribadi, keluarga, sekolah,  kelompok/geng, organisasi, perusahaan, negara, dan deretan aktivitas umum maupun privat yang tidak bisa saya sebutkan; membutuhkan Fotografi. Lihat saja bisnis ini menjamur dan muncul dengan beragam bentuk. Yang paling klasik adalah bisnis pas foto. Ada bisnis foto kawinan yang kemudian berkembang menjadi foto pre wedding. Mungkin di masa depan bakal ada foto pasca wedding. Bisnis fotografi dan seputarannya terus berevolusi. Bisnis fotografi yang kita tahu adalah dengan memakai jasa fotografer, ternyata tidak harus selalu begitu. Tengok saja bisnis foto box, kita bisa foto dan langsung mendapatkan hasil cetaknya. Berevolusi lagi jadi bisa foto sendiri, terus edit sendiri, nge-print sendiri.

Jadi betapa luar biasanya bisnis fotografi ini berkembang biak. Seperti luar biasanya manusia memuja diri mereka sendiri. Secangkir kata ini bukan bermaksud mencela prilaku narsis, tetapi mencoba menengok bagaimana bisnis fotografi ini ditinjau dari banyak aspek. Bahwa bisnis fotografi bukanlah bisnis ecek-ecek seperti orang melihat kotak afdruk. Sekolah dan workshop fotografi pun bisa jadi usaha yang menguntungkan. Hatta bikin buku fotografi pun bisa berdampak baik pada keuangan penulis dan penerbit.

Secangkir kata ini juga semacam pendorong agar kita melihat bisnis fotografi dengan wajah cerah. Mendorong penulis agar bisa berkarya lebih baik lagi: memotret dan menulis. Juga berharap agar buku ini bisa memancing para penulis lain untuk membuat tema serupa. Dengan demikian, ilmu tentang bisnis fotografi jadi berkembang. Masyarakat pun mendapatkan semakin banyak refrensi tentang ilmu bisnis fotografi.

Firman Syah

Sutradara

Twitter: @immank_chia

Catatan: Tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku 8  Cara Cepat Bisnis Fotografi oleh El Nino Irawan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: