Dialog Dengan Buku Catatan Harianku

Setelah sekian lama aku tak menulis pada buku catatan harianku.

13 September 2001

Catatan harianku, sudah terlalu banyak cerita yang tidak kuceritakan padamu. Begitu banyak catatan yang tak tercatat dalam gores lembaranmu. Sekian banyak ungkapan yang tak terungkap. Teramat banyak kata yang tak terkata, hal yang tak terperihal, pikir yang tak terpikir, ada yang tak berada, aku yang tak meng-aku, ide yang tak tertuang ide, semuanya. Yang seharusnya menjadi pahatan maha karya di hari itu. Kini aku begitu menyesal, buku catatanku. Mengapa baru sekarang aku sadar bahwa semua peristiwa lalu telah menjadi abu yang tak dapat diulang untuk sekedar aku mencatatnya pada kau buku harianku. Aku menyesal. Sori yah.

Aku menghentikan gerak-tulisku sejenak. Aku menarik nafas  panjang sembari mataku melekat pada atap kamar kosanku memikirkan kalimat apalagi yang harus aku tulis. Ketika kukembalikan mataku ke arah buku catatan harianku, aku menemukan tulisan yang agak beda dengan tulisanku. Tulisan ini lebih rapi. Tidak seperti tulisan tanganku yang awut-awutan kayak ayam main cakar-cakaran. Sepertinya akan terjadi dialog hebat antara diriku dengan bukuku yang aku sendiri tidak percaya hal ini bisa terjadi. Mungkin bukuku sesungguhnya tidak pernah berbicara denganku, melainkan itu adalah diriku yang lain. Entahlah…

“Dasar kamunya sih, sudah tahu betapa pentingnya menulis bagi dirimu. Bukannya dilakonin saja, eh malah malas-malasan kayak begitu. Sekarang ini bukan jamannya lagi bersantai-santai, Bung. Banyak hal yang musti dikerjakan sesegera mungkin, yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Kewajibanmu lebih banyak dibanding waktu yang disediakan bagimu. Tetapi kamu malah…..”

Sebelum buku harianku melanjutkan kata-katanya dan banyak omong seperti orang kesurupan, segera saja aku memotongnya dengan melanjutkan menulis.

”Aku mengerti buku catatanku, aku mengerti. Aku sekarang sudah sadar kok. Jadi tidak perlu lagi mengajari aku. Aku tahu aku ini pemalas. Tetapi begini lah aku. Ya kadang rajin, kadang malas, tergantung mood begitu. Yah, mau diapa lagi. Eh, ngomong-ngomong kamu sekarang kok bisa menulis sendiri sih? Kamu marah yah karena sekian lama aku tidak menjumpaimu? Aku paham kok, catatan harianku. Mungkin kamu kesal padaku hingga kata-katamu keluar juga dari bilik-bilik kertasmu. Aku tahu bahwa ini adalah ungkapan perhatianmu padaku, bukuku. Sering-sering lah menulis sendiri. Biar mandiri gitu. Biar aku tak usah capek-capek lagi menulis. Biar aku dapat mengerjakan pekerjaan lain. Tetapi  tidak. Jangan, jangan bukuku. Jangan kau menulis. Biarkan aku sendiri yang menulis. Aku takut kalau nantinya aku bertambah malas dan manja. Justru kau yang makin pandai menulis, sedang aku yang biasa-biasa saja. Pupus deh harapanku menjadi penulis. Gimana sih. Makanya, kau tak perlu mikir yang berat-berat akan aku. Aku sangat mengerti kok apa yang aku mau. Barangkali saat-saat ini aku memang menginginkan penyesalan. Bahwa aku kini benar-benar menyesal, sehingga aku membuat diriku menyesal sendiri. Sendiri menyesali diri. Sesal menyendiri sendiri. Sesal menjadi diri. Diri sesal menjadi-jadi. Jadi menyesal deh.

Aku berharap takkan lagi terjadi sesal serupa ini di hari-hari selanjutnya.”

“Ah gombal, bohong kamu. Tidak sekali ini saja kamu berkata sesal seperti ini.”

Tiba-tiba buku catatan harianku memotong tulisanku.

“Sudah berkali-kali kamu menyesal, bertaubat katamu. Tetapi setiap kali itu pula kau melanggar dan mengulangi lagi, lagi dan lagi penulisku. Rasa-rasanya tiap tahun kamu berlaku seperti ini deh. Bertaubat, sudah itu berbuat lagi. Menyesal, eh terjadi lagi. Apa sih mau kau? Kapan kau sungguh-sungguh mau bertaubat? Bosan aku mendengar kata-katamu ini yang sering berulang setiap saat. Lebih baik kata-kata sesal itu tak perlu kau ucapkan saja. Dan sekarang, lakukan saja apa yang mampu kau lakukan. Jangan ditunda-tunda lagi. Jangan berlarut-larut terus dalam penyesalan itu. Harus buat suatu yang maju gitu. Inovatif gitu loh. Kreatif. Atau apa saja yang membuatmu mengembangkan potensi pribadimu, penulisku.”

“Waduh, aku diomelin sama bukuku sendiri nih. Jangan memarahiku seperti itu dong bukuku.”

Aku memelas menuliskan kata-kataku.

“Kalau begitu,” aku melanjutkan tulisanku. “Sebelum aku lebih lanjut menulis. Aku ingin tahu tanggal berapakah aku terakhir mencatat hariku padamu?”

Aku menemukan tanggal catatan tetakhirku. Aku lantas membacanya dengan sekelebat bayangan saja.

27 Desember 2001 (1 Syawal 1421 H)

Lebaran kini aku di Klender berdua saja bersama Feri. Tuan rumah sekeluarga pada pulang kampung….. puasaku alhamdulillah berjalan lancar di pekan pertama dan  kedua, namun menemui ganjalan di sepuluh hari terakhir sebab niatku mau i’tikaf tidak jadi. Aku harus lembur nulis skenario karena deadline-nya sebelum lebaran, eh ternyata tidak selesai juga. Malah ibadahku caur-cauran. Rencana khatam Quran jadi batal deh. Waduh, gimana sih aku? Kapan aku jadi hamba yang ……..

Aku tak meneruskan membaca, sebab aku malu sendiri membaca catatanku yang ini. Aku mencari paragraf lain.

Hatiku kini (baca: detik ini) merasa masygul, seolah idul fitri belum menjadi hari yang paling bahagia. Hari yang paling dinanti-nanti. Hari dimana aku menjadi fitrah kembali……

Aku menangis…

Ya Allah, aku tak dapat lagi kubendung air mata penyesalanku ini. Ingus ku ini.

“Ha…ha.. Ingus? Ha…ha…” tulis buku catatan harianku.

Sialan, bukuku menertawaiku.

“Lagi-lagi kata penyesalanmu hadir. Ingus? Ha..ha..”

Aku tak usah meneruskan membaca sajalah. Habisnya bubuku sih. Sepertinya dia bahagia melihatku menderita.

Aku mulai memikirkan kalimat apalagi yang harus kugores.

“Lalu, hari ini apa yang hendak kau ceritakan penulisku?” kata bukuku seperti tahu apa yang ada dalam benakku.

“Entahlah aku jadi bingung.”

“Loh kok bingung?”

“Iya nih.”

“Tulis aja lagi. Seperti yang dulu-dulu itu. Kau kan mahir berkata-kata penulisku. Kau biasa menulis apa saja. Asal. Coba ingat-ingat kembali deh. Hari itu yang kau main catur seharian.”

13 September 1999 (berarti tepat dua tahun yang lalu)

di sini aku bermain catur

sambil bersenandung tekukur

kuda dan peluncur sudah diukur

majulah bidak pantang mundur.

“Mana kata-katamu yang seperti ini lagi penulisku? Mana? Mudahkan menulis seperti itu bagimu? Atau yang lebih gampang lagi.

9-9-99

Katanya hari ini kiamat?

“Entahlah bukuku sekarang ini bukannya aku tidak bisa munulis tapi aku memang tidak tahu apa yang hendak kutulis. Benar-benar buntu. Otakku seperti sulit untuk digerakkan. Ini gara-gara kau mengajak aku ngobrol yang sering memotong tulisanku sih. Jadinya aku lupa. Makanya tulisanku jangan dipotonglah. Biarkan aku menulis dulu sekenanya, baru kau bioleh mengomentari. Sepakat? Ini belum apa-apa, sudah di-cut duluan. Sudahlah kau jangan ngomong dulu, awas kalau ngomong, kusobek kau.”

“Loh, loh, jangan begitu dong. Kau yang tak sanggup menulis, malah aku yang disalah-salahkan. Tidak adil itu. Mana pakai bentak-bentak segala lagi.”

“Sudah jangan ngomong lagi!” Tulisku membentak.

Kamarku hening sejenak. Tak ada lagi lanjutan tulisan yang berseliweran yang seperti dialog itu dalam lembaran buku catatan harianku. Mungkin ini bukan lagi catatan harian melainkan catatan mingguan, bahkan tahunan.

Sesuka hatiku saja menulis apa saja dalam bukuku ini. Mungkin terlalu lama aku tidak mengajak bukuku berbicara. Tidak mengayuhkan pena ini di lautan putihnya. Mengajaknya berbagi rasa. Yah rasa itu. Rasa yang kutampung sendiri dalam dadaku hingga meluap penuh dan tak sanggup lagi aku pikul. Aku sebenarnya ingin memberinya separuh padamu bukuku. Malah kau sepertinya memojokkan aku. Makin berat saja beban di hatiku ini duhai kekasihku. Aku seakan tidak ada lagi sahabat sejati yang mampu mendengarku tanpa pamrih. Tanpa lelah. Tanpa aku harus mendengarkan pula keluh kesahnya. Itu lah kau bukuku. Kau seakan tidak lagi menjadi dirimu. Atau kau sedang menjadi dirimu yang lain? Split personality begitu? Sedangkan kau adalah harapanku terakhir bila tak ada lagi orang yang sanggup habis-habisan ku ajak bicara. Aku benar-benar terpuruk.

Tiba-tiba tampak garis-garis hitam menyeruak diantara putih bukuku. Sedikit demi sedikit ia muncul.  Perlahan-lahan. Sepertinya tulisan itu menikmati benar kemunculan mereka. Tulisan itu lebih rapi dibanding tulisan tanganku.

“Maafkan aku bila begitu tuanku. Aku tak berniat secuil pun membuatmu terguncang seperti ini. Aku hanya ingin memberimu motivasi saja. Bahwa kau sudah sepatutnya harus menjadi lebih baik dari hari kemarin. Kau harus lebih maju. Ada progres lah begitu. Bahwa kau akan jadi penulis, penulisku. Maafkan aku sekali lagi bila hal ini menaikkan nafsu amarahmu. Maafkan. Jangan sampai peristiwa ini membuat hubungan kita jadi renggang. Yah, antara kau dan aku. Kau sebagai penulisku dan aku sebagai bukumu yang harusnya melayanimu apa saja yang kau mau. Apa saja yang hendak kau tulis. Tulislah aku penulisku. Tempatmu memberikan separuh bahkan segenap isi hatimu. Aku sanggup menampungnya penulisku. Sekarang tulislah. Tulislah apa saja yang mau kau tulis. Apa saja. Atau sobeklah aku bila itu mampu meredakan amarahmu dan membuatmu kembali menjadi dirimu, penulisku. Atau bakar aku. Apakan saja aku. Terserah kau. Karena aku pun tak mungkin melawan kau. Tak mungkin aku menonjok kepalamu. Menjitakmu. Apalagi membunuhmu. Please. Silahkan. Jangan ragu-ragu. Bila semua itu bisa melapangkan dadamu. Ayo! Tak perlu sungkan-sungkan.”

Aku termenung. Merasakan kalimat-kalimat itu bagaikan sengatan listrik kecil dari lubang kabel yang tergores. Ia benar-benar telah menjadi teman sejatiku yang beku.

“Aku tak menyangka bahwa perhatianmu sebesar itu padaku bukuku. Justru aku yang minta maaf. Ini semua bukan salahmu, melainkan aku lah si penebar masalah itu. Aku cepat marah. Gampang tersinggung. Mungkin aku harus merubah banyak hal dalam diriku ini bukuku. Sifatku yang pemalas, gampang bersedih hati, cepat tersulut emosi, dan berbagai sifat jelekku itu bukuku. Aku yang harus intropeksi diri. Bermuhasabahlah begitu. Aku terlalu banyak dosa barangkali. Dosa-dosa kecil yang menumpuk menjadi bukit yang telah menodakan hatiku. Mensyaitankan perangaiku bukuku. Aku ingin bertaubat. Tapi ini taubat yang sesungguhnya bukuku. Bukan taubat yang kemarin-kemarin lagi. Betul. Suer. Aku janji. Ingat janjiku ini bukuku karena kau banyak mengetahui aibku. Ingatkan aku yah bukuku. Aku ingin berubah. Ingiiiiiiin sekali. Agar hatiku tenang, damai, sejuk, tidak mudah terprovokasi oleh setan yang gencar membuatku seperti dirinya. Ingkar kepada penciptanya. Allahumma, ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sikap pengecut dan kikir, dan dari lilitan hutang dan dominasi manusia. Amin, ya Allah.

Aku menutup buku catatan harianku dengan perasaan lega. Plong sudah hatiku. Seakan tak ada lagi beban yang menghimpitku. Seakan hutangku terlunasi sudah. Aku melihat bukuku seperti tersenyum kepadaku.  Seperti mengucapkan kalimat selamat tidur padaku. Mimpi yang indah yah. Ingat lah Allah, niscaya Allah mengingatmu. Semoga kau mendapatkan hari esokmu lebih cerah dan lebih baik dari hari ini. Semoga…

13 September 2001

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: