4 Pertanyaan Saat Casting Yang Bikin Grogi

Bagi mereka yang belum pernah ikut audisi atau casting, memang perlu mencari informasi tentang apa saja pertanyaan yang akan ditanyakan. Hal ini sangat perlu agar peserta tidak gugup, grogi, sehingga tak bisa menjawab pertanyaan.

Sebenarnya juru casting tidak akan mengeluarkan energi untuk bertanya pada semua peserta casting. Mereka akan memilih peserta yang mereka anggap bisa lolos untuk menghadapi casting atau screen test tahap berikutnya. Tentau saja setelah melihat presentasi akting yang telah kamu lakukan sebelumnya. Jika mereka anggap di bawah standar, mereka akan memanggil ‘pasien’ berikutnya.

Jadi yang diperlukan adalah performa yang mengesankan (impresif) saat perkenalan dan memainkan peran yang sudah ditentukan. Jika juru casting memberikan pertanyaan, maka satu langkah keberhasilan telah kamu lakukan. Persiapan matang sebelum masuk ke ruang casting sangat diperlukan. Kamu bisa membaca artikel : 9 Tips Lolos Casting.

Jadi apa saja pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan dan terkadang bisa bikin grogi sehingga peserta terdiam dan sulit mengurai kata-kata? Simak penjelasannya berikut ini:

Coba ceritakan tentang diri kamu?

Hari-hati dengan pertanyaan seperti ini. Karena bisa menjadi peluang besar bagi kamu atau bahkan membuat kamu jatuh ke dalam lubang kegagalan. Pertanyaannya sih kelihatan sederhana tapi bikin kita jantungan.

“Eh, apa ya? Hmm, saya itu…”

Dengan persiapan yang baik, kamu akan menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh kepercayaan diri, mengesankan, dan bikin sang casting director terkenang dengan diri kamu. So, siapkan jawaban, jangan sampai kamu terbata dan kehilangan kata-kata, lalu juru casting akan memanggil peserta berikutnya.

Sebelum menjawab, kamu harus tahu alasan apa sehingga pertanyaan ini diajukan? Pertama karena juru casting ingin memastikan kamu itu adalah orang yang asyik dalam kehidupan sehari-hari.

Yang kedua, mereka ingin mengetahui kepribadian kamu sejujur-jujurnya dan terekam di kamera, bukan berdasarkan karakter yang telah kamu mainkan sebelumnya.

Yang ketiga adalah mereka ingin mengetahui sebesar apa kemampuan kamu dalam bercerita. Karena sejatinya film dan aktor adalah tentang story telling yang nantinya untuk memastikan bahwa kamu adalah orang yang tepat dalam menyampaikan cerita-cerita itu.

Pertanyaan ini memang bikin bingung kita mau memulai dari mana. Apakah harus berkisah tentang masa kecil, atau tentang prestasi-prestasi kamu, ataukah tentang masalah yang tengah kamu hadapi?

Saya tidak akan menuntun kamu untuk mengatakan seperti ini atau seperti itu. Tetapi hanya memberikan hal mendasar yang bisa kamu lakukan. Dan yang terpenting dari semua jawaban-jawaban itu adalah nilai kejujuran. Jangan dikarang-karang karena kebohongan kecil akan merambat pada kebohongan berikutnya. Dan itu akan ketahuan, saat itu juga, atau di lain hari.

Berikut cerita yang kamu bisa berikan untuk menjawab pertanyaan tersebut:

  • Ceritakan tentang minat dan hobi kamu. Ini akan membuat kamu bergairah sehingga orang yang mendengarkan pun akan ketularan.
  • Ceritakan hal-hal lucu yang bisa menghilangkan ketegangan juru casting setelah beberapa jam mereka melihat ‘pasien-pasien’ sebelumnya. Mereka akan terkesan dan terkenang dengan diri kamu sehingga berpeluang untuk men-calling kamu lagi.
  • Hindari curhat tentang masalah-masalah kamu sebab itu akan memperburuk suasana. Mereka juga punya banyak masalah, jadi jangan tambah masalah mereka.
  • Hindari berceramah tentang akting atau melebih-lebihkan cerita pengalaman akting kamu. Mereka sudah melihat dan bisa menilai sendiri apa yang telah kamu peragakan tadi.

Dari cerita kamu tadi, jika casting director terkesan, mereka akan menanyakan hal lain yang berhubungan dengan cerita kamu tadi. Atau mungkin juga akan beralih ke pertanyaan berikutnya.

Apa aktivitas kamu sehari-hari?

Pertanyaan ini sering juga diajukan. Terutama bagi peserta casting yang baru terlibat di dalam industri film dan televisi. Umpanya mereka tahu kamu itu adalah seorang mahasiswa, mereka akan bertanya lagi tentang bagaimana kamu membagi waktu antara kuliah dengan syuting?

“Kalau kamu pekerja kantoran, bisa nggak izin selama sebulan untuk syuting?”
“Kamu ternyata masih sekolah, apa gurunya nggak marah kalau kamu izin syuting terus?”
“Kita syutingnya bisa sampai tengah malam bahkan sampai pagi loh? Suami kamu nggak keberatan?”
“Kami ada syuting di luar kota selama satu bulan, kamu dibolehkan nggak?”

Pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan diajukan. Terserah kamu menjawabnya seperti apa tapi yang pasti dari jawaban tersebut sang juru casting akan mempertimbangkan apa kamu layak dapat peran atau tidak.

Jawablah apa adanya sehingga tidak akan menyulitkan kamu nanti dan tidak akan merepotkan kru karena harus pontang panting membuat skejul syuting.

Pengalaman akting apa yang pernah kamu lakukan?

Pertanyaan standar seperti ini akan sering diajukan. Hal ini untuk mengetahui seberapa jauh kamu bergelut di dunia akting. Dan jawaban yang kamu berikan sekali lagi harus penuh dengan kejujuran sebab bakal ada pertanyaan lanjutan.

Umpamanya kamu ngarang bahwa kamu pernah bermain teater dan menjadi pemeran utama. Akan ada pertanyaan lanjutan seperti:

“Sebagai apa kamu di pertunjukan itu?”
“Boleh nggak kamu mainkan satu adegan?”
“Bagaimana kamu memahami dan menganalisa karakter dalam peran itu?”

Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak akan bisa kamu jawab kalau kamu berbohong. Jadi ceritakan saja apa adanya. Jika memang belum punya pengalaman, katakana sejujurnya. Hal ini tidak akan mengubah penilaian mereka terhadap performa akting yang telah kamu mainkan sebelumnya.

Apakah kamu sanggup jika mendapatkan peran yang tidak kamu inginkan?

Wah ini pertanyaan yang sulit bagi kamu yang sangat menginginkan untuk masuk ke dalam industri. Tetapi ada hal-hal yang tidak kamu inginkan sehingga menghambat cita-cita kamu itu.

Kamu boleh mengajukan pertanyaan kira-kira seperti apa peran itu? Jawaban dari juru kasting itulah yang akan menentukan jawaban kamu berikutnya.

“Rambut kamu kan bagus. Tadi kamu bilang sudah merawatnya selama 10 tahun. Mau nggak dibotakin, soalnya ada adegan kamu stress dan botakin kepala kamu sendiri.”
“Kamu kan dikenal sebagai Ustadz, mau nggak kamu jadi orang jahat?”
“Kamu bisa nggak jadi banci?”

Mungkin kamu mau-mau saja. Toh numbuhin rambut nggak lama kok, yang penting dapat peran. Jadi banci atau orang jahat kan hanya akting, masyarakat pasti paham kok.

Tapi jika peran atau adegan yang kamu lakukan itu ternyata bertolak belakang dengan hal prinsipil yang telah kamu terapkan dalam hidup sehari-hari. Tapi kan kesempatan dapat peran itu sangat jarang?

“Film kami ini akan ada adegan ciuman loh? Ada adegan telanjangnya juga”
“Kamu kan sehari-hari pakai jilbab, boleh nggak kalau nanti ada adegan buka jilbab?”
“Karakter kamu ini tentang seorang perokok berat, tiap adegan pasti ada, mau nggak kamu?”

Jika mengenai hal yang prinsip, kamu bisa secara lugas menolaknya. Hal ini justru akan membuat orang lain lebih respek terhadap kepribadian kamu. Jangan merusak personalitas kamu dengan tawaran-tawaran yang tidak sesuai dengan prinsip hidup kamu hanya gegara sebuah peran. Toh kamu bisa mendapatkan peran yang lebih baik lagi.

Terus terang ada beberapa aktor yang tetap pada prinsipnya umpanya tidak mau menerima adegan ciuman bahkan walau sekedar pegangan tangan. Dia tetap dihormati dan masih mendapatkan peran hingga saat ini.

Nah, itulah beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh juru casting saat audisi. Dengan persiapan yang baik, semoga kamu bisa lebih tenang dan percaya diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

BACA JUGA:

Kamu juga dapat JOIN TELEGRAM agar tidak ketinggalan info casting dan pengetahuan film lainnya.

Selamat mengikuti casting.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: