6 Bahaya Pornografi Bagi Anak

Terdapat banyak bahaya yang ditimbulkan oleh pornografi yang lambat laun bisa menyebabkan kecanduan. Seperti orang yang gemar minuman keras, awalnya merasa pahit, mau muntah, eh lama-lama dia malah jadi pecandu. Anak-anak juga demikian, semakin sering melihat hal-hal yang berbau pornografi, kemungkinan terjadi penyimpangan seksual dan kecanduan seks yang semakin besar.

Apalagi saat ini media elektronik, media digital, media sosial, semakin mudah dan massif menayangkan dan menyebarkannya. Kondisi ini semakin memperbesar potensi bahaya yang ada pada pornografi. Berikut ini beberapa bahaya yang ditimbulkan oleh pornografi bersasarkan penelitian dan pengamatan di negara yang mempelopori adanya seks bebas, yaitu Amerika Serikat.

 

  1. Pornografi dapat membuat anak menjadi korban kekerasan seksual

Di negara barat yang mempunyai akses internet yang lebih bebas, leluasa dan tanpa sensor, para pengidap pedofilia (orang yang senang melakukan hubungan seks dengan anak kecil) dan pemburu seks memanfaatkannya untuk mecari mangsa anak-anak. Internet merupakan media yang terbukti nyata sebagai alat sangat efektif bagi mereka. Semakin sering mereka mengakses pornografi lewat internet, semakin tinggi resiko melakukan apa yang dilihatnya. Termasuk kekerasan seksual, perkosaan, dan pelecehan seksual terhadap anak.

 

  1. Hubungan pornografi dengan perkosaan dan kekerasan seksual.

Menurut salah satu penelitian, anak di bawah 14 tahun yang melihat pornograii, lebih banyak terlibat praktek penyimpangan sosial, terutama perkosaan.  Sedikitnya lebih dari sepertiga pelaku pelecehan seksual pada anak dan pemerkosa dalam penelitian ini mengaku melakukannya akibat melihat pornografi. Dari 53% pelaku itu dilaporkan menggunakan pornografi sebagai rangsangan untuk melakukan aksinya.

Kebiasaan mengkonsumsi pornografi dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap bentuk pornografi yang lembut (soft) atau yang normal dan biasa. Sebaliknya justru, dorongan itu semakin kuat untuk melihat materi-materi yang mengandung penyimpangan dan kekerasan seksual, juga fantasi seksual yang lebih kejam (hardcore). Dalam sebuah penelitan terhadap para napi yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak, 77% dari mereka yang melakukannya terhadap anak laki dan 87% yang melakukannya terhadap anak perempuan mengakui terbiasa menggunakan pornografi sebagai pendorongnya.

Pornografi juga mendorong penggunanya untuk melakukan pelecehan seksual terhadap anak dalam berbagai cara. Contohnya, para pedofilia menggunakan foto porno untuk menunjukkan pada korbannya bahwa suatu aktivitas seksual tertentu tidak mengapa. Mereka akan berkata, “Orang ini aja menikmatinya, begitu juga kamu nanti.”

 

  1. Pornografi menyebabkan penyakit seksual, hamil di luar nikah, dan kecanduan seks

Semakin sering anak-anak melihat pornografi atau hal-hal yang mengandung penyimpangan seksual, mereka akan mempelajari sebuah pesan yang sangat berbahaya dari pembuat pornografi, yaitu: “Seks yang tidak bertanggung jawab adalah boleh dan dibutuhkan.” Karena, pornografi mendorong ekspresi seksual tanpa tanggung jawab. Hal ini akan membahayakan kesehatan anak. Salah satunya adalah terjadinya peningkatan penyakit kelamin secara drastis.

Di Amrik, sekitar 1 sampai 4 remaja yang telah melakukan hubungan seksual menderita penyakit kelamin tiap tahunnya. Hal ini menghasilkan 3 juta kasus penyakit kelamin pada remaja. Rata-rata infeksi spilis  di antara remaja telah meningkat lebih dari 2 kali lipat sejak pertengahan tahun 1980-an. Jumlah anak yang terkena penyakit kelamin setiap tahunnya lebih banyak dibanding jumlah  seluruh penderita polio selama 11 tahun. Selain penyakit kelamin itu, akibat lainnya adalah naiknya jumlah kehamilan di luar nikah di antara para pelajar.

Penelitian telah menunjukkan bahwa lelaki yang melihat hal-hal yang berbau pornografi sebelum usia 14 tahun lebih aktif secara seksual dan sibuk dengan aktivitas seksual yang beragam, daripada mereka yang tidak atau belum melihat. Para pecandu seks ini mengakui bahwa gambar dan video porno sangat mempengaruhi kecanduannya.

 

  1. Pornografi mendorong anak untuk melakukan tindakan seksual terhadap anak lain

Anak-anak sering meniru apa yang dibaca, dilihat, dan didengar. Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa pornografi dapat mendorong mereka melakukan tindakan seksual terhadap anak yang lebih muda (junior), kecil, dan lemah. Para ahli di bidang kejahatan seksual terhadap anak menyatakan bahwa aktivitas seksual pada anak yang belum dewasa selalu memunculkan 2 kemungkinan pemicu: pengalaman dan melihat. Hal ini berarti bahwa anak-anak yang menyimpang secara seksual mungkin telah tercemar karena gampang melihat gambar dan video porno.

Dalam sebuah penelitian dari 600 siswa dan siswi di Amrik, peneliti Dr. Jennings Bryant menemukan bahwa 91% siswa dan 82% siswi telah menonton film porno atau yang berisi kekerasan seksual. Lebih dari 66% siswa dan 40% siswi dilaporkan ingin mencoba beberapa adegan seks yang telah ditontonnya. Dan di antara mereka 31% laki dan 18% perempuan mengaku benar-benar melakukan beberapa adegan dalam film porno itu, beberapa hari setelah menonton.

 

  1. Pornografi mempengaruhi pembentukan sikap, nilai dan prilaku

Pesan yang tidak bertanggung jawab dan sangat kuat dari pornografi, bisa mengajari anak-anak tentang masalah-masalah seksual.

Foto, video, majalah, game, dan situs internet yang berbau porno bisa jadi alat perusak bagi pendidikan seks. Bahayanya bagi anak sangat banyak dan bercabang-cabang. Bisa membuat perubahan perilaku menjadi negatif.  Bagaimana mereka melihat perempuan, kejahatan seksual, pelecehan seksual, penyimpangan seksual, hubungan seks bebas sembarangan, dan perilaku negatif lainnya.

Kesimpulan ini berangkat dari responden pria yang diberi asupan pornografi kasar selama sedikitnya 6 pekan, mereka:

  • Terbentuk sifat kasar terhadap perempuan secara seksual semakin meningkat.
  • Mulai menyepelekan pemerkosaan sebagai tindak kejahatan, atau tidak lagi mengangapnya sebagai kejahatan.
  • Terbentuk persepsi yang menyimpang terhadap seks.
  • Munculnya hasrat yang besar terhadap jenis pornografi yang lebih menyimpang, aneh, dan kejam (hardcord).
  • Menghilangkan nilai perkawinan dan mengurangi keyakinan bahwa perkawinan merupakan ikatan yang sah.
  • Memandang seks bebas sebagai perilaku normal dan alami.

 

  1. Pornografi menganggu jati diri dan perkembangan anak.

Selama masa kritis tertentu pada masa kanak-kanak, otak anak kecil telah terprogram tentang orientasi seksual. Selama proses periode ini, pikiran tersebut terlihat membangun jaringan mengenai apa yang merangsang atau menarik seseorang. Melihat norma-norma dan perilaku seksual yang sehat selama waktu kritis itu, dapat membentuk orientasi seks yang sehat.  Sebaliknya, jika melihat penyimpangan seksual, bisa terpatri dalam otaknya, dan menjadi bagian tetap dalam orientasi seksualnya.

Temuan-temuan psikolog Dr. Viktor Cline menyatakan bahwa ingatan-ingatan dari pengalaman yang terjadi saat perasaan terangsang (termasuk rangsangan seksual) dipatri di otak oleh epinephrine, suatu hormon dalam glagunda adrenalin, dan susah dihapus. Hal ini bisa menjelaska tentang pengaruh candu pornografi. Melihat media porno bisa membuat kondisi seseorang secara potensial mengulangi fantasi seksualnya sewaktu masturbasi.

Identitas seksual terbentuk secara bertahap pada masa kanak-kanak dan remaja. Sebenarnya, anak-anak umumnya tidak memiliki suatu kekuatan seksual alami sampai menginjak usia 10-12 tahun. Selama perkembangannya, anak-anak khususnya mudah terkena pengaruh yang bisa mempengaruhi proses perkembangan itu. Jalur singkat yaitu melalui pornografi, dapat membelokkan proses perkembangan kepribadian normal, dengan memberikan informasi yang salah tentang seksualitas. Anak jadi akan jadi galau terhadap diri dan jasmaninya. Terutama kejiwaannya. Lalu berubah dari kondisi normal menjadi rusak.

Bahaya pornografi adalah mengenalkan pada anak sensasi seksual sebelum waktunya. Padahal secara perkembangan, anak-anak belum siap menghadapinya. Pengetahuan tentang sensasi seksual dapat membingungkan dan memberi rangsangan berlebihan pada anak. Rangsangan seksual pornografi ini pada akhirnya adalah merusak jiwa. Contohnya, jika rangsangan awal pada seorang anak lekaki adalah foto-foto porno, dia akan terbiasa terangsang melalui foto-foto itu. Hasilnya adalah sulit bagi seseorang mengalami kepuasan seksual selain dari gambar dan video porno.

Anak-anak merupakan amanah dari Allah. Untuk itu seharusnya kita jaga dan didik dengan sebaik-baiknya. Mari kita jauhi mereka dari ancaman pornografi yang bisa merusak diri mereka sendiri dan masyarakat. Jangan manjakan anak-anak dengan aneka gawai canggih yang memudahkan mereka mengakses pornografi. Semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita dari keburukan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: