Ganti Otak

Ujian masuk perguruan tinggi sudah di ambang pintu, tentu dengan beragam nama dan caranya masing-masing. Teman-teman saya telah menyiapkan bekal untuk melanjutkan studinya. Merancang-rancang ke jurusan apa yang diminatnya. Ada yang mau masuk kedokteran, ada yang teknik, ekonomi, sastra, agama, pemerintahan, juga ketentaraan.

Saya sebenarnya juga ingin seperti mereka. Berprestasi di sekolah. Punya otak cemerlang. Masuk universitas mana saja yang saya inginkan. Bukan dengan uang papa saya. Walaupun dengan uang tentu lebih mudah setelah dibukanya jalur khusus masuk universitas bergengsi. Saya tidak ingin begitu. Melainkan dengan potensi yang ada dalam diri saya. Murni karena kemampuan saya.

Saya sudah ikut kursus-kursus, bimbingan belajar, punya lima orang guru privat, perpustakaan keluarga dengan koleksi buku yang sangat banyak. Karena mungkin otak saya rusak, saya tidak bisa berbuat banyak dengan itu semua. Saya kena kanker otak barangkali.

Semasa kecil saya punya cita-cita banyak, jadi filsuf lah, politikus, ilmuan, seniman, agamawan, negarawan, dokter, insinyur, prajurit, pilot, wirausahawan, dan semua cita-cita yang sering diajarkan orang tua kepada anak kecil. Tetapi akhir-akhir ini saya justru ingin yang sederhana saja, Ingin seperti abang-abang yang sering memberikan ceramah di mesjid sekolah. Mereka pintar-pintar, baik-baik, selalu menyemangati kami untuk terus giat belajar. Dan himbauan mereka itu sudah saya laksanakan.  Tapi dasar otak buntu. Susah.

Di tengah kekalutan mengenai otak saya. Seorang teman karib orang tua saya datang menyarankan.

“Begini Dek. O iya, siapa lagi namanya?”

“Rama Om.”

“Begini Dek Rama. Om punya kenalan seorang dokter. Beliau spesialis mengenai otak. Barangkali Dek Rama bisa ke sana. Cari informasi lah. Mungkin beliau bisa memecahkan otak. Eh, maksud Om, memecahkan masalah otak Dek Rama yang punya kelainan itu.”

Saya kesal dengan kalimat terakhir orang itu. Tapi saya diam saja. Lagi pula ada benarnya.

“Ini kartu nama Pak Dokter. Dek Rama bisa kapan saja menghubungi beliau,” kata orang itu sambil memasukkan kembali dompetnya.

“Halo Dok,” sapa saya seperti menyapa teman sebaya begitu tiba di tempat praktek dokter itu. Tempat aneh. “Apa bisa menganggu  Dok?”

“Bisa,” jawab Dokter singkat. Dokter dihadapan saya ini tampak muda dan sangat tampan tidak seperti yang saya bayangkan: tua dan urakan.

“Begini Dok. Saya ini, ah, saya malu…”

“Tak usah malu. Katakan saja. Mumpung tak ada pasien lain.”

“Anu Dok. Begini Dok.” Saya berfikir bingung mau mulai dari mana, karena memang saya tidak biasa berfikir sistematis. “Saya ini ada anu Dok. Itu Dok. Biasa…”

“Santai sajalah. Tak usah gugup.” Dokter memotong mencoba menenangkan.

“Ini Dok. Otak saya.”

“Otak kamu kenapa?” Dokter santai saja.

“Ada sedikit kelainan.”

“Kelainan apa? Sepertinya serius sekali.”

“Anu, hanya sedikit tumpul gitu.”

“O…. itu. Jadi mau kamu apakan otak kamu itu?”

“Ya.. disetel dikit lah Dok agar saya bisa pintar.”

Dokter berfikir sejenak.

“Kalau itu sih bisa saja.”

“Jadi Dokter bisa bikin saya pintar yah?”

“O.. bisa itu. Gampang kok. Apa sih susahnya.”

“Kalau begitu cepat Dok. Di mana ruang operasinya?”

“Sabar. Tunggu. Bocah ingusan memang tidak sabaran.”

“Sori.” Saya tertuntuk malu, tidak berani marah atas hinaannya.

“Jadi kamu mau pintar kayak siapa?”

“Maunya sih kayak…..ehm, Habibie gitu. Habibie yang pintar bikin pesawat itu loh Dok.”

“O…..”

“Bukan, bukan, ganti saja deh. Kalau bisa sih seperti Yusuf Qardhawy saja. Sebab orangnya sangat cerdas. Banyak ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Yah, saya ingin secerdas dia saja. Kalau bisa sih digabungin juga dengan kecerdasan Harun Yahya, ditambah dengan Habibie. Biar klop gitu. Saya tidak memaksa loh, ini juga kalau bisa Dok.”

“Gampang itu.”

“Benar Dok?”

“Benar. Kamu kok sepertinya tidak percaya sama dokter sih.”

“Sori Dok. Apa sekarang sudah bisa dimulai?”

“Tunggu dulu. Apa hal ini sudah kamu pikirkan baik-baik?”

“Iya Dok. Mau diapa lagi. Saya sudah tidak punya pilihan lain.”

“Kamu tidak takut bila nanti terjadi apa-apa, terutama dengan dampak negatifnya?”

“Ah, Dokter becanda. Masak orang pintar punya dampak negatif.”

“Bukan itu. Tapi..”

“Ah. Bilang saja Dokter tidak bisa. Iya khan Dok?”

“Enak saja. Siapa bilang saya tidak bisa!” Nada Dokter mulai meninggi. “Ini penemuan terbaru saya. Bertahun-tahun saya berjuang agar bisa berhasil menyempurnakan penemuan saya ini. Namun nyatanya sekarang? Tak seorang pun mau mengakuinya. Malah ada yang menganggap saya tidak waras lagi. Benar-benar edan. Saya sangat tersinggung. Mentang-mentang saya masih muda, junior gitu. Dianggap belum mampu. Masih bau kencur. Masih belajar. Emosi meledak-ledak. Belum pantas lah begitu. Memangnya hanya dokter-dokter tua itu saja yang paling jago sehingga paling berhak menilai juniornya?”

“Iya Dok. Saya ngerti kok.”

“Apa? Kamu ini ngerti apa? Sok tau aja kamu. Sok ngerti. Bocah ingusan tak berotak tahu apa?. Lihat itu. Perangkat. Barang-barang. Benda-benda itu. Saya sendiri yang membuatnya. Apa kamu ngerti dengan semua itu?”

“Lho Dokter kok marah sama saya sih.”

“Maaf saya lupa. Ini karena saya terlalu esmosi. Sori. Begini lah kalau terlalu banyak pikiran. Semuanya tambah sulit. Tapi kalau diselesaikan dengan kepala dingin, mungkin bisa lebih baik. Maaf yah. Oh iya, apa yah yang kita bicarakan tadi? Ya, ya masalah otak kamu. Begini…” kelihatannya dokter akan menerangkan masalah yang sebenarnya. “Dalam mentransfer otak seseorang itu ada efek sampingnya…”

“Apa itu?” Saya bertanya penasaran.

“Efek sampingnya sih kecil. Tapi kalau selalu dipikir, bisa menjadi beban berat…”

“Apa sih Dok. Bikin saya  makin penasaran saja.”

“Kamu akan lupa kejadian di masa kecilmu. Kamu tidak ingat lagi apa yang telah kamu lakukan di masa lalu. Yang kamu ingat cuma kejadian orang yang otaknya ditrasnfer ke otak kamu. Berat khan?”

“Wah, itu bukannya berat, malah mengasyikkan. Saya memang mau melupakan peristiwa di masa lalu.” Saya sangat antusias mendengar penjelasan dokter sambil membayangkan betapa asyiknya nanti.

“Memang masa lalu kamu kenapa?”

“Tidak bisa saya ceritakan Dok. Ceritanya panjang.”

“Jadi kamu sudah yakin? Kamu tidak akan menyesal?”

“Hakul yakin”

“Tapi kamu yang pertama.”

“Maksud Dokter?”

“Kamu orang pertama yang jadi bahan eksperimen saya. Kelinci percobaan lah begitu. Memang pernah sih, tapi dengan tikus.”

“Tak apalah Dok, saya sudah pasrah.”

Kemudian dokter mengambil semua peralatannya. Ia memanggil asistennya. Saya dimasukkan ke dalam ruangan putih bersih. Dalam ruangan itu saya melihat benda-benda aneh yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Asisten dokter itu bekerja amat baik. Ia meneliti semua perkakas yang akan dipakainya. Disterilkannya kembali semuanya. Lalu saya melihat ia menaruh sesuatu di hidung saya.

Ketika saya tersadar, saya melihat seorang tersenyum. Saya coba mengingat-ngingat. Ya, orang itu pasti asistennya dokter. Saya memaksa otak saya menguak kembali kejadian sebelumnya. Setelah berpayah-payah mencoba, akhirnya teringat juga. Tapi hanya secuil peristiwa. Selebihnya saya tidak ingat.

“Bagaimana?” Saya melihat dokter bertanya kepadaku.

“Baik Dok. Cuma  sedikit pening.”

“Oh.. itu biasa. Nanti juga reda.”

“Apa saya sudah bisa pulang?”

‘Bisa.”

“Berapa ongkosnya?”

“Biasa.”

“Berapa?”

“Sepuluh.”

“Sepuluh apa?”

“Yah begitu lah. Sepuluh Em.”

“Wah Dokter payah. Cuma menyebutkan sepuluh milyar saja susah. Bagaimana bisa jadi orang kaya. Nih ceknya. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

“O iya Dok. Kapan bisa saya rasakan reaksinya?”

“Yah, barang satu atau dua hari lagi lah begitu.”

“Lama juga ya Dok.”

“Begitulah kalau percobaan.”

“Mari Dok.”

Setelah dua hari, saya merasakan perubahan yang sangat drastis. Tiba-tiba saya selalu rindu masjid, lalu melangkahkan kaki bila mendengar suara azan. Setelah sepekan, meningkat ingin berdakwah. Saya mendiskusikan hal ini dengan pengurus masjid. Mereka bingung dan heran, ada apa dengan diri saya? Mengapa tiba-tiba ingin ceramah? Padahal bocah ini beberapa saat yang lalu hanya ke masjid bila sholat jumat saja. Mengapa tiba-tiba berubah begini? Habis makan apa dia?

Saya coba meyakinkan pengurus masjid bahwa saya mampu berceramah. Setelah itu saya pun diberi kesempatan pertama, kedua, dan seterusnya. Mereka mulai percaya dengan kemampuan saya. Saya yang dulunya agak pendiam dan suka malu-malu kini tidak lagi. Saya malah berani tampil di depan umum untuk berpidato. Saya selalu mencari di mana tempat orang-orang berkumpul lalu saya angkat bicara. Mendakwahi mereka dengan nilai-nilai Islam. Tidak hanya itu, saya juga bergabung bersama pemuda dan mahasiswa di tempat aksi demonstrasi. Menunjukkan sikap perlawanan terhadap para tiran dan para koruptor yang telah menodai kesucian bangsa ini. Juga menunjukkan kepedulian terhadap para keluarga korban kezaliman penguasa.

Melihat tingkah saya akhir-akhir ini, kedua orang tua saya sangat cemas. Begitu pula dengan pihak keluarga besar saya,.mereka takut kalau nantinya saya ditangkap, diperiksa, atau diteror oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tetapi tidak sedikit pun saya takut. Saya bulatkan tekad untuk terus maju pantang mundur, demi menegakkan kebenaran.

Pada sebuah kesempatan rapat keluarga, mereka berdebat alot. Arah kehidupan saya ditentukan oleh keluarga besar. Mereka ribut. Saling memandang satu sama lain. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang saling menyalahkan. Bahkan ada yang mulai bertengkar. Berkelahi. Jambak-jambakan rambut. Sebab ada yang menginginkan saya kembali seperti sedia kala, tetapi ada juga yang sepakat dengan aktivitas saya belakangan ini.

Saya meninggalkan mereka berjalan keluar mencari tempat adem untuk menenangkan pikiran, juga suasana batin saya. Dalam perjalanan saya menyusuri trotoar jalan yang hampir habis dimakan pedagang kaki lima dan sepeda motor, saya merenung tentang diri saya yang berevolusi menjadi manusia yang berbeda. Saya sungguh bahagia mendapati diri saya yang berubah total seperti ini. Menjadi manusia yang paripurna. Entah apa yang telah dilakukan dokter itu saya tidak mau tahu. Yang jelas saya sangat bererima kasih padanya telah memberi kejeniusan pada otak saya. Bila dahulu saya sangat susah menghafal Qur’an, kini tanpa perlu bersusah payah menghafal, ayat-ayat Allah itu sudah tersimpan baik pada otak saya. Tanpa perlu membaca dan belajar, saya sudah tahu semua apa isi buku-buku itu. Bila dahulu saya sangat ingin masuk perguruan tinggi, kini tidak lagi, sebab otak saya sudah setara dengan para pengajar di perguruan tinggi itu. Lebih mudah rasanya menjalani kehidupan seperti ini.

Rapat keluarga telah berakhir setelah melakukan pengumpulan suara, dan suara terbanyak menginginkan saya kembali seperti biasa. Walau tidak pintar, yang penting menjadi anak manis, penurut, tidak radikal dan fundamentalis seperti sekarang. Dus mereka akan membawaku lagi ke dokter otak itu supaya dapat mengembalikan dan memulihkan saya.

Sebenarnya saya tidak mau. Namun saya takut dikatakan durhaka pada orang tua, maka saya menurut saja. Saya tidak mau masuk neraka karena hal itu. Lagi pula saya capek sendiri. Tidak biasanya saya banyak bicara. Organ tubuh saya pun bukan bekerja atas perintah saya, tapi atas perintah orang yang otaknya dipindahkan ke kepala saya. Saya capek.

Saya kembali sendiri ke klinik dokter otak itu.

“Wah, tidak bisa itu. Otak kamu sudah permanen, tidak bisa diutak utik lagi,” kata dokter menjelaskan setelah saya menyuruh mengembalikan otak saya.

“Tidak bisa bagaimana?”

“Sulit…”

“Kalau Dokter keberatan biar saya bayar dua kali lipat.”

“Bukan itu soalnya Dek, tapi…”

“Saya tidak paham deh Dok? Wong Dokter yang menggantinya kok. Atau perlu saya bayar tiga kali lipat?”

“Bukan itu masalahnya. Suer. Ini hanya soal penemuan saya yang belum perfect benar. Saya bisa mengganti atau dengan kata lain mentransfer otak orang yang telah wafat kepada orang lain yang membutuhkannya. Tapi terus terang saya belum mampu untuk mengembalikannya ke bentuk semula. Begitu loh Dek. Dek siapa lagi namanya?”

“Rama Dok”

“O..Rhama Irama?” Dokter coba bercanda.

Kami diam sejenak.

“Ngomong-ngomong otak siapa sih yang dokter transfer? Rasanya aneh. Banyak peristiwa tumpuk menumpuk melintas di otak saya. Tidak runut.”

“Kebetulan saya baru mendapatkan copy-an otak korban Tanjung Priok. Langsung saja saya pindahkan semuanya ke otak Dek Rama. Kamu kan suka dengan otak ustad-ustad gitu? Saya tidak begitu tahu tapi mungkin juga ada otaknya Amir Biki. Kalau otak Yusuf Qardhawy dan Harun Yahya belum bisa, apalagi otaknya Habibie, Ihsan Tanjung atau Aa’ Gym. Musti sabar bila menginginkan mereka.”

“Tanjung Priok yah?”

Dokter mengangguk.

“Pantesan…, tapi apa benar-benar tidak bisa dikembalikan?”

“Bisa sih bisa, Cuma resikonya amat berat. Akan bertambah buruk.”

“Maksudnya?”

“Kamu akan lebih bodoh dari sebelumnya. Data-data di otak kamu akan terhapus. Yah seperti anak kecil lagi yang belum tahu apa-apa. Tapi otak kamu bisa saya sterilkan kok, biar intelegensinya meningkat. Kamu bisa cepat belajar.”

“Ya sudahlah Dok. Tidak apa-apa. Saya pasrah. Memang tidak baik mendapatkan hasil tanpa usaha yang maksimal. Biarlah saya mulai kembali belajar dari nol, dan saya bisa berpengetahuan karenanya, maka itu adalah ikhtiar yang paling berkesan dalam hidup saya. Sebab yang dinilai bukan hasilnya, melainkan usahanya. Saya tidak mau ceramah lagi Dok. Langsung saja, mana ruang operasinya.” Saya gegas melangkah.

“Anak muda memang tidak sabaran.”

Setelah siuman, saya betul-betul tidak mengerti apa-apa. Dokter Otak itu telah menyiapkan guru yang akan mengajar saya hal-hal dasar. Setelah mengetahuinya, saya pulang ke rumah diantar oleh Dokter Otak itu. Saya kembali belajar dari nol. Belajar terus. Terus belajar. Juga ingin mengajar seperti abang-abang yang mengajar saya di masjid sekolah dulu.

Jakarta, 29 Mei 2003

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: