Abu Nawas Disuruh Khutbah oleh Harun Al-Rasyid

Abu Nawas alias Abu Nuwas alias Abū Nuwās al-Ḥasan ibn Hānī al-Ḥakamī suatu waktu dipanggil oleh Raja Harun A-Rasyid datang ke istana. Raja ingin menguji kejeniusan Abu Nawas perihal kemampuannya dalam ilmu ceramah.

“Mulai Jum’at depan, kamu Abu Nawas, bertugas untuk berkhutbah,” titah Raja.

“Waduh, tapi saya kan penyair, Tuan Raja. Saya..”

“Kenapa? Kamu menolak tugas ini?”

“Bukan begitu, Tuan Raja. Tapi ada apa dengan khatib yang biasanya berkhutbah?”

“Saya mau mendengar khutbah dari kamu. Memangnya tidak boleh?”

“Iya, tapi khan..?”

“Tapi apa lagi? Pokoknya kamu harus berkhutbah! Dan saat berkhutbah, tidak boleh ada jamaah yang tertidur karena mendengar khutbahmu!”

“I, I, iya, deh.”

Abu Nawas lemas mendengar perintah itu.

“Wah gawat ini,” kata Abu Nawas saat diantar prajurit istana keluar gerbang.

“Gawat gimana?” Bentak prajurit. “Kamu mau menolak? Kamu minta dipancung?”

“Eh, bukan. Bukan begitu… Oke deh, Jumat depan saya yang khotbah.”

Keringat dingin membanjiri tubuh Abu Nawas. Dia sama sekali belum pernah berkhutbah. Belum pernah sama sekali berpidato di depan umum, baik sekedar menyampaikan informasi, apalagi menasehati orang dengan ayat-ayat suci. Dia kan seorang penyair, bukan pengkhutbah.

Kalau membual di warung-warung sih emang pekerjaannya sehari-hari. Kalau urusan mengarang cerita dan melantunkan syair, dia memang jagonya. Dan sekarang, mau tidak mau dia harus melaksanakan perintah Baginda Raja. Kalau tidak, seperti yang diketahuinya, Baginda tidak segan-segan menghukum Abu Nawas dengan hukuman yang seberat-beratnya.

Saat sholat Jumat tiba, Abu Nawas belum tahu apa yang akan dikhotbahkannya. pikirannya masih bleng. Dia datang saja ke mesjid dengan pengawasan yang ketat dari prajurit kerajaan. Kalau-kalau Abu Nawas melarikan diri ke manja praja. Apa musabab Baginda memerintahkan Abu Nawas berkhotbah?

Para jamaah yang telah mengetahui bahwa Abu Nawas yang menjadi khatib pun memiliki pikiran yang beragam. Ada yang kasihan karena Abu Nawas bakal kena hukuman, ada yang jadi malas ke masjid, ada juga yang penasaran dengan isi khutbah Sang Penyair itu.

Seorang jamaah memberanikan diri menegur Abu Nawas.

“Bung, nanti mau bawain tema apa?”

“Emm. Belum tau juga, Bung.”
“Emang bisa?”

“Ya nggak tau.”

“Udah.. kabur aja ke negara lain. Masih ada kesempatan. Daripada kena pancung?”

Glek. Abu Nawas makin tidak bisa berkonsentrasi.

“Udah ah. Jangan nanya-nanya mulu. Bikin orang makin senewen aja!”

Setelah takmir masjid memberi beberapa pengumuman, dipanggillah Abu Nawas maju.

Abu Nawas naik ke mimbar dengan jantung yang mau copot karena berdentum kayak dentuman gendang saat takbiran hari raya. Peluhnya banjir di wajah seolah-olah setiap saat dia habis berwudhu. Mata para jamaah menatap tajam ke arahnya. Mereka memandang seakan telah tiba malaikat maut menunggu perintah mencabut nyawanya. Para prajurit kerajaan menatap tajam mengawasi kalau-kalau dia melarikan diri. Suasana jumatan jadi mencekam. Abu Nawas telah berdiri di mimbar.

“Assalamu alikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Jamaah menjawab kompak. Kali ini konsentrasi mereka penuh. Tidak seperti suasana Jumat sebelumnya. Ternyata masjid membludak dengan jamaah. Banyak juga yang berdatangan dari daerah lain. Jamaah meluber hingga ke gerbang karena mereka sangat penasaran bakal seperti apa khotbah dari Abu Nawas.

Muazzin melantunkan azannya. Di saat inilah Abu Nawas mendapatkan sebuah ide tentang materi khotbahnya. dan setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat atas nabi, Abu Nawas melanjutkan khotbahnya.

“Saudara-saudara sekalian, hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah. Pada Jumat kali ini, apakah para hadirin tahu apa yang akan saya sampaikan?”

Jamaah kompak mengatakan “Tidak tahu….!”

Abu Nawas menggebrak mimbar.

“Tidak tahu?”

Jamaah tercengang. Baginda Raja pun begitu. Para prajurit kerajaan semakin bersiaga.

“Jadi untuk apa Khotib berdiri di sini kalau tidak ada yang tahu? Percuma. Sia-sia saja. Tidak akan ada gunanya,” lanjut Abu Nawas.

Abu Nawas kemudian melanjutkan ceramahnya dengan penjelasan tentang kebodohan umat yang serba tidak tahu. Umat Islam harus banyak tahu. Harus selalu belajar, belajar, belajar. Agar pengetahuan kita bertambah luas. Wahyu yang pertama turun adalah Iqro’. Bacalah! Ini adalah perintah agar kita banyak belajar.

Abu Nawas makin bersemangat di atas podium. Dia memotivasi umat agar tidak menjadi umat yang bodoh tanpa pengetahuan. Dia membuka cakrawala para jamaah. Para jamaah pun mendengarnya dengan sangat antusias.

Baginda Raja senang dengan kondisi ini. Beliau sebenarnya sayang sama Abu Nawas. Cuma kadang caranya itu tidak seperti orang lain. Raja punya caranya sendiri. Raja juga senang karena para jamaah tidak tidur saat khutbah berlangsung. Tidak seperti pekan-pekan terdahulu. Kali ini para jamaah terlihat antusias.

Bakda sholat Jumat, Baginda Raja memanggil kembali Abu Nawas.

“Jumat depan, kamu lagi yang bertugas menjadi khotib.”

“Loh? Kan sudah Yang Mulia Baginda Raja? Hamba sudah menjalankan titah Baginda dengan sangat baik,” kilah Abu Nawas.

“Pokoknya harus! Apa kamu mau digantung?”

Abu Nawas tidak bisa mengelak. Raja pun tidak mau kalah cerdik dengan Abu Nawas. Dia ingin kembali menguji seberapa cerdasnya si Penyair ini. Baginda Raja lalu memerintahkan untuk mengatur para jamaah kalau-kalau Abu Nawas bertanya yang sama saat khutbah. Para jamaah disuruh menjawab: “Tahu.”

Abu Nawas naik mimbar lagi. Kali ini dia menggunakan jurus yang sama. Abu Nawas sudah tidak tegang lagi. Wajahnya penuh senyuman. Dia merasa berada di atas angin.

“Hadirin sidang jamaah Jumat yang diberkahi Allah SWT. Apakah kalian tahu apa yang akan saya khutbahkan?”

“Tahu…!”

“Alhamdulillah, Bagus. Inilah yang dinantikan oleh para pemimpin umat sejak lama. Inilah yang diimpikan oleh Baginda Nabi kita Muhammad SAW.”

Maka ditambahkan lagi disana dan disini tentang kondisi umat yang mulai maju tingkat peradabannya jika berilmu pengetahuan. Juga tentang kejayaan umat Islam di masa kini dan akan datang. Beginilah seharusnya jika kita ingin Berjaya.

Baginda Raja pun hanya bisa cengengesan. Dia tidak menyangka Abu Nawas bisa seenteng ini lolos dari perangkapnya. Tetapi dia senang juga karena para jamaah tidak tidur dan semakin tercerahkan. Baginda lalu menitahkan Abu Nawas kembali berkhutbah Jumat depan. Kali ini dia mengatur kalau Abu Nawas menanyakan hal yang sama, maka sebagian Jamaah menjawab “Tahu” dan sebagian lagi menjawab “Tidak tahu.” Baginda merasa ini adalah jebakan betmen paling top sedunia.

Abu Nawas merasa tidak senang dengan kondisi ini. Dia yakin Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu yang tidak disangkanya. Dia ingin melarikan diri dari negeri ini, tapi pengawasan dari prajurit lebih ditingkatkan lagi. Mata-mata disebar. Abu Nawas tidak bisa berkutik.

Tibalah hari Jumat ketiga dia menjadi Khotib. Dan dia melakukan jurus yang sama. Pertanyaan yang serupa.

“Apakah kalian tahu apa yang akan saya khotbahkan?”

Separo bagian kiri menjawab “Tahu”. Sebelah kanan menjawab “Tidak tahu.”

“Kalau begitu, Para jamaah yang tahu, silahkan memberi tahu yang tidak tahu.”

Abu Nawas menambahkan bahwa kita harus menjaga kerjasama tim. Saling nasehat-menasehati. Harus kompak. Bahu membahu mengatasi kedunguan dan kejahilan. Saling tolong menolong memberantas kejahilan. Yang sudah tahu harus mengajari saudaranya yang tidak tahu. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam kegelapan.

Abu Nawas telah menyelesaikan tugasnya. Baginda Raja pun akhirnya sadar bahwa Abu Nawas memang panjang akal dan cerdik. Raja juga senang karena para jamaah antusias mengikuti khutbah dan tidak ada yang tidur. Akhirnya Abu Nawas diangkat menjadi menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

======

Ini adalah kisah fiktif belaka. Mungkin ada benarnya atau mirip dengan kejadian sesungguhnya. Tetapi mungkin juga sama sekali tidak pernah terjadi pada diri Abu Nawas di masa itu. Kita hanya bisa mengambil pelajaran baik yang ada di balik kisah ini.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: