Belajar Dasar Fotografi Kamera Jadul

Niki and the gank sedang asyik berfoto dengan berbagai gaya. Mereka menggunakan handphone berkamera. Niki mengajak teman-temannya untuk belajar mengenal dasar-dasar fotografi kamera analog, atau kamera SLR yang masih menggunakan roll film.

Niki: Halo teman-teman di rumah dan di mana saja. Kalian tentunya senang difoto kan? Aku juga. Apalagi teman-temanku ini..

Adlib: Hu…

Niki: Dengan adanya kamera foto, kita bisa merekam peristiwa apa saja yang kita mau. Dengan foto, kita bisa   melihat sejarah masa lalu.

Teman 1:  Nggak usah pake mesin waktu.

Niki: Tapi pernah nggak kita tahu apa itu fotografi, gimana cara kerja kamera?

Teman 1: Bodo ah…

Teman 2: Boro-boro. Kita kan cuma tau makek doang.

Teman 3: Generasi instan gitu loh. Hahaha.

Niki: Gini deh. Aku punya saudara yang kerja di studio foto loh, gimana kalau kita nanya ke dia tentang fotografi? Kebetulan aku mau ke sana. Teman-teman di rumah pasti mau juga kan?

Teman 1: Cape de…

Teman 2: Males ah…

Niki: Bener nich nggak mau ikutan? Tapi jangan nyesel yah kalau aku dijadiin modelnya?

Teman 3: Jadi foto model? Iya deh, mau deh.

 

NIKI DKK TIBA DI STUDIO FOTO.

 

Sapto: Gimana foto-fotonya?

Adlib: Keren..bagus..

Niki: Ayo dong Kak, kita udah penasaran nih mau jadi model.

Sapto: Sabar dong… sebelumnya, kakak akan menjelaskan terlebih dahulu  asal muasal fotografi. Kalian harus tahu.

Sampai zaman digital sekarang ini, fotografi- tentu saja selalu berhubungan dengan kamera, punya perjalanan yang sangat panjang sekali. Yaitu dimulai dengan adanya tehnik ruang gelap pada tahun 1600. Yang dalam bahasa latinnya disebut Camera Obscura.

Narator: Kamera berarti ruang atau kamar. Obscura berarti gelap.

Camera obscura merupakan kotak persegi yang di salahsatu sisi bagiannya terdapat sebuah lubang. Dari lubang itu timbul gambar yang kemudian direfleksikan, sehingga bayangan yang timbul dapat digunakan sebagai penuntun bagi orang yang menggambar bayangan tersebut.

Sekitar awal abad tujuh belas, lubang tadi kemudian diisi dengan lensa cembung, agar dapat menghasilkan bayangan yang lebih terang.

Pada tahun 1826, Joseph Niepce membuat percobaan dengan lempengan metal yang dilapisi campuran timah dan bahan kimia lainnya untuk membuat sebuah gambar foto yang permanen.

Lalu pada tahun 1839, Louis Daguerre dan Henry Talbot juga membuat percobaan dengan bahan kimia yang terdiri dari campuran perak bakar.

Lalu George Eastman pada tahun 1988 membuat kamera yang diisi 100 gambar. Lalu pada tahun 1900, perusahaan Kodak pimpinan George Eastman  mulai memproduksi secara massal kamera Brownie. Sebuah kamera yang dapat diisi kembali. Pada saat itu, kamera ini menjadi terkenal.

 

Niki: Benar-benar sejarah yang panjang dan lebar… Apa coba… tapi itu kan sejarahnya. Kita belum tahu kamera itu apa?

Teman 1: Ye..semuanya juga sudah tahu… masak kamu belum tahu?

Teman 2: Iya… udah kita langsung aja ke acara pemotretan. Udah nggak sabar nih pengen jadi model.

Sapto: Benar itu…

Teman 1: (merasa bangga)Tuh kan…

Sapto: Maksudnya benar apa yang dibilang Niki. Masih banyak yang perlu diketahui sebelum kalian difoto.

Teman 3: Apalagi…

Sapto: Yaitu tentang bagian-bagian kamera…

Teman 3: Apa hubungannya keterangan begituan dengan kita?

Sapto: Nanti kalian akan tahu. Begini, dalam dunia fotografi, kamera adalah alat yang paling populer yang merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan imaji.

Narator: Ada empat bagian dasar kamera yang kerap dimiliki oleh jenis kamera apa saja.

  1. kotak yang kedap cahaya atau badan kamera.
  2. sistem lensa.
  3. pemantik potret atau (shutter).
  4. pemutar film, khusus film analog.

Badan adalah bagian yang sama sekali kedap cahaya. Di dalam bagian ini cahaya yang sudah difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat membakar film.

Yang kedua adalah sistem lensa. Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak. Berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik atau kaca. Atau sejumlah lensa yang tersusun dalam suatu silinder logam.

Yang ketiga adalah pemantik potret atau shutter. Tombol ini dipasang di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR (single lens reflect).

Dan yang keempat adalah pemutar film. Yaitu mekanisme memutar film gulungan agar bagian-bagian film itu bergantian dapat disingkapkan.

Kak Sapto: Teknologi fotografi selalu berkembang. Dengan adanya kamera digital, kita tidak perlu lagi menggunakan film. Foto yang kita jepret akan tersimpan dalam sebuah memory card. Meski begitu, masih banyak fotografer yang tetap setia menggunakan roll film. Mereka menganggap kualitas gambar masih lebih unggul dengan menggunakan film.

Niki: O begitu… jadi yang kita pelajari ini tentang fotografi apa?apa kamera analog atau digital?

Sapto: Prinsip kerjanya sih tidak terlalu jauh berbeda. Hanya saja kamera digital memiliki menu-menu tambahan yang tidak dimiliki oleh kamera analog atau yang masih menggunakan film.

Teman 1: Tapi kapan nih jadi modelnya?

Teman 2: Iya…dari tadi janji-janji melulu..

Sapto: Sabar…kalian semua pasti akan jadi model…

Niki: Baiklah teman-teman dimana saja berada. Saksikan aksi foto model teman-teman aku ini setelah jeda berikut ini

Adlib: Huh….

Niki: Oke Kak Sapto, kami udah siap nih jadi foto model.

Sapto: Oke. Tapi ada baiknya kalian mengetahui yang satu ini dulu.

Teman 2: Apalagi?

Sapto: Tentang jenis-jenis kamera. Yang pertama yaitu kamera film. Seperti ini nih.

Narator: Kamera film menggunakan film seluloid. Atau biasa kita sebut roll film. Butiran silver halida atau istilah kimianya adalah AgBr singkatan dari Argentum Bromida ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terkspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam. Sedangkan yang kurang atau sama sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).

Ada dua jenis film, yaitu film negatif dan film slide. Film negatif dimaksudkan untuk membuat foto cetakan. Film slide dimaksudkan untuk diproyeksikan, namun bisa juga dicetak. Biasanya film slide hanya tersedia yang berwarna sedangkan film negatif tersedia juga yang hitam putih.

Kita sering mendengar ASA film 100, 200, 400 dan sebagainya. Itu berarti kita sedang menyebutkan kecepatan film yang berhubungan dengan kepekaan film terhadap cahaya. Kecepatan film dinyatakan dengan angka ISO atau ASA. Semakin besar angkanya berarti semakin peka film itu terhadap cahaya. Film ASA 200 berarti duakali lebih peka daripada film ASA 100. dan setengah lebih peka daripada ASA 400.

Untuk warna, film juga terbagi dua jenis, yaitu film tungsten dan film daylight.

Film tungsten yang digunakan pada pencahayaan tungsten.

Film tungsten yang digunakan pada pencahayaan dayllight akan menberikan gambar yang kebiruan.

Film daylight yang digunakan pada pencahayaan daylight.

Film daylight yang digunakan pada pencahayaan tungsten, akan menghasilkan gambar yang berwarna jingga.

 

Sapto: Tuh..makanya jangan sampai salah milih jenis film. Pakai film dengan ASA tinggi kalau penerangannya kurang. Atau ingin menghentikan gerakan cepat dari obyek yang kita potret. Tapi ingat, film ASA tinggi akan menghasilkan gambar dengan butiran yang kasar bila kita cetak dengan ukuran yang besar. Gunakan ASA dengan kecepatan rendah atau medium saat pencahayaannya terang atau cukup.

Niki: Wah ternyata penting juga yah kita tahu yang beginian.

Teman 1: Pantesan foto-foto aku banyak yang warnanya aneh. ada yang kebiru-biruan lah, kehijau-hijauan lah. Kekuning-kuningan.

Teman 2: Untung sekarang kita belajar fotografi.

Teman 3: Seru juga.. trus apalagi kak?

Sapto: Selain kamera film, ada juga kamera polaroid. Kamera jenis ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga kita tidak perlu melakukan proses cuci cetak film. Seperti ini..

Teman 1: Enakan pake ini yah? Nggak perlu ke tukang cuci cetak lagi. langsung bisa kita lihat hasilnya.

Sapto: Hanya saja kita nggak punya film negatif yang bisa kita cetak kedua kalinya.

Teman 1: Bener juga yah.

Sapto: Ada lagi jenis kamera penangkap cahaya lainnya yaitu kamera digital. Gambar yang telah kita potret akan disimpan dalam sebuah memory card. Ini kita bisa lihat langsung hasilnya, dan filenya bisa kita olah sesuai keinginan kita, dan bisa kita cetak berulang kali dengan pembesaran yang kita kehendaki.

Narator: Jenis Kamera berdasarkan mekanisme kerja.

  1. kamera single lens reflect

kamera ini memiliki cermin datar dengan singkap 45 derajat di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang adalah juga pa yang akan ditangkap pada film.

  1. kamera instan/auto

istilah instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya, lebar diafragma, dan kecepatan pemetik potren secara automatis telah diatur.

 

Kamera berdasarkan mekanisme kerja.

Kamera saku.

Jenis yang paling populer digunakan masyarakat umum. Lensa utama tidak bisa diganti. Umumnya automatis atau memerlukan sedikit penyetelan cahaya yang melewati lensa. Kelemahan kamera ini adalah gambar yang ditangkap oleh mata akan berbeda dengan yang dihasilkan film, karena ada perbedaan sudut pandang jendela pembidik (viewfinder) dengan lensa.

Kamera TLR (twins lens reflect)

Kamera TLR memperbaiki kelemahan kamera poket (saku). Jendela bidik diberikan lensa yang identik dengan lensa di bawahnya. Namun tetap ada kesalahan paralaks yang ditimbulkan sebab sudut dan posisi kedua lensa tidak sama.

Kamera SLR (single lens reflect)

Pada kamera SLR, cahaya yang masuk ke dalam kamera dibelokkan ke mata fotografer sehinga fotografer mendapatkan bayangan yang identik dengan yang akan terbentuk. Saat fotografer memencet tombol kecepatan rana, cahaya akan dibelokkan kembali ke medium atau film. Lensa kamera SLR dapat diganti sesuai kebutuhan.

 

Niki: Kayaknya kamera SLR ini yang banyak digunakan fotografer profesional yah?

Sapto: Iya, karena lensanya dapat digonta-ganti, tombol-tombolnya banyak yang bisa digunakan untuk kebutuhan fotografer.

Teman 1: Tapi apa gunanya tombol-tombol ini?

Teman 2: Iya, bikin pusing aja.

Sapto: Tapi kalau kalian sudah tahu semua fungsinya, kalian akan tertarik mencobanya.

Teman 3: Yang ini untuk apa?

Narator: Sepintas lalu, gelang, tombol, tuas, dan skala tampak banyak tersebar di seluruh permukaan kamera SLR. Padahal semua alat kontrol hanya sedikit, disusun secara logika, dan mudah digunakan.

Meski kita harus terbiasa dengan semua kontorl pada kamera, ada tiga hal yang paling penting. Yaitu kecepatan rana, bukaan diafragma, dan fokus.

Rana atau shutter speed adalah tirai yang bergerak horisontal atau vertikal yang terletak di depan film. Kita dapat menyetel rana kecepatan rana pada gelangnya.

Pada kamera otomatis bukaan diafragmanya, kita menyetel bukaan diafragma dan kameraka akam memilih keceparan rana yang sesuai agar pencahayaan tepat.

Sapto: Sekarang waktunya jadi foto model.

Adlib: Asyik…

Sapto: Kita akan mencoba bagaimana keceparan rana dapat mewujudkan foto yang kita inginkan. Coba pinjam sepeda itu… Niki kamu bawa sepeda itu dengan kecepatan sedang.

Kakak akan menyetel kecepatan rana di 1/250 detik.

Sekarang gantian Ayu. Kita akan menyetel kecepatan di 1/30 detik.

Adilib: Yang bener dong…jangan gila dong…

Sapto: Ya berikutnya foto model kita Aisah,

Dan sekarang kita coba kecepatan rana 1/8 detik.

Nah inilah hasilnya.

Narator: Kecepatan rana yang cepat menghasilkan gambar tajam dengan cara menangkap gerakan kamera dan subyek. Rana yang cepat seperti 1/500 detik membekukan gerakan yang cepat, sedangkan rana 1/15 detik tidak.

Terkadang kita tidak ingin menghentikan gerak, karena blur memberikan kesan suatu gerakan.

Niki: Di foto ini aku kok nggak jelas.

Teman 1: Di sini aku juga nggak jelas.

Adlib: (Protes…)

Sapto: Inilah yang namanya ruang tajam dan ada hubungan langsung dengan diafragma.

Niki: Apalagi itu?

Sapto: Diafragma kata lainnya adalah bukaan pada lensa. Bukaan besar akan memasukkan lebih banyak cahaya dan memberikan ruang tajam yang lebih sempit. Bukaan kecil memasukkan sedikit cahaya tetapi memberikan ruang tajam yang besar. Besar kecilnya bukaan atau diafragma penting dalam hal mengontrol pencahayaan dan ruang tajam.

Narator: Besar bukaan dinyatakan dalam angka-angka f, yang disebut pula sebagai f/stop. Angka-angka f dapat membingungkan karena angka kecil berarti lubang bukaan besar, dan angka besar berarti lubang bukaan kecil. Seperti ini.

Narator: Setiap bukaan akan meneruskan cahaya 2 kali lebih besar atau lebih kecil daripada angka f sebelum atau sesudahnya.

Narator: Ruang tajam adalah jarak antara obyek yang terdekat dan yang terjauh yang tampak fokus (tajam) dalam gambar.

Pada lensa, setiap bukaan yang lebih kecil membuat ruang tajam bertambah jauh.

Kita dapat menggunakan bukaan kecil seperti f/16 guna mendapatkan ruang tajam yang jauh pada waktu memotret pemandangan.

Kita dapat menggunakan bukaan besar seperti f/2 guna mendapatkan ruang tajam sempit pada gambar diri (potrait) sehingga hanya subyek yang tajam yang menarik perhatian.

Teman 1: Susah juga yah? Bukaan kecil angkanya besar.

Teman 2: Bukaan besar angkanya kecil.

Sapto: Gampang kok. Pikirkan saja f itu sebagai pecahan. Contoh f/2 berarti seperdua. Berarti bagiannya lebih besar. f/16 berarti dibagi enam belas jadi bagiannya kecil. Gitu aja kok repot.

Adlib: (tertawa)..

Niki: Trus gimana merubah bukaan?

Sapto: Putar sala satu bagian di lensa ini yang menunjukkan angka f/stop tadi.

Nah..pada lensa bagian terdepan ini. Adalah pengatur fokus. Kita dapat memilih obyek mana yang perlu kita fokuskan. Seperti foto kalian tadi kan?

Niki: Berarti foto kami tadi bukaannya besar yah? Jadi ruang tajamnya sempit?

Sapto: Betul sekali. Bila ruang tajamnya sempit, kita harus teliti betul pada fokus. Karena bila tidak, fokus kita akan lari pada obyek yang tidak kita kehendaki. Coba kalian latihan…

Sapto: Bukan gitu cara megangnya. Begini nih. Pakai tangan kiri, tauh di bawah badan kamera, nah dengan begini pegangan kita akan kokoh.

Niki: Oke. Teman-teman yang sedang memegang kamera dan tidak sabar ingin mempraktekkan pelajaran tadi, jangan buru-buru dahulu karena setelah ini ada tips dan trik dari fotografer profesional. Tentu saja setelah yang berikut ini.

Niki: Yo..balik lagi di acara kita…fotografi…

Kak..sekarang kan jaman digital. Bisa ditarangkan dikit nggak tentang teknologinya.

Sapto: Pertanyaan yang bagus. Kamera digital pada dasarnya hampir sama dengan kamera analog seperti yang sudah kalian ketahui tadi. Namun pada kamera digital, tombol-tombol menu lebih banyak untuk  mengatur berbagai fasilitas yang ditawarkannya. Seperti contoh ini…

Sapto: Nah yang penting pada kamera digital adalah kekuatan dalam merekam gambar yang ditandai dengan banyaknya titik yang dihasilkan. Foto yang dihasilkan kamera digital terdiri dari jutaan titik. Semakin banyak titik semakin bagus kualitas fotonya. Titik-titik itu dinyatakan dalam megapixel. 8 megapixel tentu lebih baik dari 1 megapixel.

Nah.. mesk sekarang jaman digital, nggak ada salahnya kalau kita tetap belajar memotret dengan kamera analog.

ini adalah kamera SLR analog. Kakak ingin kalian mencoba memasukkan film dengan tepat ke dalam kamera.

Narator: Pertama, atur kecepatan ASA yang sesuai.

Kedua, buka film dari kemasannya, dalam bayangan tubuh Anda.

Ketiga, masukkan film dalam kamera

Keempat, masukkan ujung film pada selongsong penggulung film hingga gerigi kamera masuk pada perforasi film.

Kelima, tutup kamera kembali.

Keenam, majukan film dan tekan tombol pelepas rana sampai bingkai penghitung menunjukkan angka 1.

Mengeluarkan film

Setelah seluruh rol film habis terpakai, tekan tombol pembalik pada bagian bawah kamera.

Putar tuas penggulung balik film searah tanda panah sampai seluruh film tergulung ke dalam selongsongnya.

Tarik ke atas tuas penggulung balik film untuk membuka bagian belakang kamera. Pada beberapa kamera pembuka bagian belakangnya berada di pinggir. Keluarkanlah film.

 

Darwis : Sebelum memotret siapkan dengan baik perlengkapan kita. Alat-alat pendukung jangan dilupa. Seperti batre, rol film cadangan, kertas pembersih lensa dsan sikat buku unta untuk membersihkan kamera. Periksa perlengkpan lain yang dibutuhkan; tripod, lensa, lampu kilat (blitz), dan sebagainya. Periksa kembali film telah terisi. Untuk kamera digital periksa kembali memory card. Bawa memory card cadangan. Periksa bahwa memory masih menyimpan ruang yang banyak. Periksa ASA sudah disterl sesuai dengan film.

Niki: Wah, banyak banget yah yang kita pelajari…

Sapto: Itu belum seberapa, masih banyak yang perlu dipelajari apabila kita ingin menjadi fotografer profesional.

Teman 1: Asyik juga yah ternyata…kalau begini aku mau jadi fotografer aja ah.

Sapto: Mau jadi foto model nggak jadi nih?

Adlib: Mau ding..eh iya mau..

Niki: Oek teman-teman semuanya. Tadi kita sudah mengetahui tentang sejarah kamera, jenis kamera, badan atau body kamera, sedikit tentang lensa, dan beberapa tip & trik. Masih banyak yang belum kita ketahui. Salah satunya adalah tentang lensa. Nantikan penayangannya masih bersama Niki and the gang. Sampai jumpa..

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: