Catatan Sutradara KMGP The Movie

Bukan hal yang mudah bagi seorang sutradara jika dihadapkan pada pilihan menggarap bintang baru sebagai pemeran utama dalam sebuah film. Terlebih lagi jika jumlahnya lebih dari 1 orang. Dari sekian banyak film, tidak banyak produser dan sutradara yang melakukan hal tersebut. Bila adapun, itu pasti dilakukan oleh sutradara kawakan yang telah banyak pengalaman mengarahkan pemain. Bukan sutradara debutan seperti saya. Meski begitu, di Film Ketika Mas Gagah Pergi the movie 1 dan 2, saya menerima tantangan besar ini sebagai upaya untuk melahirkan bintang baru yang bisa menjadi idola baru remaja yang tidak hanya seperti bintang biasa, tetapi juga bisa menjadi suri teladan yang baik bagi generasi muda.

 

VISI CHAERUL UMAM

Chaerul Umam dan Firman Syah
Chaerul Umam dan Firman Syah di lokasi syuting Cinta Suci Zahrana.

Ketika pertama kali diminta untuk menyutradarai film yang diangkat dari novellet karya Helvy Tiana Rosa ini, saya seperti tidak percaya bahwa karya legendaris yang berberapa kali hendak difilmkan dan diincar oleh banyak produser dan sutradara ini ditakdirkan berada di tangan saya. Ada sedikit keraguan, apakah saya mampu? Apakah saya orang yang tepat? Mengingat dan mengukur diri bahwa saya bukanlah sutradara ternama dengan sejumlah rekam jejak yang fenomenal. Tetapi sejumlah keraguan ini perlahan pupus terlebih setelah Bunda Helvy mengungkapkan bahwa sutradara reliji ternama yang telah mangkat sekaligus Kyai saya di bidang sinematografi: Chaerul Umam, pernah berwasiat bahwa jika suatu saat bukan dirinya yang menyutradarai film Ketika Mas Gagah Pergi ini, maka orang yang tepat menyutradarainya- disebutlah nama saya.

Chaerul Umam adalah sutradara yang mempunyai visi besar tentang bagaimana film inspiratif dibuat. Bukan hanya karena kisahnya, tetapi juga menyangkut pemain utama yang juga bisa menjadi panutan bagi orang ramai. Seperti saat beliau menggarap film Fatahillah (1996). Beliau memunculkan Igo Ilham yang bukan dari artis ternama, melainkan seorang dai. Figur Fatahillah, tidak hanya hidup di dalam dunia fiksi yang penuh citra, tetapi juga hidup dalam dunia nyata. Dalam hidup pemeran utamanya. Belasan tahun kemudian, beliau menggarap film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 yang menampilkan figur panutan dalam keseharian. Mereka adalah Cholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Meyda Sefira, dan Andi Arsyil Rahman Putra.

Chaerul Umam tidak hanya berusaha menghadirkan bintang baru yang bisa menjadi tauladan, tetapi juga membina artis-artis yang telah termasyhur untuk menjalani hidup yang lebih Islami. Ada sekian artis yang terwarnai keIslamannya seperti Anneke Putri, Berliana Febrianti, Sahrul Gunawan, dan El Manik, dan beberapa artis lainnya yang saat ini aktif dalam pengajian dan kegiatan keIslaman lainnya.

Ya, beliaulah yang seyogyanya menyutradarai film ini jika masih hidup. Wasiat itulah yang kemudian membesarkan hati saya. Bahwa kisah yang sudah melegenda ini harus digarap dengan segenap jiwa agar harapan dari para pembaca yang telah bertahun-tahun menanti kisah ini difilmkan dapat terpenuhi.

Para pemeran utama KMGP the movie ini: Hamas Syahid, Aquino Umar, Masaji Wijayanto, dan Izzah Ajrina tidak hanya dibekali dengan ilmu seni akting, pemeranan dan seni bela diri, tetapi diberikan juga pemahaman Islam oleh Ustadz Abdullah Syafii dan Irfan Enjo. Semua itu dilakukan agar tujuan untuk melanjutkan cita-cita besar Chaerul Umam menghadirkan figur publik baru yang tidak hanya baik dalam rekaan citra di film melainkan juga sebagai wahana pengembangan diri artis tersebut dan menjadi figur baik yang bisa dicontoh oleh generasi muda.

Semoga upaya ini bernilai ibadah dan bisa menjaga konsistensi regenerasi artis muda teladan tanpa terputus sepeninggal Chaerul Umam. Selanjutnya adalah segala ikhtiar ini diresapi oleh para bintang muda KMGP untuk diterapkan dan dijaga konsistensinya.

EKSPEKTASI PEMBACA DAN ADAPTASI NOVELLET

Untuk memenuhi ekspektasi pembaca novellet yang diterbitkan pertama kali di tahun 1993 tentulah tidaklah mudah. Para pembaca KMGP (Ketika Mas Gagah Pergi) di tahun 1990-an sekarang ini tentulah sudah tidak remaja lagi. Sedangkan film ini tidak ditujukan hanya untuk para pembaca dulu yang telah beranjak dewasa, tetapi juga diperuntukkan kepada pembaca kini yang masih belia dan tentunya kepada berbagai kalangan di semua jenjang usia. Jika banyak unsur dari cerita asli masih menggunakan elemen di akhir 1990-an hingga awal tahun 2000-an, maka di film KMGP harus ada pembaruan di berbagai aspek. Karena kisah ini jiwa remajawinya sangat kental sekali.

Elemen-elemen kekinian yang sangat lekat dengan remaja seperti ponsel pintar, bahasa gaul remaja yang paling mutakhir, idiom-idom baru, busana, riasan, dan berbagai hal lainnya menjadi perhatian khusus agar film dapat diterima oleh mereka yang menjadi target penonton utama. Agar pesan-pesan Islami dapat diterima tanpa ada kesenjangan akibat ketidakbaruan elemen yang ditampilkan.

Proses adaptasi dari novellet yang dasar ceritanya dari sebuah cerpen yang terbit pertama kali di majalah Annida tahun 1993 ini butuh banyak pengayaan di berbagai hal. Baik dari karakterisasi tokoh, alur cerita, set, properti, dan suasana.

Perpindahan set dari Madura ke Ternate di mana tempat Kyai Gufron bermukim, serta merta juga mengubah beberapa set lainnya agar tetap ada kesinambungan dan kesatuan film. Elemen air dan laut menyatu dalam beberapa proses perubahan karakter tokoh dalam film. Saat Mas Gagah masih hedon, proses berubah di Ternate, hingga menjadi bagian bersama mantan preman di Rumah Cinta.

Elemen Pantai Di FIlm KMGP the Movie
Elemen pantai di 3 fase perubahan Mas Gagah.

Namun dalam semua proses adaptasi novellet ke film, yang paling utama adalah mempertahankan esensi dan spirit dari kisah itu. Ada misi ubah baik, hidayah, jilbab, budaya tanding, kedermawanan, dan kerelawanan.

Jika kisah Mas Gagah, Gita, Yudi, Nadia, dan Preman Insyaf, ini telah  banyak menginspirasi pembacanya, maka harapan saya sebagai sutradara adalah film KMGP the movie ini mampu menginspirasi lebih banyak lagi penonton dan masyarakat Indonesia.

 

APRESIASI PENONTON

Hj. Badriah Hassanu
Bersama Ibunda Hj. Badriah Hassanu

Ada apresiasi yang paling berkesan dari sekian banyak apresiasi penonton film ini yaitu dari ibu saya: Hj. Badriah Hassanu. Saat mendapat kabar bahwa film KMGP akan tayang perdana tanggal 15 Januari 2016,  beliau segera terbang dari Sorong, Papua Barat bersama adik saya Astriany Syam untuk memberi suntikan moril. Meski kondisi fisik beliau kurang fit saat itu, beliau tetap bersemangat datang di hari itu dan tanpa jeda istirahat dari bandara langsung berangkat menuju Plasa Senayan tempat berlangsungnya gala premier. Sejenak saya teringat masa kecil saat libur lebaran belaiu mengajak saya menonton film di bioskop. Film yang kami tonton adalah film Indonesia dengan tokoh utamanya A. Rafiq. Saya sangat takjub dengan suasana di bioskop saat itu. Maklumlah baru pertama kali. Ada rasa yang berbeda jika menonton film di televisi dengan menonton di bioskop. Lampu yang dimatikan. Suara ramai penonton bereaksi atas adegan film. Dan suasana lainnya. Kenangan itulah yang tersimpan baik di memori saya hingga suatu saat saya memutuskan untuk menjadi pembuat film.

Saya lantas teringat juga dengan perjuangan beliau saat mengantar saya untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi. Beliau menurut saja dengan keinginan saya menjadi sutradara film yang agak aneh kedengarannya bagi seorang lulusan pondok pesantren, begitu kata beberapa anggota keluarga. Tetapi beliau tak menghiraukan pendapat-pendapat itu. Beliau lebih memilih mengikuti kemauan anaknya. Apapun dilakukannya demi keinginan dan kebahagiaan sang anak. Semoga Allah selalu merahmati dan menyayangi beliau.

Indahnya apresiasi dari seorang ibu ini seperti menular kepada banyak penonton dari berbagai kalangan. Saat gala premier, saya menyaksikan bagaimana penonton tertawa dan terisak menyaksikan adegan-adegan dalam film. Mereka terhanyut dalam emosi dan suasana. Lalu di akhir film, mereka menggantungkan rasa penasarannya ingin menyaksikan kelanjutan kisah Mas Gagah, Gita, Yudi, dan Nadia ini. Tidak sedikit tokoh nasional yang menjabat erat tangan saya mengucapkan kekagumannya akan keindahan sinematik film. Menyatakan bahwa film KMGP sarat dengan pesan moral tanpa merasa digurui. Yang saya ingat, mereka adalah Gubernur Maluku Utara beserta staff. Marissa Haque dan Ikang Fawzi beserta keluarga. Nurman Priatna dan beberapa orang dari tim Aksi Cepat Tanggap. Irfan Enjo beserta alumni dan aktivis KAMMI. Dani Sapawie, Habiburrahman El-Shirazy, DR. Syaiful Bahri dan beberapa pimpinan MUI juga ikut mengapresiasi hasil kerja kami.

Saat tayang regular dan nobar di berbagai daerah, film KMGP ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai tokoh seperti dari Bapak Din Syamsuddin, Arya Bima, Adhyaksa Dault, Sohibul Iman, Ust. Erick Yusuf, Oki Setiana Dewi, Sefira Meyda, Ahmad Heriyawan, dan tokoh masyarakat lainnya.

Apresiasi yang tulus dan tak terduga juga saya dapatkan dari beberapa sahabat seperti oleh Hikmat Usman yang menonton film ini lebih dari 20 kali bahkan sampai mengumpulkan potongan tiket sebanyak 2000 lembar agar bisa mendapat bonus nobar di XXI TIM sebagai upaya solidaritas terhadap Masjid Amir Hamzah yang telah lama dibongkar dan urung dibangun kembali.

Nobar-KMGP-bersama-Hikmat-Usman-dan-Mimazah
Nobar bersama aktivis Mimazah IKJ.

Saudara sepupu saya, Faturrahman juga Tante Darhana Nontji mengajak nobar keluarga di Makassar. Beberapa sahabat sesama alumni Pesantren Darul Arqam Gombara seperti Hartini Makkasau, Tabix Tabi, dan kawan-kawan ikut nobar di hari perdana tayang regular, bahkan ada yang beberapa kali nonton bersama keluarga dan rekan lainnya. Sahabat saya Arum Spink anggota legislatif DPRD Sulsel mengajak rekan seangkatan dan sejumlah warga Makassar untuk nobar. Sahabat saya Muzayyin Arif dan Ustadz Muzakkir Arif beserta rombongan santri pesantren Darul Istiqomah pun berbondong-bondong ke bioskop untuk mengapresiasi film yang bernuansa dakwah Islam ini. Tak ketinggalan teman-teman alumni dan aktivis Mimazah ramai mengajak keluarga dan kerabat menyaksikan film dari kisah fenomenal ini. Sahabat saya Yan Haryadie tak mau ketinggalan mengajak keluarga dan rombongannya nobar di Plaza Depok. Teman-teman anak saya beserta guru dan wali murid di SDIT Said Naum pun heboh nonton bareng di XXI Planet Hollywood. Sahabat saya, Muhammad Nur (Nuno) yang telah lebih dulu menonton kemudian mengajak keluarga besarnya untuk menonton yang kedua kali. Ada yang tak saya duga yaitu adik kelas saya DR. Muhammad Khairil Anwar seorang dosen di Palu mengendors film ini sebagai film yang layak ditonton. Kesemua ini ada dalam catatan kecil saya bagaimana para sahabat dan kerabat dekat mengapresiasi dan mendukung film KMGP the movie agar tetap bertahan di layar bioskop. Agar film baik ini tetap bisa dinikmati masyarakat luas.

Nobar KMGP bersama siswa SDIT Said Naum
Nobar bersama siswa SDIT Said Naum, Jakarta.

Saat saya diundang nobar di Bintaro Plaza, saya terharu dengan seorang anggota legislatif DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera yang menginisiasi program sedekah tiket. Beliau tak punya televisi di rumahnya dan sangat jarang mengunjungi bioskop. Tetapi beliau merasa bahwa film KMGP ini sangat baik ditonton oleh simpatisan dan masyarakat di daerahnya. Saat nobar di Ternate, ada anggota legislatif dari Partai PDI Perjuangan yang telah nonton di Jakarta, lalu nonton lagi beberapa kali berserta keluarga dan rombongan. Begitu juga dengan seorang Aleg kota Ternate dari Partai Nasdem: Ibu Nurlela yang beberapa kali nonton dan mengajak masyarakat untuk menyaksikan film yang katanya inspiratif ini.

Di Ampana, saya mendapati tiga orang Mas-Mas yang sedang dinas di kota itu, iseng ingin menonton KMGP the movie karena sedang tidak ada aktivitas dan kebetulan menginap di hotel Ananda tempat nobar berlangsung. Dalam hati saya paling juga di pertengahan film mereka keluar, atau kalau nggak setelah pemutaran film, paling reaksi mereka biasa aja. Eh, ternyata di luar dugaan saya, setelah nonton mereka menyalami saya erat-erat lalu mengatakan bahwa mereka jarang mau menonton film Indonesia karena merasa kualitasnya di bawah standar. Tetapi ternyata film KMGP ini di atas ekspektasi mereka. Seperti inilah film Indonesia yang mereka harapkan. Mereka lalu membeli novel KMGP untuk saya tandatangani. Karena saya masih takjub atas respon mereka, saya bengong saja sambil membubuhkan tandatangan di buku yang baru mereka beli.

Di Ampana saya juga mendapati seorang ibu yang mensedekahkan tiket bagi anak-anak yatim piatu di sana. Sambil menangis beliau menuturkan bahwa beliau ingin sekali anak-anak yatim itu mendapat inspirasi dan pelajaran dari film yang baik ini. Bahwa dia tidak ingin anak-anak ini mendapat pengaruh negatif dari turis-turis asing yang telah ramai berkunjung di kabupaten Tojo Una Una itu.

Mendengar tanggapan dari ibu itu, saya kembali teringat masa kecil saya yang terkenang saat pertama kali menonton di bioskop. Mungkin beginilah pengalaman yang dirasakan oleh anak-anak yatim tersebut. Mendapatkan pengalaman baru menonton, sekaligus juga mendapatkan pelajaran berharga dari film baik seperti Ketika Mas Gagah Pergi the movie ini.

Nobar film KMGP di Ampana Sulteng
Nobar bersama anak-anak di Ampana, Sulawesi Tengah.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: