Kisah Seorang Adik Yang Berkorban Apa Saja Untuk Kakaknya

Kisah ini terinspirasi dari sebuah kisah dari negeri lain. Yaitu tentang perjuangan Sabri yang rela berkorban apa saja untuk Lina, kakak perempuannya.

LINA (15 tahun) dan SABRI (12 tahun) adalah kakak beradik dari keluarga miskin di sebuah desa yang sangat jauh dari pusat kota. Sehari-hari kehidupan mereka amatlah sederhana. AYAH (45 tahun) adalah seorang buruh tani miskin, IBU (39 tahun) sering membantu pekerjaan Ayah.

Suatu hari, LINA sudah mantap tekadnya untuk memakai kerudung, karena dia merasa sudah menjadi gadis dan harus segera menutup auratnya. Dia pun meminta kepada AYAH dan IBUnya. Tentu saja AYAH tidak bisa mengabulkannya karena tidak punya cukup uang. LINA mendesak, AYAH jadi ngotot juga. AYAH bilang bahwa untuk makan saja kurang ini pakai mau beli kerudung segala. Belum penting. Nanti kamu juga jauh dari jodoh. Tidak ada yang mau kepadamu.

SABRI yang mendengar ini menjadi terenyuh hatinya. Ia pun bertekad untuk membeli sebuah kerudung agar bisa dihadiahkan kepada kakaknya. Dia sudah berusaha mencari uang tapi tidak terkumpul juga. Makanya, salah satu caranya dia akan mencuri pada saat hari pasar nanti. Tetapi naas baginya, karena tidak pengalaman dalam hal curi mencuri maka ia pun tertangkap basah. SABRI pun dibawa ke kantor lurah. Karena SABRI masih remaja, orang tuanya yang disuruh menghadap untuk memberi pelajaran moral kepada SABRI.

Mengetahi ini AYAH murka setengah mati. AYAH pun memukul SABRI dengan pukulan bertubi-tubi hingga memar punggungnya. AYAH sangat geram dan terus memukuli sampai kehabisan nafas. AYAH bertanya untuk apa mencuri? Biar kita miskin, kita tidak akan mencuri. SABRI beralasan macam-macam. Tetapi AYAH balik bertanya kenapa mencuri kerudung?

Malamnya, IBU memeluk SABRI yang penuh dengan luka, tetapi Sabri tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di tengah malam, LINA yang tadinya menangis sesegukan tiba-tiba mulai menangis sejadi-jadinya. LINA sangat tahu bahwa SABRI pasti ingin membantunya. SABRI masuk ke kamar LINA dan menutup mulut LINA dengan tangannya dan berkata, “Kak, tolong jangan menangis seperti ini. Aku jadi sedih juga. Aku bakal tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kakak begini terus.” SABRI juga minta maaf dan bertaubat karena untuk tujuan baik dia telah menggunakan cara yang salah.

Beberapa tahun kemudian LINA dinyatakan lulus untuk masuk ke sebuah Perguruan Tinggi di kota. SABRI pun juga lulus masuk SMA favorit. AYAH dan IBU bangga dengan apa yang LINA dan SABRI hasilkan. Tetapi IBU bingung bagaimana membiayai Pendidikan mereka berdua. Bianya sangat besar.

SABRI bilang pada AYAH bahwa tidak tidak akan melanjutkan sekolah lagi. SABRI mengaku telah banyak membaca buku. Lagi pula informasi sekarang ini sudah bisa kita dapatkan lewat internet. AYAH SABRI menahan marah lalu menempelek wajah SABRI. “Kenapa mental kau lembek begitu? Kau ini anak laki. Bahkan kalaupun ayah harus jadi pemulung, ayah akan menyekolahkan kalian berdua sampai menjadi sarjana!”

AYAH kemudian menemui beberapa kerabat dan kenalan di desa bahkan di desa tetangga untuk meminta pertolongan. Meminjam duit bagi AYAH adalah hal yang tabu, tapi dia akhirnya memaksakan diri juga. Yang terpenting bagi AYAH adalah kelanjutan sekolah anak-anak.

LINA bilang ke SABRI “Kamu ini apa-apan sih? Anak laki-laki itu harus terus sekolah. SABRI bilang “Anak perempuan juga.”

Begitulah mereka berdebat hingga tiba-tiba LINA menyesali diri kenapa harus menjadi orang miskin seperti ini. SABRI bilang bahwa kalau kita bersyukur dengan karunia Allah ini, sebab Allah berjanji untuk melipatgandakan rejeki hambanya yang bersyukur. Sabri yakin betul akan janji Allah itu selama diikuti dengan ikhtiar yang sungguh.

Tetapi LINA tetap berkeras hati bahwa dia tidak akan melanjutkan ke Universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, SABRI meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh. SABRI meninggalkan secarik kertas di atas bantal LINA: “Kak, masuk ke universitas bukan perkara gampang. Aku akan merantau, mencari kerja dan mengirimkan kakak uang.” SABRI juga meninggalkan sebuah kerudung putih.

LINA memegang kertas tersebut di atas tempat tidur, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaranya hilang.

Suatu hari kost-kostan LINA, SABRI datang dengan wajah dan pakaian yang kucel. LINA tampak berubah. Kepalanya sudah tidak dihiasi lagi dengan kerudung. Dan dandanannya juga sudah gaul abis. Mengetahui kedatangan SABRI, LINA marah karena takut teman-temannya yang lain tahu adiknya gembel begitu. SABRI tidak perduli, dia juga menanyakan kepada LINA kenapa jadi berubah begini? LINA menjawab bahwa dia sudah capek jadi orang dusun. Capek jadi orang miskin. LINA mau seperti sekarang ini, bergaya ala orang kota. SABRI mengingatkan bahwa kita harus pandai bersyukur. LINA malah bilang kamu tahu apa. Aku ini mahasiswa terpelajar, tidak perlu kamu ajari aku. Aku lebih tahu. SABRI tidak tahan dengan kata-kata kakaknya lalu pamit dan memberikan sebuah Bros. LINA mentertawakan pemberian itu dan mengatakan bros itu model kuno. Sudah ketinggalan zaman.

SABRI selama ini bekerja sebagai buruh bangunan di sebuah proyek tidak jauh dari desanya. AYAH dan IBUnya sudah tidak mempersoalkan lagi dia yang putus sekolah.

LINA sudah punya pacar. Waktu SABRI ke kota, dia melihat pacarnya itu menggoda LINA. Bahkan seperti hendak menjamah LINA. SABRI tidak tahan melihat itu lantas menggebuki pacar kakaknya. LINA tentu saja marah kepada SABRI karena mencampuri urusannya. LINA juga selalu merasa dirongrong oleh SABRI karena selalu saja mengawasinya. LINA menyuruh SABRI untuk segera angkat kaki dari tempat itu. SABRI pun pergi tapi sebelumnya dia memberikan uang untuk bayar kuliah LINA. SABRI mengaku IBU yang menyuruhnya ke sini. LINA belum reda marahnya. Tapi dia tetap menerima uang itu.

Semakin mendekati semester akhir kuliah LINA, semakin banyak pula dia membutuhkan uang. SABRI pun semakin bekerja keras untuk membiayai kuliah kakaknya. AYAH sudah menyerah mencari pinjaman karena orang-orang banyak yang lagi butuh uang. SABRI sendiri yang mengantarkan uang kuliah kepada LINA. Tentu saja dengan pakaiannya yang ala dusun banget. LINA tidak suka karena teman-teman LINA sering meledek tampang SABRI yang kucel. LINA bilang ke teman-temannya bahwa orang itu adalah pesuruh dari kampungnya. SABRI sabar aja diledek seperti itu.

Pada saat wisuda, AYAH, IBU, dan SABRI menghadiri wisuda LINA. Tapi LINA tidak mau foto bareng SABRI karena takut nanti ketahuan teman-temannya.

Tidak lama setelah wisuda, datang pacarnya LINA mau melamar. Lamaran diterima tapi AYAH dan IBU bingung nanti bagaimana acara pestanya. Mereka tidak punya uang. Rumah juga begini. Mau diadakan dimana nanti.

Sekali lagi SABRI datang dengan bantuannya. Akhirnya acara pesta pernikahan itu berjalan dengan baik meski SABRI tidak nampak dalam foto keluarga karena dia sibuk mengerjakan ini itu. Sebagai panitia tersibuk yang mengerjakan segala macam urusan.

LINA dan FIRMAN (27 tahun) suaminya, pindah tinggal di kota. Dalam jangka waktu yang relatif singkat, FIRMAN yang bekerja di perusahaan konstruksi diangkat menjadi direktur produksi. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan FIRMAN. Dia ingin SABRI bekerja di perusahaannya saja sebagai Manajer, atau paling tidak mandor lah.

LINA dan FIRMAN pun menyampaikan kabar baik itu kepada SABRI. FIRMAN ingin membantu SABRI bekerja di perusahaannya. SABRI tentu saja menolak. Dia tidak mau dibantu oleh LINA dan FIRMAN. Kalau membantu orang, SABRI baru mau. LINA marah mendengar hal itu. SABRI dituduhnya tidak tahu berterima kasih, tidak tahu diuntung dan sebagainya. LINA langsung minta pamit balik ke kota.

Suatu hari, SABRI diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, tiba-tiba ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

LINA dan FIRMAN datang menjenguk. LINA menyalahkan SABRI karena tidak mau menerima bantuan FIRMAN. SABRI lalu mengingatkan bahwa apa nanti kata orang kalau iparnya direktur, dan adik ipar manajer. SABRI juga merasa tidak punya kemampuan itu. Dan berbagai alasan lain. Tetapi LINA tetap menyalahkan SABRI karena selalu mau membantunya padahal sekarang dia sudah berkecukupan, dan sebagainya.

Saat LINA pulang dari rumah sakit, LINA mendapat kabar bahwa SABRI telah meninggal dunia. Dan SABRI meninggalkan sebuah surat untuk FIRMAN dan juga selembar kerudung putih untuk LINA.

Dalam surat itu SABRI berpesan kepada FIRMAN untuk menjaga LINA. Sabri berceritera bahwa waktu SD mereka berjalan kaki ke dusun lain untuk sekolah. Mereka berjalan kaki selama dua jam saat pergi dan waktu pulang. Suatu hari SABRI kehilangan sepatu karena kejailan temannya. LINA meminjamkan sepatunya. LINA hanya memakai satu sepatu saja dan berjalan kaki sejauh itu. Ketika tiba di rumah, kakinya sakit dan pecah-pecah. Bahkan LINA tidak bisa tidur semalaman. Begitu pula keesokan harinya sampai aku menemukan sepatuku. Sejak hari itu aku bersumpah akan menjaga kakakku LINA dan baik kepadanya.

FIRMAN dan LINA berurai air mata membaca surat itu. Nangis darah deh. Ternyata SABRI juga menyimpan tabungan yang sangat banyak dan diwasiatkan untuk dipakai membangun mesjid di dusunnya itu.

Tamat.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: