Chaerul Umam dari Aktor Teater Menjadi Sutradara Film

Penulis: Putu Wijaya

Tokoh yang baru saja kita lepaslkan, pada hari Jum’at, 4 Oktober itu, adalah aset nasional, Ia lahir 70 tahun yang lalu di Pekalongan (harusnya: Tegal – Red).

Sempat menjadi mahasiswa psikologi UGM. Tetapi kemudian ia memutuskan berjuang tanpa diploma. Ia bergabung dengan Teater Muslim, Yogya,  pimpinan Mohammad Diponegoro dan bergaul dekat dengan sutradara Arifin C Noer.

Pada 1967 ia ikut mendirikan Bengkel Teater yang dipimpin oleh WS Rendra. Penampilannya dalam pementasan Odipus sebagai Pembawa Warta menakjubkan. Warna suara, gesture, penjiwaan dan energi  yang diserakkannya, adalah andil besar yang membuat pementasan Odipus Sang Raja Bengkel Teater itu, sebagai salah satu puncak pencapaian teater modern Indonesia di era TIM.

Penampilannya  berikut, berduet dengan Rendra dalam Menungu Godot karya Samuel Beckett, tambah memuluskan posisinya sebagai aktor handal. Walau durasi pertunjukan menyamai film Ben Hur ( 4 jam ), pertunjukan tetap menyihir penonton. Di gedung Star Theater kini, ia mengimbangi ketat penampilan Rendra yang gemilang.

Setelah kemudian hengkang ke Jakarta, ia tampil memainkan tokoh Raja dalam lakon Jayaprana/Teater Populer. Penampilannya semakin mantap. Selanjutnya sebagai pilar Teater Kecil yang dipimpin Arifin C Noer, ia terus menunjukkan keaktorannya, mengimbangi aktor-aktor jempolan seperti Slamet Raharjo di Teater Populer.

Selama latihan di Teater Populer, seseorang yang bisa membaca garis tangan, menggapai tangannya. Lalu menatap takjub. “Kau akan menjadi orang terkenal”, katanya dengan sungguh-sungguh. Yang mendengar “ramalan” itu pada tersenyum. Mereka merasa itu lelucon, lalu beramai-ramai minta diramal. Tak terduga, 40 tahun kemudian, ramalan itu jadi kenyataan.

Dialah Chaerul Umam, yang oleh sahabat-sahabatnya dipanggil Mamang. Tetapi Mamang tak menghentikan langkah di teater. Ia sadar teater memang bisa memberikan nama besar, tapi nama saja tak cukup untuk hidup. Ia memerlukan masa depan. Sebuah tempat yang nyaman untuk berekspresi, namun juga aman sebagai “profesi”.

Sebagaimana juga yang dilakukan oleh Teguh Karya dan Arifin, Mamang pun terjun ke film. Mula-mula menjadi asisten Motinggo Boesye. Kemudian melangkah setapak  jadi asisten Nya’ Abbas Akub. Akhirnya Mamang menjadi sutradara film penuh.

Dari tangan Mamanglah mengalir film-film  seperti: Al Kautsar, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Gadis Maraton, Fatahillah, Ketika Cinta Bertasbih, dll. Puncaknya dalam sebuah karya patungan dengan Malaysia: “Ramadhan Dan Ramona”,  yang memberikan Mamang piala Citra sebagai film terbaik FFI.

Syuting Ketika Cinta Bertasbih di Kairo
Berpose bersama Chaerul Umam saat syuting film Ketika Cinta Bertasbih di Kairo. Dalam foto: Erieck Juragan, Rudy Koerwet, Habiburrahman El Shirazy, MH. Suprayogi, Firman Syah, dll.

Dengan piala citra itu, Mamang mempertegas kemenangan Teguh Karya dalam menghapus “mitos” yang menyebutkan: “teater dan film bertolak belakang”. Bahwa film hanya milik orang film, yang tak boleh direcoki oleh orang teater.

Film di”mulya”kan sebagai  berbasis “realisme”, sesuatu yang nyata, apa adanya. Bertentangan dengan teater yang penuh dengan manipulasi imajinasi dengan berbagai stilisasi, proyeksi dan simbol-simbol yang tidak nyata.

Mitos tersebut sempat membuat teater dan film seperti berseberangan. Pendidikannya juga lain. Jenis manusianya beda.

Film berkembang menjadi barang komoditi dan melahirkan bintang-bintang. Kehidupannya gemerlapan. Pelakunya jadi selebriti.

Sementara teater kusam, kuyu dan yatim piatu. Sosok orang teater bagai pengemis-pengemis yang repot menadah dana dari belas kasihan. Untuk bisa bertahan terus hadir saja sulitnya bukan main.

Pemerintah sendiri juga, tak sadar memperlebar jurang teater dan film. Ingat saja dulu ada istilah “kebudayaan dan film”. Film jadi anak emas negara, diurus dan dibiayai. Sedang teater dipukul-rata saja dalam yang disebut “seni”. Bahkan aktivisnya diburu-buru dan ditangkap (Rendra).

Orang film dan teater sempat berada di dua kubu bertolak belakang. Sering muncul istilah “terlalu teateral” buat akting film yang tak wajar.

Chaerul Umam syuting Dalam Mihrab Cinta
Chaerul Umam sedang mendampingi Sutradara Habiburrahman el Shirazy saat syuting film Dalam Mihrab Cinta.

Padahal sesungguhnya kedua media itu, intinya sama. Kedua-duanya adalah refleksi kehidupan yang disampaikan dengan target menjerat empati. Bahwa jenisnya bermacam-macam bukan karena tujuan medianya bertentangan. Itu semata-mata kecendrungan dari ekspressi manusia kreatornya.

Basis film dan teater sama. Ada seni peran. Ada kisah atau paling tidak tema. Ada plot. Ada penyutradaraan. Ada pesan moral. Dan sebagainya. Hanya bila di teater, ekspresi lebih banyak terlontar dalam percakapan, dalam film disampaikan dengan gambar. Tapi dalam banyak film-film kedua kecendrungan itu sudah luluh saling menopang dengan padu dan indah.

Pertemuan kembali teater dan film yang dipertajam lagi dengan terangkatnya karya sastra ke layar perak. Digenjot lagi oleh terlibatnya orang film ke panggung (Rahayu Effendy) serta berhasilnya pemain teater mengocok layar putih (Slamet Raharjo).

Situasi yang kini kita nikmati, kemesraan antara film-teater-televisi-sastra, adalah buah dari perjalanan panjang. Sekarang bahkan politik pun nampak sadar-tak sadar mau ikut-serta dalam “jam-session” Itu. Banyak politisi sekarang belajar “akting” untuk kesempurnaan penampilannya. Dan tidak sedikit yang ramai-ramai membaca puisi”.

Setelah masuk ke film, Mamang tak pernah kembali ke teater seperti Teguh atau Arifin. Ia juga tidak mencoba untuk menyalurkan keaktorannya dengan sekelebatan nongol di layar perak seperti yang dilakukan Alfred Hitchcock atau Turino Djunaedy.

Mamang hanya dengan setia “duduk” di kursi sutradaranya. Almarhum termasuk salah satu dari sedikit sutradara film yang, “tahu diri” dalam profesinya. Ia menjalankan fungsinya sebagai sutradara dengan total, sepenuh hati dan tekun. Tetapi ia tidak pernah merecoki yang bukan bidangnya.

Banyak sutradara film, ketika menerima sebuah skenario, tiba-tiba merasa dirinya seorang penulis. Tanpa memahami betul apa sebenarnya “isi” skenario, ia langsung mengacak-acak skenario. Dan ketika akhirnya jadi film, penulis skenarionya sendiri bingung namanya tertera di film yang dia anggap menyimpang bahkan bertentangan dengan skenario yang ditulisnya.

Mamang adalah sutradara yang sangat menghormati hak cipta. Kalau ia punya ide atau usul atau pertanyaan, ia akan merundingkannya dalam “sesi” pembahasan skenario. Dia tidak pernah ngobok-ngobok skenario, karena ia sadar, tugasnya bukan ” menciptakan kisah” baru, tapi “memvisualkan” skenario. Ia mampu menjadikan skenario yang pas-pasan menjadi film menarik, apalagi skenarionya sendiri sudah bagus.

Ada mitos (baca: virus) lain dalam film Indonesia, yang kini dalam proses sedang ditumbangkan. Konon fim bagus itu tidak laku. Dan film laku itu tidak bagus.

Para sineas baru/muda Indonesia, seperti Riri Riza dan Hanung Bramantio, sudah membuktikan virus itu sudah kedaluwarsa. Mamang sejak lama juga perlahan-lahan menunjukkan bahwa mitos itu mungkin “jadi-jadian” yang dibuat oleh para produser film yang membuat film bukan sebagai pembangunan kebudayaan, tapi hanya untuk menggandakan uang. Mereka memanipulasi selera rendah pasar lalu membuat film-flm murahan yang murah tapi mengeruk untung.

Meskipun tidak berteater lagi, Mamang sesekali muncul membaca cerpen. Keaktorannya, masih tebal, sehingga ia tergolong dalam jajaran pembaca cerpen yang sulit ditandingi.

Chaerul Umam di Loksyut Ketika Cinta Bertasbih
Chaerul Umam saat menyutradarai film Ketika Cinta Bertasbih 2.

Tak banyak yang tahu, sebelum menjadi orang film, almarhum sempat jadi wartawan. Ia bergabung dengan Goenawan Mohamad dan Usamah di majalah Ekspres.

Satu saat Mamang  dapat tugas mewawancarai Arifin C Noer di TIM. Membaca daftar pertanyaan, Mamang langsung menjawab bahwa tak usah ditanyakan ke Arifin, ia sendiri bisa menjawab. Baru setelah dijelaskan, Mamang jalan. Hasilnya, bukan Arifin yang diwawancarai, tapi Arifin yang mewawancarai Mamang.

Untung dalam tempo singkat, almarhum akhirnya memutuskan pindah ke film. Filmlah yang membuatnya jaya. Tetapi benarkah film juga yang sudah menghentikan langkahnya?

Meskipun tubuhnya terlalu berat, tapi Mamang yang selalu ceria, jarang sakit. Hanya di bulan Ramadhan lalu, ia shooting stripping untuk tayangan televisi. Usai itu ia mengalami penyumbatan, disusul gula darahnya naik drastis. Kemudian struk dan akhirnya pergi selamanya si RS Islam Pondok Kopi.

Orang baik, yang telah berbuat banyak tak pernah pergi. Ia selalu tinggal dan hidup di lubuk hati kita. Ketekunan dan keimanan almarhum yang teguh, menjadi inpirasi pada para sineas penerusnya.

Astya Puri 2,  8 okt. ’13

Begini aksi baca puisi Chaerul Umam

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: