Kisah Si Tangan Emas Yang Hartanya Tak Menyusut

BADUR (30 tahun) adalah salah satu pengungsi dari gempa dan likuifaksi. Rumah dan keluarganya lenyap tertelan bumi. Kampungnya juga tak diketahui lagi batas wilayahnya. Semua terjadi hanya dalam sekejap. Sirna tanpa sisa. Beruntung Badur saat kejadian itu sedang berada di musholla pinggir kampung. Ia dan beberapa jamaah selamat dari bencana itu.

Bersama beberapa orang yang tersisa, BADUR pun mengungsi ke sebuah kampung yang agak jauh dari kampung asalnya. Oleh KEPALA KAMPUNG para pengungsi itu ditempatkan bukan di tenda darurat, atau aula, atau tempat darurat lainnya. Tetapi mereka disebar di beberapa rumah di desa itu. BADUR mendapat bagian ditampung di rumah KAMAL (30 tahun). KAMAL adalah seorang pegawai negeri rendahan. Mempunyai Istri bernama ERNA (25 tahun), dan mempunyai seorang anak yang masih balita. Baru sehari di rumah KAMAL, BADUR tidak enak kalau terus menumpang. BADUR minta ditunjukkan di mana pasar.

BADUR segera melihat ada peluang bisnis. Ia pun mulai ikut menjual telor bebek. Mulanya dia membeli sejumlah telor seharga 1800 perak dan dijualnya dengan harga 2000 perak. Sedangkan pedagang lain biasanya menjual dengan harga 2500 sampai 3000. Dengan keuntungan yang tipis ini, dagangan BADUR menjadi laris karena murah.

Belum sampai 2 pekan, BADUR minta kepada KAMAL agar diijinkan mencari tempat tinggal yang lain. BADUR segan bercampur dengan keluarga KAMAL. Terutama terhadap ERNA. Makanya setiap kali KAMAL berangkat kerja, BADUR telah lebih dahulu keluar rumah. Begitu juga saat sore dan malam. Bila KAMAL belum pulang, BADUR tidak akan masuk ke dalam rumah. KAMAL lalu mengijinkan BADUR tinggal di rumah kontrakan peninggalan mertuanya yang kebetulan baru dilepas pengontrak lama. Tetapi BADUR ingin tinggal kalau rumah itu disewakan kepadanya. Padahal KAMAL ingin meminjamkan saja mengingat Badur adalah korban bencana alam.

Di pasar, dagangan BADUR semakin hari semakin laris. Usahanya  meningkat. Tidak hanya telur, dia kini berjualan dagangan yang lain. Para pedagang yang sudah lama berkutat di situ menjadi iri dan benci. Terutama TONI (43 tahun) seorang pedagang terkaya di kampung itu.

“Pengungsi itu mulai membahayakan usaha kita. Dia makin sukses. Bisa-bisa kita semua bangkrut. Jangan sampai hal ini terjadi,” kata Toni menghasut pedagang lain.

“Trus, kita harus bagaimana?”

“Kita cari cara agar dia bangkrut,” kata Toni menggebu-gebu.

Mereka lalu mengatur siasat untuk menjatuhkan martabat BADUR. Antara lain dengan memfitnah bahwa dagangan BADUR itu kualitasnya buruk makanya dijual murah. Ada juga yang memfitnah bahwa dagangan itu berasal dari barang curian, dan sebagainya. Tapi karena fitnah itu tidak terbukti, maka dagangan BADUR semakin laris.

Warga semakin percaya pada Badur. Selain murah, timbangan beras, gula, tepung, pasti tidak berkurang. Bahkan terkadang lebih beberapa ons. Karena kepercayaan itu, tidak lama berselang BADUR sudah menjadi orang kaya di kampung itu. Dia sudah punya toko sendiri.

Rumah kontrakan yang selama ini disewanya pun dibelinya. Tanah kosong di kiri dan kanan rumahnya pun beralih kepemilikan ke BADUR. Kendaraan angkut barang dibelinya secara tunai bukan dicicil.

“Kalau kamu sudah punya rejeki yang banyak, jangan lupa sumbang ke mesjid kampung. Karena apabila kita menolong agama Allah, Allah pasti akan menolong kita. Itu sudah menjadi Janji Allah,” KAMAL menasehati BADUR.

Mesjid An-Nikmah di kampung itu memang tidak terawat. Bangunannya banyak yang retak. Atapnya sering bocor. Tempat wudhu sering tidak ada air. Maka BADUR pun menyumbangkan setengah dari hartanya untuk renovasi mesjid. Sebagian lagi dipakainya melamar seorang gadis kampung  ZAINAB (24 tahun) yang kebetulan adalah adik kandung KAMAL.

Barang dagangan di toko BADUR ludes untuk masjid dan pernikahan. Orang-orang pasar terutama TONI mencibir.

“Rasain tuh, sok-sok pake nyumbang ke mesjid segala. Bangkrut deh elo.”

“Masjid kan rumah tuhan, ya biar tuhan aja yang merawat.”

“Tuhan nggak perlu dibela,” nyinyir yang lain semakin nyelekit.

Belum selesai mulut mereka mencibir BADUR, dua buah truk datang mensuplai barang dagangan BADUR. TONI dan rekan-rekannya menjadi heran setengah mati. Tampaknya BADUR sulit dilawan. Mereka pun mengadu kepada KEPALA KAMPUNG agar memulangkan para pengungsi dari kampung itu. Dengan alasan bahwa kampung yang mereka tinggalkan sudah normal kembali. TONI dan kawan-kawan menghasut KEPALA KAMPUNG bahwa para pendatang itu sudah banyak yang meresahkan. Dan memang ada beberapa warga pengungsi itu yang melakukan tindak kriminal.

KEPALA KAMPUNG pun mengeluarkan maklumat agar pengungsi yang tempo hari mengungsi ke kampung ini agar berangsur pulang ke kampung mereka. Yang mengetik maklumat itu adalah KAMAL. KAMAL pun terperanjat dengan maklumat seperti ini. 

“Apa-apaan ini? Mereka itu kan orang Indonesia juga. Tidak ada hak kita untuk mengusir mereka. Bagaimana kalau kita yang terkena musibah itu lalu kita mengungsi ke kampung orang?” KAMAL memprotes keras maklumat KEPALA KAMPUNG. Akhirnya KEPALA KAMPUNG batal mengeluarkan maklumat itu.

TONI, cs pun semakin geram. Mereka sudah tidak tahan lagi. Rasa iri dan dengki mereka semakin memuncak. Mereka merencanakan untuk membakar toko milik BADUR.

Saat yang sama, BADUR dan KAMAL berniat membuka pendidikan al-Qur’an di mesjid An-Nikmah yang telah selesai renovasinya itu. Sekalian juga Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu. Tapi semua itu membutuhkan biaya yang banyak. Karena harus memanggil ahli dari Jakarta. BADUR tidak masalah karena dia berniat menyumbangkan seluruh hartanya. Dan yang terpenting bahwa anak-anak di kampung itu harus mendapat pendidikan agama yang baik. Jangan seperti mereka yang setengah-setengah saja.

ERNA kurang setuju dengan usulan ini, karena bagaimana nanti nasib ZAENAB istri BADUR. Mau makan apa mereka nanti? KAMAL menceritakan hal ini kepada KEPALA KAMPUNG juga. KEPALA KAMPUNG juga setuju dengan pendapat ERNA.

“Nggak usah repot-repot, dari dulu mesjid itu juga begitu. Dari dulu juga kita nggak ada yang bisa ngaji. Toh hidup aman-aman aja.” KEPALA KAMPUNG mendukung pendapat ERNA.

Tapi berbeda dengan BADUR, BADUR malah ingin menambahkannya dengan mendirikan perpustakaan, KAMAL semakin geleng-geleng kepala saja.

Di tempat lain, TONI cs sudah mulai bergerak ingin membakar Toko milik BADUR. Bahkan mereka juga akan membakar rumah BADUR. Pokoknya semua harta benda milik BADUR. Ada yang mengusulkan membakar Mesjid, dengan alasan bahwa renovasi itu juga dari duit BADUR.

“BADUR kan mau bikin sekolahan di samping Mesjid. Apa kita bakar saja?”

TONI senang dengan usul itu tapi banyak yang tidak setuju. Takut juga mereka. Dan rapat para penjahat itu memutuskan hanya toko dan rumah BADUR saja yang dibakar. Mesjid tidak, karena itu bukan punya BADUR. Seandainya milik BADUR pasti akan mereka bakar juga.

BADUR terlihat sedang melakukan transaksi dengan seseorang. Mereka bersalaman erat. Belakangan ketahuan bahwa BADUR telah menjual toko dan rumahnya kepada seorang kerabat TONI. BADUR menjual asetnya untuk membangun sekolah dan perpustakaan.

Ketika BADUR dan KAMAL sedang menyiapkan berbagai peralatan untuk sekolah mereka. Mereka diberitakan bahwa toko dan rumah BADUR terbakar. Mereka heran kenapa bisa bersamaan begitu.

“Kalau kecelakaan, masak di tempat berbeda asset satu orang habis terbakar?”

“Lagipula rumah dan ruko itu bukan milik Badur lagi?”

Tinggallah kerabat TONI ini yang menangisi nasibnya. TONI terhenyak setelah tahu bahwa toko dan rumah itu ternyata sudah dibeli oleh RUSDI sepupu TONI.

TONI lalu menghasut RUSDI bahwa BADUR pasti sudah tahu rumah dan ruko itu akan dibakar maka dia segera menjualnya. TONI menghasut agar kerabatnya itu meminta uangnya dikembalikan. RUSDI termakan hasutan TONI.

RUSDI segera mendatangi BADUR. Dia mendesak BADUR mengembalikan uang yang belum lama diberikan kepada BADUR untuk membeli toko dan rumahnya. BADUR bilang bahwa uang itu sudah dibelikan barang-barang untuk keperluan anak-anak ini. Kebetulan BADUR tinggal di kamar kecil dekat sekolahan. Kalau memang RUSDI merasa dirugikan, BADUR siap membantu tapi bukan mengembalikan uang itu. Dan RUSDI diminta bersabar beberapa lama.

KAMAL, ERNA, dan ZAENAB gregetan dengan ide BADUR itu. Masak BADUR mengembalikan uang RUSDI? Darimana lagi uangnya. Jangan terlalu menyiksa diri!

BADUR tetap yakin bahwa dia akan membantu orang yang kena musibah. Seperti waktu KAMAL dulu membantunya.

Ustadz Arfah yang didatangkan dari Jakarta itu memuji tindakan BADUR. Dia bilang BADUR ini seperti Abdurrahman bin Auf Radiallahu anhu, sahabat Rasulullah yang bertangan emas. Sangat mudah baginya mendapatkan harta meski telah berkali-kali disumbangkan untuk berjihad.

Saat yang disepakati tiba, BADUR pun menyerahkan sejumlah uang kepada RUSDI. Kerabat itu tidak jadi mengambilnya karena dia telah mengetahui bahwa yang membakar rumahnya itu adalah TONI, sepupunya sendiri. RUSDI tahu karena TONI menjelaskan dan mengerti secara detil rencana dan eksekusi pembakaran itu. RUSDI melaporkan TONI ke polisi.

RUSDI juga bertekad akan belajar berbisnis kepada BADUR dan ikut serta menyumbang sekolah demi kemajuan anak-anak di kampung itu.

BADUR terharu. Syukur Alhamdulillah. Allah akan menolong hambanya yang menolong agamanya.

Tamat.

Terinspirasi dari kisah Abdurrahman bin Auf

Sinopsis

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: