Jangan Sembarang Menuduh Penipu Telah Menipu, Begini Akibatnya

Alkisah, sebuah komplotan penjahat mengincar pemilik toko emas. Bukan hanya satu toko emas, tetapi 2 toko sekaligus. Pemilik kedua toko emas ini adalah 2 orang bersaudara.

Setelah mengamati dari jauh dan dari dekat, Si Penipu mendapatkan info bahwa toko emas “Mari” dan toko emas “Sini” pemiliknya adalah 2 kakak beradik. Toko “Mari” kepunyaan Ah Masa, dan toko “Sini” milik Ah Iya. Ah Masa adalah kakak kandung Ah Iya. Kedua toko emas ini beradanya dalam sebuah pasar bernama pasar “Gengsidong”. Letak kedua toko tidak persis berdampingan, melainkan terpisah oleh beberapa toko emas lainnya.

Pada suatu hari Sabtu, si penipu yang kita namakan saja Upin – ini bukan tokoh kartun itu loh, tapi hurufnya kalau dibalik jadi ‘nipu’ – mendatangi toko emas “Mari”. Dengan gaya dan setelan orang kaya, si Upin datang menggunakan mobil sedan yang cukup mewah. Lalu dengan penuh percaya diri, Upin melihat-lihat segala macam emas dan perhiasan lain yang ada di toko “Mari” itu. Tertariklah si Upin dengan sebuah perhiasan berlian. Setelah terjadi tawar menawar yang tidak cukup alot, berlian itu dibeli Upin seharga 150 juta rupiah. Upin hanya membawa uang cash 100 juta. Sisanya 50 juta dia mau bayar dengan cek.

“Waduh, tidak bisa,”

Ah Masa menolak dengan ditambah basabasi sana sini untuk memperhalus kata. Ada hasrat menjual, tetapi tetap waspada dengan segala macam penipuan.

“Ah, kalau kamu tidak percaya dengan ini cek, itu, saya bawa mobil. Kebetulan juga saya bawa BPKB-nya. Silahkan kalau memang cek itu bodong, silahkan bawa BPKB mobil saya,” Kata si Upin mencoba menyakinkan Ah Masa.

Tidak lama bernegosiasi, kata sepakat pun muncul. Ah Masa menjual berlian itu seharga 150 juta dengan menerima uang cash 100 juta, cek senilai 50 juta, dan BPKB mobil sebagai jaminan cek tersebut. Upin pun memboyong berlian itu sambil sumringah. Sedang Ah Masa masih menaruh syak wasangka.

Sambil membawa berlian itu, Upin mendatangi toko emas “Sini” kepunyaan adik Ah Masa, Ah Iya yang letaknya di pasar “Gengsidong” juga. Upin dengan gaya yang tidak jauh beda, melihat sana sini lalu tertarik dengan sebuah perhiasan yang lebih bagus daripada perhiasan yang baru saja dibelinya di toko “Sini”.

(Catatan: perhiasan-perhiasan yang dibeli dan ingin dibeli dari kedua toko emas, sudah lama disurvey harganya.)

Setelah tawar menawar harga perhiasan itu, akhirnya disepakati dengan harga 200 juta. Tapi uang si Upin kan sudah habis, maka dia melego kembali berlian yang baru dibelinya tadi.

“Ah… begini pak….siapa?” tanya Upin.

“Ah Iya.”

“Pak Ah Iya. Saya kan sangat tertarik dengan perhiasan di toko Bapak ini. Tapi saya tidak bawa uang cash. Ini ada berlian yang baru saya beli, saya lego ke Bapak 100 juta saja, nah sisanya 100 juta saya bayar dengan cek, bagaimana?” Upin menawar lalu memberikan berlian dari toko “Mari”. Ah Iya melihat berlian itu dan menyembunyikan keterkejutannya karena dia tahu pasti bahwa itu adalah perhiasan dari toko emas kakak kandungnya. Dan tidak mungkin harganya di bawah seratus juga. “Tapi kenapa orang ini jual 100 juta?” batin Ah Iya.

“Kenapa? Bapak kurang percaya dengan saya? Cek ini asli loh Pak. saya ini pengusaha juga, saya sudah sering bertransaksi pakai cek ini.”

“Ah, bukan begitu Pak Upin…” lalu dengan sedikit diplomatis dan alasan mau ngecek harga, Ah Iya mundur ke belakang lalu diam-diam menelepon kakaknya, Ah Masa.

Setelah mengetahui kronologis jual beli berlian itu, Ah Iya berkesimpulan bahwa kemungkinan besar si Upin ini adalah penipu. Dalam logikanya, tidak mungkin orang yang baru membeli barang seharga 150 juta, pada hari yang sama menjualnya dengan harga 100 juta. Mana ada orang yang mau rugi 50 juta? Kalau Upin ini bukan orang waras berarti dia punya niat menipu. Ah Masa dan Ah Iya sepakat untuk segera menelpon polisi untuk membekuk Upin yang masih berada di pasar “Gengsidong”. Mumpung orang ini belum pergi kemana-mana. Mereka curiga juga jangan-jangan cek dari Upin itu cek palsu. Daripada rugi 50 juta, mending segera diantisipasi dengan menangkap basah si Upin. Dan kembalilah berlian seharga 150 juta itu. Pokoknya ambil resiko sekecil mungkin.

Polisi pun datang membekuk Upin. Upin pura-pura memberontak dan tidak terima dengan perlakuan ini. Dalam hatinya tunggu sebentar lagi pembalasanku. Upin dipenjara, pengacara (komplotannya juga) dipersiapkan membela. Pengacara bilang bahwa kasus penipuan ini harus dibuktikan. Cek itu asli. Tetapi karena hari Sabtu, cek itu tidak bisa dibuktikan di bank. harus menunggu hari senin.

Hari senin di Bank Mandor, cek pun diteliti apakah asli atau palsu. Ternyata cek itu benar-benar asli 100 persen. Bahkan pihak bank mengatakan jangankan 50 sampai 100 juta, satu milyar pun cek ini sanggup mengeluarkan uang.

Semua orang terperanjat. Maka pangacara Upin lalu membawa kasus ini ke pengadilan dengan delik pencemaran nama baik. Upin dan pengacaranya menuntut kerugian immaterial sebesar 2 milyar. Pengadilan mensahkan, maka menangislah Ah Masa dan Ah Iya karena telah menuduh si penipu menipu. Kedua kakak beradik ini harus menjual harta bendanya untuk membayar vonis pengadilan tersebut.

===============

Kisah ini adalah cerita asli yang dituturkan seorang kawan di kotanya. Waspadalah, waspadalah.

Nama tokoh disamarkan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: