Cara Membuat Karakterisasi Tokoh Dalam Skenario Film dan Sinetron

Hal yang menarik dalam pembuatan skenario adalah membuat karakterisasi setiap tokoh dalam cerita film atau sinetron kita. Sebab dengan karakter yang unik, cerita bisa berjalan dengan sendirinya sesuai karakter-karakter dalam tokoh tersebut. Penulis skenario tidak perlu berpikir keras untuk membuat cerita karena tokoh itu sendiri yang akan membuatnya jalan ceritanya sendiri. Benturan antarkarakter pun akan terjadi dengan sendirinya. Dialog-dialog yang dituturkan akan meluncur begitu saja sesuai dengan karakter masing-masing.

Ada yang beranggapan bahwa karakterisasi itu dibuat untuk memperkuat pondasi cerita. Tetapi beberapa penulis berpengalaman bilang bahwa dari karakter lah yang menjadi pondasi cerita. Plot bergulir karena karakter lah yang menghendaki demikian. Kita bisa mencoba kedua pendapat tersebut, mana yang lebih sesuai untuk gaya penulisan kita sendiri.

Ada 5 hal penting agar kita bisa mendapatkan karakter yang kuat sehingga karakter tersebut bisa membuat jalan ceritanya sendiri. Apa saja itu? Mari kita cap cus langsung ke bawah.

  1. Unik

Buat karakter yang unik yang sangat jarang digunakan dalam film-film lain atau sangat jarang terjadi di dunia nyata. Pilih karakter yang anti mainstream. Ada banyak contoh di kehidupan nyata yang bisa menjadi inspirasi. Agar tokoh kita benar-benar unik. Coba untuk mengkombinasikan 2 atau lebih karakter dalam satu tokoh. Misalnya nih, tokoh Profesor di serial Money Heist di platform Netlix yang sangat pintar. Serba tahu segala ilmu pengetahuan, punya wawasan yang sangat luas, sangat detil merencanakan aksi perampokan, tapi terlihat ragu dengan rencana-rencananya tersebut. Dia tidak sekolah tetapi menjuluki dirinya professor dan teman-temannya pun mengakuinya professor yang memiliki kecerdasan luar biasa.

Di sinetron “Jangan Panggil Gue Pak Haji” Babe Markum sehari-hari berpenampilan seperti Pak Haji tapi sangat tidak mau dipanggil “Pak Haji” karena dia memang belum berhaji, baru berencana mau pergi beribadah haji ke Mekkah.

Amelie Poulain di film Perancis “Amelie” seorang gadis yang kurang gaul tapi mempunyai kebiasaan-kebiasaan unik seperti memperhatikan hal-hal kecil yang tidak orang lain perhatikan. Dari kebiasaan itulah dia berhasil menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi orang lain di sekitarnya. Untuk lebih jelasnya sila nonton sendiri film Amelie.

2. Baik atau Jahat

Dari banyaknya tokoh yang ada di film, karakter tokoh harus jelas apakah dia protagonist atau antagonis. Kalau protagonis harus ada kebaikan dari tokoh tersebut agar penonton dapat bersimpati dan mendukung segala aktivitasnya. Sedangkan antagonis harus ada kejahatan yang dilakukannya sehingga penonton berantipati terhadapnya.

Contoh unik adalah di film “Godfather” yang tokoh utamanya adalah seorang mafia. Mafia bagi kebanyakan orang adalah tokoh jahat, tapi di dalam film tersebut ditonjolkan kebaikan-kebaikan godfather sehingga kita tetap bersimpati dan mendukung aksi-aksinya.

3. Tidak Sempurna atau Ada Kelemahan

Tokoh protagonis kita itu sudah ganteng, jago silat, dan baik hati. Tapi jangan terlalu dibuat sempurna. Ada sedikit kelemahan yang ditampilkan dan penjahat itu mengetahuinya. Umpamanya Jet Lee guru kungfu yang sangat sakti. Tak ada lawan yang mampu menandinginya. Bahkan 1000 musuh pun dapat ditaklukkan hanya dengan menggunakan 2 jurus. Jika tokoh tanpa kelemahan, penonton tidak akan dibuat was-was. Nggak akan bertanya, menang gak nih? Pastilah menang. Tapi kalau ada kelemahan dan itu diketahui lawan, ceritanya pun akan lebih seru. Penonton bakal deg-degan. Waduh. Bisa kalah nih jagoan kita.

Kelemahan bisa internal bisa juga eksternal. Kelemahan eksternal ini mungkin Jet Lee mempunyai anak yang harus dilindungi saat berkelahi. Kelemahan internal yaitu dari diri sendiri yaitu ternyata Jet Lee tidak tahan dikelitikin. Jadi kalau pinggangnya disentuh lawan, maka dia akan menggelepar.

4. Detil

Semakin detil kita membuat karakter, semakin bagus. Detil-detil itulah yang akan menjalankan ceritanya sendiri. Dari nama tokoh saja bisa membuat jalan cerita berbelok. Ini bisa kita lihat di film “3 Idiots”. Rancho yang kita kenal ternyata bukan nama aslinya. Nama tersebut justru adalah nama orang lain yang digunakan untuk kuliah di kampus tersebut. Akhirnya teman-teman Rancho ini pun kelabakan mencari temannya sendiri yang tidak diketahui namanya. Ulasan detil tentang karakter di film “3 Idiots” bisa dilihat disini. Tentang apa saja yang bisa didetilkan bisa kalian lihat di penjelasan di bawah.

5. Konsistensi

Karakter dalam tokoh itu harus konsisten karena karakter yang mudah berubah-ubah akan membingunkan penonton. Kadang baik, kadang jahat, kadang pintar kadang bodoh. Jadi ini tokoh maunya apa sih sebenarnya? Bingung penonton. Karakter bisa dibilang karakter karena kuat melekat di diri tokoh. Seorang tokoh disebut berkarakter karena konsisten dengan karakter tersebut. Sebuah kebiasaan yang selalu berulang.

Contoh sederhana yaitu di serial “Bajaj Bajuri” ada seorang tokoh yang selalu minta maaf. Dia akan selalu bilang: “Maaf, bukannya saya… tapi maaf….” Tokoh ini menjadi unik dan akan selalu diingat penonton.

Karena karakter itu konsisten maka tidak mudah untuk mengubah sebuah karakter. Ada sebuah kisah fabel yang menyangkut tentang betapa sulitnya karakter itu diubah.

Seekor kalajengking mendatangi seekor katak yang sedang duduk santai di pinggir sungai yang meluap oleh banjir. “Bung Katak, sungai ini terlalu lebar bagi saya untuk berenang. Bisa tolong bawa saya di punggung Anda untuk menyeberang?”

“Oh, tidak bisa, Bung,” jawab Katak. “Nanti ketika kita sampai di tengah sungai, Bung akan membunuh saya dengan sengatan Bung.”

“Mengapa saya akan melakukan itu?” Tanya kalajengking. “Jika saya membunuh Anda, Anda akan tenggelam ke dasar dan saya juga akan tenggelam.”

Katak tidak menaruh curiga kepada kalajengking karena alasannya sangat masuk akal.

“Okelah kalau begitu,” kata Katak. “Naiklah.”

“Terima kasih banyak, Bung Katak,” kata Kalajengking sambil melompat ke atas punggung Katak.

Katak adalah perenang yang kuat, dan dalam waktu singkat mereka sampai di tengah sungai, nampak masih terlalu jauh bagi Kalajengking untuk mendapatkan posisi aman ke tepi sungai. Tapi, Kalajengking tetap menyengat katak. Sang Katak mulai mati karena racun, dan Kalajengking mulai tenggelam karena ia telah kehilangan penopangnya. Katak bertanya setengah tidak percaya, “Mengapa? Mengapa Anda menyengat saya? “

Kalajengking menjawab, “Ini sudah karakter saya.”

Begitulah karakter. Tidak bisa berubah meski dalam keadaan genting nan berbahaya.

Detil Karakter

  • Nama lengkap :   
  • Nama sesuai kartu identitas :
  • Nama panggilan :   
  • Tempat dan tanggal lahir :   

Kultural

  • Ras / suku bangsa :   
  • Agama / kepercayaan :   
  • Status pernikahan :  
  • Bahasa yang digunakan sehari-hari :
  • Figur favorit(tokoh yang dikagumi, boleh rekaan):
  • Olahraga favorit :  
  • Hiburan favorit :     
  • Acara TV favorit :   
  • Bacaan favorit :
  • Musik favorit :
  • Film favorit:   
  • Tempat favorit:
  • Tempat tujuan favorit:
  • Binatang favorit:   
  • Binatang peliharaan:   
  • Minuman favorit:
  • Jenis minuman alkohol favorit (kalau ada, sebutkan tingkat kekerapan minum):
  • Rokok favorit(kalau ada, sebuatkan tingkat kekerapan merokok):
  • Istilah, pepatah kesukaan(kutipan dari media, kitab suci atau ucapan orang lain):
  • Filsafat hidup(filsafat pribadi):

Skill

  • Pelatihan keterampilan khusus:   
  • Keterampilan khusus: (yang diasah sendiri)
  • Pengalaman militer/organisasi:   
  • Kemampuan dan bakat:   
  • Keahlian mengendarai :(sebutkan juga jenis kendaraan)

Fisik

  • Tinggi badan:   
  • Berat badan:   
  • Bentuk tubuh:   
  • Kondisi fisik:
  • Warna kulit :   
  • Warna mata:   
  • Warna dan model rambut:   
  • Ciri khusus pada wajah atau penampilan:  
  • Kekurangan fisik : (atau keadaan fisik yang ingin dirubah oleh tokoh ini sendiri)
  • Penyakit yang diderita:   
  • Gerakan tangan khusus: (sebutkan juga keadaan tokoh saat melakukan ciri tersebut)
  • Gaya bicara :   
  • Kualitas suara:   
  • Ekspresi verbal:   
  • Penampilan :   
  • Gaya baju atau baju favorit:   
  • Cara berjalan:   
  • Cara mengatasi kemarahan:   
  • Makanan kesukaan:   
  • Diet:  
  • Ciri kesukaan pada lawan jenis:   
  • Ciri yang menggairahkan tokoh:   
  • Ciri yang tidak menggairahkan tokoh:   

Psikologis

  • Intelegensi Umum:
  • Kegemaran:
  • Warna favorit:   
  • Mudah tidaknya bergaul:   
  • Temperamen / watak:   
  • Sifat secara umum:   
  • Sifat yang paling disukai:   
  • Sifat yang paling tidak disukai:   
  • Aspek yang disangkal:   
  • Aspek yang tersembunyi:     
  • Keanehan:    (over / under reaktif mengenai hal tertentu)
  • Rasa humor :   
  • Perihal yang ditakuti:   
  • Benda hidup / mati yang ditakuti:   
  • Mania:   
  • Kelainan jiwa:  
  • Trauma dari masa lalu:        
  • Tujuan jangka pendek:  
  • Tujuan hidup jangka panjang:   
  • Masalah utama yang harus diatasi:   
  • Jalan keluar dari masalah utama:     (menurut tokoh ini)
  • Masalah kecil yang dihadapi :   
  • Jalan keluar dari masalah kecil:   (menurut tokoh ini)
  • Perkembangan yang dialami:  (dalam cerita)
  • Pengalaman kunci yang membentuk sifat:   

Sosial

  • Status pekerjaan:
  • Kelas ekonomi:
  • Pendidikan formal:  
  • Latar belakang keluarga / keturunan               : (berisi nama ayah-ibu, pekerjaan mereka, tokoh adalah anak ke berapa dari berapa bersaudara dan sanak saudara yang terlibat dalam cerita,)
  • Tempat tinggal: (mengambarkan rumah/kontrakan/kos, gaya arsitek bangunan, perumahan/perkampungan/perkotaan/urban, tata letak bangunan yang berpengaruh pada cerita, sistem sanitasi/MCK)
  • Lingkungan:     (keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan kerja/belajar/kegiatan)
  • Kedudukan dalam lingkungan:  (rincikan ke dalam keluarga, lingkugan tempat tinggal, lingkungan kerja/belajar/kegiatan)
  • Kebutuhan jangka pendek :     (menurut tokoh ini)
  • Kebutuhan jangka panjang:     (menurut tokoh ini)
  • Orang terdekat:  
  • Teman dekat:
  • Figur favorit:   (tokoh dalam cerita)
  • Kendaraan yang dimiliki:  

Personalisasi Lingkungan

  • Pendapat mengenai tokoh lain:    (tokoh dalam cerita)
  • Pendapat mengenai Ayah:
  • Pendapat mengenai Ibu:  
  • Pendapat mengenai keluarga:
  • Pendapat mengenai pertemanan:
  • Pendapat mengenai pekerjaan:
  • Pendapat mengenai persoalan lingkungan:   
  • Pendapat mengenai homoseksual:     
  • Pendapat mengenai kriminal:   
  • Pandangan politik:

Tidak semua poin di atas harus dilengkapi, namun semakin lengkap, tentunya semakin baik agar tokoh kita dapat bercerita dengan sendirinya.

BACA JUGA:

  1. Dasar Penulisan Skenario.
  2. Mengelola Konflik Dalam Sebuah Cerita Film.
  3. Struktur 3 Babak, Babak 1 Pembukaan
  4. Struktur 3 Babak, Babak 2 Pengembangan
  5. Struktur 3 Babak, Babak 3 Penyelesaian
  6. Contoh Proposal dan Skenario Film Pendek.
  7. Contoh Skenario Film Iklan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan