Buku Daeng Siang Sang Penerang, Kisah Inspiratif

Mengapa buku biografi harus selalu ditulis? Bukan hanya untuk mengenang tokoh tersebut, tapi yang utama adalah kita dapat mengambil pelajaran dari kisah hidup itu.

Kisah Perempuan Penerang

Termasuk kisah Sitti Siada Daeng Siang, seorang guru yang kerap berpindah sekolah karena mengikuti tugas dari Sang Suami.

Dia memang bukan tokoh terkenal. Bukan selebriti, influencer, youtuber, atau sejenisnya. Tapi dari tangan beliaulah lahir 8 anak yang berkiprah di berbagai bidang. Belum termasuk anak asuh yang ngekos dan numpang tinggal di rumahnya.

Anak-anak yang berhasil menjadi direktur BUMN, jenderal polisi, anggota dewan, kepala bank, wakil bupati, dan lainnya.

Dari kisah ini, kita mendapatkan inspirasi bagaimana kekuatan doa mampu mengubah banyak hal. Bagaimana sedekah mampu mempererat silaturahmi dan persahabatan.

Setiap kali anak-anaknya menghadapi peristiwa penting dalam hidup mereka, di saat yang sama Sang Ibu tidak beranjak di atas sajadah berzikir dan berdoa untuk keberhasilan Sang Anak.

Semua warisan keteladanan ini dapat terpatri dalam benak jika kita menyimak proses demi proses dari seluruh perjalanan kehidupannya.

Legacy Sang Ayah

Bahkan dari Sang Ayah, Basarang Daeng Narang yang seorang pejuang beras saat perang mempertahankan kemerdekaan. Juga pengusaha sarung sutra, guru, imam masjid, dan pendakwah di Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau adalah teladan bagi Daeng Siang dan anak cucunya.

Kiprah dakwahnya dalam memberantas kesyirikan dan candu minuman keras sangat menarik untuk kita simak. Bagaimana dia mendekati masyarakat, mendakwahi, hingga banyak yang mengikuti jejaknya.

Hal yang menarik dari karakter Basarang Daeng Narang adalah sikap dan tutur katanya yang santun dan unik. Bahasa Makassar yang terucap olehnya tidak seperti orang kebanyakan. Dia menggunakan bahasa Makassar yang halus. Sikapnya yang santun pun membuat orang lain segan.

Dalam buku ini kita juga akan melihat bagaimana sejarah Kota Takalar, sejarah perjalanan sekolah Muhammadiyah di Sulsel, perjuangan pindah dari dusun ke kota Makassar, Palu, Pare-pare, dan kembali ke Makassar lagi.

Kita disuguhi juga cerita tentang anak-anak yang kerap berantem dan bagaimana orang tua mengatasinya. Anak perempuan yang memangkas rambutnya seperti Demi Moore. Ada juga anak yang belajar memasak hingga jadi juru masak andal meski telah berpangkat jenderal.

Ada anak asuh yang mendapat jodoh hasil comblangan Daeng Siang. Dan banyak lagi kisah lucu, menegangkan, dan inspiratif dari perjalanan hidup perempuan Sang Penerang yang kerap juga mendapat julukan Ibu Mensos karena hobi berderma hingga akhir hayatnya.

Testimoni Buku

 “Simaklah bagaimana La Sunre Putera Datu Sawitto moyang Daeng Siang, yang turut mewarnai sejarah Gowa dan merintis kampung Takalara.”
Bau Sawerigading Makkulau, Datu Sawitto

“Membaca buku ini, seperti menemukan kepingan sejarah Muhammadiyah.
Kita disuguhi napak tilas sekelompok penghuni rumah “matahari terbit dari Dusun Kaluarrang sebelah Selatan Kota Makassar, Sulawesi Selatan yang setia memancarkan sinar ketulusan dan cinta secara turun temurun.
Buku ini adalah kisah inspiratif perjuangan orang-orang, yang bergiat menanam di ladang pendidikan dan amal usaha Muhammadiyah, dalam ikut membentuk karakter religius bangsanya. Itulah alasannya mengapa buku ini perlu dan menarik dibaca.”
Ahmad Syafii Maarif, Pendiri Maarif Institut

“Buku ini menginspirasi kita, bahwa perbuatan baik yang kita tanam, akan diganjar Allah dengan kebaikan. Jariah kebaikan Daeng Siang terus mengalir tanpa akhir, meski hidupnya telah berakhir. Selamat membaca, selamat menyelami!”
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

“Sebuah literasi menarik terutama bagi warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia, yang ingin memperkaya wawasan tentang bagaimana Muhammadiyah bisa eksis di Sulsel, khususnya di daerah Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.”
Prof. Dr. KH. Sirajuddin Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, 2005-2015

“Awalnya saya kira buku biografi bahasanya berat. Namun, setelah melihat gaya bahasanya, ternyata sangat ringan, dengan narasi yang mengalir dan berbumbu sastra. Juga desain yang sangat milenial. Buku ini  berhasil memadukan sejarah dan sastra, yang kadang sangat susah disandingkan.”
Dr. Quraisy Mathar, M.Hum., S.Sos. Dosen di UIN Alauddin, Makassar.

“Buku itu sebenarnya sihir yang tertulis. Ketokohan Daeng Siang yang luar biasa mampu menjadikan putra putrinya berhasil, itu bisa menjadi sihir bagi pembacanya.”
Ahmad Pidris Zain, Ketua Yayasan Budaya Bugis Makassar.

DESKRIPSI FISIK

xiii + 491 hlm; 14,5 c x 21 cm

Berat: 500 gr

ISBN: 978-623-97259-0-7

Penerbit: Yayasan Sitti Siada Abdul Hamid

Penulis: Zulfikar, Yasir, Basri, Firmansyah

Penyunting: Aswad Syam, Azhar Azis, Zoel, Immank

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: