Konflik Di Sekolah Bisa Diselesaikan Dengan Mediasi Sebaya

Dalam Peer Mediation atau mediasi sebaya, dua pihak yang bertikai bersedia untuk dipertemukan, menurunkan derajat ketegangannya, tidak menggunakan kekerasan, serta menerima keterlibatan mediator untuk membantu penyelesaian masalahnya.  Sebelumnya kedua pihak yang bertikai perlu untuk merasa nyaman dipertemukan.  Oleh karena itu seorang mediator dituntut untuk dapat menjaga kerahasiaan dan bersikap netral.  Tim Peer Mediation di sekolah juga dituntut untuk dapat memotivasi teman-temannya bahwa penyelesaian dengan peer mediation dapat digunakan sebagai salah satu alternatif penyelesaian masalah di sekolah.

Bagaimana Mengadakan Peer Mediation di sekolah?

Langkah pertama adalah mempersiapkan tim koordinator yang akan bertanggung jawab terhadap koordinasi program peer mediation di sekolah.  Tim ini diperlukan agar proses Peer Mediation di sekolah dapat berjalan secara baik dan tepat.  Mengingat tim ini akan berhadapan dengan berbagai kasus-kasus di sekolah dengan tingkatan konflik yang berbeda, maka tim ini dituntut untuk memiliki kepedulian dan kreativitas, terutama waktu yang cukup, agar dapat memberikan perhatian pada beberapa hal yang menjadi tangung jawabnya, yaitu:

  1. Memberikan perhatian yang menyeluruh melalui wawancara dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan identifikasi terhadap potensi konflik di sekolah, kemungkinan pelaksanaan peer mediation dapat terus berlanjut, dan kemauan berbagai pihak di sekolah tersebut untuk melakukan mediasi. Identifikasi juga perlu dilakukan terhadap wilayah dimana program peer mediation akan diterapkan;  wilayah dimana intensitas kasus konflik pelajar yang sering terjadi disertai perbedaan karaktersistik masyarakat disekitar sekolah; dan penerimaan pihak sekolah. Perhatikan apakah ada lembaga-lembaga lain yang terlibat di sekolah tersebut, sehingga penerapan program peer mediation tidak terbentur dengan program lainnya.Dalam melakukan pendekatan kepada pihak sekolah, pertimbangkan akses yang dapat digunakan seperti kedekatan dengan pihak dewan guru atau kepala sekolah.
  2. Tanggung jawab kedua adalah: Mengawasi setiap mediasi yang dilakukan, termasuk mengamati kinerja mediator ketika diperlukan, dan berdiskusi dengan mediator setelah sesi peer mediation selesai.
  3. Tanggung Jawab ketiga yaitu:  Menyelenggarakan evaluasi dengan pihak-pihak terkait, untuk memastikan bahwa kesepakatan yang dihasilkan dalam suatu sesi peer mediation berhasil.

Berikanlah penjelasan kepada dewan guru dan kepala sekolah mengenai apa yang akan dilakukan dalam program peer mediation, beserta tujuan dan materinya.

Bersama dewan guru atau kepala sekolah, tentukanlah siswa yang akan mengikuti pelatihan menjadi mediator. Tim mediator ini sebaiknya berasal dari berbagai latar-belakang berbeda, dengan mempertimbangkan keseimbangan gender, dan memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Siswa adalah siswa yang aktif
  2. Memiliki kemauan dan motivasi
  3. Memiliki kemampuan bekerja sama
  4. Siswa relatif tidak terlibat masalah di kelas

Setelah menentukan tim mediator, sepakati waktu dan tempat dengan pihak sekolah juga dengan siswa peserta tim mediator, untuk melakukan pelatihan mediasi sebaya. Usahakan waktu dan tempat yang tidak mengganggu aktivitas siswa lain maupun kegiatan lain sekolah tersebut. Adalah hal yang penting untuk melibatkan siswa dalam menentukan suatu kesepakatan, sehingga siswa merasa terlibat dan termotivasi.

 

Pemerhati pendidikan : ”Selama kurun waktu 80 an dan 90 an praktek penyelesaikan masalah yang melibatkan diantara pelajar, kelas atau sekolah memang masih dominan dilakukan oleh guru atau kepala sekolah. Para pelajar yang terlibat masalah biasanya akan dipanggil oleh salah seorang guru atau kepala sekolah untuk menyelesaikan masalahnya. Biasanya akan ada dialog duduk masalah dan guru atau kepala sekolah sendiriyang akan menyelesaikan masalah itu. Ini tentu tidak memberikan peluang terjadinya doalog dua arah, pelajar mungkin merasa ”minder” berhadapan dengan kepala sekolah sementara ”kepala sekolah” merasa lebih berhak untuk mengayomi, memberi pengajaran atau palajaran dengan sejumlah sanksi-sanksi yang akan diberikan”.

 

Guru/Kepala Sekolah : ”Ya, sebenarnya penanganan masalah yang dilakukan oleh pihak sekolah terutama guru dan kepala sekolah sudah maksimal. Sekolah berupaya memberikan jalan keluar tentang permasalahan pelajar, tetapi masalahnya selama ini pelajarnya sendiri kurang terbuka dengan para guru, sehingga mungkin penyelesaiaannya dianggap tidak tuntas.Guru atau sekolah tidak juga dapat dikatakan mendominasi, tetapi ini perlu dilakukan  secara terbuka oleh para pelajar sehingga permasalahnya dapat diselesaikan lebih baik”.

 

 Langkah kedua adalah memberikan training kepada tim koordinator dan para siswa yang telah bersedia sebagai mediator.  Training ini paling tidak memerlukan satu atau dua hari untuk menjelaskan materi Peer Mediation.  Perlu untuk menekankan bahwa kegiatan peer mediation adalah kegiatan yang menyenangkan dan dapat dilakukan dengan santai.

Office of Attorey General di Boston, yang telah berpengalaman memberikan pelatihan Peer Mediation di sekolah-sekolah, dan yang mendukung penuh penerapan peer Mediation di sekolah, menyarankan empat hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan training.  Empat hal ini diperlukan agar para mediator dan tim koordinator merasa siap dan kompeten untuk mengatasi pertikaian atau konflik yang muncul di sekolah.  Empat hal tersebut adalah:

  1. Pelaksanaan training paling tidak dilaksanakan selama 20 jam untuk memberikan penjelasan dasar tentang peer mediation, dengan paling tidak, satu orang trainer berpengalaman untuk lima siswa.
  2. Trainer yang berpengalaman dalam melakukan mediasi, memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai dinamika konflik agar mereka merasa siap menghadapi kemungkinan terburuk dalam melakukan proses mediasi.
  3. Gunakanlah role-play dalam training.  Role-play ini harus memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata yang dialami siswa dengan meningkatkan tingkat kesulitannya, untuk membuat siswa lebih siap.  Permainan bisa diterapkan sebagai pendukung, agar suasana lebih menyenangkan.  Penggunaan role-play paling tidak memakan dua per tiga dari keseluruhan waktu training.
  4. Perhatikan terus kemampuan siswa setelah training, untuk membantu siswa meningkatkan kemampuannya melakukan peer mediation.

Jika training ini dilakukan tanpa dasar pengetahuan dan praktek yang kuat, siswa tidak akan mampu mengatasi sensitivitas dan ketidakpastian situasi, yang bisa saja muncul selama proses mediasi.  Jika begitu, program peer mediation maupun siswa, tidak akan mendapatkan hasil maksimal.

 

Langkah ketiga adalah mensosialisasikan peer mediation di sekolah.  Semua siswa termasuk siswa yang paling bermasalah, harus dapat melihat peer mediation sebagai solusi yang dapat mereka gunakan untuk mengatasi masalah mereka.  Untuk itu, tiga hal penting yang harus dicapai adalah:

 

  1. Siswa percaya bahwa tim mediator adalah teman mereka, atau memiliki latar-belakang yang sama dengan mereka.
  2. Siswa percaya, bahwa mereka tidak akan dihakimi atau disalahkan oleh mediator (inilah mengapa penting sekali bagi mediator untuk dapat bersikap netral).
  3. Siswa percaya bahwa program ini dapat menjaga kerahasiaan mereka dan mediator tidak akan membongkarnya kepada staf sekolah ataupun pihak lain.  Namun perlu diingat, bahwa mediator dapat menjaga kerahasiaan selama itu tidak berkaitan dengan tindakan kriminal, penggunaan senjata tajam dan obat-obatan terlarang.

 

Langkah keempat, adalah mendapatkan dukungan dari sekolah.  Dukungan ini yang akan menentukan sukses-tidaknya program peer mediation yang dilaksanakan.  Program Peer Mediation sebaiknya mendapatkan dukungan dari seluruh komunitas sekolah, terutama kepala sekolah.  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengupayakan dukungan dari sekolah adalah:

 

  1. Buatlah komitmen dengan pihak sekolah mengenai pelaksanaan program, termasuk mengenai pendanaan maupun pengurus yang terlibat.
  2. Usahakan agar seluruh komunitas sekolah bersikap terbuka terhadap pelaksanaan program ini, mulai dari siswa, guru, staf sekolah, dan orang-tua siswa.
  3. Sekolah bersedia untuk mengizinkan siswa meninggalkan kelas untuk sesi mediasi atau pelatihan.
  4. Sekolah mendukung keberagaman latar-belakang siswa yang terpilih, untuk pelatihan peer mediation.
  5. Sekolah mendukung pengadaan tempat untuk kegiatan peer mediation, termasuk untuk training serta tempat yang nyaman dan rahasia untuk proses peer mediation.

 

Langkah kelima, melakukan supervisi terhadap pelaksanaan program dan memberikan dukungan teknis.  Untuk menjaga agar peer mediation yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan tidak menyimpang, penting bagi tim koordinasi untuk mencari masukan secara berkelanjutan bagi pelaksanaan program dan melakukan supervisi secara rutin.  Dukungan yang bisa diberikan meliputi:

 

  1. Dukungan dan saran yang diberikan secara berkelanjutan.  Ini akan membantu pengembangan peer mediation ke arah yang lebih baik.
  2. Memfasilitasi forum diskusi untuk membahas isu-isu yang muncul dalam pelaksanaan peer mediation, terutama yang berkaitan dengan dilema etika.
  3. Meningkatkan kemampuan tim mediator dan koordinator melalui training lanjutan.
  4. Menyediakan sarana dimana tim mediator bisa menghubungi mediator tambahan jika terjadi masalah di sekolah.  Sarana ini bisa berupa tempat dimana tim mediator berkumpul secara rutin.
  5. Melakukan pengembangan profesional untuk para koordinator.

Tanpa adanya akses dan keterlibatan peserta terhadap sarana pengembangan, tim peer mediation bisa terjebak dalam solusi yang itu-itu saja, dan mungkin saja menghasilkan suatu keputusan atau prosedur yang tidak aman, atau tidak bisa diterima dalam aturan peer mediation.

 

Mungkinkah menerapkan Peer Mediation di Indonesia?

Mungkinkah menerapkan Peer Mediation di Indonesia?  Jawabannya tentu mungkin!

Awalnya bisa dilakukan adalah dengan membentuk kelompok siswa yang masing-masing siswa akan menceritakan kondisi yang sering mereka alami di sekolah. Banyak siswa yang akan menceritakan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.

Kejadian yang tidak menyenangkan siswa tersebut antara lain adalah:

  1. perkelahian
  2. menyebut nama orang tua
  3. menyontek waktu ujian di kelas
  4. mencuri barang teman seperti pensil, dan karet penghapus
  5. kehilangan uang
  6. penyebaran berita tidak benar
  7. naksir teman sekelas
  8. ribut dengan siswa dari kelas lain
  9. saling meledek, atau menjelek-jelekkan dengan kata-kata kotor
  10. siswa yang sering membuat ribut, seperti memukul meja dengan keras
  11. siswa yang membuat guru marah

 

Dari kejadian tersebut, timbul perasaan-perasaan yang tidak enak, seperti:  Marah, terganggu, masa bodoh, kacau, kesal, hancur, salah, kalah, dengki, takut, bingung, kalut, benci, mengerikan, panik, menutup diri, bahkan berdosa.  Perasaan ini datang jika ada siswa yang bersikap tidak tahu malu, membebani, menantang, menipu, kejam, tamak, melukai, mengganggu, kikir, dan merendahkan.

Kita lalu memotivasi siswa dengan mengatakan bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung.  Kita semua harus melakukan sesuatu.  Siswa setuju dengan pernyataan ini.  Siswa bersedia untuk terlibat menjadi penengah dalam kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan di sekolah, yang terjadi di antara mereka.

Siswa akan terlihat berminat untuk mengetahui bagaimana cara menengahi siswa yang terlibat dalam peristiwa yang tidak menyenangkan. Terungkap berbagai gaya yang sering dipilih orang saat menghadapi masalah, yaitu:

  1. Bersaing untuk hal yang tidak sehat.

Tujuannya adalah untuk menang atau kalah.  Lakukan dengan cara saya atau tidak sama sekali.  Ciri-ciri orang yang suka bersaing adalah main kuasa, mengancam, dan tindakannya sangat berlawanan dengan lawannya.

2. Menghindar

Jika dua orang yang bertengkar memilih untuk menghindar, maka ia sebenarnya menghindari permasalahan dan tidak menyelesaikannya.  Orang yang memilih gaya ini cenderung menolak dialog, pasif, canggung, menggurui, berantakan, dan tidak terarah.

3. Berkolaborasi

Orang yang memilih menyelesaikan masalah dengan berkolaborasi akan terbuka terhadap dialog.  Prinsipnya adalah:  apa pilihan saya dan apa pilihan anda.  Ia akan mengumpulkan informasi, mencari alternatif, dan menyambut perbedaan pendapat.  Ia memiliki rencana, dan akan memeriksa semua pilihan yang tersedia.

4. Akomodatif

Ini adalah gaya mengalah.  Ia akan setuju pada apa yang lawannya katakan, membuat lawannya senang misalnya dengan memuji.  Ia cenderung tidak mampu bekerja dalam kelompok, lemah, gampang goyah, dan tertekan.

Gaya-gaya tersebut penting untuk diketahui siswa, karena sebagai mediator akan menghadapi bermacam siswa yang memiliki beragam gaya dalam menghadapi masalah.

Dalam peer mediation, mediator bisa membantu mengatasi masalah yang dimiliki siswa yang lemah maupun yang merasa lebih kuat.

Saat dua siswa yang bertikai bersedia untuk mengikuti peer mediation, seorang mediator harus:

  1. Membangun kepercayaan.  Yaitu membuat siswa peserta mediasi merasa percaya kepada mediator.
  2. Mengumpulkan Informasi.  Yaitu Mengumpulkan informasi dari peserta yang bertikai, yang bisa memberikan petunjuk untuk mengatasi permasalahan.
  3. Membagi informasi.  Membagi informasi tersebut kepada peserta yang bertikai, untuk membantu kedua pihak memahami perasaan dan situasi lawannya.
  4. Penyelesaian masalah.  Yaitu membantu peserta yang bertikai menemukan solusi yang disepakati keduanya.

Dan berikut adalah petunjuk bagi mediator dalam melakukan ke-empat hal tadi, yaitu:

Membangun Kepercayaan:

  1. Bersikap netral atau tidak memihak
  2. Mendengarkan secara seksama
  3. Tunjukkan bahwa anda mengerti apa yang dirasakan peserta mediasi
  4. Gunakan bahasa yang netral, jangan bahasa yang sifatnya menghakimi atau merasa lebih tahu.
  5. Berkata jujur dan optimistis.
  6. Hormatilah kedua pihak yang bertikai, dengan bersikap sopan dan menghargai keputusan mereka.
  7. Menjaga kerahasiaan.

 

Mengumpulkan informasi:

  1. Apa yang terjadi?
  2. Kenapa ini terjadi?  Apa yang sebenarnya menjadi penyebab pertikaian?
  3. Apa yang diperlukan oleh kedua pihak yang bertikai untuk mengatasi masalah?
  4. Bagaimana hubungan kedua pihak yang bertikai?  Apakah mereka baru kenal, atau sudah lama kenal?

Pada saat mengumpulkan informasi,

ingatlah hal-hal positif yang diucapkan peserta, dan hal-hal yang ingin dilakukan peserta;

perhatikan apakah ini waktu yang tepat untuk mereka bertemu dan bercerita, jika tidak, kadang seorang mediator harus menemui peserta secara terpisah terlebih dahulu sebelum ditemukan;

lalu catatlah hal-hal penting yang mediator dengar selama percakapan.

 

Membagi Informasi:

  1. Ceritakan informasi yang positif, seperti, ”dia menyesal telah menyakiti kamu”.
  2. Jelaskan apa yang membuat sakit hati pihak lawan.
  3. Jelaskan perasaan pihak lawan
  4. Ceritakan solusi yang ditawarkan pihak lawan.

 

Penyelesaian Masalah:

Terkadang saat kedua pihak yang bertikai bertemu, mereka mengharapkan solusi yang baru dan berbeda, yang dapat mengatasi masalah mereka.

 

Saat anda tidak dapat menyarankan solusi, berikut adalah hal-hal yang bisa anda lakukan:

 

  1. Mengupayakan fleksibilitas. Usahakan agar kedua pihak yang bertikai tidak saling bersikeras atas kemauan mereka masing-masing.
  2. Mengupayakan beragam solusi yang bisa digunakan. Pancinglah peserta untuk mengeluarkan ide-ide mengenai solusi apa saja yang bisa mereka gunakan.
  3. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan ”bagaimana jika…”. seperti ”bagaimana jika ia menyetujui apa yang kamu inginkan, apakah kamu mau memenuhi permintaan dia?
  4. Menghadap solusi yang mengada-ada. Jika ada peserta yang mengajukan ide solusi yang terkesan tidak mungkin, atau terlalu mengada-ada, berikanlah pertanyaan kepadanya menyangkut idenya tersebut.  Seperti:  ”apakah menurut anda, ia akan menyetujui ide anda tersebut?”.

 

Secara keseluruhan, kita bisa membagi proses pelatihan ke dalam tiga bagian besar, yaitu:

  1. Alangkah senangnya jika saya menjadi mediator
  2. Cara mudah menjadi mediator
  3. Belajar, bersahabat, dan bermain: Simulasi peer mediation melalui role-play dan permainan.

 

Sekarang, mari kita lihat tahap-tahap melakukan Peer-Mediation.

Tahap-tahap Peer-Mediation

Tahap-tahap yang dilakukan dalam peer-mediation adalah:

  1. Perkenalan
  2. Sesi pertemuan pertama
  3. Sesi khusus mediator
  4. Sesi pribadi pertama
  5. Sesi pribadi lanjutan
  6. Sesi pertemuan terakhir
  7. Kontrak kesepakatan

Dalam tahapan tersebut, masing-masing terkait dengan empat tanggung jawab moderator yang telah kita pelajari sebelumnya, yaitu:

  • Proses membangun kepercayaan, sebagian besar ada di tahap perkenalan dan sesi pertemuan pertama
  • Proses pengumpulan informasi, ada di sesi pertemuan pertama dan sesi pribadi
  • Proses membagi informasi, ada di sesi pribadi dan sesi pertemuan terakhir. Pada sesi pribadi, anda yang membagi informasi, sementara pada sesi pertemuan terakhir, peserta lah yang membagi informasi.
  • Proses penyelesaian masalah, ada di sesi pribadi, dan sesi pertemuan terakhir.

 

Bagaimana kesan siswa dan guru terhadap Peer Mediation?

Melaksanakan program mediasi sebaya di sekolah, siswa merasa senang dengan program ini, dan bersemangat untuk terus melakukannya.  Sekali lagi, penting bagi kita untuk melakukan pendekatan-pendekatan yang dapat membuat siswa merasa relax dan senang saat mengikuti pelatihan peer mediation.

 

Pelajar : Saya  telah melakukan latihan penyelesaikan masalah diantara sesama teman, pada latihan pertama  saya masih belum tahu apa yang harus dilakukan, walaupun saya tahu kalau banyak masalah yang harus diselesaikan diantara teman-teman. Saya tahu masalah, tetapi bingung bagaimana harus berbuat. Pada latiha kedua saya mulai menyadari kalau kita semua dapat berbuat sesuatu untuk teman-teman kita yang sedang berantam atau terlibat masalah. Saya dan beberapa teman sudah mulai mencoba aktif dalam bentuk penyelesaian masalah mereka. Saya merasa senang dengan kegiatan ini dan akan terus memberikan bantuan pada teman-teman melalui cara ini.

Guru : Saya dihubungi oleh pihak penyelenggara yang menawarkan sebuah pola penyelesaian masalah dengan melibatkan sesama pelajar. Saya tertarik dengan kegiatan ini dan nampaknya cukup bagus karena agak berbeda dalam teknik penyelesaian masalah. Walaupun selama ini saya akui masih banyak perilaku anak-anak yang kurang baik dan sudah pula ada penyelesaian masalahnya melakui kepala sekolah. Saya berharap dengan peer mediation akan menambah lagi bobot penyelesaian masalah pelajar di sekolah. Saya berharap akan ada lagi program lanjutannya untuk kelas-kelas yang lain yang lebih permanen di sekolah.

Bahwa perkelahian massal antar pelajar, mungkin berawal dari pertikaian yang terjadi di kelas, yang tidak diselesaikan secara sistematik dan mengakar.

Maka, dengan melakukan peer mediation dengan siswa, kita berharap perkelahian massal antar pelajar dapat berkurang.  Siswa pun memiliki kemampuan tambahan dalam mengatasi masalah di lingkungan pergaulan yang lebih luas.

 

SELAMAT MENCOBA!

 

Diolah dari berbagai sumber:

  1. Mediation Training Manual from Office of Attorney General, Boston, USA, 2004
  2. Elements of successful peer mediation program from Office of Attorney General, Boston
  3. Mediasi Sebaya:  Sekolah, dunia kecil masyarakat, by Setia Budhi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: