Cara Memberikan Pengertian Kepada Anak Tentang Gadget

Gadget atau gawai sudah menjadi perangkat wajib yang dimiliki setiap orang di zaman ini. Gawai bukan saja dimiliki oleh orang tua tetapi juga oleh anak-anak. Bahkan ada orang tua yang membekali balita mereka dengan gawai. Balita zaman now telah memiliki gawainya sendiri. Mungkin orang tua seperti itu berpikir bahwa hal termudah untuk menjinakkan anak adalah dengan memberikan beragam hiburan dari perangkat gadget itu. Biar anak nggak nangis lah. Biar anak anteng lah. Dan berbagai alasan lainnya.

Tetapi ketika anak mereka telah kecanduan gadget, barulah orang tua sadar bahwa mereka telah salah membelikan gadget bagi anak mereka. Saat anak tidak mau lepas dari gadget barulah orang tua panik bagaimana caranya agar anak tidak lagi kecanduan dan bisa lepas dari cengkeraman perangkat teknologi tersebut. Apalah diketahui, anak mereka sering mengakses konten-konten terlarang dan tidak pantas di usia mereka yang masih belia.

Nah bagaimana memberi pemahaman kepada anak untuk tidak selalu menggunakan gadget?

Sebelum anak terlalu jauh kecanduan dengan gadget, memang sebaiknya kita memberikan pemahaman yang benar tentang fungsi dasarnya.

Fungsi dasar hape (gawai) sejatinya adalah alat komunikasi. Seiring perkembangan zaman, hape tidak saja soal ngobrol jarak jauh dan bercengkerama dengan teks (chat, sms, dll). Hape juga menjadi sarana hiburan yang kapan saja dan dimana saja bisa kita akses. Kita bisa tertawa, terharu, dan uring-uringan, hanya dengan menatap hape dan memencet tombol-tombolnya. Nah, inilah yang menjadi persoalan ketika hape tersebut berada di tangan mereka yang tidak paham dengan fungsi hape sesungguhnya. Mereka yang belum dewasa dan cerdas dalam memilih dan memilah konten, akan tergiring mengkonsumsi hiburan apa saja tanpa ada filter. Terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Ada beberapa cara yang saya praktekkan selama ini:

Saya sejak awal memberi pengertian kepada anak-anak bahwa hape yang saya gunakan adalah untuk bekerja. Bukan untuk hiburan. Bukan untuk bersenang-senang.

Hape bagi saya adalah sarana untuk berkarya. Inilah pemahaman dasar yang saya tanamkan. Jadi akan terbawa di alam sadar anak-anak bahwa hape itu bukan sarana hiburan. Kalaupun ada hiburannya, ya sesekali saja. Hiburan digunakan untuk pelepas lelah saja. Bukan hal yang utama.

Jika tidak ada pemahaman dasar seperti ini, maka anak-anak akan selalu menganggap hape untuk bersenang-senang.

Ada juga di antara ayah bunda yang bertanya, cara menjauhkan anak-anak dari gadget tapi ayah bundanya bisnis online?

Nah itu tadi. Memberikan pemahaman dasar fungsi hape ini sangat penting.

Orangtua cerdas akan mengatakan kepada anaknya bahwa ayah atau ibu sedang bekerja. Ayah dan ibu mau buka toko. Ayah dan ibu lagi komunikasi dengan pelanggan. Cara ini sangat ampuh untuk menghindarkan anak dari pemahaman yang salah tentang gadget.

Anak-anak akan mengerti saat kita dalam waktu lama menggunakan gadget. Anak-anak akan terbiasa dengan cara kerja orangtuanya yang selalu menggunakan hape.

Bagaimana jika anak-anak terlanjur menonton video yang ada konten porno? Contoh film Upin Ipin yang menampilkan Kak Ros hamil dan melahirkan.

Cara pencegahannya adalah, jangan pernah menaruh televisi, laptop, computer, gadget di kamar mereka. Taruhlah barang-barang tersebut di ruang tamu atau ruang keluarga. Sehingga tontonan anak bisa terkontrol oleh orangtua. Damping anak kita saat mereka menjelajah di dunia maya (browsing).

Terkadang secara tidak sengaja, anak-anak yang ingin mencari tahu tentang kasih sayang terhadap orang tua atau saudara, ternyata mereka terdampar di situs-situs porno. Hal seperti inilah yang tidak orang tua harapkan terjadi kepada anak-anak. Rasa ingin tahu yang besar dari anak, tetap melewati pendampingan yang terarah.

Jika anak kita terlanjur mengakses pornografi bahkan menonton tayangan seronok, segera memberikan pemahaman bahwa hal tersebut tidak baik. Berikan pemahaman lebih lanjut tentang aurat laki-laki dan aurat perempuan. Kita tidak boleh melihat aurat orang lain. Apalagi membuka aurat di hadapan orang lain. Bahkan membuka aurat di kamera hape. Karena kamera hape bisa menjadi wahana orang lain melihat aurat kita. Selain kita yang berdosa, kita ikut pula membuat orang lain berdosa.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: